Camping Horor di Pulau Weh

Sejauh ini, traveling bersama keluarga atau dengan salah satu anggota keluarga bagiku cukup menyenangkan. Seru, konyol, dan asyik. Tapi di balik keseruan itu, selalu saja ada drama yang menghantam. Enggak di rumah, di mana pun kalau berdekatan pasti berantam juga akhirnya. Seperti beberapa tahun lalu ketika traveling dengan adikku, Titi, ke Thailand. Di hari terakhir di Bangkok, drama hebat bak sinetron terjadi di hostel. Sudahlah sama-sama keras kepala dan emosian, enggak ada yang mau mengalah. Tapi pada akhirnya tetap saja, yang tua harus mengalah sedikit. SE-DI-KIT. Lanjutkan membaca “Camping Horor di Pulau Weh”

Iklan

Sabang, Pesona Pariwisata Aceh yang Tak Pernah Lekang

Sabang selalu menyenangkan untuk dikunjungi kapan pun dan berapa kali pun kita sudah mengunjunginya. Ada rasa gembira yang meluap-luap ketika melakukan perjalanan untuk mencapai pulau paling barat negeri ini. Entah itu dengan menyeberangi lautan dari Banda Aceh ke Balohan atau melintasi udara dari Kuala Namo-Medan ke Maimun Saleh-Sabang.

Santai di Benteng Jepang, Anoi Itam

Sudah kali keenam aku kembali ke pulau berbentuk huruf W ini. Bukan jumlah yang banyak tapi kayaknya juga tidak terlalu sedikit untuk bisa mengenal Sabang dari Lanjutkan membaca “Sabang, Pesona Pariwisata Aceh yang Tak Pernah Lekang”

Pulau Weh dari Krueng Raya

1-DSC_0131Nun jauh di seberang sana, Pulau Weh tampak misterius dengan warna biru gelap dari atas bukit karang tandus di Krueng Raya, Aceh Besar. Kerinduanku ingin kembali menjelajahi Pulau Weh sedikit terobati dengan berjalan-jalan di bukit karang ini.

 

Berkunjung ke Makam Suami Rubiah di Iboih

Perjalanan ke Pulau Weh kali ini memang ga sia-sia. Sekalipun saya ga mendapatkan cerita komplit tentang legenda Pulau Rubiah dari penduduk setempat, tapi saya berkesempatan berkunjung ke sebuah makam. Yaitu makam suami Rubiah. Sayang sekali saya sendiri lupa namanya. Saya sempat bertanya sih ke seorang imeum (imam) mesjid di kampung Iboih, beliau sempat bercerita sedikit tentang Rubiah.

Rubiah adalah seorang wanita yang konon memiliki peliharaan anjing yang kemudian diusir oleh suaminya menggunakan kata “Weh!”. Yang menurut versi Pak Teungku tersebut Weh menjadi nama untuk pulau tersebut, yaitu Pulau Weh yang artinya “pergi” atau minggat (kata perintah). Rubiah mengasingkan diri ke sebuah pulau yang kemudian dikenal dengan Pulau Rubiah. Pulau ini sendiri terletak tepat di depan desa Iboih. Sebuah pemandangan yang akan terlihat setiap hari bagi warga di sini : Pulau Rubiah.

Penjelajahan saya mulai dengan melihat keunikan-keunikan binatang-binatang peliharaan yang bebas berkeliaran. Seperti kambing dan sapi yang bebas berkeliaran di sekitar bungalow. Saya menyebut mereka sapi dan kambing gunung. Soalnya mereka bebas saja nangkring di atas bebatuan di bukit-bukit Iboih.

Saya lebih senang mengikuti garis pantai yang berbatu-batu. Seru juga loncat-loncatan sambil mengintip keindahan taman bawah laut dari atas bebatuan cadas yang berjubel-jubel di pantai. Sumpah keren sekali melihat semuanya dari sini!

Sepanjang perjalanan saya ini, tepatnya di bawah dan di dalam laut itu (persis laut di dalam foto ini) adalah terumbu karang dan tempat snorkeling paling keren di Iboih. Ga perlu jauh-jauh dari bibir pantai, di dekat bebatuan itu saja sudah dipenuhi dengan berbagai terumbu karang dan ikan-ikan berwarna-warni. Keren!!

Selama treking ini pun saya menemukan beberapa hal unik. Saya menemukan banyak kepiting batu yang sudah mengering dan berwarna merah terbakar matahari. Nih saya foto, hitung-hitung belajar makro :p Uniknya dari kepiting-kepiting ini adalah mereka matinya di atas batu karang hitam itu. Mereka saya ketemukan sudah nangkring saja di situ dan siap dengan pose untuk difoto.

Setelah sejam loncat-loncatan di atas batu karang dan naik turun bukit, melewati semak belukar dan pohon-pohon tumbang, saya dapat beristirahat di sebuah pantai berbatu-batu dan berkarang. Sekalian deh foto-foto sebagai bukti kalo saya sudah ke sini. :p

Sekitar 150 meter dari tempat saya berdiri itu, ternyata ada sebuah makam yang dari informasi Pak Teungku Imeum adalah makamnya Teungku-suami Rubiah. Makamnya sendiri tepat di atas sebuah bukit kecil. Saya harus berjalan mendaki sebuah bukit melalui jalan setapak yang sepertinya baru beberapa hari dibersihkan. Kelihatan semak-semaknya masih sangat baru dibersihkan.

Makam Teungku (suami Rubiah)

Dari cerita versi Pak Teungku Imeum, Suami Rubiah ini memiliki saudara kandung yang tinggal di Sare dan beliau mengirimkan bibit durian kepada suami Rubiah yang hingga kini pohon durian tersebut masih hidup dan berbuah. Bagi warga di sini menyebutnya Durian Keramat. Karena buah durian ini tidak boleh dijual. Bisa celaka katanya. Sayang sekali saya ga bisa ke sana. Letaknya terlalu jauh sih dari tempat saya menginap. Ah tapi ga apa-apa lah. Yang penting bisa ke makam ini saja sudah luar biasa sekali perjuangannya.

Bagi yang suka treking atau jelajah dan sedang di Iboih, silahkan berkunjung ke makam ini dan nikmati pemandangan dan suasana hutan yang masih sangat asri sepanjang perjalanan. Pas pulang, foto-foto dulu deh. Cukup puas walopun cuma pake timer. :D

Ga sempat (malas) edit makanya fotonya miring gini :p