The Real Escapade to Pulau Bunta

Desember tahun lalu aku menaikkan sebuah tulisan berjudul An Escapade to Pulau Bunta di blog ini. Sebenarnya aku sendiri, sebelum tulisan itu terbit, belum pernah menginjakkan kaki ke pulau itu. Sudah dua kali ajakan ke sana terpaksa aku tolak karena ada saja keperluan lain yang tak bisa ditinggalkan. Hingga kesempatan yang dinanti-nanti pun tiba beberapa bulan setelah tulisan itu terbit.

Jadi inilah cerita the real an escapade to Pulau Bunta oleh si backpakcer cilet-cilet. Silahkan klik tautan ini untuk membaca catatannya lebih lengkap. The Real Escapade to Pulau Bunta.

Gambar

Iklan

Video: Trip to Malaysia

Perjalanan ke Malaysia memang sudah lama berlalu. Tapi perjalanan itu masih menyisakan kesan indah di hatiku, Wulan, dan Dika. Berikut adalah rekaman perjalanan kami di Malaysia ketika mengunjungi beberapa tempat wisata di Malaysia, salah satunya Selangor. Video dibuat oleh Dika.

Nuansa Dua Negara di Taman Alam Lumbini

Hari minggu pagi di Medan (0909) cuaca lumayan cerah. Langit sepenuhnya ditutup awan putih. Namun tidak ada tanda-tanda akan datang awan mendung. Suasana di jalan Pembangunan di kompleks USU pun tak terlalu ramai seperti hari biasa. Selain beberapa sepeda motor yang lewat, dua orang perempuan dengan rambut dikucir dan memakai rok selutut berjalan menuju sebuah gereja kecil di ujung sebuah gang. Masing-masing memegang Injil di tangan kanan. Aku dan Kemal bergegas melangkahkan kaki menuju persimpangan dan menyetop angkot menuju Simpang Kampus.

Di sana sudah menunggu Riza dan Aiko, Erna menyusul setengah jam kemudian. Meski molor dari waktu yang sudah ditentukan kami tetap berangkat menaiki angkot ke arah Berastagi dari Simpang Pos, tempat yang sudah kami sepakati semalam ketika menyusun itinerary yang diberikan Kak Anti, seorang kenalan dari Backpacker Medan. Ongkos angkot dari Simpang Kampus ke Simpang Pos hanya 2.500 rupiah. Dari sini kami kembali menaiki angkot ke arah Berastagi.

Tujuan kami adalah Taman Alam Lumbini di Desa Tongkoh, Kabupaten Tanah Karo. Aku dan keempat kawan menaiki angkot Sutra ke Berastagi dengan ongkos Rp.10.000 saja. Bilang saja turun di Tahura atau Simpang Tongkoh. Simpang Tongkoh dapat dikenali dengan tugu buah jeruk di tengah pertigaan. Ikuti saja tanda panahnya dan boleh berjalan kaki sekitar 20 menit. Sepanjang perjalanan singkat ini, kita akan disuguhi kebun stroberi, kebun jagung dan kebun bunga di kiri-kanan jalan.

Simpang Tongkoh. Ikuti arah panah pada papan petunjuk untuk menuju Taman Alam Lumbini.

Lanjutkan membaca “Nuansa Dua Negara di Taman Alam Lumbini”

Malam Pertama di Kuala Lumpur – Day 1

Setahun yang lalu aku hanya bisa melihat Petronas Tower dari balik kaca jendela bus yang terjebak macet di Kuala Lumpur dalam perjalanan menuju Ampang.  Itu adalah hari terakhir aku berada di Malaysia untuk mengikuti My Selangor Story di tahun 2010. Sebuah kompetisi blog selama seminggu yang closing ceremonynya super keren dari atas bukit Ampang dengan pemandangan Kuala Lumpur di malam hari.

Ya, setahun yang lalu. Kenangan pertama aku di luar negeri tersebut tak mungkin bisa luput dari ingatan. Kegembiraan di hari keberangkatan dari Bandara Polonia, melewati imigrasi di Bandara Sultan Abdul Azis Shah (Subang) dan bertemu dengan para Lanjutkan membaca “Malam Pertama di Kuala Lumpur – Day 1”

Menapak surga di Ijen

Jika dideskripsikan seperti apakah Ijen, buatku, setelah menggenapi usia 25 tahun di Oktober lalu, setelah segelintir tempat di Indonesia ini yang aku kunjungi (dan harus bertambah terus) Ijen adalah tempat yang paling menawan yang pernah aku lihat. Terkesan berlebihan? Memang, pada saat itu, Ijen adalah tempat tertinggi dan terjauh yang pernah saya datangi. Sebagai backpacker amatiran, perjalanan ini sangat penting. Dan apa yang aku lihat pun berpuluh kali lipat pula pentingnya.

Perjalanan yang memakan waktu setengah hari melewati kebun-kebun, melintasi  hutan lewat jalan yang parah namun pemandangan yang indah di sekeliling, menginap semalam di Catimore Homestay lalu pada subuhnya harus bangun dan memaksakan diri untuk sarapan. Perjalanan panjang sebelumnya yang seharusnya menguras habis tenagaku namun kekuatan tubuh tetap maksimal untuk bangun pada subuh yang dingin itu .

Dari Balawan yang masih sangat gelap, kami bergerak menuju Ijen. Walaupun tubuh masih menginginkan diri berbaring lebih lama di kasur tapi mata tak berhenti nyalang melihat suasana subuh di luar mobil. Semakin jauh dari perumahan perkebunan, gelap mulai terangkat. Pohon-pohon kopi digantikan dengan semak belukar dan pohon cemara. Rumput-rumput jarum yang basah berembun. Bukit-bukit dengan cahaya jingga di atasnya. Semak-semak yang rantingnya patah dan mengeluarkan aroma khas. Sekali-kali tercium aroma belerang terbawa angin. Sebuah sungai berwarna hijau kebiruan mengalir deras di bawah jembatan kecil yang kami lewati. Pohon-pohon dan semak-semak yang basah dan udara yang dingin. Dipikiranku terus mengulang-ulang meyakinkan ‘kita sedang di surga!’. Ini indah sekali. Semuanya indah. Batu sungai, pohon, daun-daun, lereng bukit, jembatan, rinai gerimis, semak perdu dan ilalang, pohon mati, semua! Aku begitu merasa diberkati pagi itu. :)

Lanjutkan membaca “Menapak surga di Ijen”