Mendaki Puncak Tertinggi di Pulau Bangka

Awan mendung bergelayut ketika truk yang kami tumpangi memasuki Desa Rambang, Kecamatan Riau Silip, Bangka. Kegundahan melandaku melihat tebalnya awan kelabu yang bergerak mendekati barisan puncak pegunungan Maras. Bersama dua puluh lima pendaki lainnya, kami terus bergerak melintasi desa-desa yang masih menunjukkan kemeriahan perayaan Imlek beberapa hari lalu. Aku dalam hati berdoa semoga hujan tidak turun malam ini.

Kami tiba di kaki gunung pada sore hari. Setelah menunaikan shalat Dhuhur dan Ashar berjamaah di tanah lapang di pinggiran sungai, kami menanti matahari tenggelam sambil menikmati makan malam dari bekal yang sudah dibeli dari tadi pagi. Tidak ada yang membawa nasi, masing-masing membawa mi instan dan puluhan bungkus lontong dengan sambal asam khas Bangka dan tempe. Aku sendiri segera mengeluarkan kompor portable, panci, dan segera merebus mi instan. Mi goreng digado dengan lontong ternyata enak juga. Meski tidak banyak, tapi lumayan untuk mengganjal perut yang sejak pagi tidak terisi makanan.

Lanjutkan membaca “Mendaki Puncak Tertinggi di Pulau Bangka”

Iklan

Belajar Menganyam di Pantai Pejam

Pantai Pejam (dilafalkan Pejem) berada tidak begitu jauh dari rumah yang kami tumpangi. Hanya sepuluh menit menaiki motor. Aku dan Arie berboncengan menaiki motor trail tua rakitan yang remnya sudah blong. Setelah mengisi bensin campuran di toko akoh di persimpangan desa, kami tancap gas ke pantai.

Motor trail dengan rem tapak kaki.
Hutan bakau di Desa Pejem.

Sebelum ke pantai Pejem, kami berhenti sebentar di salah satu pantai tempat ditambatnya perahu dan tempat bersauhnya bagan-bagan. Bagan ini bersauh di samping pepohonan bakau yang menghadap langsung ke Pantai Pejem yang hanya berjarak tiga kilometer dari pantai pertama. Pantai ini hanya sepanjang sekitar 20 meter saja dengan pepohonan yang meneduhi pasir putih di bawahnya. Kedua ujung pantai berbatasan dengan hutan bakau yang tumbuh rapat dengan akar nafas yang mencuat dari permukaan pasir. Pantai Pejem berada dua kilometer dari pantai teduh ini.

Lanjutkan membaca “Belajar Menganyam di Pantai Pejam”

Pesona Pulau Lampu di Utara Bangka

Pulau Lampu adalah salah satu keindahan alam yang dimiliki Indonesia. Tersembunyi nun jauh di utara pulau Bangka. Sebuah rumah panggung yang mungkin sudah dibangun sejak zaman penjajahan Belanda dulu masih berdiri kokoh di puncak bebatuan granit, ditemani sebuah mercusuar di sampingnya yang menjulang tinggi untuk memandu kapal yang melintas dekat. Berada di atasnya, kita boleh melihat pulau-pulau kecil dan gugusan batuan granit yang memesona di bawah sana.

Pulau Lampu berada dekat dengan pantai Penyusu. Hanya 15 menit menumpang perahu kecil untuk menyeberang. Untuk tiba ke Pantai Penyusu dan Pulau Lampu ini, kita terlebih dulu harus mencapai Belinyu yang dapat ditempuh selama dua jam dari Kota Pangkalpinang.

Foto ini (harusnya sih) diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan dengan tema Keindahan Alam Indonesia oleh Ayahalmira. Ehalahai neuk ternyata turnamennya sudah berakhir. Tapi ya sudahlah. Malu datang terlambat. *sembunyiin muka dalam beras*

Piknik di Kebun Desa Pejem

Desa Pejem berada lebih kurang 117 km dari Kota Pangkalpinang. Akses menuju desa terpencil ini lumayan menantang. Tidak seluruh jalan teraspal mulus. Satu kilometer beraspal, empat kilometer selanjutnya masih jalan tanah berwarna merah berlubang-lubang, begitu terus hingga sampai di desa yang dihuni Suku Lum atau Suku Lom.

Suku Lom adalah suku tertua yang mendiami Pulau Bangka. Nama Lum berasal dari kata ‘belum’ yang dimaksudkan suku ini belum beragama. Nama ini diberikan oleh pemerintah Belanda. Sebelumnya, suku ini lebih dikenal sebagai suku Mapur. Ada banyak cerita tentang asal-usul suku ini. Pertama dari catatan peneliti berkebangsaan Norwegia, Olaf H. Smedal yang menuliskan sebuah kapal besar dari Cochin, Cina yang rusak dan terdampar di Pantai Tanjung Tuing. Namun ada penjelasan lain lagi perihal kapal dari Cochin ini. Yaitu kapal ini berisikan warga Champa yang melarikan diri dari perang yang dimenangkan Annam (Vietnam). Kedua dari legenda sepasang suami istri yang muncul secara misterius dari Bukit Sumidang di Belinyu setelah pasang banjir surut. Dan cerita ketiga berasal dari ketua lembaga adat Provinsi Bangka Belitung, Suhaimi Sulaiman yang mengatakan bahwa Suku Lom adalah keturunan bangsawan Majapahit yang lari pada abad 16 karena menolak masuk Islam.

Rumah Suku Lom yang tinggal di dekat pantai.

Lanjutkan membaca “Piknik di Kebun Desa Pejem”

Mengunjungi Suku Lom di Desa Pejem

Ketika memikirkan kalimat pembuka apa yang menarik untuk perjalanan mengunjungi salah satu pedalaman di Bangka memberiku jeda lama. Karena rasa takjub yang lagi-lagi menderaku ketika mengingat kembali apa yang sudah aku lalui selama di pulau ini. Akhirnya seminggu lebih berlalu tanpa menghasilkan satu kalimat pun. Bangka memang mengagumkan.

Mau panen padi di Desa Pejem, Belinyu.

A video posted by Citra Rahman (@citrarahman) on Feb 1, 2015 at 7:10am PST

Perjalanan melihat wajah lain Bangka ini terlaksana berkat ajakan Arie. Seorang blogger asli Bangka yang punya abang sepupu seorang peneliti Suku Lom, Teungku Sayyid Deqy. Mereka diundang oleh salah satu keluarga suku untuk ikut bersama menikmati hasil panen di kebun mereka di Desa Pejem, Kecamatan Belinyu, Bangka Barat. Perjalanan panjang ini ditempuh dengan dua kendaraan. Pertama dengan mobil dari Pangkalpinang ke Belinyu lalu ganti mobil dengan truk ke Desa Pejem. Jika dihitung pakai google map, total panjang perjalanan yang ditempuh kurang lebih 117 kilometer. Inilah perjalanan pertamaku menaiki truk yang melintasi daerah terpencil yang jalannya masih kebanyakan berwarna merah, bukan hitam (baca: aspal). Aku dan kedua teman yang menumpang di dalam bak truk serasa menjadi karung kentang. Pasrah saja terbanting ke kiri-kanan dan digodok ke atas-bawah karena jalan ‘raya’ yang tak rata. Lanjutkan membaca “Mengunjungi Suku Lom di Desa Pejem”

Yuk, Ngopi di Kutub Utara?

Tak ada yang tak mungkin. Ngopi di Kutub Utara sekarang menjadi lebih mudah dan memungkinkan. Datang saja ke Belinyu di Bangka! Hehe…

Warung kopi legendaris ini diberi nama Warung Kopi/Es Kutub Utara yang beralamat di Jalan Veteran nomor 89, Belinyu. Buka dari pagi sampai malam dengan menu andalan yang wajib kamu coba seperti (tentu saja) kopi, es kacang, dan es campur. Jika tidak suka kopi pahit, cobalah kopi susunya atau es kacang. Nikmati secangkir kopi dengan roti home made yang juga mereka sediakan sebagai cemilan sambil mengobrol. Lanjutkan membaca “Yuk, Ngopi di Kutub Utara?”