Kulineran di Samosir

Jalan-jalan di Danau Toba kemarin itu aku terus-terusan mengulangi kebodohan yang sama. Malas bertanya dan sok tahu. Seperti ketika kesasar mencari Makam Raja Sidabutar pada hari pertama dan kedua, setelah sarapan di sebuah warung Padang, dengan yakin aku membawa motor terus ke arah barat tanpa melihat petunjuk jalan. Sampai akhirnya benar-benar yakin aku sudah terlalu jauh berjalan. Setelah sadar kesasar, biasanya cuma menghibur diri begini: “ah paling di depan ada belokan ke jalan raya”, “nanti belok ke kanan”, “gampang, nanti tanya-tanya orang di warung”. Tapi memang dasarnya malas ya, semua persimpangan dilewati, semua warung/kios dilewati, bukannya berhenti dan bertanya arah. Akhirnya malah capek sendiri. Bikin cepat lapar.

Leeelah abang, dek!

Lanjutkan membaca “Kulineran di Samosir”

Iklan

Melihat Danau Toba dari Dekat dan Jauh

Salah satu penginapan di pinggiran danau.

Selain digunakan untuk jalur pintas penyeberangan ke Parapat, danau Danau Toba juga dimanfaatkan untuk banana boat, jet ski, dan cebar-cebur lucu di pinggiran. Selebihnya dipakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari oleh warga seperti mencuci, mandi, dan mencari kepiting, udang, dan ikan. Pemandangan ini baru bisa aku saksikan saat menyeberang ke Parapat dari Tuktuk. Lanjutkan membaca “Melihat Danau Toba dari Dekat dan Jauh”

Melihat Situs Parulubalangan dan Makam Raja Sidabutar

Situs Parulubalangan Kursi Batu Sira

Situs ini adalah salah satu peninggalan tertua dari Raja Siallagan yang letaknya tak jauh dari Tuktuk. Namun situs yang aku kunjungi ini belum begitu terkenal dibandingkan Hatu Siallagan di Ambarita. Karena situsnya sendiri baru dibuka untuk umum sekitar satu tahun yang lalu.

Batu Sira, tempat pengadilan dan penghukuman penjahat.

Jika situs Hatu Siallagan nyaris tanpa pohon peneduh, di Kursi Batu Sira ini dinaungi banyak pepohonan. Situs ini berada di tebing dan terdiri dari beberapa undakan. Setiap undakan Lanjutkan membaca “Melihat Situs Parulubalangan dan Makam Raja Sidabutar”

Kesasar di Danau Toba

Gelap, sepi, dan mencekam adalah kesan pertama ketika aku keluar dari mobil dan menapakkan kaki di tanah Dairi, Sumatra Utara. Saat itu hari masih sangat dini. Pukul 3 pagi. Berbagai jenis pikiran buruk melintas di benak yang segera aku tepis. Kutarik ke dua sisi jaket lebih rapat lalu bergegas mengangkat ke dua ranselku dan berjalan ke sisi jalan yang lebih terang.

Mataku awas mencari tempat untuk beristirahat. Sebuah tempat yang kemudian kukenali sebagai warung kopi kudapati setengah terbuka. Menyempil di tengah deretan ruko khas bangunan tahun 90an. Spanduk bertuliskan Siang Malam di depan warung mulai tercerabik karena cuaca. Aku bergegas memasukinya. Seorang pria berumur sekitar 35 tahun duduk di tengah ruangan dengan kepala ditutupi kupluk, menengadah ke atas. Siaran dari sebuah saluran televisi berbayar sedang menyiarkan program alam liar. Sementara anjing-anjing melolong dari kejauhan. Lanjutkan membaca “Kesasar di Danau Toba”