Jalan-jalan di Maeklong Railway Market

Kami meninggalkan Don Hoi Lot Market dengan perut kenyang. Namun hati sebenarnya masih ingin berlama-lama menikmati suasana pantai Don Hoi Lot yang sejuk itu. Andai waktu untuk berleha-leha di sana masih banyak, pasti sudah kubiarkan mata ditiup angin sepoi di bawah rindang pohon cemara dan tertidur di atas tikar. Tapi kami harus bergerak cepat agar tiba di destinasi selanjutnya tepat waktu.

Perjalanan yang ditempuh dari Don Hoi Lot menuju Mae Klong Train Station tak begitu jauh, tak lebih dari satu jam berkendara mobil. Jalan menuju ke sana pun beraspal mulus dan bersih. Tak ada hambatan apapun selama perjalanan meskipun hari itu hari minggu. Padahal Maeklong Railway Market sudah menjadi objek wisata yang semakin populer di kalangan wisatawan dalam dan luar negeri.

Lanjutkan membaca “Jalan-jalan di Maeklong Railway Market”

Iklan

Piknik Asik di Don Hoi Lot

Bus umum yang aku dan Titi tumpangi pagi minggu itu berbeda dari bus yang biasanya kami naiki atau yang sering kami perhatikan ketika sedang berjalan-jalan di Bangkok. Bus yang ini agak sedikit usang dan berdebu. Lantainya sudah diganti dengan papan. Jendela kaca dan dinding bus berdebu dan kusam.  Meski begitu, bus ini memiliki kipas angin yang masih berfungsi dengan baik. Walaupun baling-baling kecilnya yang berwarna biru sudah dilapisi juga dengan debu tebal berwarna kecoklatan.

Lanjutkan membaca “Piknik Asik di Don Hoi Lot”

Ada Puppet Show di Thailand

Artist’s House atau Baan Silapin adalah salah satu tempat pertunjukkan seni berupa puppet show dancing di Bangkok. Hari itu kami menonton lakon Ramayana dan Shinta oleh penari-penari yang berpakaian serba hitam. Pewayang menari-nari dengan gerakan yang dinamis dan kaki yang mengentak-hentak. Satu boneka dimainkan oleh tiga orang yang mengenakan topeng.

Mengunjungi Artist’s House di Bang Luang adalah pilihan tepat setelah lelah berputar-putar melihat kuil-kuil megah.  Jika beruntung, kamu dapat berbelanja jajanan dari perahu-perahu di kanal selayaknya floating market. Bagaimana cara menuju ke Artist’s House ini? Baca selengkapnya di sini: Menonton Pupper Show di Khlong Bang Luang.

Menonton Puppet Show di Khlong Bang Luang

Kami terus berjalan kaki melewati Grand Palace. Pagoda emas berkilauan ditimpa cahaya matahari menjulang dari balik dinding tinggi berwarna putih. Aku dan Titi terus berjalan hingga mencapai Thammasat University dan Wat Pho. Menumpangi ferry Chao Phraya, kami bertolak ke pinggiran kota Bangkok, lumayan jauh dari pusat kota. Adalah Kam yang membawa kami hingga tiba ke daerah yang mungkin bila kuulangi sendiri pasti akan tersesat. Kam adalah seorang teman yang kukenal ketika mengikuti Malaysia Tourism Hunt pada bulan September 2013 lalu. Perempuan cantik asli Thai ini membawa kami berjalan-jalan hingga ke pelosok di luar Bangkok.

Setelah berjalan kaki ke Phra Athit, menaiki ferry di Chao Phraya, berjalan kaki dan menumpangi taksi yang memakan waktu hingga 30 menit, tibalah kami ke sebuah sungai yang dilewati long boat khusus tour. Layaknya kampung di pinggiran sungai di Bangkok, rumah-rumah dibiarkan rapat-rapat hingga ke perbatasan kanal. Rumah-rumah kayu beratapkan seng menutupi hampir seluruh areal perkampungan ini.  

Tepat di sisi kiri jembatan, beberapa kedai menjual kerajinan dan benda seni. Pada teras-teras beberapa kedai dihiasi dengan pajangan bungkusan plastik berisi makanan ikan berwarna-warni yang dapat dibeli untuk umpan ikan Paroon Shark yang lazim ditemui di sungai Chao Phraya dan kanal-kanalnya.

Awalnya Kam tidak memberitahuku tempat apa yang akan kami kunjungi. Aku menduga akan mengunjungi candi-candi lagi atau melihat patung Buddha emas. Tapi rupanya Kam memberikan kejutan dengan mengantar kami menonton wayang di Artist’s House, Bang Luang.

Artist’s House atau disebut juga Baan Silapin adalah salah satu tempat pertunjukkan seni berupa puppet show dancing di Bangkok. Hari itu kami menonton lakon Ramayana dan Shinta oleh penari-penari yang berpakaian serba hitam. Pewayang menari-nari dengan gerakan yang dinamis dan kaki yang mengentak-hentak. Satu boneka dimainkan oleh tiga orang yang mengenakan topeng. Sesekali wayang bertingkah jenaka untuk mengocok perut penonton.

Sayangnya sebelum acara dimulai, tidak ada penjelasan dalam bahasa Inggris sama sekali. Semuanya berbahasa Thailand sehingga tamu-tamu dari luar negeri seperti kami tidak mengerti apa yang MC katakan. Tapi kekurangan ini dapat ditutupi dengan penampilan wayangnya yang amat menghibur. Shinta menari memutar-mutar tangannya yang berjari lentik. Ramayana pun tak kalah agresif mendekati Shinta yang jinak-jinak merpati. Pada akhir pertunjukkan wayang, Ramayana dan Shinta berinteraksi dengan penonton seperti bersalaman, memeluk, dan mencium. Tingkah-tingkah lucunya membuat pecah gelak tawa para penonton yang didominasi oleh wisatawan dari Jepang.

Khlong Bang Luang Artist’s House tak hanya menyuguhkan seni tari wayang saja. Di sini juga menjual buku-buku sastra, buku-buku tulis yang terbuat dari kertas daur ulang, kartu pos, dan aksesoris unik lainnya. Pada dinding dan tiang-tiangnya dihiasi topeng dan lukisan. Bagian belakang rumah, sebuah stupa kecil berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh dibalut kain kuning di tengah taman mini yang dipagari bambu cina. Di teras, persis di pinggir kanal, didudukkan sebuah patung laki-laki dengan perut buncit, kepala botak, dan kulit bercat merah, duduk menghadap ke luar seolah sedang menanti seseorang. Seorang penjual es krim kelapa datang dan merapat ke teras rumah dengan boatnya. Suara denting halus terdengar untuk menarik perhatian. Aku membeli tiga cup es krim sambil mendengar mukadimah sebelum wayang dimulai.

Mengunjungi Artist’s House di Bang Luang adalah pilihan tepat setelah lelah berputar-putar melihat kuil-kuil megah. Cara paling mudah dan murah menuju lokasi ini adalah dengan menaiki taksi ke Charoen Sanitwong Soi 3 yang berakhir ke sebuah soi (lorong), yang berakhir di 7 Eleven. Turun di situ lalu berjalan kaki terus sampai bertemu kanal dan jembatan lalu berbeloklah ke kiri. Rumahnya berada di paling ujung. Jika beruntung, kamu dapat berbelanja jajanan dari perahu-perahu di kanal selayaknya floating market.

Khlong Bang Luang Artist House
Soi 28, Wat Kuhasawan, Thonburi
T: (028) 685 279; (081) 258 9260; (089) 125 3949
Open daily 09:00 to 17:00

Mengunjungi Tanah Seribu Senyuman

Ternyata Bangkok tak hanya dijuluki dengan Negeri Seribu Pagoda dan Negeri Gajah Putih saja. Tapi dikenal juga dengan julukan Tanah Seribu Senyuman. Tanah yang membuat aku betah tinggal lama-lama karena warganya begitu murah senyum.

Aku tiba di Bangkok pada akhir bulan November 2013 lalu ketika pihak oposisi dari Suthep Thaugsuban menggelar aksi menduduki pusat pemerintah di kawasan Democracy Monument. Aku berangkat berdua dengan Titi dari Medan dan mendarat di Don Mueang Airport lalu melanjutkan perjalanan dengan BTS dan menaiki boat menyusuri kanal-kanal dan berhenti di Sanab Pier yang hanya berjarak 1 kilometer dari Democracy Monument.

Pukul 6 sore waktu itu. Ratusan orang dengan pita berwarna merah putih biru-putih merah dikalungkan di leher dan berbagai aksesoris lainnya dengan warna bendera nasional Thailand bergerak menuju Democracy Monument. Seorang penyanyi laki-laki yang sepertinya amat populer di negara ini sedang bernyanyi di tengah monument. Layar-layar besar dipancangkan di berbagai sudut agar pendemo dapat melihat sang penyanyi dan tokoh idolanya berorasi. Lanjutkan membaca “Mengunjungi Tanah Seribu Senyuman”

Malaysia Tourism Hunt 2013: Fly & Drive!

MTH2013LOGOTourism Malaysia kembali menggelar acara turisme menarik yang mengenalkan destinasi-destinasi andalan mereka kepada negara-negara Asean. Aku beruntung menjadi salah satu dari 80 peserta yang berasal dari Malaysia, Philipine, Thailand, Brunai, Singapore, Indonesia, dan termasuk juga negara Iran dan Italia.

Tahun 2013, Malaysia Tourism Hunt mengusung tema ‘Fly & Drive’. Para peserta dari luar negara diterbangkan ke Malaysia dengan maskapai Malaysia Airlines dan selama 6 hari berkonvoi dengan mobil Proton Preve dan Inspira menjelajah bagian selatan Malaysia.

mth-2

Berangkat dari Putrajaya sebagai pusat administrasi pemerintahan Malaysia dengan gedung-gedung berarsitektur megah dan ruang hijau yang menawan, 80 peserta yang terdiri dari media televisi, media cetak dan online, dan blogger dilepas menuju Sepang yang kemudian akan terus bergerak dan singgah di Port Dickson, Melaka, Muar, Kluang, Nusajaya, dan Johor Bahru.

mth

Menyambut Visit Malaysia 2014 dalam sambutan oleh YBhg Dato’ Hj. Azizan Noordin, Deputy Director Planning of Tourism Malaysia bahwa even Malaysia Tourism Hunt 2013 ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah visitor yang ditargetkan mencapai 28 juta orang dengan pendapatan hingga 78 milyar ringgit. Ini bukanlah target yang muluk bagi Malaysia. Karena setiap destinasi wisata di negara ini memiliki potensi yang menarik, unik, dan dikelola dengan serius. Even Malaysia Tourism Hunt 2013 ini adalah salah satu bukti keseriusan departemen pelancongan Malaysia untuk mencapai target tadi.

Ayo! Ikuti catatan perjalananku selama 6 hari mengikuti Malaysia Tourism Hunt 2013 menaiki Proton Inspira bersama tim Same-same yang beranggotakan Aku, Bang Firdaus dan Yap dari Malaysia, dan Kam dari Thailand. Fasten your seat belt. Keep calm, sit, and relax. :D

mth-4

Berpuasa di Bangkok

Traveling di dalam bulan puasa di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim adalah sebuah perjalanan yang penuh ujian. Apalagi jika tujuannya adalah kota-kota wisata di negara Asia Tenggara yang jajanan murah dan tampak enak amat mudah ditemui. Makanan dengan tampilan menggiurkan hingga yang terlihat ‘aneh’ dijual di warung-warung hingga gerobak sorong di pinggir-pinggir jalan hingga ke dalam pasar. Meski mata sanggup menahan godaan dari menatap etalase makanan tapi hidung tak dapat menahan napas lama-lama hingga reaksi kelenjar air liur yang menjadi lebih aktif. Lanjutkan membaca “Berpuasa di Bangkok”