Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 KEREN!

Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016, Kota Magelang
Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016, Kota Magelang

Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 ini telah usai satu bulan yang lalu. Tepatnya pada tanggal 28 Agustus dan diselenggarakan di Kota Magelang. Ketika melihat-lihat galeri fotonya, aku kembali mengalami euforia. Rasa senang dan takjub pada pagelaran parade seni budaya di hari ulang tahun provinsi Jawa Tengah ini masih membekas dan terulang lagi. Lanjutkan membaca “Parade Seni Budaya Jawa Tengah 2016 KEREN!”

Iklan

Menanti Matahari Terbit di Punthuk Setumbu

Candi Borobudur dilihat dari Punthuk Setumbu pada pukul 6 pagi.
Candi Borobudur dilihat dari Punthuk Setumbu pada pukul 6 pagi.

Aku terbangun oleh suara keriut dari ranjang sebelah. Pasti Bang Fahmi sudah terjaga dan bersiap untuk berangkat. Itu berarti waktu sudah menunjukkan pukul empat subuh dan aku pun harus bangun dan bersiap-siap juga. Tapi mataku masih terasa perih untuk dinyalangkan. Rasanya baru terlelap beberapa saat tadi dan sekarang harus bangun lagi. Bau kapuk bantalku masih amat kuat membiusku  untuk bisa menegakkan punggung.

Lima menit kemudian, aku mendengar pula seorang laki-laki memasuki rumah kecil yang kami tumpangi itu dan menyuruh untuk bersiap-siap. Bus penjemput akan segera datang. Mau enggak mau aku menarik Lanjutkan membaca “Menanti Matahari Terbit di Punthuk Setumbu”

Tertawan Prambanan

Bus tiba di Prambanan dua jam sebelum adzan subuh berkumandang. Hanya dua orang penumpang yang turun: aku dan Dion. Kawan yang kukenal di Pare ini adalah salah satu instruktur bahasa inggris di sebuah lembaga kursus di sana. Kami berdua menaiki bus berwarna kuning dari Bra’an jurusan Jogjakarta. Udara dingin menusuk hingga menembus lapisan kedua baju yang kukenakan. Kami bergegas menuju masjid.

Masjid Al Muttaqun yang dibangun oleh Hidayat Nurwahid ini berdiri megah di Jalan Jogja-Solo. Berseberangan dengan Candi Prambanan di sebelah selatan. Toko-toko berimpitan di kiri-kanannya, tutup tentu saja. Hanya ada beberapa tukang ojek yang nongkrong di depannya sambil terkantuk-kantuk. Melihat kami yang baru turun dari bus pun tak membuat matanya nyalang.

Kami berdua berpencar mencari lokasi tidur yang nyaman. Namun serangan udara yang dingin dan nyamuk membuat kami tak bisa benar-benar tertidur. Diperparah pula dengan suara mesin dan knalpot dari bikers yang sedang touring dan melintas di depan mesjid yang amat mengganggu. Aku hanya bisa tidur-tidur ayam hingga adzan subuh berkumandang. Ketika bangun untuk shalat, tempat wudhu dan toilet mesjid sudah dijubeli oleh pengunjung yang entah datang dari mana. Mesjid kehabisan air! Lanjutkan membaca “Tertawan Prambanan”

Kisah Mawar, Si Anak Gembel

Aku, Santi, Lily, Sue, Sur, dan pemilik rumah yang kami tinggali, Bu Istikomah, duduk membentuk lingkaran dengan tungku perapian berisi bara berada di tengah. Kami duduk rapat-rapat pada bangku-bangku kecil di lantai dapur. Menghangatkan diri di dekat perapian setelah setengah hari hujan-hujanan. Perapian ini disebut Api-api oleh warga Dieng. Tungku api-api terbuat dari seng yang dimodifikasi sehingga untuk membakar arang kayu yang berada di dalamnya tidak perlu lagi menggunakan bahan bakar minyak melainkan cukup meletakkannya di atas kompor gas yang menyala. Kurang dari dua menit, arang yang berada paling bawah sudah menjadi bara yang kemudian perlahan-lahan merambat ke bara-bara yang berada paling atas.

Hawa hangat segera menyebar dan menghangatkan telapak tangan yang sengaja kami ulurkan ke depan tungku. Hangatnya segera merayap ke seluruh bagian tubuh dan menciptakan rasa nyaman dari balik kaos tipis kami. Semakin hangat, semakin cair pulalah suasana di antara kami berlima. Cerita demi cerita bergulir dari mulut-mulut para pejalan yang tanpa malu lagi sekali-kali mengulurkan telapak kaki menghadap tungku. Lanjutkan membaca “Kisah Mawar, Si Anak Gembel”

Mendadak (Sok) Bijak di Gunung Sikunir

Pertemuan dengan kawan-kawan baru sore itu tidak sebegitu mendebarkan meski kelimanya adalah perempuan single. Senyumku makin memanjang beberapa sentimeter ke atas ketika mengenal Vero di tengah gerombolan cewek-cewek lain yang semuanya memanggul ransel besar di punggung. Kalah besar dari ransel yang aku bawa.

Keempat kawan baruku ini adalah Sue, Lily, Sur, dan Santi. Aku dan Vero sendiri memang sudah berteman sejak di Pangkalpinang, Bangka. Kami berenam segera melipir masuk ke warung. Bermangkok-mangkok mie ongklok dan cenil dan beberapa gelas teh panas memenuhi meja makan. Aku asyik melihat mereka makan dengan takjub. Apalagi saat ada yang menambah cenil untuk kedua kali.

Leuser Coffee juga ikut wefie di Dieng!

Karena aku tiba lebih awal dari mereka, maka aku bertugas mencari penginapan. Tapi di masa liburan sekolah di bulan Desember tahun lalu, semua penginapan penuh. Meski musim hujan begini, tetap saja kerumunan pejalan bertambah hampir setiap jamnya. Syukurlah seorang pemilik homestay yang aku datangi memberi solusi menginap di rumah anaknya karena homestay beliau juga penuh. Pada musim liburan, apalagi pada akhir minggu, susah sekali mendapatkan kamar kosong di penginapan murah seperti Penginapan Bu Djono di Dieng. Yang homestay saja dengan harga perkamar ratusan ribu saja penuh! Berkat bantuan Ibu tadi, aku mendapatkan satu kamar di rumah anaknya, Ibu Istikomah. Satu kamar cukuplah untuk kami berenam. Ada dua kasur untuk para cewek dan… sepetak lantai untukku. Beralaskan selimut tebal yang hangat dan nyaman, aku tidur nyenyak malam itu.

Sebelum tidur, kami sudah deal dengan seorang kerabat Bu Istikomah, untuk mengantarkan kami ke kaki Gunung Sikunir besok subuh menaiki mobilnya. Pukul 3 dinihari, kami berangkat. Jarak dari rumah ke Sikunir aku perkirakan sekitar kurang lebih dari 8 kilometer. Tapi di tengah perjalanan ternyata banyak juga yang berjalan kaki. Mereka beriringan di pinggir jalan memegangi senter dari hp untuk menerangi jalan di depan yang gelap gulita.

Lanjutkan membaca “Mendadak (Sok) Bijak di Gunung Sikunir”