Bersepeda ke Pulau Semadu

Titi Semadu

Ini adalah jembatan yang menghubungkan Pantai Rancong dengan Pulau Semadu. Pulau Semadu ini sendiri hanyalah sebuah daratan sepanjang kurang lebih 300 meter yang nyaris terpisah dengan daratan. Bangunan jembatannya terdiri dari bilah-bilah papan dan rangkaian bambu sebagai pagar/pegangan di kiri kanannya.
Aku tiba di sini sudah hampir tengah hari setelah bersepeda

Iklan

Titi Semadu

Ini adalah jembatan yang menghubungkan Rancong dengan Pulau Semadu. Pulau Semadu ini sendiri hanyalah sebuah daratan sepanjang kurang lebih 300 meter yang nyaris terpisah dengan daratan. Jadi sebenarnya  bukan sebuah pulau ya. Bangunan jembatannya terdiri dari bilah-bilah papan dan rangkaian bambu sebagai pagar/pegangan di kiri kanannya. Panjangnya kurang dari 100 meter.

Aku tiba di sini sudah hampir tengah hari setelah bersepeda sejauh lebih kurang 20 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Kota Lhokseumawe. Mengabaikan jalan utama Lhokseumawe – Banda Aceh, aku  memilih melewati jalan di balik bukit Kampung Paloh.

Tujuan ke Rancong ini semula tak direncanakan. Tujuan awal adalah bersepeda mengelilingi bukit-bukti Panggoi dan Paloh. Namun jalan yang kususuri berujung kepersimpangan yang warga setempat menyebutnya Simpang Len (Line). Yaitu jalan yang dibangun oleh Exxon Mobile dan tembus ke pelabuhan Arun. Lanjutkan membaca “Bersepeda ke Pulau Semadu”

19 Oktober, motor, sepeda dan tanggal keberuntunganku

Setahun yang lalu sejak saya memutuskan untuk memiliki sepeda dan mengambil keputusan berat yaitu menjual sepeda motor yang dibeli pada ulang tahun saya yang ke 21. Begitu juga sepeda ini. Saya membelinya ketika saya berusia 22 tahun. Semuanya begitu tepat pada saat saya menggenapi usia yang terus berkurang.

Bang Yos 075
Red Horse

Tanpa disengaja sebenarnya. Ga tau juga kenapa harus membeli kendaraan itu justru bertepatan pada tanggal 19 Oktober. Tiba-tiba ada aja rejeki buat ngebeli motor dan kemudian sepeda pada tanggal itu. Alhamdulillah. Artinya tanggal itu memang berkah. Dan semoga selalu diberikan berkah itu, ga cuma ke saya tapi ke setiap orang. Amiiiin… Hehe..

Semenjak motor terjual dan sepeda inilah yang terus menemani. Ke kantor, olahraga, belanja dan apa aja deh pasti dengannya terus.

biking 026
Masih baru, masih kinclong!

Konsekuensinya adalah saya ga bisa lagi ngelakuin perjalanan jauh. Ga  ada traveling dengan motor lagi. Cita-cita keliling Aceh naik motor pun harus saya gantung dulu dan berharap akan datang kesempatan untuk ngelakuin itu lagi. Amin…

Setiap bulan, setiap kali akan ke Banda Aceh selalu saja kesempatan untuk traveling yang bisa saja saya lakukan harus disimpan lagi dalam-dalam. Gantinya have fun aja  deh di Banda Aceh. Hunting dvd atau ke Lampuuk. *sigh*

Btw, nyesal ga sih motorku dijual dan ga bisa traveling lagi? Hmm…ya…nyesal… Ga bisa lagi pulang kampung dan ngelakuin hal-hal gila yang mungkin ga pernah dipikirin orang. Hal gila yang tiap kali ketemu sungai pasti nyebur di tempat sepi. DOH!

Ga bisa lagi ngebut 100KM/jam. Kebut-kebutan dengan truk! Ga bisa lagi ngerasain adrenalin rush ketika nyaris menabrak dan atau ditabrak kenderaan lain. Ga ada lagi deh kehujanan di tengah jalan. Ga bisa lagi ngeliat pemandangan-pemandangan indah (dan mengerikan) selama perjalanan.

Yah, andalanku sekarang adalah kalo motor yang aku jual ke abang sedang nganggur selama seminggu. Baru deh bisa aku bawa buat traveling. Alhamdulillah, kesempatan itu pun datang! Gila aja..seperti ngedapatin durian runtuh aku minta pinjam dan aku bawa ke Banda Aceh. Syukurnya bertepatan sekali pas di jadwalnya Laporan Keuangan di kantor wilayah Banda Aceh.

Well, tunggu cerita pengalaman saya yang bagian ini di tulisan selanjutnya ya… :)

Gowes Minggu Pagi

Minggu, 23 November 2008

Sudah jam sepuluh lewat aku sampai terkantuk-kantuk menunggu seorang kawan menghabiskan sarapannya. Kami berencana untuk bersepeda atau dengan kata kerennya sekarang gowes atau goes. Rute kami hari ini adalah Mereubo-Rantoe Panyang-Pasi Aceh-Peureumeu-Putim (Danau Geunang Geudong).

Sampai di Mereubo saya mengajak seorang kawan lagi untuk ikut, tapi dia sedang ditugasi menjaga rumahnya. Jadi hanya kami berdua yang bergerak ke lokasi tadi.

Berikut beberapa foto perjalanan kami.

Jembes-Mereubo
Jembes-Mereubo
Ranub Dong
Ranub Dong
Rantoe Panyang
Ranto Panyang
Kejar Buleeee...
Bermain dalam becek

6

Trio Kembang Desa
Ibu-ibu yang sepertinya sedang bergegas ke acara kenduri.
Long road to Lake Geunang Geudong
Jalan panjang menuju Danau Geunang Geudong
???
Istirahat sebentar di atas jembatan
Krueng Woyla
Krueng Woyla
Meulaboh-Putim
Meulaboh-Putim
Lurus atau Kiri, Cit?
Lurus atau Kiri?
i don't wanna die here! take me home, soldier! (?)
Ngaso di sebuah pondok di pinggi danau

Foto-foto Bersepeda ke Danau Geunang Geudong

Berikut adalah foto-foto objek wisata Aceh Danau Geunang Geudong di Kabupaten Aceh Barat. Tepatnya di kecamatan Kaway 16, Desa Putim.

Foto-foto ini saya ambil dalam perjalanan selama bersepeda menuju danau. Selamat menikmati. :)

Jembatan putus
Jembatan putus
Jembatan gantung pertama
Jembatan gantung pertama
Mau naik jembatan
Mau naik jembatan
Bike for life!
Bike for life!
Sun-day morning
Sunday morning
Genjot terus!
Salah satu jalur yang belum pernah kutelusuri.
Reudeup!
Salah jalan. Lurus : Reudeup!
Salah jalan, Cit!
Salah jalan!
Mencari jalan pulang
Mencari jalan pulang
Horee..ka di poto loen!
Pesepeda lokal.
Bang, poto kamoe lee sigoe...
Bang, poto kamoe lee sigoe…
Bukit Geunang Geudong
Bukit Geunang Geudong
Danau Geunang Geudong
Danau Geunang Geudong
( ? )
Sudut lain danau

Road to Danau Geunang Geudong (Part 3)

Saya sudah di Pereumbee! Alhamdulillah, perjalanan yang sangat panjang bukan? Bisakah anda mencoba membayangkan bagaimana rasanya, bagaimana pedihnya tersesat? Hohhhh…(dramatic mode:ON).

Slow down, babe! Saya melaju bersama sepeda tercinta dengan hati senang, riang, hari yang kunantikan! Halah, kok jadi menyanyikan lagu Sherina?! Ya iyalah! Secara sudah terbebas dari belantara jalan-jalan kampung yang membingungkan itu, kini saya sudah berada di atas jalan raya lagi.

Saya ke Putim sekarang! Melaju dengan mantap melewati Beureugang dan papan petunjuk danau pun terlihat.

Betapa leganya hati begitu melihat permukaan danau yang tenang. Bagaikan cermin bayangan pohon-pohon dan awan terlukis dengan detil di atas permukaan air yang berwarna coklat pekat. Sulur-sulur ganggang air mengambang memberi nuansa danau yang eksotis. Seorang pria paruh baya dudukdengan santai sambil menghisap rokok daun, menanti kail ditangkap ikan gabus. Seorang temannya baru saja menarik joran dan ikan gabus sebesar jempol kaki menggelepar dari ujung talinya.

Saya memilih sebuah cafe pondok bercat biru yang hampir rampung dibangun di tepi danau. Saya duduk di tangga yang menghadap ke danau dan mengeluarkan bungkusan nasi gurih yang saya beli di Meulaboh tadi. Hm…nikmatnya…

Terbayang kembali saat-saat gowes di dalam perkampungan atau tepatnya pedalaman Kaway 16 tadi. Saat-saat ketika melewati jembatan gantung dan mendaki bukit-bukit yang ditumbuhi pohon durian yang sedang berbuah lebat. Ketika menyapa para warga setempat dan membalas senyum ramah mereka. Bercanda dengan anak-anak kampung yang minta difoto. Ketika meminta petunjuk jalan ke beberapa warga yang sedang membersihkan kebun. Dengan semangat mereka memberikan penjelasan jalan mana yang harus saya tempuh untuk dapat kembali ke jalan yang benar. Ya, setelah tersesat di jalan yang salah. Pengalaman ini benar-benar tak ternilai harganya. Memikirkan hal ini membuat rasa cinta Aceh saya semakin besar!

Sekian laporan tentang perjalanan bersepeda saya dari Meulaboh ke Danau Geunang Geudong yang melintasi kampung-kampung dan sungai-sungai.

Road to Danau Geunang Geudong (Part 2)

Nah, saya mau melanjutkan lagi cerita saya ketika gowes menuju Danau Geunang Geudong di kecamatan Kaway 16.

Saya menyasar puluhan kilometer dari Pereumbee dan hampir sampai ke Reudeup. Sesuai petunjuk beberapa warga setempat saya harus mengikuti beberapa belokan jalan; yang alhamdulillah sudah beraspal mulus. Cukup membantu saya karena sudah sejam lebih saya duduk di sadel keras itu! Tapi jalanan beraspal itu pun segera berakhir digantikan dengan jalanan berbatu dan mendaki. Saya terpaksa turun dan saat itu juga saya sadar betapa pegalnya paha saya terus-terusan mengayuh sepeda.

Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah pohon-pohon, kerbau, sapi, sawah, kambing, pabrik bata, tiang dan kabel listrik, semak dan penduduk yang sedang berangkat ke ladang atau kebun. Hehe..tentu saja para gadis-gadisnya yang menarik mata dan hati! Cyamikieeee….

Hiks, sejauh mata memandang…kemanakah tower-tower BTS merah putih itu????

My God……. I’m lost! Again! Saya termangu di kiri jalan. Memandangi persawahan yang sedang disemai. Membiarkan peluh menetes dan sinar terik matahari membakar tengkuk. Kepada siapa lagi saya harus bertanya? Tak ada siapapun di sekitar sini. “Drrrreeeeuuutttt…” Ups..siapa yang kentut? Halah! Bukan, itu suara motor di belakang saya. Seorang bapak baru saja turun dari boncengan dan yang membawa motor pun segera pergi dan melewati saya. Thanks God! Saya mendekati Bapak tadi dan bertanya arah ke jalan raya.

Hm, oke..kali ini saya merekam petunjut-petunjuk si bapak petani budiman tadi dengan lengkap. Lurus, nanti ketemu kios belok kanan. Thanks Bapak petani yang budiman, semoga Allah melimpahkan rezeki yang banyak buat anda sekeluarga. Amin.

Sesuai petunjuk, saya akhirnya menemukan jalan keluar dari kesesatan saya tadi. Lalu tower-tower BTS merah putih itu mulai bermunculan dengan ajaib! Haiah!

Here i go! Jembatan besi buatan Jepang itu pun kelihatan! Hoahhhhh…sungguh ini sebuah petualangan yang tak terperi melelahkan. Berkorban keringat dan nyaris keseleo lidah gara-gara memaksakan diri berbahasa Aceh. (Pue na kah rasa, Citra?) Wekss…

Ahhahahaha…lanjut ke part 3 ya…