One fun day part I

Sabtu. 20 Desember 2008

Dugudugudugudug….

Akan seperti itulah bunyi detak jantung saya jika ada speaker di dada ini ketika Kemal hampir saja menabrak sebuah mobil yang berbelok ke kanan! Damn, Kemal! Motornya yang beberapa hari lalu baru saja kena tabrak itu nyaris sukses menabrak mobil orang! Beuhhh…Untung remnya masih bisa menghentikan laju motor sekalipun sudah mencicit-cicit cuit!

Fuuuhhhh…

1Kemal membawa saya ke Lampuuk-Babah Dua melewati rute yang katanya lebih cepat dan lebih dingin-em, maksudnya lebih sejuk. Memang lebih sejuk karena di kanan kami adalah lereng bukit yang ditumbuhi pohon-pohon hingga kami memasuki perkampungan Turki yang nyaris tak berpohon!

Masuk ke areal rekreasi pantai Lampuuk harus bayar lima ribu untuk dua orang. Tadinya saya bilang ke Kemal supaya melewati saja pos retribusi itu. Tapi kali ini penjaganya bukan lagi anak-anak melainkan bapak-bapak. Jadi tidak berani menerobos masuk. Hehe…

Hahhhh…keren sekali pantainya! Warna lautnya benar-benar biru dan hijau! Ditambah lagi view bukit-bukit yang menjorok ke dalam laut. Tebingnya itu betul-betul cantik! Pasir putihnya juga membuat saya betah-rasanya pengen tiduran. Nyaman kali lah pokoknya! Bikin jiwa tenang, stres pun hilang!

231

meKami-em, saya foto-foto di tebing bukit dan danau kecil yang dasarnya ditumbuhi semacam ganggang yang bikin kita ngeri. Hehe…Tapi kok ikan yang di dalamnya ikan laut ya?

danauKemal malah mencicipi air danau itu untuk meyakinkan diri kalau airnya tawar! Wuakakak…Saya terbahak melihatnya yang dengan lugu mencecap air danau!

Sekitar jam empat sore, kita nyebur juga deh ke laut setelah sebelumnya saya memfoto-foto Kemal dengan aksi narsis dan saya dengan sok gaya berlagak macam fotografer profesional! Tapi tetap saja hasilnya amatiran! Salut buat Kemal deh! Hehe…

41Kesan pertama ketika nyebur adalah : airnya sangat asin! Amat sangat asin. Kadar garamnya tinggi sekali. Berbeda dengan air laut di Meulaboh tempat saya biasa berenang. Lidah saya seperti digigit semut dan perih.

Sekitar enam atau tujuh meter dari bawah tebing, saya melihat ada lubang besar yang saya yakini adalah gua. Kami berdua memanjat tebing dengan susah payah dan berhasil masuk ke dalam cerukan gua berlumut. Dasar Kemal! Ketakutannya pada hal-hal ‘aneh’ terlalu berlebihan! Di dalam  gua ada bunyi cicit kelelawar dan Kemal dibuat latah karenanya.

Dan pas waktunya turun, kita jadi gamang sendiri! Susah sekali menuruni tebing curam dan licin karena sudah basah waktu kita naiki tadi. Saya mencoba menjajal sisi tebing yang lain yang lebih banyak tonjolan-tonjolan karangnya untuk pegangan. Dan Kemal masih dalam posisi yang sama; yaitu nungging dan tidak bisa menurunkan kakinya ke bawah. Sambil menahan tawa saya menahan pantatnya dan membantunya turun. Sumpah deh, dalam hati saya ketawa terpingkal-pingkal sampai perut saya mengeras menahannya.

Ikuti cerita kami selanjutnya di One fun day part II ya…hehe…Peaceh ah, bru

Iklan

Gowes Minggu Pagi

Minggu, 23 November 2008

Sudah jam sepuluh lewat aku sampai terkantuk-kantuk menunggu seorang kawan menghabiskan sarapannya. Kami berencana untuk bersepeda atau dengan kata kerennya sekarang gowes atau goes. Rute kami hari ini adalah Mereubo-Rantoe Panyang-Pasi Aceh-Peureumeu-Putim (Danau Geunang Geudong).

Sampai di Mereubo saya mengajak seorang kawan lagi untuk ikut, tapi dia sedang ditugasi menjaga rumahnya. Jadi hanya kami berdua yang bergerak ke lokasi tadi.

Berikut beberapa foto perjalanan kami.

Jembes-Mereubo
Jembes-Mereubo
Ranub Dong
Ranub Dong
Rantoe Panyang
Ranto Panyang
Kejar Buleeee...
Bermain dalam becek

6

Trio Kembang Desa
Ibu-ibu yang sepertinya sedang bergegas ke acara kenduri.
Long road to Lake Geunang Geudong
Jalan panjang menuju Danau Geunang Geudong
???
Istirahat sebentar di atas jembatan
Krueng Woyla
Krueng Woyla
Meulaboh-Putim
Meulaboh-Putim
Lurus atau Kiri, Cit?
Lurus atau Kiri?
i don't wanna die here! take me home, soldier! (?)
Ngaso di sebuah pondok di pinggi danau

Road to Danau Geunang Geudong (Part 3)

Saya sudah di Pereumbee! Alhamdulillah, perjalanan yang sangat panjang bukan? Bisakah anda mencoba membayangkan bagaimana rasanya, bagaimana pedihnya tersesat? Hohhhh…(dramatic mode:ON).

Slow down, babe! Saya melaju bersama sepeda tercinta dengan hati senang, riang, hari yang kunantikan! Halah, kok jadi menyanyikan lagu Sherina?! Ya iyalah! Secara sudah terbebas dari belantara jalan-jalan kampung yang membingungkan itu, kini saya sudah berada di atas jalan raya lagi.

Saya ke Putim sekarang! Melaju dengan mantap melewati Beureugang dan papan petunjuk danau pun terlihat.

Betapa leganya hati begitu melihat permukaan danau yang tenang. Bagaikan cermin bayangan pohon-pohon dan awan terlukis dengan detil di atas permukaan air yang berwarna coklat pekat. Sulur-sulur ganggang air mengambang memberi nuansa danau yang eksotis. Seorang pria paruh baya dudukdengan santai sambil menghisap rokok daun, menanti kail ditangkap ikan gabus. Seorang temannya baru saja menarik joran dan ikan gabus sebesar jempol kaki menggelepar dari ujung talinya.

Saya memilih sebuah cafe pondok bercat biru yang hampir rampung dibangun di tepi danau. Saya duduk di tangga yang menghadap ke danau dan mengeluarkan bungkusan nasi gurih yang saya beli di Meulaboh tadi. Hm…nikmatnya…

Terbayang kembali saat-saat gowes di dalam perkampungan atau tepatnya pedalaman Kaway 16 tadi. Saat-saat ketika melewati jembatan gantung dan mendaki bukit-bukit yang ditumbuhi pohon durian yang sedang berbuah lebat. Ketika menyapa para warga setempat dan membalas senyum ramah mereka. Bercanda dengan anak-anak kampung yang minta difoto. Ketika meminta petunjuk jalan ke beberapa warga yang sedang membersihkan kebun. Dengan semangat mereka memberikan penjelasan jalan mana yang harus saya tempuh untuk dapat kembali ke jalan yang benar. Ya, setelah tersesat di jalan yang salah. Pengalaman ini benar-benar tak ternilai harganya. Memikirkan hal ini membuat rasa cinta Aceh saya semakin besar!

Sekian laporan tentang perjalanan bersepeda saya dari Meulaboh ke Danau Geunang Geudong yang melintasi kampung-kampung dan sungai-sungai.

Road to Danau Geunang Geudong (Part 1)

Maaf, kalau judul dalam bahasa inggris di atas salah ya..hehe..broken english pun pamer ya?

Sesuai rencana yang sudah saya susun seminggu yang lalu buat gowes ke Danau Geunang Gedong di Desa Putim di Kecamatan Kaway 16. Jam tujuh pagi saya bangun dan menyiapkan ransel dengan kotak P3K, air minum, kamera, lotion dan kolor (ha?dua barang ini buat apa Cit??) Hahaha…saya juga tidak tahu dua barang terakhir itu untuk apa. Tanpa sadar saya masukkan saja ke dalam ransel bersama yang lainnya. Terus, diam-diam saya ke dapur mengambil sendok makan dan langsung cabut ke warung nasi untuk beli nasi bungkus. Buat sarapan di danau nanti.

Mengambil rute pada saat gowes perdana saya bersama anak-anak biker lainnya, yaitu melewati jalan tembus dari Kampung Darat ke Lapang. Saya mencoba memasuki trek-trek lain yang belum kami lewati. Saya memasuki beberapa jalan buntu dan melewati kompleks rumah relokasi. Jalan berbatu dan berkelok-kelok membawa saya ke berbagai desa yang membuat saya lupa jalan pertama yang saya masuki. Perjalanan ini membuat saya terpesona dengan kekayaan alam yang masih dimiliki oleh Aceh Barat. Segala macam pohon yang waktu kecil dulu hanya saya lihat di kebun-kebun lereng gunung ternyata masih ada dan tumbuh rimbun di tengah-tengah pedalaman yang mungkin saya tak pernah diinjak oleh kaki pejabat-pejabat di pemerintahan.

Berpuluh-puluh menit saya mengayuh dengan semangat empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh-melewati lorong-lorong yang kiri kanannya ditumbuhi pohon-pohon durian dan rambutan  dengan buah-buahnya yang menggoda untuk saya curi. Hehe..untung iman saya masih kuat! Berbagai jalan khas pedesaan yang belum pernah dilapisi aspal itu membawa saya ke kecamatan tetangga. Tadi saya di Kecamatan Johan Pahlawan, kini sudah di Kaway 16 dan tiba-tiba saya sudah di Kecamatan Mereubo!

Waduh! Sepertinya ini jalan yang tembus ke Ujong Tanjong! Ini rute untuk minggu depan! Segera saya berhenti dan bertanya ke penduduk setempat arah ke Pereumeu (baca: Perembee). Sesuai petunjuk si Abang, saya harus berbalik arah. Wah, padahal sudah lima kilometer saya berjalan dan harus balik lagi. Tapi ikuti juga petunjuknya. Saya berbalik arah dan menyusuri lagi jalan yang saya lewati barusan. Ketika ketemu pertigaan, saya nekat mencoba jalan lain berharap bisa menemukan trek yang lebih seru.

Emang cui! Saya menemukan trek yang naudzublillah serunya! Saya kesasar hampir ke Reudeup!!! Ya Allah…Daerah ini hanya pernah saya dengar tanpa tahu seperti apa desanya. Kata teman saya Reudeup itu daerah paleng pucok! Mungkin kampungnya masih primitif! Jyah…Citra tidak panik! Citra bertanya ke penduduk yang sedang berkebun di sana. Oke, jalan lurus, belok kiri dan kanan, ketemu kios, belok kiri. Alright! Hahhh…keringat sudah membasahi seluruh kaos saya. Saya jadi pusing gara-gara harus bolak-balik terus di jalan yang sama dan kedisorintasian saya semakin parah. Ditambah lagi pemandangan yang “maknyuusss…” menggugah selera makan saya. Buah durian dan rambutan bergelantungan di sepanjang jalan yang saya lewati. Perut pun jadi semakin nyaring berbunyi.

Oke, cerita ini kita lanjutkan nanti ya, terus ikuti perjalanan seru saya di part 2.