Mencapai Batas Barat Indonesia

Ada batas-batas yang memang tak bisa kita lampaui. Meski kecenderungan untuk melakukannya sungguh besar namun tak sebesar kita menghargai dan menjaga batas-batas yang ada.

Iklan

Udara pagi di Pantai Balu-Pulau Breueh tak begitu dingin, aku berjalan-jalan ke ujung pantai dan menemukan batu-batu raksasa dan karang di bawah tebing bukit. Sebuah sungai kecil mengalirkan air berwarna coklat yang bermuara ke laut. Namun di dekat kuala, tepat di bawah tebing, ada mata air jernih yang keluar dari sela-sela kerikil dan batu-batu besar. Jika kelak kembali ke sini, air jernih ini bisa dipakai untuk memasak.

puloaceh-1puloaceh-3

Matahari terus bergerak naik, aku bergegas kembali ke kemah dan berkemas. Pagi ini perjalanan dilanjutkan bersepeda ke Meulingge setelah aku mengantar Nisa kembali ke Gugop. Jalan yang baru diaspal sebenarnya sangat memudahkan kami bersepeda. Tapi jalannya menanjak terus hingga 3 kilometer ke depan lalu menurun sepanjang lebih dari 2 kilometer. Rasanya jalan ini seperti tak ada habisnya. Tak ada ujungnya. Belum lagi membayangkan perjalanan pulang nanti.

puloaceh-1

“Ini nanti baliknya gimana, Dik?”

“Apa kita sewa boat aja untuk balik ke Gugop?”

“Ya ampun, Dik. Pengen kali es krim di Gunung Salju atau es cendol di Pasar Atjeh!”, keluhku sambil membayangkan minuman dingin mengalir di tenggorokan.

puloaceh-10

Semua pertanyaan dan keluhan tadi segera dibungkam oleh pemandangan segar di depan mata. Nun jauh di bawah sana terhampar panorama Rinon yang indah sekali. Laut biru dan hijau toska, pantai pasir putih, bukit tinggi yang hijau terhampar indah. Sangat indah.

puloaceh-1-2

Kami tiba di Rinon pada tengah hari. Gampong Rinon adalah sebuah mukim yang juga terletak di pesisir pantai. Kampung ini adalah tetangga Kampung Meulingge. Itu artinya tujuan kami seharusnya tak begitu jauh lagi. Tanah keras berbatu-batu sepanjang 3 kilometer ini adalah satu-satunya jalan menuju Meulingge yang ternyata cukup menguras tenaga juga. Badan dan ransel ikut terguncang-guncang ketika ban harus melindas bebatuan.puloaceh-2

Kami tiba di kaki bukit. Tepat di ujung Kampung Rinon. Jalan beraspal mulus menanjak terus ke atas dan hilang berbelok tertutup tebing bukit. Tanjakan lagi?!

Setelah menyantap makan siang-yang rasanya tiba-tiba berkali-kali lipat enaknya-kami melanjutkan perjalanan menuju Meulingge yang berjarak 5 kilometer dari Rinon. Tanjakan ini adalah tanjakan terakhir dan terberat yang kami lalui karena di sepanjang jalan inilah kami memompa semua sisa-sisa tenaga dan semangat yang kami miliki. Rasa legaaaa sekali ketika akhirnya melihat jalan menurun.

puloaceh-4

Kami meluncur dengan kecepatan sekian belas kilometer perjam. Angin kencang menyejukkan tubuhku yang berjam-jam dibakar matahari dan lelah yang luar biasa. Keringat yang bercucuran dari kepala hingga badan kering oleh angin. Bajuku sudah kulepas karena basah dan kuikat di belakang ransel. Nyeri pada bahu karena memanggul beban carrier sejenak terabaikan.

Meulingge sendiri adalah sebuah kampung yang terbilang kecil. Tapi sudah ada satu sekolah dasar di sini. Dari atas bukit, dapat kita lihat pelabuhan yang tampak baru. Di sebelah kanan sebelum memasuki kampung, kebun-kebun kelapa yang tak lagi berbuah setelah tsunami dibiarkan bersemak. Sampai saat ini, semenjak tsunami, buah kelapa diimpor dari Banda Aceh. Aku pikir, hanya buah sagu (rumbia) saja tak berbuah pasca tsunami.

puloaceh-1-3

Kami tiba di depan sebuah sekolah dasar dan berjumpa dengan Bang Nazar dan Bang Zein. Bang Zein ini adalah seorang guru yang berasal dari Semarang dan ikut dalam program SM3T yang sudah berada di Meulingge sejak 6 bulan lalu. Di rumah beliaulah kami beristirahat sebentar dan menambah persediaan air sebelum melanjutkan berjalan kaki ke Mercusuar Willem’s Toren.

Mercusuar Willem’s Toren yang mulai dibangun pada tanggal 17 Agustus 1874 dan beroperasi pertama kalinya pada tanggal 20 Juni 1875 ini berdiri kokoh di paling ujung Pulau Breueh. Warnanya yang merah-putih dapat terlihat dari pantai Pasir Putih, Sabang. Bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda lainnya yang berdiri di belakang mercusuar pun masih berdiri meski bagian dalamnya seperti lantai yang terbuat dari papan sudah hancur. Hanya sebagian ruangan saja dari bangunan ini yang masih bisa dipakai untuk pemantau navigasi sebagai tempat tinggal.

puloaceh-29

Mercusuar yang sudah berdiri ratusan tahun lalu tetap setia menavigasi kapal-kapal yang melintas di dekat perairannya. Bangunan tua dan penting ini seharusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Tapi kenyataannya banyak bagian-bagian vital pada bangunan ini tidak diperbaiki seperti tangga. Beberapa anak tangga hilang dan hampir tanggal. Untuk naik ke atas puncak, aku harus melangkah pelan-pelan dan berhati-hati agar tak merusak tangga dan lantai papan yang sudah amat tua umurnya. Namun di hati kecil terbersit pula jika sebaiknya mercusuar ini tidak lagi dinaiki oleh pengunjung agar tak memperparah kerusakan yang sudah ada. Tapi rasanya tak puas hati pula jika tak naik setelah menempuh perjalanan berat menuju ke tempat ini. Ah entahlah, aku tetap melangkah pelan-pelan hingga ke puncak.

Berdiri di atas mercusuar dan memandang ke samudra lepas, menghirup udara segar dan merasakan angin yang berhembus bergerak-gerak di kulit wajah. Tiupan angin juga menggerakkan keping-keping jendela kaca setebal 2 cm yang sudah pecah dan goyah. Hanya menunggu waktu saja pecahan-pecahan kaca tebal itu lepas dan jatuh.

Lampu utama atau lampu asli di puncak suar sudah tidak berfungsi lagi. Dapat kabar kalau air raksa yang harganya amat mahal untuk lampu itu dicuri. Sungguh sayang. Sekarang lampu penggantinya dihidupkan dengan listrik tenaga surya.

Mercusuar yang hampir dilupakan ini berbatasan langsung dengan Samudra Hindia dan menjadikannya pula sebagai pulau terluar paling barat Indonesia. Mencapai tempat ini, kami mengerahkan semua tenaga hingga batas terakhir. Batas di mana kami tak bisa pergi lebih jauh lagi kecuali kembali.

Mata tak puas-puasnya memandang laut, debur ombak ke tebing karang, pepohonan, bangunan tua, Pulau Weh, dan perahu nelayan yang bergerak lambat. Semua yang dapat kulihat dari balik pagar di puncak mercusuar itu adalah menakjubkan. Tapi lagi-lagi waktu membatasiku untuk berlama-lama menikmati keindahan ciptaan Tuhan ini.

Tuhan selalu bersama para pejalan. Tak ada cara lain untuk kembali ke Gugop selain kembali mendayung pedal sepeda. Tapi Tuhan Maha Baik. Bang Zein menawarkan diri untuk mengantarkan kami menggunakan motor. Lalu Tuhan mengirimkan lagi bala bantuanNya melalui Pak Busra. Beliau sedang menuju Gugop dengan pick-up dan kami menumpang hingga ke Gugop. Aaahh lega sekali.

Malam itu kami mendirikan tenda di Pantai Lambaro. Bang Zein ikut makan malam dengan kami dan bercerita banyak sekali tentang Pulo Breueh. Tentang keramahan penduduknya dan segudang masalah pendidikan di daerah ini.

Malam semakin larut, api unggun mulai mengecil, dan langit semakin pekat karena mendung. Bang Zein pamit dan kembali ke Meulingge. Guru muda berkulit gelap ini tentu tak boleh masuk telat besok pagi. Kami mengucapkan selamat jalan dan terima kasih atas kebaikannya yang entah kapan dapat kami balas.

puloaceh-30

Hari itu aku belajar tentang batas. Ada batas-batas yang memang tak bisa kita lampaui. Meski kecenderungan untuk melakukannya sungguh besar namun tak sebesar kita menghargai dan menjaga batas-batas yang ada.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ketinggalan pengalaman hari pertama kami di Pulo Breueh? Baca di sini: Hampir Gagal ke Pulo Breueh

Baca juga pengalaman kawanku, Dika, di sini: Menapaki Pulo Breueh (Bagian 2).

//

Sinabang dalam debu

Sekarang saya sedang di Pulau Sinabang. Hari senin lalu (18/05) saya bertolak dari pelabuhan ferry Labuhan Haji dari jam 10 malam dan tiba jam 7 pagi di Sinabang.

Pengalaman baru bagi saya berlayar dengan KMP Teluk Sinabang yang saya dengar dari banyak orang adalah bantuan BRR. Alhamdulillah saya dapat menyewa dua buah ranjang untuk kami beristirahat selama perlayaran ke Sinabang.

Uniknya, kamar ABK yang disewakan ini letaknya paling bawah. berdekatan dengan kamar mesin dan tepat di bawah muatan truk. Sekali-sekali sering terdengar seperti suara gesekan atau benturan dari sisi kapal. Sedap-sedap ngeri lah…Untungnya saya dapat tidur dengan lelap sampai subuh.

Hari pertama di Sinabang lumayan menyenangkan. Pekerjaan yang saya kerjakan bersama tim juga tidak mengalami hambatan. Tapi yang menjengkelkan adalah debu yang beterbangan di sepanjang jalan Sinabang. Akibatnya saya harus ekstra membersihkan wajah saya yang kembali berjerawat.

Semenjak pertama kali saya datang ke pulau ini pada tahun 2007 silam, satu hal yang menjadi masalah besar bagi saya (dan juga masyarakat di sini) adalah kondisi jalan yang rusak parah. Kemanapun saya pergi pasti jalanan beraspal penuh lubang dan berdebu.

Enam bulan kemudian, saya kembali lagi ke Simeulue dan terpana melihat kondisi yang jalanan kota yang katanya baru sebulan diaspal tapi sudah kembali rusak. Parah! Siapa yang bisa disalahkan? Di pulau ini tidak ada kerikil atau bahan dasar untuk mengaspal yang bagus. Jika diangkut dari luar pasti biayanya sangat mahal sekali.

Sudah tahun 2009 sekarang ini dan jalanan di kota hingga ke daerah-daerah lainnya masih terus dalam tahap pengerasan. Beberapa ruas harus ditambal-tambal karena rusak. Dan debu terus menebal pada rumah-rumah di pinggir jalan, kendaraan dan muka saya!

Road to Sinabang

Jumat, 26 Desember 2008
KM Teluk Singkil

Blogger… ini foto-foto saya dan tim ketika dalam kamar ABK yang kita sewa untuk ke Sinabang. Waktu di Meulaboh, kami sempat kebingungan juga ketika saya mengabari bahwa tidak ada kamar kosong lagi. Tapi untung Bang Maman (sudut kanan bawah, pegang rokok) berkoneksi bagus dengan satu ABK, jadi kamarnya yang sebenarnya sudah dipesan orang lain dapat dicancel untuk kami tempati.

blog1

Tak sanggup bekipeh-kipeh (berkipas-kipas) di dalam kamar karena panasnya yang naudzubillah, juga asap rokok yang terus ngebul dari para perokok super aktif di dalamnya, maka saya memanjat jendela dan ngadem di bawahnya…Ahhhh…leganya…

1

Bang Acon, bersandar pada dinding di luar kamar memandang jauh dalam kegelapan malam. Rokok sebatang pada jari. Entah berapa batang sudah dia bakar di sana. Entah apa pula yang dia renungkan hingga begitu sedih wajahnya. Beliau, salah satu anggota tim kita yang paling bersemangat. Setiap tahun, namanya selalu masuk dalam tim inventarisasi ke Sinabang bersama saya.

blog2

Setelah subuh, kita keluar lagi ke teras kabin. Tentu saja memanjat jendela. Hehe…
Foto diambil oleh Bang Acon. Dari kiri adalah Bang Mukhlis, Bang Andi di tengah dan terakhir adalah saya. Rencananya kita mau bikin Trio Sinabang! Uhui!

blog3

Kami berkesempatan menyaksikan sunrise dari kapal ketika beberapa menit lagi akan memasuki teluk Sinabang dan kemudian berlabuh. Subhahanallah…keren sekali pemandangannya…Sayang, tidak bisa mengupload semua foto-foto indah itu ke postingan ini… Mungkin saya coba upload ke multiply saja.

Ini adalah salah satu pulau terdekat dari pulau Simeulue. Ada banyak pulau-pulau kecil lainnya yang dekat sekali jaraknya tapi satupun saya tak mengenali nama-namanya.

blog4

Finally…tibalah kami di Sinabang dengan selamat. Beginilah keadaan pelabuhan ferry dan sekitarnya. Sayangnya saya lupa mengambil foto suasana sibuk saat bongkar kapal.

blog5

Backpacker

Backpacker. Orang yang memanggul ransel untuk traveling baik untuk treking dan kemping ke gunung atau juga traveling untuk mengunjungi kota-kota. Biasanya yang berbackpacking adalah orang-orang yang tidak mau ribet. Cukup dengan satu ransel saja tanpa harus memberatkan diri dengan membawa koper-koper dan banyak perlengkapan seperti turis.

Saya sendiri juga sudah mencoba bertraveling ala Backpacker ini. Awalnya terinspirasi dari membaca novel yang berjudul Traveler’s Tale membuat saya nekad bepergian sendiri dengan ransel di punggung. Luar biasa!!! Kesan pertama begitu menggoda. Amat sangat menyenangkan.

Tentu saja semua harus dipersiapkan sejak satu bulan sebelum keberangkatan. Begitu yang saya pelajari. Sekalipun rencana traveling masih dalam provinsi tapi transportasi dan segala biaya-biaya harus diperhitungkan. Juga informasi tentang destinasi yang akan kita kunjungi.

Waktu itu saya mengunjungi Pulau Banyak di kabupaten Aceh Singkil. Saya mencari segala informasi yang berkaitan dengan Pulau itu. Tentu saja objek wisata masuk urutan paling atas. Transportasi menjadi kendala utama bagi saya selama berada di pulau itu. Karena menurut informasi yang saya dapatkan biaya transp
ortasi dari satu pulau ke pulau yang lain sangat mahal.

Saya memutuskan bepergian ala backpacker begitu selain praktis juga karena untuk menghemat biaya. Secara saya hanya karyawan kontrak yang berpenghasilan sebatas UMR saja makanya semuanya harus sesuai dengan budget yang tersedia. Terkesan maksa sih tapi ya saya harus coba ini. Dan syukurnya sukses.

Backpacking sungguh dan sangat menyenangkan! Saya menyarankan ini bagi anda yang berjiwa petualang dan ingin merasakan petualangan seorang diri atau bersama teman-teman dan menjalani kehidupan yang berbeda dari yang biasa anda jalani. Saya mendapatkan banyak sekali pencerahan dan banyak hal baru yang saya temui dan saya pelajari. Ini berbeda dengan ‘jalan-jalan’ yang mungkin sering anda lalui. Cobalah sesuatu yang berbeda. Memasuki suatu daerah asing yang tak pernah anda datangi dan mencoba hidup seperti kaum hippies. Tinggal di losmen murah ataupun di rumah penduduk. Makan dan minum di warung-warung pinggir jalan, bergaul dengan penduduk lokal dan belajar tentang kultur mereka.

Hahhhh…Saya jadi ingat kembali ketika saya di Pulau Banyak dulu. Ini sangat berkesan bagi saya. Mengobrol dengan masyarakat dan tokoh-tokoh masyarakat di sana sungguh pengalaman yang luar biasa. Kehujanan ketika perjalanan pulang dari sebuah pulau lalu berhenti singgah di sebuah kerambah ikan kerapu. Melihat nelayan memberi makan anak-anak ikan kerapu dan tersenyum penuh arti melihat anak-anak yang berenang di laut yang biru. Lepas. Bebas. Juga ketika berjalan kaki di suatu sore mengelilingi pulau. Menyaksikan ibu-ibu yang pulang dari ladang dan tertawa lepas bersama dalam canda. Bertemu dengan teman-teman kecil saya yang luar biasa. Sungguh hebat anak-anak itu.

Sungguh berharga. Saya selalu ingin kembali ke sana lagi. Dan keinginan itu bertambah kuat saat menulis ini. Ya Tuhan… Hati saya menggebu…

Teman-teman kecil saya yang sudah bersedia menjadi penunjuk jalan.

Berdiri di sana Bang Jhoni dengan boatnya yang mengantarkan saya ke Pulau Palambak. Salah satu pulau yang paling dikenal oleh para turis manca negara. Sila buktikan di Google. Saat ini sudah ada dua bungalow yang berdiri di sana. Saya berharap para turis akan segera datang kesana.

Pembangungan sebuah bungalow di Pulau Palambak. Dari keterangan pemiliknya mengatakan bahwa bungalownya akan segera buka. Mungkin saat ini sudah bisa ditinggali.

Mau ?