Melepas Rindu Pada Lamreh

Aku sedang membongkar kembali foto-foto lama di folder. Berharap bisa menemukan ide menulis untuk blog yang mulai berjelaga ini dengan mengenang masa lalu. Mataku tertumbuk pada beberapa foto yang membuat ingatan kembali ke lokasi foto diambil: Lamreh.

Puluhan foto-foto itu membangkitkan kembali kenangan ke tahun 2011 silam. Pada gampong yang hanya kutinggali selama tiga bulan. Meski terbilang singkat, gampong Lamreh ini istimewa bagiku. Selain karena sejarah tentang Kerajaan Lamuri yang hilang ratusan tahun sebelum pasukan Inong Balee menguasai Krueng Raya, Lamreh telah memberikan pelajaran penting bagaimana bertahan hidup untuk pertama kalinya.

Jalan raya Lamreh yang tampak asri jika hujan lama tak turun.
Jalan raya Lamreh yang tampak asri jika hujan lama tak turun.

Lanjutkan membaca “Melepas Rindu Pada Lamreh”

Iklan

[Video Cilet-Cilet] Lhok Mata Ie

Pantai Lhok Mata Ie yang kini ramai dikunjungi setiap akhir pekan dan hari libur ini tetap menyenangkan untuk disambangi. Perjalanan ke pantai ini memakan waktu kurang dari satu jam. Kita bisa snorkeling atau leyeh-leyeh santai saja di pinggir-pinggir batu menikmati semilir angin. Lhok Mata Ie adalah salah satu tempat ‘melarikan diri’ favoritku jika di Banda Aceh karena lokasinya yang tergolong dekat dan tempatnya juga keren!

Sayang sekali Pantai Lhok Mata Ie ini tidak bisa dikunjungi oleh perempuan meski ditemani oleh muhrimnya sekalipun. Tapi anehnya, ketika terakhir kali aku dan kawan-kawan dari Backpacker Aceh mengunjungi pantai ini, minggu ketiga Agustus 2015, kami menemukan dua bule cewek yang mendirikan kemah ditemani tiga orang lekaki lokal. Guidekah? Jika memang benar, seharusnya mereka telah mengantongi izin pejabat kampung.

Catatan kamping di Lhok Mata Ie terdahulu bisa kawan-kawan baca di blogpost yang INI dan INI.

Pulau Gosong di Aceh Ini Tak Lagi Terasing

Perahu-perahu nelayan yang bersauh di depan Dermaga Ujong Serangga.

“Tadi yang pas kita lewat Abdya itu Pulau Gosong, bukan?” tanya seorang rekan kerja ketika kami baru saja mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar selepas kembali dari Pulau Simeulue. Aku yang tak lagi memperhatikan ke luar pesawat setelah kami lepas landas dari Bandara Blangpidie satu jam yang lalu tak bisa menjawab. Rajuli, yang bertanya, mendeskripsikan pulau yang katanya berpasir putih dengan warna hijau daun yang kontras. Lanjutkan membaca “Pulau Gosong di Aceh Ini Tak Lagi Terasing”

Menonton Sotong Menari di Pulau Nasi

Aku adalah salah satu orang dari ribuan orang di dunia ini yang percaya bahwa setiap orang punya rejeki masing-masing. Ketika kawan-kawan blogger sedang menikmati perjalanan Candat Sotong di Terengganu yang dihelat oleh negara tetangga, aku melarikan diri ke Pulau Aceh dan bersyukur bisa melihat sotong menari-nari di celah-celah bebatuan saat kami selesai snorkeling di Pulau Nasi. Paling tidak bisa meminimalisasi rasa iri melihat update mereka di social media :p Hehe…

Alih-alih memancing sotong, aku dapat melihat langsung tingkah polah sotong dari dekat. Coba perhatikan foto di bawah. Ada berapa ekor sotong yang kamu lihat? Emm, yang paling atas itu bukan sotong, itu dugong.

Temukan 10 ekor sotong di dalam foto. :D

Lanjutkan membaca “Menonton Sotong Menari di Pulau Nasi”

Melihat Air Terbang di Pulau Aceh

Hari kedua di Pulau Nasi.

Aku, Ilham, Fahrizal, dan Madhan masih di Pulau Nasi. Kami keluar dari tenda pagi itu dan mengecek ke sekeliling tenda untuk melihat apa benar ada ‘tamu’ yang datang saat semua terlelap semalam. Kawanan babi memang biasa berjalan-jalan ke pantai pada malam hari untuk mencari makan. Kami menemukan jejak-jejak sedalam 3 cm di pasir sekitar kemah kami berdiri. Lanjutkan membaca “Melihat Air Terbang di Pulau Aceh”

Menempuh Jalan Beranjau di Pulau Nasi

Februari 2013 lalu, aku, Dika, dan Nisa mengangkut sepeda dari Banda Aceh ke Pulau Breueh. Nekat ingin bersepeda menjelajah pulau yang tak kami pahami betul bagaimana kontur jalannya yang ternyata berbukit-bukit itu. Rasanya masih kapok jika ke sana lagi. Capeknya bersepeda naik turun bukit di tengah terik matahari dengan ransel berat di punggung benar-benar amat menyiksa.  Lanjutkan membaca “Menempuh Jalan Beranjau di Pulau Nasi”

Taman di Mon Ikuen

Taman ini bukan sembarang taman. Rumputnya tak sehijau taman buatan manusia yang selalu mendapat perawatan. Diberi pupuk dan disiram air. Tidak pula permukaannya rata dan bersih dari kotoran binatang. Hanya air hujan yang menyiramnya dan kotoran sapi yang berserak di segala penjuru menjadi pupuk untuk menyuburkan.

Mon Ikuen namanya. Letaknya memang persis di ujung Pulau Bunta di kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Jarang sekali ada manusia yang bermain-main di sini. Sekali-dua kali, adalah dua tiga orang yang melintas ketika matahari sedang tinggi. Sapi-sapilah yang selalu ramai berkumpul di tempat ini untuk makan dan memberi pupuk. Juga burung-burung yang mendarat mencari ulat atau menarik batang rumput kering lalu bergegas terbang untuk menyulam sarang. Ketika malam, apalagi jika terang bulan, babi-babi  jantan dewasa akan sibuk memikat para babi betina untuk diajak kawin.

Memandangi Mon Ikuen dari ketinggian adalah sebuah pengalaman yang mengharukan. Panjatlah tangga-tangga besi mercusuar setinggi 80 meter itu jika berani. Jika sudah tiba di atas, kamu tak akan sempat memuji diri sendiri karena keberanian menaklukkan rasa takut akan ketinggian. Hanya decak kagum yang ditambah sedikit rasa sentimental yang mengaburkan sejenak pandanganmu.

Foto paling atas diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 36 yang bertema Taman di blog Ari Murdiyanto.