#Elephantastic Run 2018 di Banda Aceh

Sudah lama banget pengen ikut acara lari di Banda Aceh. Setelah tiga tahun kutinggalkan, kawan-kawan lari di kota sejuta kedai kopi itu makin semarak saja. Makin ramai. Terbukti dari aktifnya komunitas lari Indorunners Aceh (IRA) yang menggelar Sunday Morning Run (SMR) dan beberapa kali dipercayai pula menjadi pengurus charity race. Seperti Rhino Run, Tiger Day, Lanjutkan membaca “#Elephantastic Run 2018 di Banda Aceh”

Iklan

Bermalam di Bukit Lhok Mee

Sabtu malam, aku tiba di perbukitan ini pada pukul 8. Honda Beat yang aku kendarai membelah pekat malam, melindas karang-karang, menerbangkan debu-debu pasir halus. Ketika tanjakan, ku tarik gas lebih dalam. Bau sangit dari karet kopling tercium karena motor dipaksa menaiki tanjakan di jalan yang berbatu-batu. 10 menit kemudian aku tiba di lokasi yang aku inginkan tanpa tersesat karena sudah hapal betul jalan-jalan setapaknya.

Aku segera mendirikan kemah di samping sebuah pohon setelah sebelumnya membersihkan serakan karang di permukaan tanah datar. Dataran yang kupilih adalah sebuah bukit karang yang menjorok ke laut setinggi 10 meter. Permukaannya sudah sepenuhnya tertutupi tanah dan dilapisi rumput. Tiga batang pohon seukuran paha tumbuh di pinggir tebing. Aku mengikatkan ayunan pada dua batang pohon. Setelah beres, aku menggelar matras di samping tenda dan merebahkan badan, menantang langit.

Hamparan bintang di atasku berkelap-kelip seperti pijar lampu pada perahu nelayan di tengah laut. Merah, kuning, dan biru. Terbingkai dengan awan dan siluet pepohonan. Di ufuk barat, sesekali kilat membelah langit dari balik awan yang perlahan-lahan menutupi pertunjukkan bintang jatuh yang membuatku berdecak kagum.

Aku ingat pada penjelasan seorang mahasiswa astronomi ketika berkunjung ke observatorium Boscha tahun 2012 lalu. Cahaya bintang yang berkelip-kelip karena ketidakstabilan atmosfir di bumi. Dan cahaya bintang yang kita lihat pada malam hari sebenarnya adalah cahaya yang ‘traveling’ selama bertahun-tahun. Jadi cahaya yang kita lihat itu menempuh waktu tahunan hingga mencapai bumi. Contohnya seperti bintang terdekat kedua dengan bumi, Proxima Centauri yang berjarak empat tahun cahaya. Sedangkan cahaya matahari kita menempuh waktu hanya 8 menit saja.

Berbaring di atas bukit dan mata nyaris tak berkedip memandangi ribuan bintang. Takut rugi melewatkan momen bintang jatuh yang hanya terlihat sepersekian detik itu. Gigitan nyamuk pun tak lagi terasa. Suara hempasan ombak pada tebing-tebing karang di cekungan bukit di bawah pun lenyap. Khayalanku membumbung tinggi dan melesat bagaikan kecepatan warp menembus gelapnya ruang hampa di antara gugusan bintang. Tapi aku tidak sedang berada di dalam USS Interprise. Aku tak bisa menentukan tujuan akan berkunjung ke planet mana. Khayalanku terhempas kembali dengan kecepatan warp yang sama ke bumi dengan banyak sekali tanda tanya.

Jagad raya yang maha luas ini, benarkah ada makhluk selain kita yang tinggal di galaksi lain? Romulan? Autobot? Klyngon? Bumi-bumi lain? Romulus? Krypton? Coruscant? Cybertron?

Apakah kita benar-benar sendiri? Aku terlelap dengan membiarkan pertanyaan itu pupus terbawa angin malam.

Angin yang meniup dedaunan pada ranting-ranting di atas ayunanku mendesau halus. Aku perlahan-lahan membuka mata dan desau angin itu bagaikan mantra yang membuat kelopak mata terasa berat untuk digerakkan. Sejenak aku biarkan ‘ruh’ ku kembali utuh ke dalam tubuh hingga aku menyadari keberadaanku di dalam ayunan. Ketika telinga menangkap suara hempasan ombak, aku baru benar-benar sadar sedang berada di mana.

Lhok Mee tak hanya memiliki pantai berpasir putih yang dibentengi dengan pohon beurambang yang tumbuh di depan pantainya. Tapi juga perbukitan karang yang menawan dan penuh misteri sejarah masa lalu Aceh. Lhok Mee terletak di Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar. Sekitar 38 KM dari kota Banda Aceh. Aku sedang berada sekitar seribu meter dari pantai Pasir Putih, Lhok Mee, di sebuah bukit di pinggir laut.

Subuh mulai beranjak pagi. Warna hitam pekat mulai terangkat namun mata masih hendak tertutup rapat.Kantung tidur yang kujadikan selimut teronggok di ujung ayunan. Kutolehkan muka ke kanan. Di balik siluet bukit dan pepohonan tampak awan berwarna biru menutupi ufuk barat tempat matahari akan segera terbit. Warna-warna seperti jingga dan biru muda merayap pelan menyergap awan biru pekat yang menutupi matahari.

Aku berlari ke bukit yang menghalangi pandanganku itu. Dari atas sana aku bisa melihat lebih jelas detik-detik matahari naik meski hanya dari pergerakkan cahayanya saja pada langit dan awan. Matahari sendiri sepenuhnya tertutupi oleh awan itu. Akibatnya, bayangan awan jatuh menutupi pohon beurambang yang tumbuh di depan pantai pasir putih dan pemukiman warga di Dusun Lhok Mee. Aku duduk bersila di atas rerumputan basah dan menikmati gradasi warna-warna ajaib saat matahari mulai bergerak naik dari belakang selimut tebalnya. Indah sekali!

Keindahan mentari pagi ini bukan satu-satunya yang dapat kunikmati di perbukitan kampung penuh sejarah ini, Gampong Lamreh. Perbukitan ini ditumbuhi jarang-jarang pohon jambee kleng (jamblang) dan rumput kering kekuningan. Batu-batu gunung hitam legam terbakar matahari berserakan bersama kotoran sapi dan kambing dan koral-koral laut di sepanjang jalan setapak. Koral-koral ini menjadi pertanda bahwa daratan ini pernah berada di bawah permukaan laut. Di puncak-puncak bukit ini terdapat parit-parit tempat para prajurit Jepang menjaga daerah kekuasaannya.

Jika kita memalingkan wajah ke arah utara, terlihat sebuah teluk berpantai pasir dengan muara sungai yang membelah di tengah-tengahnya. Di pinggir pantai sana terdapat sisa-sisa peninggalan Benteng Kuta Lubok yang terlantar. Naik sedikit menyusuri bibir pantai dan tebing-tebing ke sebuah bukit yang terkenal dengan Benteng Inong Balee. Di pinggir tebing setinggi 20 meter itulah para laskar perempuan Aceh di bawah pimpinan Laksamana Malahayati mengintai kapal-kapal Belanda. Susuri tebing-tebing melewati mercusuar hingga ke ujung bukit. Di depannya sebuah pulau kecil teronggok yang menurut cerita masyarakat setempat adalah jelmaan sebuah kapal seorang anak yang durhaka pada ibunya, dialah Si Amat Ramanyang yang dikutuk menjadi batu.

Aku menghela nafas panjang. Tertegun melihat pemandangan indah di sekelilingku. Indah namun mengkhawatirkan. Antara aku harus bersyukur dengan kurangnya eksploitasi dan berharap semua orang datang melihat apa yang kulihat. Tanpa eksploitasi saja sampah sudah bertebaran di atas bukit ini dan sampah plastik mengapung seperti ubur-ubur di permukaan laut. Sampai kapan rakyat Aceh peduli dengan kebersihan? Sampai kapan rakyat Aceh yang dikenal berbudaya ini berhenti membuang sampah tidak pada tempatnya? Apakah membuang sampah sembarangan sudah menjadi budaya Aceh? Hhhhhh. Aku kembali menghela nafas panjang dan menghembusnya keras-keras. Jika saja kita semua mau menjaga kebersihan lingkungan, hal kecil saja, seperti tidak membuang sampah sembarangan, alam akan senantiasa bersih, semua orang akan senang datang dan melihat Aceh.

Lageun, Pantai di Pinggir Jalan

lageuen-8Pantai Lageun ini berada di pinggir jalan yang menghubungkan Meulaboh-Calang-Banda Aceh. Jalan beraspal mulus dan lebar ini dibangun berkat bantuan rakyat Amerika pasca tsunami tahun 2004 silam yang selain  mempermudah kembali arus transportasi antar kabupaten di pesisir barat juga mengekspos kecantikan Lageun di kabupaten Aceh Jaya.

Untuk mencapai pantai ini dapat ditempuh dengan sepeda motor atau mobil kurang lebih 2 jam dari kota Banda Aceh atau 1,5 jam dari kota Meulaboh. Tidak ada yang berjualan di areal pantai dan sangat sepi jika didatangi pada hari selain akhir minggu.

Aku lebih senang berada di pantai ini ketika sepi, menikmati tiupan angin sepoi sambil membenamkan kaki ke dalam pasir kasar berwarna kemerahan dan membiarkannya menggelitik telapak kaki. Kerisik daun jarum cemara laut berkaloborasi dengan deburan ombak membuatku sejenak lupa pada teriknya matahari yang membakar. Ah, enaknya kalau pantai ini punya sendiri.

lageuen-7

Pulau Weh, Tidak Melulu Pantai dan Snorkeling kok

Pria Laot waterfall

Pulau Weh itu seperti magnet. Setiap kali namanya terlintas di pikiranku, selalu timbul rasa tertarik ingin kembali ke sana. Begitu juga setiap kali melihat pulau ini dari kejauhan di tepi Pantai Ulee Lhee, daya tariknya semakin kuat. Meski sekarang aku tinggal di Lhokseumawe, daya tariknya tak melemah sedikitpun. Hingga akhirnya pada suatu akhir pekan gaya magnetisnya berhasil menarikku dengan kekuatan penuh. Lanjutkan membaca “Pulau Weh, Tidak Melulu Pantai dan Snorkeling kok”

Bermalam Minggu di Tengah Hujan dan Badai

Terakhir kali aku berkemah dulu itu ketika mengikuti ekskul Pramuka waktu kelas 1 SMP. Sudah sepuluh tahun lebih dan pengalamannya yang bisa kuingat hanya sebatas minta tandatangan senior, disuruh push-up, main bola dangdut sambil hujan-hujanan, dan mandi di aliran sungai dari pegunungan Leuser yang super dingin. Di kala itu aku dan para anak-anak bawang lainnya belum diajarkan bagaimana bertahan di tengah hutan, hujan dan badai. Semua dijaga dan diatur oleh kakak pembina. Pelajaran kecil penting ini baru aku rasakan di hari sabtu tanggal 7 Juli lalu. Meski cuma semalam, aku belajar banyak hal dari dari alam.

Pantai Lhok Mata Ie dan di depan sana adalah Pulau Bunta yang tak berpenghuni.

Seperti yang pernah aku ceritakan di postingan terdahulu (bisa baca di sini) kami  bertiga sudah berencana untuk berkemah di Ujong Pancu, yaitu sebuah kampung di kabupaten Aceh Besar. Lokasi ini berpotensi menjadi salah satu tujuan Aceh tourism baik lokal maupun domestik. Sesuai namanya, Ujong yang berarti ujung merupakan bagian paling ujung pulau Sumatra. Ada 2 peternakan ayam yang berbatasan langsung dengan jalan beraspal di pinggir pantai. Tempat ini dijadikan starting point dan sebagai tempat parkir orang-orang yang pergi berkemah dan para pemancing. Jika musim hujan, bau kotoran ayam yang basah menguar menyesakkan dada. Lanjutkan membaca “Bermalam Minggu di Tengah Hujan dan Badai”

Lhok Mata Ie Ketika Hujan

Pantai Lhok Mata Ie adalah salah satu pantai sekaligus tujuan wisata Aceh yang bisa dikatakan private beach-nya Aceh Besar. Selain tersembunyi, pengunjung yang mau datang ke lokasi ini harus menempuh waktu sekitar 30 menit dari pusat kota Banda Aceh ke arah pantai Ujong Pancu dan dilanjutkan berjalan kaki selama 1 jam naik turun bukit.

Perjalanan ke Lhok Mata Ie kali ini adalah untuk menunjukkan ke Dika dan Kindi lokasi perkemahan kami yang sudah lama direncanakan. Tapi tertunda karena belum punya tenda dan perlengkapan lainnya.  Lanjutkan membaca “Lhok Mata Ie Ketika Hujan”

Nice trip ke Ie Su’um dan Ujong Pancu

Yes! Liburan lagiii…

Loh? Puasa-puasa libur? Ga kerja?

Iyaaahh..ini bisa libur karena pas berangkat ke Banda Aceh untuk laporan bulanan.

Tanggal 18 Agustus lalu aku berangkat ke Banda Aceh. Jadi kebetulan pas weekend aku bisa mengunjungi beberapa objek wisata di Banda Aceh dan Aceh Besar. Padahal sebenarnya ga pengen lama-lama di Banda Aceh, cukup dua hari aja. Tapi gara-gara cuaca yang hujan bikin aku mikir kalau jalan Lamno – Calang pasti becek dan malasnya terperangkap dalam lumpur. Jadi tambah malas buat pulang. Akhirnya aku bertahan sampai beberapa hari di sana.

Hari pertama, sedang jalan-jalan di jalanan Teungku Daud Bereueh. Shalat di Masjid Al-Makmur dan ganti baju di jembatan penyebrangan. Kebetulan toilet mesjid sedang direnovasi, aku yang masih pake kemeja karena baru pulang dari kantor harus nyari tempat buat ganti kemeja dengan kaos. Pilihanku cuma di atas jembatan penyeberangan itu. Karena selalu aja tempat itu jaraaang sekali ada yang pergunakan. Sempat juga kepikiran kalo nanti ga tersedia penginapan di rumah kawan, aku tidur aja di atas jembatan itu. Hehe…

Setelah ganti baju, istirahat bentar di atas sambil perhatiin lalu lintas. Iseng aku foto-foto.

Sedang nunggu labi-labi (angkot)

Tuh, haltenya juga jaraaang sekali dipake buat nunggu angkutan umum. Paling juga buat berteduh atau buat ditiduri sama tukang-tukang becak atau yang seperti di dalam foto di atas. Kalo dipikir-pikir, keknya kota ini emang ga perlu halte lah! Labi-labi aja berhenti di mana aja dia dan penumpang suka. Haha…

Setelah Masjid Raya Baiturrahman, masjid lain yang aku suka adalah Masjid Al Makmur yang di Lampriet. Paling suka sama karpet sajadahnya yang super empuk. Shalat di dalamnya pun berasa nyaman dan adeeemmm…

Masjid Al Makmur

Selanjutnya aku ke Ie Su’um di Kecamatan Krueng Raya. Jaraknya sekitar dua jam perjalanan dengan menggunakan motor. Melewati Pelabuhan Malahayati yang bersejarah itu jadi ingat bosku yang punya nama yang sama. Hehe..

Perjalanan menuju lokasi air panas dari jalan raya ditempuh selama lebih kurang setengah jam, jalan yang dilalui pun naik turun bukit dan kondisi aspal yang rusak parah. Bahkan salah satu jembatan menuju ke lokasi sumber air panas rusak karena dibakar oleh orang yang sepertinya sih nyari perhatian Pemda setempat supaya daerah mereka segera diaspal dan jembatannya diperbaiki. Ehm, iya sih. Terakhir kali ke sini tahun 2008 lalu kondisi jalannya tambah parah. Semoga aja pemerintah daerah segera memperhatikan daerah terpencil ini.

Ie Su'um (2008)

Itu foto sumber air panasnya. Foto lama sih. Waktu itu belum ada pembangunan kolam untuk menampung air panasnya. Sekarang udah keren, ada kolam dan perosotan buat anak-anak. Kolamnya dibuat tertutup dan dipisah untuk laki-laki dan perempuan.

Uap
Kolam air panas
Kolam baru sedang dibangun

Nah itu dia foto-foto kolamnya. Yang ada tenda-tenda putih itu kolam buat anak-anak karena lokasinya terbuka dan lebih kecil dan dangkal. Sedangkan foto di atasnya untuk dewasa dengan  kedalaman dua meter. Untuk kolam yang dewasa, ada dua kolam, kolam yang besar dan yg kecil. Jadi aliran air panasnya ngalir dari parit khusus dan ditampung di kolam kecil ukuran 2×2 meter yang kemudian langsung mengalir ke kolam yang lebih besar.

Pas nyampe di sana, kolam buat yang dewasanya sedang diisi, airnya baru selutut dan masih sangat panas untuk ukuran suhu tubuh normal manusia. Jadi aku ga berani loncat. Terus aku ke kolam untuk ceweknya, kebetulan waktu itu kolamnya sepi. Ga ada pengunjung. Jadi untuk kolam cewek airnya sengaja dibendung dan cuma mengalir di kolam penampungan pertama dan airnya hangat. Jadilah aku berendam di situ dengan hanya bercelana dalam. Mumpung lagi sepi. Haha…

Pulang dari Ie Su’um, aku lanjut lagi ke…entah apa nama daerahnya. Dari Ulee Lhee aku belok kiri ke arah Ajun. Lewat dari Water Boom dan Banda Seafood, aku belok ke kanan dan mengikuti jalan beraspal sampai mentok. Jalan aspalnya putus dan di depan udah semak belukar aja. Ternyata, inilah namanya Desa Ujong Pancu. Dulu pernah dengar dari beberapa orang tentang desa di tepi pantai ini.

Ujong Pancu = Ujung Sumatra?

Sepertinya Ujong Pancu ini adalah daerah paling ujung dari pulau Sumatra. Tapi ga tau juga sih ya.. Belum liat peta. Tapi kalo dari namanya sih kayaknya iya. (ngarang!) :p

Ujong Pancu
Boat dijual murah. LOL

Oke, udah dulu jalan-jalannya. Harus balik ke Meulaboh. :D