Pesona Pangkalpinang Yang Selalu Terkenang

Mesjid Raya Tuatunu
Mesjid Raya Tuatunu

#PESONAPANGKALPINANG

Mengenang adalah hal paling menyenangkan saat jenuh datang. Apalagi untuk seorang perantau yang saban hari dikepung inventaris kantor sendirian seperti aku ini, mengenang dapat membantu menghibur hati dan membangkitkan rindu pada daerah yang pernah kusinggahi. Lanjutkan membaca “Pesona Pangkalpinang Yang Selalu Terkenang”

Iklan

Sabang, Pesona Pariwisata Aceh yang Tak Pernah Lekang

Sabang selalu menyenangkan untuk dikunjungi kapan pun dan berapa kali pun kita sudah mengunjunginya. Ada rasa gembira yang meluap-luap ketika melakukan perjalanan untuk mencapai pulau paling barat negeri ini. Entah itu dengan menyeberangi lautan dari Banda Aceh ke Balohan atau melintasi udara dari Kuala Namo-Medan ke Maimun Saleh-Sabang.

Santai di Benteng Jepang, Anoi Itam

Sudah kali keenam aku kembali ke pulau berbentuk huruf W ini. Bukan jumlah yang banyak tapi kayaknya juga tidak terlalu sedikit untuk bisa mengenal Sabang dari Lanjutkan membaca “Sabang, Pesona Pariwisata Aceh yang Tak Pernah Lekang”

Ija Kroeng, Barang Penting Saat Traveling

Sarung atau Kain Sarung adalah salah satu pakaian yang selalu ada dalam susunan baju dalam lemari di hampir setiap rumah di Indonesia. Kadang jumlahnya melimpah. Apalagi di kampung-kampung, khususnya Aceh. Karena sarung sudah menjadi barang paling lumrah untuk isian kado pernikahan dan sunatan.

Sebelum tsunami tahun 2004 silam, keluargaku menyimpan banyak kain sarung dan kain panjang yang didapat dari kado ketika aku sunat dulu. Kadang dijadikan kado lagi atau disumbangkan saking banyaknya. Karena jumlahnya seabrek, dua rak dalam lemari terisi penuh dengan sarung saja. Dari sekian banyak sarung yang ada di rumah, aku paling suka memakai sarung pemberian dari bos di tempat kerja dulu,  yang selalu kubawa setiap kali traveling. Lanjutkan membaca “Ija Kroeng, Barang Penting Saat Traveling”

Mengikuti Kisah Kembara di Bumi Nusa Tenggara

Lombok

Suatu hari, aku pernah membuat janji mengunjungi Lombok menjumpai teman-teman yang kujumpai di Pare, Kediri. “Kapal penyeberangan dari Bali cuma 4 jam,” jelas Kak Hani. “Nanti kalian bisa menginap di rumah saya. Saya bawa jalan-jalan dan saya masakin makanan khas Lombok,” begitu janjinya pada saya dan teman-teman sambil berusaha menahan genangan air mata di antara kelopak matanya. Dan kami semua diliputi haru pada hari terakhir menjelang perpisahan di Pare.

Ada tiga teman yang berasal dari Lombok di kelas bahasa Inggris kami waktu itu. Kak Hani, Desi, dan Echa. Teman-teman yang lain berasal dari berbagai daerah di Indonesia, Aceh sampai Papua, Lanjutkan membaca “Mengikuti Kisah Kembara di Bumi Nusa Tenggara”