Lampuuk Berjaya

Well, saya bingung kenapa harus memberi judul tulisan ini dengan judul di atas. Seperti judul berita-berita olahraga di Koran-koran lokal. Hehehe…
Eh tunggul dulu! Saya sudah menemukan jawabannya. Hahaha…Mikir panjang juga akhirnya. Tentu saja Berjaya itu bermakna. Ya! Bersama Kemal, Wulan, Fina dan Mega. Kita berjaya setelah menempuh perjalanan yang memprihatinkan di bawah gumpalan-gumpalan awan kelabu yang siap menumpahkan hujan. Sekalipun kemudian gerimis dan hujan dan untungnya cuma sebentar saja. Segera saya membuka baju dan nyebur setelah menunggu beberapa lama karena hujan dan kawan-kawan Kemal yang juga tak kunjung tiba.

Tampak belakang. Kikan : Wulan, Mega, Fina, Kemal
Wulan, Mega, Fina, Kemal

Pantai Lampuuk di sore minggu itu (22/02) luar biasa ramainya. Dan rada pusing juga sih mau loncat di mana, sepertinya setiap senti pantai dipadati manusia-manusia yang ingin berendam ke dalam laut. Ada dua buah boat yang bersauh sekitar seratus meter dari pantai.

Dengan mengenakan celana pendek selutut yang sedikit kedodoran, saya berenang ke arah salah satu boat yang terdekat. Di sana sudah ada tiga orang laki-laki yang berhasil naik dan satu orang lagi sedang berusaha bunuh-bunuhan untuk naik. Hahahaha… Dia sendiri tidak mampu mengangkat tubuhnya untuk naik. Dan akhirnya mengalah juga dia dengan keadaan tubuhnya yang saya taksir berbobot 75 kilo!

Dari atas boat saya dapat melihat kawan-kawan saya masih saja duduk di pondok di atas pantai sana. Huhhh… Mereka sedang menikmati kelapa muda rupanya. Saya mau kembali tapi masih capek sekali. Padalah jarak dari pantai ke boat tidak begitu jauh. Tapi arus laut yang bergelombang dan celana yang saya pakai membuat tenaga saya terkuras. Saya istirahat dulu disana sambil menyaksikan anak-anak bodoh sedang berteriak-teriak di atas banana boat. Aneh! Hahahahaha…
Beberapa menit kemudian, satu persatu kami berloncatan ke dalam laut lagi dan berenang ke tepi.

Sekitar setengah jam mungkin ya, barulah anak-anak berempat itu mau bersentuhan dengan air laut. Heran semuanya pada takut sama air. Apalagi Kemal tuh! Tumben takut air. (LOL).

12Tak terasa sudah berapa jam pula kita menghabiskan waktu berendam, berenang dan pipis di sana. Hahahaha… Beberapa kejadian lucu juga terjadi. Fina yang panik dengan ombak yang tiba-tiba menenggelamkannya. Celana saya yang nyaris direbut sama Kemal untuk dijadikan jimat digantung dilehernya mungkin? Terus beberapa aksi seru hasil kerja sama dengan pengunjung lain. Saya menawarkan diri (aduh bahasanya!) untuk salto dengan cara berdiri di atas lipatan tangan tiga orang dan saya loncat melakukan salto ke belakang. Wuiiih! mantap!

Juga, ada beberapa yang pria-pria ‘cantik’ yang tiba-tiba lewat. Salah satu dari mereka, saya lihat sedang berenang menggunakan ban ke arah boat yang tadi saya naiki.

Perhatikan yang dalam lingkaran hitam
Perhatikan yang dalam lingkaran hitam

Nah, capek kan setelah berenang melawan arus yang lumayan deras waktu itu. Waktunya kita istirahat lalu pulang. Nih beberapa foto yang berhasil saya ambil setelah fotografer sialan dengan kamera gedenya itu menghilang dari penglihatan.

141517

Iklan

Thanks, Mal..

Oke oke..saya sudah kembali ke kehidupan rutin saya lagi sekarang. Tujuh hari saya di Banda Aceh, begitu banyak kejadian-kejadian unik dan lucu yang saya alami. Ada hari yang buruk dan ada hari yang menyenangkan.

Satu hari, yang mampu saya ingat tentu saja satu hari yang penuh dengan hal-hal menyenangkan. Sehari bersama Kemal di pantai Lampuuk.

Hahahahaha…gila ni anak! Pintar sekali mereka-reka percakapan orang lain hingga membuat saya terbahak sampai sakit perut dan tak mampu berjalan. Juga kenarsisannya ketika difoto. Juga ketika dia tak berani menuruni tebing dari gua yang kita panjat. Mengingat semuanya kembali saya tertawa dan senyum-senyum geli. Hihi…untung tidak ada yang melihat saya ketawa-ketiwi sendirian di kantor. Bisa gawat kan?

img_5724

So, thanks to Kemal so much deh!

One fun day part I

Sabtu. 20 Desember 2008

Dugudugudugudug….

Akan seperti itulah bunyi detak jantung saya jika ada speaker di dada ini ketika Kemal hampir saja menabrak sebuah mobil yang berbelok ke kanan! Damn, Kemal! Motornya yang beberapa hari lalu baru saja kena tabrak itu nyaris sukses menabrak mobil orang! Beuhhh…Untung remnya masih bisa menghentikan laju motor sekalipun sudah mencicit-cicit cuit!

Fuuuhhhh…

1Kemal membawa saya ke Lampuuk-Babah Dua melewati rute yang katanya lebih cepat dan lebih dingin-em, maksudnya lebih sejuk. Memang lebih sejuk karena di kanan kami adalah lereng bukit yang ditumbuhi pohon-pohon hingga kami memasuki perkampungan Turki yang nyaris tak berpohon!

Masuk ke areal rekreasi pantai Lampuuk harus bayar lima ribu untuk dua orang. Tadinya saya bilang ke Kemal supaya melewati saja pos retribusi itu. Tapi kali ini penjaganya bukan lagi anak-anak melainkan bapak-bapak. Jadi tidak berani menerobos masuk. Hehe…

Hahhhh…keren sekali pantainya! Warna lautnya benar-benar biru dan hijau! Ditambah lagi view bukit-bukit yang menjorok ke dalam laut. Tebingnya itu betul-betul cantik! Pasir putihnya juga membuat saya betah-rasanya pengen tiduran. Nyaman kali lah pokoknya! Bikin jiwa tenang, stres pun hilang!

231

meKami-em, saya foto-foto di tebing bukit dan danau kecil yang dasarnya ditumbuhi semacam ganggang yang bikin kita ngeri. Hehe…Tapi kok ikan yang di dalamnya ikan laut ya?

danauKemal malah mencicipi air danau itu untuk meyakinkan diri kalau airnya tawar! Wuakakak…Saya terbahak melihatnya yang dengan lugu mencecap air danau!

Sekitar jam empat sore, kita nyebur juga deh ke laut setelah sebelumnya saya memfoto-foto Kemal dengan aksi narsis dan saya dengan sok gaya berlagak macam fotografer profesional! Tapi tetap saja hasilnya amatiran! Salut buat Kemal deh! Hehe…

41Kesan pertama ketika nyebur adalah : airnya sangat asin! Amat sangat asin. Kadar garamnya tinggi sekali. Berbeda dengan air laut di Meulaboh tempat saya biasa berenang. Lidah saya seperti digigit semut dan perih.

Sekitar enam atau tujuh meter dari bawah tebing, saya melihat ada lubang besar yang saya yakini adalah gua. Kami berdua memanjat tebing dengan susah payah dan berhasil masuk ke dalam cerukan gua berlumut. Dasar Kemal! Ketakutannya pada hal-hal ‘aneh’ terlalu berlebihan! Di dalam  gua ada bunyi cicit kelelawar dan Kemal dibuat latah karenanya.

Dan pas waktunya turun, kita jadi gamang sendiri! Susah sekali menuruni tebing curam dan licin karena sudah basah waktu kita naiki tadi. Saya mencoba menjajal sisi tebing yang lain yang lebih banyak tonjolan-tonjolan karangnya untuk pegangan. Dan Kemal masih dalam posisi yang sama; yaitu nungging dan tidak bisa menurunkan kakinya ke bawah. Sambil menahan tawa saya menahan pantatnya dan membantunya turun. Sumpah deh, dalam hati saya ketawa terpingkal-pingkal sampai perut saya mengeras menahannya.

Ikuti cerita kami selanjutnya di One fun day part II ya…hehe…Peaceh ah, bru