Inilah 6 Makanan Penentram Perut Selama di Belitong

Perjalanan ke Belitong bulan Agustus lalu masih menyisakan satu catatan lagi yang sayang jika tidak kutuliskan. Meski kejenuhan menulis makin memburuk akhir-akhir ini tapi kupaksakan juga untuk menyelesaikan draft yang sudah sebulan lebih teronggok di dalam folder.

Karena perjalanan tak melulu melihat pemandangan alam saja, tak hanya melepas dahaga mata dengan hijau tosca lautan dan pasir putih pantai saja. Tapi mata dan perut juga perlu ditentramkan dengan kelezatan makanan lokal. Berikut beberapa makanan penentram perut jika kelaparan di Belitong:

Mie Atep Belitong

Hari pertama aku tiba di Belitong, aku diajak menikmati Mie Belitong. Mie Belitong ini tak jauh beda dengan mie berkuah ikan yang juga dapat ditemukan di Sabang, Pulau Weh sana (baca di sini). Meski bentuknya sama, tapi rasa tentu saja berbeda. Jangan tanya mana yang paling enak karena bagiku keduanya sama-sama enak. Mie Belitong ini dapat kamu coba jika berkunjung ke Belitong di Warung Atep. Lokasinya berada tepat di depan swalayan Puncak. Andai saja udangnya dibubuhkan lebih banyak di atas mie. Hmmhhh…

Kredit foto: Oja

Lanjutkan membaca “Inilah 6 Makanan Penentram Perut Selama di Belitong”

Iklan

Nikmatnya Gangan Jalan Irian di Belitong

Aku biasanya kalau traveling berombongan itu paling tidak pedulian mau dibawa makan ke mana. Biasanya ‘iya’ saja jika diajak tuan rumah ke tempat makan. Seperti di suatu siang yang cerah di Tanjung Pandan, Belitong. Bang Edi, pengelola BelitungTours.com ini membawa aku dan keempat kawan yang lain makan siang dengan menu khas Belitong yang setiap menuliskan namanya saja air liurku sudah meleleh, yaitu Gangan!

Halaman sebuah rumah di Jalan Irian ini sudah disulap menjadi sebuah warung kecil yang ramai didatangi orang pada jam makan siang. Makanya kami datang lebih awal supaya kebagian tempat duduk. Lanjutkan membaca “Nikmatnya Gangan Jalan Irian di Belitong”

Menjenguk Tarsius di Taman Batu Mentas

Ada beberapa daerah bukan pantai yang memiliki potensi wisata di pulau Belitong. Selain wisata makam dan air terjun di Gunung Tajam yang aku tulis di sini, berlokasi tidak jauh dari gunung itu ada kawasan hutan Batu Mentas yang menyimpan fauna unik dan langka, lokal menyebutnya Pelali’an dan bernama latin Tarsius bancanus saltator.

Hari sudah siang ketika kami tiba di Batu Mentas. Panas matahari tertahan oleh kerimbunan pohon yang menaungi areal ekowisata ini. Beberapa bangunan seperti cafe dan beberapa pondok dibangun semi permanen. Sungai selebar lima meter tak lebih dalam dari lutut mengalir tenang di atas dasar pasir berbatu, letaknya tak jauh dari kafe. Jika kita berjalan melewati kafe barang sepuluh meter ada jalan setapak yang berbelok ke kanan. Inilah rute tracking untuk melihat Tarsius di alam bebas pada malam hari. Lanjutkan membaca “Menjenguk Tarsius di Taman Batu Mentas”

Bersantai di Pantai Penyabong

Sesudah menyantap Indomie goreng di pagi yang sedikit berawan di pantai Tanjung Kelayang, kami berkemas dan melanjutkan perjalanan ke Batu Beginde dan Pantai Penyabong. Sebelum keluar dari areal cottage, kami disapa oleh pemilik Kelayang Beach Cottage & Resto, Pak Andi. Setelah mengobrol sebentar, kami berpamitan dan melajukan motor ke arah barat daya Pulau Belitong. Lanjutkan membaca “Bersantai di Pantai Penyabong”

Beratapkan Bintang di Tanjung Kelayang

Sebagai salah satu destinasi wisata terpopuler di Belitong, Pantai Tanjung Kelayang patutlah ramai dikunjungi orang. Dampaknya, banyak warung-warung dan penginapan dibangun di kawasan pantai. Karena letaknya yang tak jauh dari pemukiman warga, pada perairan pantai banyak perahu nelayan dan perahu angkutan wisata yang bersauh. Lanjutkan membaca “Beratapkan Bintang di Tanjung Kelayang”

Hiking Ke Gunung Tajam

Kami disambut senja yang indah di pantai Tanjung Pendam ketika tiba di Pulau Belitong. Pantai ini tak jauh dari pelabuhan Tanjungpandan, tempat Kapal Express Bahari berlabuh setelah melintasi Selat Gaspar selama empat jam di hari sabtu yang cerah. Permukaan laut berombak tenang telah mengantarkan kami lebih cepat satu jam dari perkiraan waktu tempuh biasanya. Jika perjalanan itu kami tempuh sampai lima jam, mungkin kami keluar kapal dengan tubuh membeku. ACnya luar biasa dingin! Bukan empat jam perjalanan yang menyenangkan terperangkap dalam suhu dingin. Lanjutkan membaca “Hiking Ke Gunung Tajam”