The Real Escapade to Pulau Bunta

Desember tahun lalu aku menaikkan sebuah tulisan berjudul An Escapade to Pulau Bunta di blog ini. Sebenarnya aku sendiri, sebelum tulisan itu terbit, belum pernah menginjakkan kaki ke pulau itu. Sudah dua kali ajakan ke sana terpaksa aku tolak karena ada saja keperluan lain yang tak bisa ditinggalkan. Hingga kesempatan yang dinanti-nanti pun tiba beberapa bulan setelah tulisan itu terbit. Jadi inilah cerita the real an escapade to Pulau Bunta oleh si backpakcer cilet-cilet. :D Lanjutkan membaca “The Real Escapade to Pulau Bunta”

Iklan

Pesona Keemasan di Pantai Lhok Keutapang

LK

Matahari sudah berada di atas puncak singgasananya saat kami tiba di sebuah tebing berbatu-batu cadas. Kami duduk di atas tebing melepas rasa lelah yang luar biasa menghantam punggung, pinggang, dan kaki. Nun jauh dari celah-celah dedaunan pohon yang rimbun tampak lautan dan puncak bukit Ujong Pancu. Selebihnya hanya awan putih dan sinar matahari yang menyilaukan saat menerobos dedaunan dari atas kepala. Pohon-pohon berbagai ukuran tumbuh lebat di kiri-kanan jalan. Lanjutkan membaca “Pesona Keemasan di Pantai Lhok Keutapang”

Bermalam Minggu di Tengah Hujan dan Badai

Terakhir kali aku berkemah dulu itu ketika mengikuti ekskul Pramuka waktu kelas 1 SMP. Sudah sepuluh tahun lebih dan pengalamannya yang bisa kuingat hanya sebatas minta tandatangan senior, disuruh push-up, main bola dangdut sambil hujan-hujanan, dan mandi di aliran sungai dari pegunungan Leuser yang super dingin. Di kala itu aku dan para anak-anak bawang lainnya belum diajarkan bagaimana bertahan di tengah hutan, hujan dan badai. Semua dijaga dan diatur oleh kakak pembina. Pelajaran kecil penting ini baru aku rasakan di hari sabtu tanggal 7 Juli lalu. Meski cuma semalam, aku belajar banyak hal dari dari alam.

Pantai Lhok Mata Ie dan di depan sana adalah Pulau Bunta yang tak berpenghuni.

Seperti yang pernah aku ceritakan di postingan terdahulu (bisa baca di sini) kami  bertiga sudah berencana untuk berkemah di Ujong Pancu, yaitu sebuah kampung di kabupaten Aceh Besar. Lokasi ini berpotensi menjadi salah satu tujuan Aceh tourism baik lokal maupun domestik. Sesuai namanya, Ujong yang berarti ujung merupakan bagian paling ujung pulau Sumatra. Ada 2 peternakan ayam yang berbatasan langsung dengan jalan beraspal di pinggir pantai. Tempat ini dijadikan starting point dan sebagai tempat parkir orang-orang yang pergi berkemah dan para pemancing. Jika musim hujan, bau kotoran ayam yang basah menguar menyesakkan dada. Lanjutkan membaca “Bermalam Minggu di Tengah Hujan dan Badai”

Lhok Mata Ie Ketika Hujan

Pantai Lhok Mata Ie adalah salah satu pantai sekaligus tujuan wisata Aceh yang bisa dikatakan private beach-nya Aceh Besar. Selain tersembunyi, pengunjung yang mau datang ke lokasi ini harus menempuh waktu sekitar 30 menit dari pusat kota Banda Aceh ke arah pantai Ujong Pancu dan dilanjutkan berjalan kaki selama 1 jam naik turun bukit.

Perjalanan ke Lhok Mata Ie kali ini adalah untuk menunjukkan ke Dika dan Kindi lokasi perkemahan kami yang sudah lama direncanakan. Tapi tertunda karena belum punya tenda dan perlengkapan lainnya.  Lanjutkan membaca “Lhok Mata Ie Ketika Hujan”

Nice trip ke Ie Su’um dan Ujong Pancu

Yes! Liburan lagiii…

Loh? Puasa-puasa libur? Ga kerja?

Iyaaahh..ini bisa libur karena pas berangkat ke Banda Aceh untuk laporan bulanan.

Tanggal 18 Agustus lalu aku berangkat ke Banda Aceh. Jadi kebetulan pas weekend aku bisa mengunjungi beberapa objek wisata di Banda Aceh dan Aceh Besar. Padahal sebenarnya ga pengen lama-lama di Banda Aceh, cukup dua hari aja. Tapi gara-gara cuaca yang hujan bikin aku mikir kalau jalan Lamno – Calang pasti becek dan malasnya terperangkap dalam lumpur. Jadi tambah malas buat pulang. Akhirnya aku bertahan sampai beberapa hari di sana.

Hari pertama, sedang jalan-jalan di jalanan Teungku Daud Bereueh. Shalat di Masjid Al-Makmur dan ganti baju di jembatan penyebrangan. Kebetulan toilet mesjid sedang direnovasi, aku yang masih pake kemeja karena baru pulang dari kantor harus nyari tempat buat ganti kemeja dengan kaos. Pilihanku cuma di atas jembatan penyeberangan itu. Karena selalu aja tempat itu jaraaang sekali ada yang pergunakan. Sempat juga kepikiran kalo nanti ga tersedia penginapan di rumah kawan, aku tidur aja di atas jembatan itu. Hehe…

Setelah ganti baju, istirahat bentar di atas sambil perhatiin lalu lintas. Iseng aku foto-foto.

Sedang nunggu labi-labi (angkot)

Tuh, haltenya juga jaraaang sekali dipake buat nunggu angkutan umum. Paling juga buat berteduh atau buat ditiduri sama tukang-tukang becak atau yang seperti di dalam foto di atas. Kalo dipikir-pikir, keknya kota ini emang ga perlu halte lah! Labi-labi aja berhenti di mana aja dia dan penumpang suka. Haha…

Setelah Masjid Raya Baiturrahman, masjid lain yang aku suka adalah Masjid Al Makmur yang di Lampriet. Paling suka sama karpet sajadahnya yang super empuk. Shalat di dalamnya pun berasa nyaman dan adeeemmm…

Masjid Al Makmur

Selanjutnya aku ke Ie Su’um di Kecamatan Krueng Raya. Jaraknya sekitar dua jam perjalanan dengan menggunakan motor. Melewati Pelabuhan Malahayati yang bersejarah itu jadi ingat bosku yang punya nama yang sama. Hehe..

Perjalanan menuju lokasi air panas dari jalan raya ditempuh selama lebih kurang setengah jam, jalan yang dilalui pun naik turun bukit dan kondisi aspal yang rusak parah. Bahkan salah satu jembatan menuju ke lokasi sumber air panas rusak karena dibakar oleh orang yang sepertinya sih nyari perhatian Pemda setempat supaya daerah mereka segera diaspal dan jembatannya diperbaiki. Ehm, iya sih. Terakhir kali ke sini tahun 2008 lalu kondisi jalannya tambah parah. Semoga aja pemerintah daerah segera memperhatikan daerah terpencil ini.

Ie Su'um (2008)

Itu foto sumber air panasnya. Foto lama sih. Waktu itu belum ada pembangunan kolam untuk menampung air panasnya. Sekarang udah keren, ada kolam dan perosotan buat anak-anak. Kolamnya dibuat tertutup dan dipisah untuk laki-laki dan perempuan.

Uap
Kolam air panas
Kolam baru sedang dibangun

Nah itu dia foto-foto kolamnya. Yang ada tenda-tenda putih itu kolam buat anak-anak karena lokasinya terbuka dan lebih kecil dan dangkal. Sedangkan foto di atasnya untuk dewasa dengan  kedalaman dua meter. Untuk kolam yang dewasa, ada dua kolam, kolam yang besar dan yg kecil. Jadi aliran air panasnya ngalir dari parit khusus dan ditampung di kolam kecil ukuran 2×2 meter yang kemudian langsung mengalir ke kolam yang lebih besar.

Pas nyampe di sana, kolam buat yang dewasanya sedang diisi, airnya baru selutut dan masih sangat panas untuk ukuran suhu tubuh normal manusia. Jadi aku ga berani loncat. Terus aku ke kolam untuk ceweknya, kebetulan waktu itu kolamnya sepi. Ga ada pengunjung. Jadi untuk kolam cewek airnya sengaja dibendung dan cuma mengalir di kolam penampungan pertama dan airnya hangat. Jadilah aku berendam di situ dengan hanya bercelana dalam. Mumpung lagi sepi. Haha…

Pulang dari Ie Su’um, aku lanjut lagi ke…entah apa nama daerahnya. Dari Ulee Lhee aku belok kiri ke arah Ajun. Lewat dari Water Boom dan Banda Seafood, aku belok ke kanan dan mengikuti jalan beraspal sampai mentok. Jalan aspalnya putus dan di depan udah semak belukar aja. Ternyata, inilah namanya Desa Ujong Pancu. Dulu pernah dengar dari beberapa orang tentang desa di tepi pantai ini.

Ujong Pancu = Ujung Sumatra?

Sepertinya Ujong Pancu ini adalah daerah paling ujung dari pulau Sumatra. Tapi ga tau juga sih ya.. Belum liat peta. Tapi kalo dari namanya sih kayaknya iya. (ngarang!) :p

Ujong Pancu
Boat dijual murah. LOL

Oke, udah dulu jalan-jalannya. Harus balik ke Meulaboh. :D