[Pulau Banyak Trip-2] Hoping Island dan Berkemah di Pulau Asok

Langit di pagi hari pertamaku di Balai hampir sepenuhnya ditutupi awan putih. Hanya sedikit menyisakan celah berwarna biru yang membuat perasaan sedikit tenang. Cuaca di pulau biasanya berbeda dengan cuaca di daratan. Hujan bisa turun kapan saja dan berhenti tiba-tiba. Prakiraan cuaca yang berlaku dari tahun ke tahun di pulau ini adalah akan semakin sering hujan pada bulan September hingga Februari. Rencanakan liburan kamu pada bulan-bulan mulai dari Maret sampai Agustus jika ingin ke Pulau Banyak.

Bagiku tidak ada cuaca yang buruk, tapi tidak bagi para nelayan, hujan dan badai adalah momok bagi mereka. Jika awan-awan hitam mulai terlihat menggelantung maka tertundalah rencana mengumpulkan rejeki yang tersebar di dalam laut. Namun resiko jika berlibur di pulau adalah kita harus mengikuti fenomena alam yang bisa saja terjadi. Satu-satunya jalan keluar adalah sabar di rumah jika awan gelap dan hujan akan/sudah runtuh.

Malam sebelumnya, aku dan Bang Tekno, teman seperjalananku, berbelanja stok makanan untuk 5 hari seperti beras dan air minum di sebuah kedai kelontong di dekat warung ibu langganan kami. Rencana awalnya kami akan berkemah di Pulau Palambak. Namun oleh Pak Putri (pemilik Wisma Putri) menyarankan untuk berkemah saja di Pulau Asok. Lalu ke Pulau Asok lah kami. Lanjutkan membaca “[Pulau Banyak Trip-2] Hoping Island dan Berkemah di Pulau Asok”

Iklan

Bagian lain Indonesia

12

2

3

Di sebuah desa antah berantah, puluhan kilometer dari ibukota kecamatan yang memiliki sarana kesehatan dan pendidikan dan agama. Nun jauh di sana. Antara Sinabang dan Sibigo, sebuah pondok papan berdiri di pinggir jalan yang menjorok di atas jurang dangkal. Sebuah keluarga sederhana hidup dari menangkap ikan dan menambal ban. Penerangan dari lampu strongkeng dan selebihnya hanya gelap belaka, daerah ini belum tersentuh jaringan listrik sama sekali. Setiap malam mereka diserang gelap dan nyamuk serta serangga lainnya, lalu siang hari mereka diterpa debu jalan yang tak kunjung beraspal, pacat yang menggeliat di atas bukit di depan rumah mereka, asap dari tungku yang menyesakkan dada, lalu ombak laut ketika sang bapak pergi melaut ditemani anak atau istrinya. Setiap malam dan terus bergantian.

Bertahun anak-anak ini melewati masa-masa kecil mereka bersama orang tua yang berpindah-pindah dari Rantau Prapat, Sibolga, Medan, Nias lalu kembali terdampar di  kampung halaman bapak dan ibunya, Simeulue. Kerasnya hidup, menempa mereka menjadi pribadi yang kuat nyaris tak takut pada apa dan siapapun.

Setiap hari anak-anak itu diboncengi hingga ke sekolah yang berjarak puluhan kilometer, menghirup debu dan dipanggang terik matahari dan menempuh perjalanan berbahaya. Pulang sekolah, mereka bermain bersama. Hanya berempat atau bertiga jika si sulung harus membantu ayah melaut. Setiap hari.

Mendengar cerita anak-anak ini, seperti melihat foto-foto yang berserak dari albumnya.

“Kau lahir di Medan!”

“Aku lahir di Rantau!”

“Abangku lahir di Sibolga!”

“Kalau aku lahir di Nias!”

4

Road to Sinabang

Jumat, 26 Desember 2008
KM Teluk Singkil

Blogger… ini foto-foto saya dan tim ketika dalam kamar ABK yang kita sewa untuk ke Sinabang. Waktu di Meulaboh, kami sempat kebingungan juga ketika saya mengabari bahwa tidak ada kamar kosong lagi. Tapi untung Bang Maman (sudut kanan bawah, pegang rokok) berkoneksi bagus dengan satu ABK, jadi kamarnya yang sebenarnya sudah dipesan orang lain dapat dicancel untuk kami tempati.

blog1

Tak sanggup bekipeh-kipeh (berkipas-kipas) di dalam kamar karena panasnya yang naudzubillah, juga asap rokok yang terus ngebul dari para perokok super aktif di dalamnya, maka saya memanjat jendela dan ngadem di bawahnya…Ahhhh…leganya…

1

Bang Acon, bersandar pada dinding di luar kamar memandang jauh dalam kegelapan malam. Rokok sebatang pada jari. Entah berapa batang sudah dia bakar di sana. Entah apa pula yang dia renungkan hingga begitu sedih wajahnya. Beliau, salah satu anggota tim kita yang paling bersemangat. Setiap tahun, namanya selalu masuk dalam tim inventarisasi ke Sinabang bersama saya.

blog2

Setelah subuh, kita keluar lagi ke teras kabin. Tentu saja memanjat jendela. Hehe…
Foto diambil oleh Bang Acon. Dari kiri adalah Bang Mukhlis, Bang Andi di tengah dan terakhir adalah saya. Rencananya kita mau bikin Trio Sinabang! Uhui!

blog3

Kami berkesempatan menyaksikan sunrise dari kapal ketika beberapa menit lagi akan memasuki teluk Sinabang dan kemudian berlabuh. Subhahanallah…keren sekali pemandangannya…Sayang, tidak bisa mengupload semua foto-foto indah itu ke postingan ini… Mungkin saya coba upload ke multiply saja.

Ini adalah salah satu pulau terdekat dari pulau Simeulue. Ada banyak pulau-pulau kecil lainnya yang dekat sekali jaraknya tapi satupun saya tak mengenali nama-namanya.

blog4

Finally…tibalah kami di Sinabang dengan selamat. Beginilah keadaan pelabuhan ferry dan sekitarnya. Sayangnya saya lupa mengambil foto suasana sibuk saat bongkar kapal.

blog5

One fun day part I

Sabtu. 20 Desember 2008

Dugudugudugudug….

Akan seperti itulah bunyi detak jantung saya jika ada speaker di dada ini ketika Kemal hampir saja menabrak sebuah mobil yang berbelok ke kanan! Damn, Kemal! Motornya yang beberapa hari lalu baru saja kena tabrak itu nyaris sukses menabrak mobil orang! Beuhhh…Untung remnya masih bisa menghentikan laju motor sekalipun sudah mencicit-cicit cuit!

Fuuuhhhh…

1Kemal membawa saya ke Lampuuk-Babah Dua melewati rute yang katanya lebih cepat dan lebih dingin-em, maksudnya lebih sejuk. Memang lebih sejuk karena di kanan kami adalah lereng bukit yang ditumbuhi pohon-pohon hingga kami memasuki perkampungan Turki yang nyaris tak berpohon!

Masuk ke areal rekreasi pantai Lampuuk harus bayar lima ribu untuk dua orang. Tadinya saya bilang ke Kemal supaya melewati saja pos retribusi itu. Tapi kali ini penjaganya bukan lagi anak-anak melainkan bapak-bapak. Jadi tidak berani menerobos masuk. Hehe…

Hahhhh…keren sekali pantainya! Warna lautnya benar-benar biru dan hijau! Ditambah lagi view bukit-bukit yang menjorok ke dalam laut. Tebingnya itu betul-betul cantik! Pasir putihnya juga membuat saya betah-rasanya pengen tiduran. Nyaman kali lah pokoknya! Bikin jiwa tenang, stres pun hilang!

231

meKami-em, saya foto-foto di tebing bukit dan danau kecil yang dasarnya ditumbuhi semacam ganggang yang bikin kita ngeri. Hehe…Tapi kok ikan yang di dalamnya ikan laut ya?

danauKemal malah mencicipi air danau itu untuk meyakinkan diri kalau airnya tawar! Wuakakak…Saya terbahak melihatnya yang dengan lugu mencecap air danau!

Sekitar jam empat sore, kita nyebur juga deh ke laut setelah sebelumnya saya memfoto-foto Kemal dengan aksi narsis dan saya dengan sok gaya berlagak macam fotografer profesional! Tapi tetap saja hasilnya amatiran! Salut buat Kemal deh! Hehe…

41Kesan pertama ketika nyebur adalah : airnya sangat asin! Amat sangat asin. Kadar garamnya tinggi sekali. Berbeda dengan air laut di Meulaboh tempat saya biasa berenang. Lidah saya seperti digigit semut dan perih.

Sekitar enam atau tujuh meter dari bawah tebing, saya melihat ada lubang besar yang saya yakini adalah gua. Kami berdua memanjat tebing dengan susah payah dan berhasil masuk ke dalam cerukan gua berlumut. Dasar Kemal! Ketakutannya pada hal-hal ‘aneh’ terlalu berlebihan! Di dalam  gua ada bunyi cicit kelelawar dan Kemal dibuat latah karenanya.

Dan pas waktunya turun, kita jadi gamang sendiri! Susah sekali menuruni tebing curam dan licin karena sudah basah waktu kita naiki tadi. Saya mencoba menjajal sisi tebing yang lain yang lebih banyak tonjolan-tonjolan karangnya untuk pegangan. Dan Kemal masih dalam posisi yang sama; yaitu nungging dan tidak bisa menurunkan kakinya ke bawah. Sambil menahan tawa saya menahan pantatnya dan membantunya turun. Sumpah deh, dalam hati saya ketawa terpingkal-pingkal sampai perut saya mengeras menahannya.

Ikuti cerita kami selanjutnya di One fun day part II ya…hehe…Peaceh ah, bru