Berkeliling Keraton Surosowan di Banten Lama, Serang

Serang adalah ibukota Provinsi Banten. Sebuah kota yang ramai dengan lalu lalang kendaraan berbagai jenis dan ukuran ini tak jauh berbeda dengan kota-kota lainnya di Pulau Jawa: Panas! Tapi kesan pertamaku ketika memasuki kota ini adalah semrawut. Aku disambut dengan semarak beraneka spanduk. Mulai dari pencalonan pemimpin daerah hingga iklan-iklan produk yang dipasang serampangan di sana-sini, di mana-mana. Di tengah terik matahari yang menggempur Serang, aku meluncur dengan sepeda motor menuju kawasan bersejarah kota ini, Banten Lama.

Banten Lama berada di Teluk Banten yang dulu adalah pusat Kesultanan Banten. Di kawasan Banten Lama ini ada beberapa situs bersejarah yang hampir semuanya hanya tersisa reruntuhan saja. Seperti Lanjutkan membaca “Berkeliling Keraton Surosowan di Banten Lama, Serang”

Iklan

Malu bertanya ya jalan-jalan

Malu bertanya sesat di jalan.

Itu adalah pepatah yang sebenarnya. Tapi kini sering diubah menjadi Malu bertanya ya jalan-jalan. Memang betul. Bukannya saya malu bertanya tapi malas saja jika harus berhenti dan bertanya ke orang. Apalagi jika ada banyak orang seperti di warung, pos ronda atau di pasar. Saya lebih mengandalkan insting saja jika bepergian. Jika sudah benar-benar tidak tahu lagi harus keman, barulah saya bertanya ke orang-orang. Heheh…Setelah benar-benar tersasar barulah bertanya.

Karena kemalasan saya bertanya, pada hari Sabtu tanggal dua puluh tiga Agustus lalu. Saya benar-benar sudah berjalan jauh dari lokasi yang ingin saya tuju. Yaitu Ie Suum. Setelah melihat Benteng Inong Balee saya melanjutkan perjalanan terus ke Lamreh. Jalan beraspal retak-retak akibat gempa beberapa tahun silam merayap mendaki dan menuruni bukit-bukit yang ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon Jamblang. Lahan-lahan kosong terpagar rapi dengan pohon kuda-kuda hingga berkilo-kilometer jauhnya. Siapa yang mampu mendirikan pagar sepanjang itu? Rakyat Aceh pastinya. Salut!

Perjalanan semakin jauh. Saya melihat sebuah kebun yang terpagar rapi. Tapi di dalamnya hanya semak belukar dan pohon jamblang. Saya belok kiri dan berjalan di atas jalan selebar empat meter yang berbatu. Lima ratus meter kemudian saya melihat sekelompok nelayan yang sedang menarik sebuah boat.

Tarik Boat
Tarik Boat

Ketika sedang asyik memotret, seorang kakek paling kanan dari foto di atas memanggil saya. “Jak keuno siat. Neutulong tarek nyoe..”

Tentu, dengan senang hati saya mau membantu. Saya memasukkan kamera ke kantong celana dan melepas sandal. Lalu berdiri di samping si kakek dan ikut bersama-sama menarik boat. Akhirnya boat itu pun dapat terdorong hingga ke atas pantai yang diinginkan. Hah, pengalaman yang menarik bukan?

Boat
Boat

Seorang bapak-bapak paruh baya berjalan di sisi kiri saya. Hm, saya memberanikan diri untuk bertanya tentang lokasi Ie Suum tersebut. Sebelumnya berbasa-basi sebentar. “Pue nan gampong nyoe, Pak?” Hiks, saya pede saja bertanya dengan bahasa Aceh yang terbata-bata. Si Bapak menjawab “Nyoe gampoeng Lamreh, Lamreh namanya”.

Pantai Lamreh
Pantai Lamreh

Lalu beliau menberitahu saya kalau saya sudah terlalu jauh dari desa Ie Suum tersebut. Beliau berbicara dalam bahasa Indonesia dengan aksen Aceh yang sangat kental. Aksen favorit saya. Haha…Setelah mengucapkan terima kasih saya langsung cabut dan berbalik arah. Sesuai petunjuk yang saya dapatkan dari si Bapak dari Lamreh dan penjual bensin di depan pelabuah Malahayati, akhirnya saya menemukan juga lokasi Ie Suum tersebut. Saya bertemu dua orang anak-anak yang baru pulang sekolah dan bersedia menunjukkan jalan kesana.

Raga Eungkot
Raga Eungkot

Sepanjang jalan mereka bercerita tentang kecelakaan yang tadi pagi terjadi. Tentang pembunuhan karena balas dendam. Tentang sebuah jalan yang banyak pancuri dan kalau kita ditangkap sama pancuri itu maka kita akan di tiek-tiek keudeh. Saya harus berhati-hati. Dalam hati saya tertawa mendengar dua bocah itu berbicara dalam bahasa yang kaya!

Ie Suum
Ie Suum

Ini dia Ie Suum yang membuat saya kesasar kemana-mana. Ternyata tempatnya di luar ekspektasi saya. Saya pikir di sana ada kolam pemandian air hangat atau semacam itu. Ternyata hanya aliran air saja yang keluar dari bebatuan merah dan mengalir membentuk alur-alur kecil. Air panas ini terus mengalir ke sungai di bawah sana. Bercampur dengan air dingin dari sungai induk. Padahal saya sudah menyiapkan celana ganti untuk mandi-mandi. Hahaha…

Ie Suum 2
Ie Suum 2

Kawan saya bilang, dulu daerah itu adalah tempat mayat-mayat korban konflik dibuang. Mungkin itu yang dimaksud oleh dua orang anak laki-laki tadi dengan kata di tiek-tiek. Saya yang salah dengar kali ya.

Ie Suum 3
Ie Suum 3

Ketika di kantor saya menceritakan kembali pengalaman saya ketika mengunjungi daerah-daerah tadi. Beberapa kawan yang memang berasal dari Banda Aceh merasa heran saya mampu datang ke daerah ini. Karena mereka sendiri tidak pernah berada sejauh itu dari Banda Aceh.

Benteng Inong Balee

Rencana awal adalah ingin mengunjungi lokasi Ie Suum di Desa Ie Suum Kecamatan Mesjid Raya-Aceh Besar. Tapi saya malah menyasar hingga ke Lamreh sana. Puluhan kilometer terlewati dari lokasi sumber air panas tersebut.

Bagaikan terpesona dengan view yang sangat menarik saya terus saja melewati Pelabuhan Malahayati. Menaiki tanjakan tinggi yang di sisi kiri dipadati dengan rumah-rumah relokasi penduduk korban tsunami. Pada sebuah papan di sebelah kiri di depan saya tertulis Benteng Inong Balee. Refleks tangan saya berbelok ke kiri dan mengikuti jalan setapak berbatu. Saya berhenti di bawah sebuah pohon rindang yang berduri-duri.

Dari atas bukit itu saya dapat melihat pelabuhan di bawah sana. Pabrik Semen Padang dan Pertamina. Rumah-rumah relokasi berjejer putih dan merah. Perahu-perahu nelayan, bagan dan kapal kargo bertebaran di perairan Selat Malaka. Terlihat sangat indah jika dipandang dari atas sini.

Inong Balee
Inong Balee

Ada banyak pohon Boh Jamblang di sana. Kebetulan sedang berbuah dan saya memanjat sebuah pohon dan memetik beberapa dan memakannya di atas pohon sambil foto-foto. Seru sekali. Lucu juga. Jauh-jauh dari Meulaboh malah nyasar ke sini dan nangkring di pohon sambil makan Jambee Kleng! Haha…

Teringat masa kecil dulu ketika saya dan abang dan seorang kawan kecil, Ipan. Kami bertiga mendaki gunung Piatu di Labuhan Haji – Aceh Selatan untuk memetik Boh Jamblang ini. Kami menyebutnya Jambu Kaliang. Menguak semak ilalang setinggi dua meter, bergelayutan di akar-akar nafas dari pohon-pohon raksasa. Auoooo…Tarsan cilik! Kami masing-masing membawa pulang satu kantong plastik penuh Boh Jamblang. Sebelas tahun lebih berlalu dan kini saya dapat merasakan kembali masa-masa indah dulu. Hahhh…

Boh Jambee Kleng, Jambu Kaliang
Boh Jambee Kleng, Jambu Kaliang

Setelah bernostalgia sambil menikmati buah jambu kaliang ini, saya berjalan lagi menuruni bukit mengikuti jalan setapak berbatu yang bertebaran kotoran sapi di mana-mana. Sekitar satu kilometer dari tempat saya berhenti tadi saya memasuki situs bersejarah ini. Benteng Inong Balee. Ahhh, akhirnya saya sampai juga.

Situs Bersejarah
Situs Bersejarah
Prasasti Benteng
Prasasti Benteng

Setelah membaca prasasti di atas, imajinasi saya terus berputar membayangkan suasana peperangan para laskar Aceh yang sedang membela negeri. Di prasasti itu juga tertulisa bahwa benteng ini juga dijadikan sebagai asrama para laskar Inong Balee. Itu berarti mereka juga ikut berperang kan? Jadi ternyata jaman dulu memang sudah ada laskar Inong Balee. Saya pikir cuma ada pada jaman GAM dulu. Wah, luar biasa. Saya berdiri di sana menyaksikan sisa-sisa perjuangan mereka. Masih tetap kokoh berdiri. Semoga rakyat Aceh dan Aceh tetap mampu berdiri kokoh seperti benteng-benteng itu.

Benteng Inong Balee
Benteng Inong Balee
Tugu
Tugu