Peristirahatan Terakhir Terindah di Pulau Simeulue, Aceh

Pesawat Cessna milik Susi Air

Pesawat Cessna milik Susi Air mendarat mulus di Bandara Lasikin, Pulau Simeulue. Sepuluh orang penumpang turun satu per satu seperti turun dari labi-labi (angkot khas Aceh) masing-masing memegang kotak berisi kue yang tak dimakan karena sedang berpuasa. Pilot dan Co-Pilot bule di depan mengucapkan terima kasih dalam bahasa Indonesia sebelum tangga diturunkan.

Udara panas menerpa ketika pertama kali menginjakkan kaki di landasan bandara. Cuaca cerah; langit biru dan sedikit awan. Aku menahan senyum melihat cuaca ‘bersahabat’ begini. Takut ketahuan oleh kawan-kawan karena cuaca terik bukanlah sahabat baik ketika bekerja di lapangan. Aku mendekap tas laptop yang menggembung karena berisi kamera. Oh, ini bakal seru foto-foto di pantai, ujarku dalam hati sambil menepuk-nepuk tas. Lanjutkan membaca “Peristirahatan Terakhir Terindah di Pulau Simeulue, Aceh”

Iklan

Meneropong Pantai Penyusuk dari Pulau Lampu

Tugu yang menandai pantai sudah dekat. Siapkan kaca mata dan tongsis!

Pulau Lampu terlihat amat dekat dari bibir Pantai Penyusuk. Rasanya bisa direnangi untuk menyeberang dan melihat keindahan hamparan lautan biru yang bertatahkan pulau-pulau kecil dari atas mercusuarnya. Salah satu yang terkenal adalah Pulau Putri yang berada di antara Pantai Penyusu dan Pulau Lampu. Kawan-kawan bercerita pengalaman seru mereka ketika berkemah di pulau mungil itu seperti dalam acara reality show The Survivor. Lanjutkan membaca “Meneropong Pantai Penyusuk dari Pulau Lampu”

Bersantai di Pantai Penyabong

Sesudah menyantap Indomie goreng di pagi yang sedikit berawan di pantai Tanjung Kelayang, kami berkemas dan melanjutkan perjalanan ke Batu Beginde dan Pantai Penyabong. Sebelum keluar dari areal cottage, kami disapa oleh pemilik Kelayang Beach Cottage & Resto, Pak Andi. Setelah mengobrol sebentar, kami berpamitan dan melajukan motor ke arah barat daya Pulau Belitong. Lanjutkan membaca “Bersantai di Pantai Penyabong”

Bermalam di Bukit Lhok Mee

Sabtu malam, aku tiba di perbukitan ini pada pukul 8. Honda Beat yang aku kendarai membelah pekat malam, melindas karang-karang, menerbangkan debu-debu pasir halus. Ketika tanjakan, ku tarik gas lebih dalam. Bau sangit dari karet kopling tercium karena motor dipaksa menaiki tanjakan di jalan yang berbatu-batu. 10 menit kemudian aku tiba di lokasi yang aku inginkan tanpa tersesat karena sudah hapal betul jalan-jalan setapaknya.

Aku segera mendirikan kemah di samping sebuah pohon setelah sebelumnya membersihkan serakan karang di permukaan tanah datar. Dataran yang kupilih adalah sebuah bukit karang yang menjorok ke laut setinggi 10 meter. Permukaannya sudah sepenuhnya tertutupi tanah dan dilapisi rumput. Tiga batang pohon seukuran paha tumbuh di pinggir tebing. Aku mengikatkan ayunan pada dua batang pohon. Setelah beres, aku menggelar matras di samping tenda dan merebahkan badan, menantang langit.

Hamparan bintang di atasku berkelap-kelip seperti pijar lampu pada perahu nelayan di tengah laut. Merah, kuning, dan biru. Terbingkai dengan awan dan siluet pepohonan. Di ufuk barat, sesekali kilat membelah langit dari balik awan yang perlahan-lahan menutupi pertunjukkan bintang jatuh yang membuatku berdecak kagum.

Aku ingat pada penjelasan seorang mahasiswa astronomi ketika berkunjung ke observatorium Boscha tahun 2012 lalu. Cahaya bintang yang berkelip-kelip karena ketidakstabilan atmosfir di bumi. Dan cahaya bintang yang kita lihat pada malam hari sebenarnya adalah cahaya yang ‘traveling’ selama bertahun-tahun. Jadi cahaya yang kita lihat itu menempuh waktu tahunan hingga mencapai bumi. Contohnya seperti bintang terdekat kedua dengan bumi, Proxima Centauri yang berjarak empat tahun cahaya. Sedangkan cahaya matahari kita menempuh waktu hanya 8 menit saja.

Berbaring di atas bukit dan mata nyaris tak berkedip memandangi ribuan bintang. Takut rugi melewatkan momen bintang jatuh yang hanya terlihat sepersekian detik itu. Gigitan nyamuk pun tak lagi terasa. Suara hempasan ombak pada tebing-tebing karang di cekungan bukit di bawah pun lenyap. Khayalanku membumbung tinggi dan melesat bagaikan kecepatan warp menembus gelapnya ruang hampa di antara gugusan bintang. Tapi aku tidak sedang berada di dalam USS Interprise. Aku tak bisa menentukan tujuan akan berkunjung ke planet mana. Khayalanku terhempas kembali dengan kecepatan warp yang sama ke bumi dengan banyak sekali tanda tanya.

Jagad raya yang maha luas ini, benarkah ada makhluk selain kita yang tinggal di galaksi lain? Romulan? Autobot? Klyngon? Bumi-bumi lain? Romulus? Krypton? Coruscant? Cybertron?

Apakah kita benar-benar sendiri? Aku terlelap dengan membiarkan pertanyaan itu pupus terbawa angin malam.

Angin yang meniup dedaunan pada ranting-ranting di atas ayunanku mendesau halus. Aku perlahan-lahan membuka mata dan desau angin itu bagaikan mantra yang membuat kelopak mata terasa berat untuk digerakkan. Sejenak aku biarkan ‘ruh’ ku kembali utuh ke dalam tubuh hingga aku menyadari keberadaanku di dalam ayunan. Ketika telinga menangkap suara hempasan ombak, aku baru benar-benar sadar sedang berada di mana.

Lhok Mee tak hanya memiliki pantai berpasir putih yang dibentengi dengan pohon beurambang yang tumbuh di depan pantainya. Tapi juga perbukitan karang yang menawan dan penuh misteri sejarah masa lalu Aceh. Lhok Mee terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Sekitar 38 KM dari kota Banda Aceh. Aku sedang berada sekitar seribu meter dari pantai Pasir Putih, Lhok Mee, di sebuah bukit di pinggir laut.

Subuh mulai beranjak pagi. Warna hitam pekat mulai terangkat namun mata masih hendak tertutup rapat.Kantung tidur yang kujadikan selimut teronggok di ujung ayunan. Kutolehkan muka ke kanan. Di balik siluet bukit dan pepohonan tampak awan berwarna biru menutupi ufuk barat tempat matahari akan segera terbit. Warna-warna seperti jingga dan biru muda merayap pelan menyergap awan biru pekat yang menutupi matahari.

Aku berlari ke bukit yang menghalangi pandanganku itu. Dari atas sana aku bisa melihat lebih jelas detik-detik matahari naik meski hanya dari pergerakkan cahayanya saja pada langit dan awan. Matahari sendiri sepenuhnya tertutupi oleh awan itu. Akibatnya, bayangan awan jatuh menutupi pohon beurambang yang tumbuh di depan pantai pasir putih dan pemukiman warga di Dusun Lhok Mee. Aku duduk bersila di atas rerumputan basah dan menikmati gradasi warna-warna ajaib saat matahari mulai bergerak naik dari belakang selimut tebalnya. Indah sekali!

Keindahan mentari pagi ini bukan satu-satunya yang dapat kunikmati di perbukitan kampung penuh sejarah ini, Gampong Lamreh. Perbukitan ini ditumbuhi jarang-jarang pohon jambee kleng (jamblang) dan rumput kering kekuningan. Batu-batu gunung hitam legam terbakar matahari berserakan bersama kotoran sapi dan kambing dan koral-koral laut di sepanjang jalan setapak. Koral-koral ini menjadi pertanda bahwa daratan ini pernah berada di bawah permukaan laut. Di puncak-puncak bukit ini terdapat parit-parit tempat para prajurit Jepang menjaga daerah kekuasaannya.

Jika kita memalingkan wajah ke arah utara, terlihat sebuah teluk berpantai pasir dengan muara sungai yang membelah di tengah-tengahnya. Di pinggir pantai sana terdapat sisa-sisa peninggalan Benteng Kuta Lubok yang terlantar. Naik sedikit menyusuri bibir pantai dan tebing-tebing ke sebuah bukit yang terkenal dengan Benteng Inong Balee. Di pinggir tebing setinggi 20 meter itulah para laskar perempuan Aceh di bawah pimpinan Laksamana Malahayati mengintai kapal-kapal Belanda. Susuri tebing-tebing melewati mercusuar hingga ke ujung bukit. Di depannya sebuah pulau kecil teronggok yang menurut cerita masyarakat setempat adalah jelmaan sebuah kapal seorang anak yang durhaka pada ibunya, dialah Si Amat Ramanyang yang dikutuk menjadi batu.

Aku menghela nafas panjang. Tertegun melihat pemandangan indah di sekelilingku. Indah namun mengkhawatirkan. Antara aku harus bersyukur dengan kurangnya eksploitasi dan berharap semua orang datang melihat apa yang kulihat. Tanpa eksploitasi saja sampah sudah bertebaran di atas bukit ini dan sampah plastik mengapung seperti ubur-ubur di permukaan laut. Sampai kapan rakyat Aceh peduli dengan kebersihan? Sampai kapan rakyat Aceh yang dikenal berbudaya ini berhenti membuang sampah tidak pada tempatnya? Apakah membuang sampah sembarangan sudah menjadi budaya Aceh? Hhhhhh. Aku kembali menghela nafas panjang dan menghembusnya keras-keras. Jika saja kita semua mau menjaga kebersihan lingkungan, hal kecil saja, seperti tidak membuang sampah sembarangan, alam akan senantiasa bersih, semua orang akan senang datang dan melihat Aceh.

Lhok Mata Ie Ketika Hujan

Pantai Lhok Mata Ie adalah salah satu pantai sekaligus tujuan wisata Aceh yang bisa dikatakan private beach-nya Aceh Besar. Selain tersembunyi, pengunjung yang mau datang ke lokasi ini harus menempuh waktu sekitar 30 menit dari pusat kota Banda Aceh ke arah pantai Ujong Pancu dan dilanjutkan berjalan kaki selama 1 jam naik turun bukit.

Perjalanan ke Lhok Mata Ie kali ini adalah untuk menunjukkan ke Dika dan Kindi lokasi perkemahan kami yang sudah lama direncanakan. Tapi tertunda karena belum punya tenda dan perlengkapan lainnya.  Lanjutkan membaca “Lhok Mata Ie Ketika Hujan”

Bersepeda ke Pulau Semadu

Titi Semadu

Ini adalah jembatan yang menghubungkan Pantai Rancong dengan Pulau Semadu. Pulau Semadu ini sendiri hanyalah sebuah daratan sepanjang kurang lebih 300 meter yang nyaris terpisah dengan daratan. Bangunan jembatannya terdiri dari bilah-bilah papan dan rangkaian bambu sebagai pagar/pegangan di kiri kanannya.
Aku tiba di sini sudah hampir tengah hari setelah bersepeda

Titi Semadu

Ini adalah jembatan yang menghubungkan Rancong dengan Pulau Semadu. Pulau Semadu ini sendiri hanyalah sebuah daratan sepanjang kurang lebih 300 meter yang nyaris terpisah dengan daratan. Jadi sebenarnya  bukan sebuah pulau ya. Bangunan jembatannya terdiri dari bilah-bilah papan dan rangkaian bambu sebagai pagar/pegangan di kiri kanannya. Panjangnya kurang dari 100 meter.

Aku tiba di sini sudah hampir tengah hari setelah bersepeda sejauh lebih kurang 20 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Kota Lhokseumawe. Mengabaikan jalan utama Lhokseumawe – Banda Aceh, aku  memilih melewati jalan di balik bukit Kampung Paloh.

Tujuan ke Rancong ini semula tak direncanakan. Tujuan awal adalah bersepeda mengelilingi bukit-bukti Panggoi dan Paloh. Namun jalan yang kususuri berujung kepersimpangan yang warga setempat menyebutnya Simpang Len (Line). Yaitu jalan yang dibangun oleh Exxon Mobile dan tembus ke pelabuhan Arun. Lanjutkan membaca “Bersepeda ke Pulau Semadu”

Ngeramein ulang tahun Aceh Blogger yang kedua di Ujong Batee

Alhamdulillah… Setelah penat yang menyerang setelah ikut ujian cpns di stadion Lampineung, nungguin hujan reda selama setengah jam sambil mondar-mandir dan ngebiarin darah mengalir ke seluruh tubuh setelah sempat terhambat karena duduk terus selama 2 jam lebih-akhirnya aku bisa menghirup udara segar. Aroma udara setelah hujan bikin segar sampai ke dalam kepala.

Hujan lebat berganti dengan gerimis tipis. Ga peduli lagi deh dengan basah, yang penting keluar dari stadion yang ‘mengancam’ itu. Pulang ke rumah sebentar, keluarin alat-alat ‘perang’ dari dalam ransel, masukin handuk dan kolor (ga kepake juga).

Langsung saya tancap gas ke Krueng Raya. Lumayan jauh juga sih pantainya tapi kapan pernah jarak jadi masalah buat saya? Hoho… Kalo buat ke pantai, sejauh apapun, pasti saya datangi kalo emang ada kesempatan. Berhenti sebentar di mesjid, zuhur trus lanjut lagi. Ga nyampe tiga puluh menit akhirnya saya nyampe juga di lokasi rekreasi pantai Ujong Batee.

(doh) sebelumnya saya nyasar! Saya salah masuk jalan yang ternyata itu lokasi perumahan pelabuhan sepertinya. Haha…

Bayar tiga ribu deh buat masuk ke lokasi. Jalan pelan-pelan dengan motor meutuah saya sambil celingak-celinguk liatin keramaian. Di kepala sih udah ngebayangin beberapa wajah yang dikenal. Tapi kok ga ketemu-ketemu juga ya?Ini jalannya saja sudah 500 meter. Eh ternyata mereka ngumpulnya di paling ujung.

Saya nemuin Baiquni dan kawan-kawan sedang lesehan di atas tikar. Bang Husni sedang makan nasi bungkus dan ngeliat saya langsung nawarin makan dalam bahasa aceh. Saya yang aslinya tidak begitu paseh (pasih) berbahasa Aceh cuma bisa menjawab seadanya : Jeut bang… :p

Sejam kemudian, Muda Bentara datang, wajah baru bangun tidur, persis seperti muka saya 4 jam yang lalu.  Haha…

Acara khususnya sendiri kita mulai sekitar setengah jam kemudian. Karena acaranya dari kita untuk kita jadi kesannya agak terbengkalai. Tapi acaranya malah gila seru!

Padahal nih ya, acaranya sederhana sekali. Idenya persis seperti acara tujuh belas agustusan! Lomba makan kerupuk dan tarik tambang! Tapi bagi saya acara ini sudah ngilangin semua beban di pikiran dan di badan setelah 2 jam lebih ngikutin ujian tadi pagi.

1Nah, saya ikut lomba makan kerupuk. Anginnya kencang dan kerupuk di depan muka melayang-layang. Gimana mau makannya coba? Ga akan bisa kalo ga dipegangin dulu. Haha..Emang dasar otak saya curang, tanpa merasa bersalah, saya pegangin talinya dan saya makan. Hahaha… Kawan di samping saya, Bang Fadli dan Liza juga berjuang. Tapi perjuangan Bang Fadli lah yang pantas diberikan penghargaan. Karena Liza juga tak tahan untuk tidak bermain curang. LMAO.

Nah, karena kadar kecurangan saya lebih berat maka saya dinobatkan sebagai juara ketiga, Liza juara kedua dan Bang Fadli lah yang jadi anak mudanya. Juara pertama!

2Next!

Tarik tambang!

Jumlahnya sih ga banyak. Masing-masing tim punya 6 orang anggota. Di tim kami, semua anggotanya kurus-kurus. Tapi sebelah lawan, postur tubuh mereka pada berisi semua.

Hmm…ronde pertama. Kami pasang formasi. Bang Fadli sebagai wasit garis, blogger cewek sebagai fotografer. Tarikan pertama (selama bertahun-tahun ga pernah) narik tambang terasa menyiksa kulit telapak tangan. Tapi semuanya jadi ga terasa karena kekompakan tim kitalah yang membawa keberhasilan tim. Walaupun postur tubuh kami yang tidak seberapa dibandingkan lawan, tapi semangat mampu membawa kami menjuarai lomba tarik tambang ini. Ronde kedua pun kami menangi lagi setelah mendapatkan perlawanan yang lumayan berat juga dari lawan. Check this out.

3

4Liat saja ekspresi kita di saat detik-detik terakhir sebelum kita diputusin menang oleh Wasit Fadli…

Setelah bagi-bagi hadiah, kita lesehan di atas pasir buat ngomongin beberapa hal untuk kemajuan Aceh Blogger yang pada hari itu menggenapi dua tahun usianya.

Emang sih belum banyak hal yang sudah kita lakuin, tapi tetap pada tujuan awal kita yaitu menyampaikan ilmu, memberikan pendidikan kepada masyarakat Aceh khususnya untuk mengenal dunia internet. Berharap masyarakat di lingkungan kita melek dengan dunia teknologi.

Dari diskusi singkat kita kemudian diputuskan beberapa poin yang dapat kawan-kawan adain nantinya. Yaitu :

  • ngadain pertemuan rutin berkala untuk sharing atau silaturahmi, rapat or something like that lah…
  • trus ngebedah tulisan-tulisan orang. Mungkin seperti review atau semacam itu.
  • kepikiran juga tuh dari Liza untuk ngasih award untuk bloggers  terhadap postingan atau yang berhubungan dengan aktivitas ngeblognya.
  • dan yang terakhir kita akan terus ngelakuin sosialiasi blog dan acehpedia, pelatihan blog dan kegiatan-kegiatan amal lainnya.

1Selesai diskusi, kita main-main lagi di pantai. Ada yang nendang bola, menulis di atas pasir, ada yang demo yoga, ada yang ngelanjutin diskusi dan ada yang berenang.

Nah, saya, Bang Husni dan (Bang) Adik Cilak berendam di dalam laut. Lumayan juga nih lautnya cuma sedalam dada dan masih bisa buat berenang. Saya yang ga bawa baju ganti nekad aja nyebur dengan pakaian lengkap. Celana panjang karet dan kaos.

Sungguh liburan yang menyenangkan.

Hahhh… Berada di antara kawan-kawan blogger membuat rasa kebersamaan semakin terasa. Jumlah kita yang memang ga seberapa yang hadir pada hari itu membuat saya seperti berada dalam sebuah keluarga yang utuh. Rumah tangga yang baru berusia dua tahun membuat kita lebih dekat. Sekalipun ada beberapa dari mereka yang belum saya kenal dekat. :)

Semoga Aceh Blogger terus aktif memberikan ilmu dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

BannerABChijau

Maju terus Aceh Blogger… Tebarkan perdamaian ke seluruh dunia…:)