Mengungkap Rahasia ‘The Secret Beach’ Aceh: Pantai Lange

Tiga tahun yang lalu, aku mendengar banyak kabar tentang keberadaan sebuah pantai yang disebut-sebut ‘secret beach’. Begitu sebutan pantai yang berada di Gampong Lampuuk itu oleh beberapa orang yang gemar bertualang menyeberang hutan. Bahkan beberapa bule ikut bermain rahasia-rahasiaan tentang pantai ini. Aku penasaran seperti apa keindahannya. Saat itu google tidak membantu banyak menjawab rasa penasaranku. Belum ada pula orang yang menuliskannya di blog. Bahkan belum ada yang berani menunjukkan keindahan pantainya lewat foto. Hanya ada beberapa foto teaser yang menampilkan beberapa pejalan sedang memanggul ransel dan menandu barang-barang di tengah bukit pasir. Tak terlihat pantainya sedikitpun. Penyuka pantai mana yang tak akan penasaran?

Lanjutkan membaca “Mengungkap Rahasia ‘The Secret Beach’ Aceh: Pantai Lange”

Iklan

The Real Escapade to Pulau Bunta

Desember tahun lalu aku menaikkan sebuah tulisan berjudul An Escapade to Pulau Bunta di blog ini. Sebenarnya aku sendiri, sebelum tulisan itu terbit, belum pernah menginjakkan kaki ke pulau itu. Sudah dua kali ajakan ke sana terpaksa aku tolak karena ada saja keperluan lain yang tak bisa ditinggalkan. Hingga kesempatan yang dinanti-nanti pun tiba beberapa bulan setelah tulisan itu terbit. Jadi inilah cerita the real an escapade to Pulau Bunta oleh si backpakcer cilet-cilet. :D Lanjutkan membaca “The Real Escapade to Pulau Bunta”

Bermalam di Bukit Lhok Mee

Sabtu malam, aku tiba di perbukitan ini pada pukul 8. Honda Beat yang aku kendarai membelah pekat malam, melindas karang-karang, menerbangkan debu-debu pasir halus. Ketika tanjakan, ku tarik gas lebih dalam. Bau sangit dari karet kopling tercium karena motor dipaksa menaiki tanjakan di jalan yang berbatu-batu. 10 menit kemudian aku tiba di lokasi yang aku inginkan tanpa tersesat karena sudah hapal betul jalan-jalan setapaknya.

Aku segera mendirikan kemah di samping sebuah pohon setelah sebelumnya membersihkan serakan karang di permukaan tanah datar. Dataran yang kupilih adalah sebuah bukit karang yang menjorok ke laut setinggi 10 meter. Permukaannya sudah sepenuhnya tertutupi tanah dan dilapisi rumput. Tiga batang pohon seukuran paha tumbuh di pinggir tebing. Aku mengikatkan ayunan pada dua batang pohon. Setelah beres, aku menggelar matras di samping tenda dan merebahkan badan, menantang langit.

Hamparan bintang di atasku berkelap-kelip seperti pijar lampu pada perahu nelayan di tengah laut. Merah, kuning, dan biru. Terbingkai dengan awan dan siluet pepohonan. Di ufuk barat, sesekali kilat membelah langit dari balik awan yang perlahan-lahan menutupi pertunjukkan bintang jatuh yang membuatku berdecak kagum.

Aku ingat pada penjelasan seorang mahasiswa astronomi ketika berkunjung ke observatorium Boscha tahun 2012 lalu. Cahaya bintang yang berkelip-kelip karena ketidakstabilan atmosfir di bumi. Dan cahaya bintang yang kita lihat pada malam hari sebenarnya adalah cahaya yang ‘traveling’ selama bertahun-tahun. Jadi cahaya yang kita lihat itu menempuh waktu tahunan hingga mencapai bumi. Contohnya seperti bintang terdekat kedua dengan bumi, Proxima Centauri yang berjarak empat tahun cahaya. Sedangkan cahaya matahari kita menempuh waktu hanya 8 menit saja.

Berbaring di atas bukit dan mata nyaris tak berkedip memandangi ribuan bintang. Takut rugi melewatkan momen bintang jatuh yang hanya terlihat sepersekian detik itu. Gigitan nyamuk pun tak lagi terasa. Suara hempasan ombak pada tebing-tebing karang di cekungan bukit di bawah pun lenyap. Khayalanku membumbung tinggi dan melesat bagaikan kecepatan warp menembus gelapnya ruang hampa di antara gugusan bintang. Tapi aku tidak sedang berada di dalam USS Interprise. Aku tak bisa menentukan tujuan akan berkunjung ke planet mana. Khayalanku terhempas kembali dengan kecepatan warp yang sama ke bumi dengan banyak sekali tanda tanya.

Jagad raya yang maha luas ini, benarkah ada makhluk selain kita yang tinggal di galaksi lain? Romulan? Autobot? Klyngon? Bumi-bumi lain? Romulus? Krypton? Coruscant? Cybertron?

Apakah kita benar-benar sendiri? Aku terlelap dengan membiarkan pertanyaan itu pupus terbawa angin malam.

Angin yang meniup dedaunan pada ranting-ranting di atas ayunanku mendesau halus. Aku perlahan-lahan membuka mata dan desau angin itu bagaikan mantra yang membuat kelopak mata terasa berat untuk digerakkan. Sejenak aku biarkan ‘ruh’ ku kembali utuh ke dalam tubuh hingga aku menyadari keberadaanku di dalam ayunan. Ketika telinga menangkap suara hempasan ombak, aku baru benar-benar sadar sedang berada di mana.

Lhok Mee tak hanya memiliki pantai berpasir putih yang dibentengi dengan pohon beurambang yang tumbuh di depan pantainya. Tapi juga perbukitan karang yang menawan dan penuh misteri sejarah masa lalu Aceh. Lhok Mee terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Sekitar 38 KM dari kota Banda Aceh. Aku sedang berada sekitar seribu meter dari pantai Pasir Putih, Lhok Mee, di sebuah bukit di pinggir laut.

Subuh mulai beranjak pagi. Warna hitam pekat mulai terangkat namun mata masih hendak tertutup rapat.Kantung tidur yang kujadikan selimut teronggok di ujung ayunan. Kutolehkan muka ke kanan. Di balik siluet bukit dan pepohonan tampak awan berwarna biru menutupi ufuk barat tempat matahari akan segera terbit. Warna-warna seperti jingga dan biru muda merayap pelan menyergap awan biru pekat yang menutupi matahari.

Aku berlari ke bukit yang menghalangi pandanganku itu. Dari atas sana aku bisa melihat lebih jelas detik-detik matahari naik meski hanya dari pergerakkan cahayanya saja pada langit dan awan. Matahari sendiri sepenuhnya tertutupi oleh awan itu. Akibatnya, bayangan awan jatuh menutupi pohon beurambang yang tumbuh di depan pantai pasir putih dan pemukiman warga di Dusun Lhok Mee. Aku duduk bersila di atas rerumputan basah dan menikmati gradasi warna-warna ajaib saat matahari mulai bergerak naik dari belakang selimut tebalnya. Indah sekali!

Keindahan mentari pagi ini bukan satu-satunya yang dapat kunikmati di perbukitan kampung penuh sejarah ini, Gampong Lamreh. Perbukitan ini ditumbuhi jarang-jarang pohon jambee kleng (jamblang) dan rumput kering kekuningan. Batu-batu gunung hitam legam terbakar matahari berserakan bersama kotoran sapi dan kambing dan koral-koral laut di sepanjang jalan setapak. Koral-koral ini menjadi pertanda bahwa daratan ini pernah berada di bawah permukaan laut. Di puncak-puncak bukit ini terdapat parit-parit tempat para prajurit Jepang menjaga daerah kekuasaannya.

Jika kita memalingkan wajah ke arah utara, terlihat sebuah teluk berpantai pasir dengan muara sungai yang membelah di tengah-tengahnya. Di pinggir pantai sana terdapat sisa-sisa peninggalan Benteng Kuta Lubok yang terlantar. Naik sedikit menyusuri bibir pantai dan tebing-tebing ke sebuah bukit yang terkenal dengan Benteng Inong Balee. Di pinggir tebing setinggi 20 meter itulah para laskar perempuan Aceh di bawah pimpinan Laksamana Malahayati mengintai kapal-kapal Belanda. Susuri tebing-tebing melewati mercusuar hingga ke ujung bukit. Di depannya sebuah pulau kecil teronggok yang menurut cerita masyarakat setempat adalah jelmaan sebuah kapal seorang anak yang durhaka pada ibunya, dialah Si Amat Ramanyang yang dikutuk menjadi batu.

Aku menghela nafas panjang. Tertegun melihat pemandangan indah di sekelilingku. Indah namun mengkhawatirkan. Antara aku harus bersyukur dengan kurangnya eksploitasi dan berharap semua orang datang melihat apa yang kulihat. Tanpa eksploitasi saja sampah sudah bertebaran di atas bukit ini dan sampah plastik mengapung seperti ubur-ubur di permukaan laut. Sampai kapan rakyat Aceh peduli dengan kebersihan? Sampai kapan rakyat Aceh yang dikenal berbudaya ini berhenti membuang sampah tidak pada tempatnya? Apakah membuang sampah sembarangan sudah menjadi budaya Aceh? Hhhhhh. Aku kembali menghela nafas panjang dan menghembusnya keras-keras. Jika saja kita semua mau menjaga kebersihan lingkungan, hal kecil saja, seperti tidak membuang sampah sembarangan, alam akan senantiasa bersih, semua orang akan senang datang dan melihat Aceh.

Pulau Weh dari Krueng Raya

1-DSC_0131Nun jauh di seberang sana, Pulau Weh tampak misterius dengan warna biru gelap dari atas bukit karang tandus di Krueng Raya, Aceh Besar. Kerinduanku ingin kembali menjelajahi Pulau Weh sedikit terobati dengan berjalan-jalan di bukit karang ini.

 

[Kuliner] Bu Sie Itek Bireuen di Banda Aceh

Terakhir kali aku makan gule bebek di Banda Aceh itu….2 tahun yang lalu! Sudah lama sekali ternyata. Itu pun kalau tidak diajak Opink pada waktu itu, mungkin juga tidak akan pernah tahu kalau ada penjual nasi gule bebek enak di kawasan Pasar Peunayong, Banda Aceh. Nah, suatu kali seorang kerabat mengajakku mencoba sebuah warung dengan menu yang sama di tempat yang berbeda. Dia mengajakku ke Bu Sie Itek Bireuen.

Lanjutkan membaca “[Kuliner] Bu Sie Itek Bireuen di Banda Aceh”

Pacu Kude di Tanah Gayo

Keputusanku ke Takengon tanggal 23 Februari 2013 lalu terbilang sangat nekat dan mungkin akan kusesali jika malam minggu itu terjadi hal-hal yang aku khawatirkan karena suhu udara yang amat rendah. Hipotermia.

pacukude-2.jpg

Malam itu setelah perut kenyang, api unggun padam dan mata mulai mengantuk, aku memutuskan untuk tidur di dalam kemah yang hanya beralaskan terpal tipis, tanpa sleeping bag. Baju kulapisi lagi dengan jaket tipis dan mantel hujan. Celana jeans dan memakai sepatu. Tapi semua itu tak mampu mengurangi rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Aku hanya tidur sebentar-sebentar. Sebentar tidur, sebentar bangun dan menggigil, aku sudah khawatir sekali jika terkena hipotermia. Ketika terbangun lagi, hari sudah subuh. Aku menyalakan nesting di dalam kemah karena udara semakin dingin. Lanjutkan membaca “Pacu Kude di Tanah Gayo”

Mencapai Batas Barat Indonesia

Ada batas-batas yang memang tak bisa kita lampaui. Meski kecenderungan untuk melakukannya sungguh besar namun tak sebesar kita menghargai dan menjaga batas-batas yang ada.

Udara pagi di Pantai Balu-Pulau Breueh tak begitu dingin, aku berjalan-jalan ke ujung pantai dan menemukan batu-batu raksasa dan karang di bawah tebing bukit. Sebuah sungai kecil mengalirkan air berwarna coklat yang bermuara ke laut. Namun di dekat kuala, tepat di bawah tebing, ada mata air jernih yang keluar dari sela-sela kerikil dan batu-batu besar. Jika kelak kembali ke sini, air jernih ini bisa dipakai untuk memasak.

puloaceh-1puloaceh-3

Matahari terus bergerak naik, aku bergegas kembali ke kemah dan berkemas. Pagi ini perjalanan dilanjutkan bersepeda ke Meulingge setelah aku mengantar Nisa kembali ke Gugop. Jalan yang baru diaspal sebenarnya sangat memudahkan kami bersepeda. Tapi jalannya menanjak terus hingga 3 kilometer ke depan lalu menurun sepanjang lebih dari 2 kilometer. Rasanya jalan ini seperti tak ada habisnya. Tak ada ujungnya. Belum lagi membayangkan perjalanan pulang nanti.

puloaceh-1

“Ini nanti baliknya gimana, Dik?”

“Apa kita sewa boat aja untuk balik ke Gugop?”

“Ya ampun, Dik. Pengen kali es krim di Gunung Salju atau es cendol di Pasar Atjeh!”, keluhku sambil membayangkan minuman dingin mengalir di tenggorokan.

puloaceh-10

Semua pertanyaan dan keluhan tadi segera dibungkam oleh pemandangan segar di depan mata. Nun jauh di bawah sana terhampar panorama Rinon yang indah sekali. Laut biru dan hijau toska, pantai pasir putih, bukit tinggi yang hijau terhampar indah. Sangat indah.

puloaceh-1-2

Kami tiba di Rinon pada tengah hari. Gampong Rinon adalah sebuah mukim yang juga terletak di pesisir pantai. Kampung ini adalah tetangga Kampung Meulingge. Itu artinya tujuan kami seharusnya tak begitu jauh lagi. Tanah keras berbatu-batu sepanjang 3 kilometer ini adalah satu-satunya jalan menuju Meulingge yang ternyata cukup menguras tenaga juga. Badan dan ransel ikut terguncang-guncang ketika ban harus melindas bebatuan.puloaceh-2

Kami tiba di kaki bukit. Tepat di ujung Kampung Rinon. Jalan beraspal mulus menanjak terus ke atas dan hilang berbelok tertutup tebing bukit. Tanjakan lagi?!

Setelah menyantap makan siang-yang rasanya tiba-tiba berkali-kali lipat enaknya-kami melanjutkan perjalanan menuju Meulingge yang berjarak 5 kilometer dari Rinon. Tanjakan ini adalah tanjakan terakhir dan terberat yang kami lalui karena di sepanjang jalan inilah kami memompa semua sisa-sisa tenaga dan semangat yang kami miliki. Rasa legaaaa sekali ketika akhirnya melihat jalan menurun.

puloaceh-4

Kami meluncur dengan kecepatan sekian belas kilometer perjam. Angin kencang menyejukkan tubuhku yang berjam-jam dibakar matahari dan lelah yang luar biasa. Keringat yang bercucuran dari kepala hingga badan kering oleh angin. Bajuku sudah kulepas karena basah dan kuikat di belakang ransel. Nyeri pada bahu karena memanggul beban carrier sejenak terabaikan.

Meulingge sendiri adalah sebuah kampung yang terbilang kecil. Tapi sudah ada satu sekolah dasar di sini. Dari atas bukit, dapat kita lihat pelabuhan yang tampak baru. Di sebelah kanan sebelum memasuki kampung, kebun-kebun kelapa yang tak lagi berbuah setelah tsunami dibiarkan bersemak. Sampai saat ini, semenjak tsunami, buah kelapa diimpor dari Banda Aceh. Aku pikir, hanya buah sagu (rumbia) saja tak berbuah pasca tsunami.

puloaceh-1-3

Kami tiba di depan sebuah sekolah dasar dan berjumpa dengan Bang Nazar dan Bang Zein. Bang Zein ini adalah seorang guru yang berasal dari Semarang dan ikut dalam program SM3T yang sudah berada di Meulingge sejak 6 bulan lalu. Di rumah beliaulah kami beristirahat sebentar dan menambah persediaan air sebelum melanjutkan berjalan kaki ke Mercusuar Willem’s Toren.

Mercusuar Willem’s Toren yang mulai dibangun pada tanggal 17 Agustus 1874 dan beroperasi pertama kalinya pada tanggal 20 Juni 1875 ini berdiri kokoh di paling ujung Pulau Breueh. Warnanya yang merah-putih dapat terlihat dari pantai Pasir Putih, Sabang. Bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda lainnya yang berdiri di belakang mercusuar pun masih berdiri meski bagian dalamnya seperti lantai yang terbuat dari papan sudah hancur. Hanya sebagian ruangan saja dari bangunan ini yang masih bisa dipakai untuk pemantau navigasi sebagai tempat tinggal.

puloaceh-29

Mercusuar yang sudah berdiri ratusan tahun lalu tetap setia menavigasi kapal-kapal yang melintas di dekat perairannya. Bangunan tua dan penting ini seharusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Tapi kenyataannya banyak bagian-bagian vital pada bangunan ini tidak diperbaiki seperti tangga. Beberapa anak tangga hilang dan hampir tanggal. Untuk naik ke atas puncak, aku harus melangkah pelan-pelan dan berhati-hati agar tak merusak tangga dan lantai papan yang sudah amat tua umurnya. Namun di hati kecil terbersit pula jika sebaiknya mercusuar ini tidak lagi dinaiki oleh pengunjung agar tak memperparah kerusakan yang sudah ada. Tapi rasanya tak puas hati pula jika tak naik setelah menempuh perjalanan berat menuju ke tempat ini. Ah entahlah, aku tetap melangkah pelan-pelan hingga ke puncak.

Berdiri di atas mercusuar dan memandang ke samudra lepas, menghirup udara segar dan merasakan angin yang berhembus bergerak-gerak di kulit wajah. Tiupan angin juga menggerakkan keping-keping jendela kaca setebal 2 cm yang sudah pecah dan goyah. Hanya menunggu waktu saja pecahan-pecahan kaca tebal itu lepas dan jatuh.

Lampu utama atau lampu asli di puncak suar sudah tidak berfungsi lagi. Dapat kabar kalau air raksa yang harganya amat mahal untuk lampu itu dicuri. Sungguh sayang. Sekarang lampu penggantinya dihidupkan dengan listrik tenaga surya.

Mercusuar yang hampir dilupakan ini berbatasan langsung dengan Samudra Hindia dan menjadikannya pula sebagai pulau terluar paling barat Indonesia. Mencapai tempat ini, kami mengerahkan semua tenaga hingga batas terakhir. Batas di mana kami tak bisa pergi lebih jauh lagi kecuali kembali.

Mata tak puas-puasnya memandang laut, debur ombak ke tebing karang, pepohonan, bangunan tua, Pulau Weh, dan perahu nelayan yang bergerak lambat. Semua yang dapat kulihat dari balik pagar di puncak mercusuar itu adalah menakjubkan. Tapi lagi-lagi waktu membatasiku untuk berlama-lama menikmati keindahan ciptaan Tuhan ini.

Tuhan selalu bersama para pejalan. Tak ada cara lain untuk kembali ke Gugop selain kembali mendayung pedal sepeda. Tapi Tuhan Maha Baik. Bang Zein menawarkan diri untuk mengantarkan kami menggunakan motor. Lalu Tuhan mengirimkan lagi bala bantuanNya melalui Pak Busra. Beliau sedang menuju Gugop dengan pick-up dan kami menumpang hingga ke Gugop. Aaahh lega sekali.

Malam itu kami mendirikan tenda di Pantai Lambaro. Bang Zein ikut makan malam dengan kami dan bercerita banyak sekali tentang Pulo Breueh. Tentang keramahan penduduknya dan segudang masalah pendidikan di daerah ini.

Malam semakin larut, api unggun mulai mengecil, dan langit semakin pekat karena mendung. Bang Zein pamit dan kembali ke Meulingge. Guru muda berkulit gelap ini tentu tak boleh masuk telat besok pagi. Kami mengucapkan selamat jalan dan terima kasih atas kebaikannya yang entah kapan dapat kami balas.

puloaceh-30

Hari itu aku belajar tentang batas. Ada batas-batas yang memang tak bisa kita lampaui. Meski kecenderungan untuk melakukannya sungguh besar namun tak sebesar kita menghargai dan menjaga batas-batas yang ada.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ketinggalan pengalaman hari pertama kami di Pulo Breueh? Baca di sini: Hampir Gagal ke Pulo Breueh

Baca juga pengalaman kawanku, Dika, di sini: Menapaki Pulo Breueh (Bagian 2).

//