Nikmatnya Sambal Udang Tokok khas Labuhan Haji

Mungkin tak banyak orang Aceh yang mengenal daerah Labuhan Haji di Aceh Selatan ini. Kecamatan yang diapit oleh Bukit Barisan dan laut ini dulunya adalah salah satu tempat keberangkatan jemaah yang akan berangkat haji lewat laut. Hal ini pula yang menjadi cikal bakal nama Labuhan Haji.

Meski sejarahnya tak begitu dikenal banyak orang, tapi Labuhan Haji menyimpan begitu banyak kenangan. Aku menghabiskan masa kecilku di daerah ini. Salah satu kenangan yang masih aku ingat jelas adalah menangguk udang di parit pinggir sawah. Air parit yang hanya sebetis menjadi hangat terjemur matahari dan udang-udang di dalamnya menjadi mabuk. Tak perlu waktu lama dan tenaga lebih untuk menangkap udang-udang di sana. :D Lanjutkan membaca “Nikmatnya Sambal Udang Tokok khas Labuhan Haji”

Iklan

Sakitnya Mendaftar CPNS! (Part 2)

09 November 2009

Doh! Sudah ke Part 2 pula nih! Iya, kawan. Ternyata ga cukup satu postingan untuk menulis betapa beratnya perjuangan mendaftar CPNS.

Kali ini aku akan menceritakan bagaimana aku dan Iwan mencoba keberuntungan kami dengan mengikuti CPNS di Pemko Subulussalam. Seharusnya membutuhkan 7-8  jam perjalanan dengan mengendarai motor. Tapi kami butuh lebih dari 8 jam untuk sampai ke sana. Ya, karena kami memutuskan menginap saja di desa Seuleukat-Bakongan-di rumah sodaranya Iwan.

Perjalanan dari Meulaboh ke Aceh Selatan berjalan dengan selamat. Kami melewati ‘jalan bawah’, yaitu jalan yang ga perlu melintasi pegunungan Trans yang terkenal dengan kelokannya yang mengocok perut jika naik mobil. Memasuki Langkak dan tembus di Lamie. Di jalan bawah itu kami beberapa kali dihadang air sungai yang meluap hingga ke jalan raya. Tapi untungnya masih bisa dilalui Suzuki Arashi tangguh berwarna biru milik Iwan itu.

Kali ini, perjalanan tidak begitu terasa merana karena jalan yang kami lalui tergolong gampang. Sekali-kali aku dan Iwan bergantian untuk menyetir motor. Sampai di Labuhan Haji, kami berhenti sebentar di rumah kakak. Lalu berhenti lagi di kampungnya Iwan, Meukek. Disana saya disambut oleh keluarga besar Iwan.

Sebuah rumah sederhana di dalam perkampungan yang sangat akrab sekali. Sebuah kampung yang terletak di bawah gunung ini terasa sangat sejuk tapi menghangatkan dengan lingkungan yang sangat dekat satu sama lain. Sepertinya semua tetangga Iwan adalah sodara-sodara dekatnya. Sama seperti di kampung ayah di Labuhan Haji. Tetangga disekitar adalah sodara-sodara dekat kami juga.

Setelah makan siang (lagi) dan shalat zuhur kami berangkat lagi. Melewati kota Tapaktuan, aku terperangah melihat pemandangan laut yang luar biasa indahnya. Cantik. Sungguh menawan. Pelan-pelan kami meliuk-liuk di sepanjang lereng gunung yang disamping kanannya jurang dan pemandangan menakjubkan itu tersaji begitu sempurna. Jurang pun tak terlihat mengerikan lagi. Kami melewati Jambo panorama Hatta. Sebuah jambo atau pondok yang dulunya pernah dijadikan tempat singgah oleh Bung Hatta setelah berkeliling Aceh pada tahun 1953.

Puncak Panorama HattaKemudian pemandangan tak begitu menggairahkan untuk diperhatikan. Hanya alang-alang, rumah-rumah, kios-kios lusuh. Memasuki Bakongan, kami memperlambat laju motor. Iwan menelepon saudaranya dan beberapa menit kemudian tiba juga di rumahnya. Berada dalam kompleks perumahan SD. Sambutan hangat khas pedesaan. Senyum lebar dan kopi kampung panas yang nikmat. Semua penat pun hilang.

Setelah Azhar kami memutuskan untuk berkeliling sebentar melihat daerah sini. Mencoba menjajaki Gunung Kapur yang terkenal sangat berbahaya di kalangan para sopir L300. Aku yang bawa motornya. Sudah mulai senja dan beberapa truk melintas dan menerbangkan debu-debu dari tanah merah di sepanjang jalan beraspal itu. Awalnya pasang gigi empat lalu turunin lagi ke gigi tiga dan ganti lagi ke gigi dua. Tapi masih terlalu berat, aku oper lagi ke gigi satu hingga akhirnya kami sampai juga ke puncaknya. Sebuah rumah makan masih buka dan kami berhenti untuk membeli keripik ubi. Buat bekal nanti malam.

2
Salah satu pemandangan dari atas bukit di bawah Gunung Kapur

Bermalam di Bakongan adalah salah satu pengalamanku yang seru. Berada di perkampungan yang dibelah oleh sebuah jalan raya yang sepanjang malam terus dideru dengan motor, mobil dan truk. Malam itu kami membeli empat bungkus Supermi, dapat bonus pula dari yang punya kios berupa cabe rawit, tomat dan bawang. Nah, aku pula yang didaulat untuk memasak mie. Akhirnya jadilah mie racikanku yang super pedas dan ckckck…enak gilaaa!!!

Sedikitpun kami tak terpikir kalo besoknya kami akan didera habis-habisan ketika mendaftar CPNS di kantor walikota Subulusalam. Malam ini kami lewati dengan menikmati mie goreng basah super pedas dan sebungkus keripik ubi yang gurih. Gelak tawa kami menyaingi suara rintik hujan yang menderu di atap seng sekolah. Udara semakin dingin dan kami pergi tidur. Hanya beralaskan tikar pandan di ruang tamu. Aku dan Iwan tidur dengan damai.

Hidup memang akan selalu lebih indah jika dilewati bersama-sama.

Orang Saleh

Waktu kecil dulu. Kalau saya atau saudara-saudara kandung saya sedang rewel, ayah dan mamak selalu menakut-nakuti kami dengan cerita Orang Saleh. Tangisan sekeras apapun juga pasti langsung membuat kami diam kalau mereka sudah menyebut Orang Saleh!

Orang Saleh itu adalah seseorang yang tinggal di gunung yang letaknya sangat dekat dengan kampung kami. Orang Saleh ini dalam cerita orang tua saya akan datang ke rumah jika ada anak-anak yang rewel atau menangis pada malam hari. Lalu membawanya ke tengah rimba sana. Kakak saya adalah orang yang paling takut dengan tokoh rekaan orang tua kami ini.

Kalau saya, waktu kecil dulu sangat takut dengan Siamang! Ayah sering menakut-nakuti saya dengan mengatakan “Diam, jangan nangis lagi. Nanti datang siamang, diambilnya Ita. Mau?” Begitu kata ayah dengan ekspresi yang menakutkan. Pada jaman saya kecil-kecil dulu, suara siamang itu menggema dan terdengar hingga ke rumah. Tapi sekarang saya rasa populasi mereka sudah jauh menurun karena terus diburu. Suara-suara khasnya pun tak lagi terdengar.

Berakit-rakit

Semalam saya sedang mood nonton tv. Remote sudah di tangan. Semangat saya menekan-nekan tombol mencari tayangan yang menarik. Lalu saya tekan tombol 8 dan layar Global TV muncul dengan tayangan film yang saya tidak tahu judulnya apa. Empat orang yang sedang terapung-apung di atas rakit dan diserang oleh sekawanan burung raksasa. Salah dua ekor burung itu berhasil mereka tembak dan jatuh ke laut. Bangkainya langsung ditangkap oleh monster hitam mengerikan yang muncul ke permukaan.

Hm, film jadul nih. Seangkatan dengan Jurasic Park. Saya sudah terlalu bosan menonton film-film bertemakan binatang purba. Tapi saya tertarik scene ketika mereka di atas rakit. Saya jadi teringat waktu saya SMP di Labuhan Haji dulu. Ketika liburan kenaikan kelas saya bersama kawan-kawan di kampung membuat rakit dari pelepah rumbia atau pelepah pohon sagu.

Kita semua berdelapan. Ada yang lebih tua dan ada yang lebih muda dari saya. Tapi kita kompak membuat rakit-rakitan itu. Di Kampung Baru itu mengalir sebuah sungai yang di tepi sungai tersebut banyak ditumbuhi pohon sagu. Kami memotong banyak sekali pelepah untuk membuat sebuah rakit lalu mengikatnya dengan kulit pelepah dan akar-akar pohon yang kami temui di sana.

Rakitpun jadi. Bentuknya sama sekali tidak mirip dengan rakit. Lebih tepatnya disebut onggokan pelepah sagu yang diikat dan dihanyutkan ke sungai. Lalu kami naik ke atasnya. Awalnya terasa gamang juga karena susunan pelepahnya bergerak-gerak ketika diinjak karena ikatannya tidak rapi. Tapi akhirnya kegelisahan kamipun hilang setelah rakit berhasil bergerak beberapa meter dan terus bergerak dengan mulus.

Menyaksikan hutan sagu, semak belukar, rumpun bambu, kicauan burung dan aktivitas hutan lainnya dari sungai ternyata seru juga. Apalagi naik rakit bersama kawan-kawan yang kadang kala suka becanda berlebihan. Berteriak-teriak dan suka mendorong kawan yang lain.Tentu saja kejahilan mereka itu membuat kami panik karena susunan rakit jadi makin tidak stabil. Tapi keadaan kembali terkendali ketika kami melewati lubuk. Kata pawang rakit, Mirul. Daerah itu adalah tempat terdalam dan angker. Kita semua jadi diam tanpa bicara. Bahkan tidak ada yang berani mendayung. Laju rakit melambat. Suasana jadi hening mencekam. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara ceburan air. Ternyata seekor biawak baru saja menceburkan diri ke dalam sungai karena melihat kami.

Lubuk itu pun kami lewati dengan harap-harap cemas. Kami sudah memasuki kampung lain dan sebuah titian dari batang pohon kelapa melintang di depan kami. Sang pawang rakit memutuskan untuk berlabuh di sana. Dia memegangi sebuah parang. Setengah meter dari titian tiba-tiba Mirul menebas tali pengikat rakit hingga putus sehingga pelepah-pelepah sagu beserta penumpang yang lainnya tercerai-berai dan kami gelagapan dan panic mencari pijakan lalu melompat ke titian.

Haha…Dua orang kawan kita tidak berhasil melompat ke titian dan tercebur ke sungai. Kita semua memaki-maki Mirul yang sudah melarikan diri menerobos semak-semak keladi.

Masa-masa kecil memang tidak pernah bisa terlupakan. Banyak sekali pengalaman-pengalaman seru yang menjadi kenangan indah di masa-masa sekarang ini. Ketika kita tidak mungkin lagi berlaku seperti waktu itu. Setiap kali mengingatnya, pecahlah tawa atau tersungging saja senyum dari bibir atau suasana hati menjadi haru.