Legitnya Kue Adee Kak Nah di Meureudu

Traveling itu belumlah lengkap jika belum mencoba menikmati kuliner khas di suatu daerah yang kita kunjungi. Sebelum berangkat, sering kita akan bertanya-tanya makanan apa yang khas atau apa sih yang wajib dicoba di daerah tersebut? Bagi yang bepergian melewati jalur Medan-Banda Aceh atau sebaliknya, sempatkanlah untuk berhenti di Meureudu dan membeli kue yang menjadi ikon kabupaten Pidie Jaya ini, yaitu Kue Adee Kak Nah!

Pusat pembuatan kue Adee Kak Nah di Meuraksa, Meureudu

Lanjutkan membaca “Legitnya Kue Adee Kak Nah di Meureudu”

Iklan

Ketika Orang Gayo Jauh dari Kampung

Berikut adalah dua rekaman video yang  kami rekam menggunakan dua buah ponsel pabrikan Cina. Video diambil di bulan Februari lalu ketika suntuk dan ketika rindu kampung halaman sudah mulai menyerang bujang-bujang lapuk ini.

Dua orang kawan kos saya ini yang berasal dari Gayo Lues sedang mengusir kebosanan mereka dengan menarikan Saman.

Dari anak-anak ini aku baru tahu ternyata tari Saman diajarkan semenjak kecil di hampir setiap kampung di Gayo. Akan ada sanggar yang menyeleksi mereka untuk dijadikan penari profesional. Mereka inilah yang sering kita lihat di tv dan diundang tampil ke luar negeri.

Beginilah Tari Saman Gayo terus lestari karena dimanapun mereka berada, akar-akar budaya dan seni yang diajarkan di kampung tak mereka cabut meski hidup dalam perantauan.

 

Keindahan Kuta Malaka

Kuta Malaka adalah sebuah areal perkebunan dan peternakan sapi di Kecamatan Kuta Malaka. Ibukota kecamatannya adalah Samahani. Nama Kuta Malaka sendiri tidak begitu populer dibandingkan nama ibukotanya, Samahani. Atau saya saja yang tidak begitu memperhatikan kali ya? Saya berpedoman di website resmi Aceh Besar ini. Oke, cukup pelajaran geografinya di sini.

Gerbang Kuta Malaka

Lanjutkan membaca “Keindahan Kuta Malaka”

Uroe Meugang

Suasana Meugang di Aceh Barat

Tadi pagi saya mengantar Mamak ke pasar Bina Usaha di Jalan Daud Dariah untuk membeli daging. Persiapan untuk hari Meugang tentunya. Hingga pagi ini harga daging kerbau perkilonya masih Rp. 80.000,- dan kemungkinan akan naik hingga lebih dari Rp. 100.000,- /kg pada hari Meugang besok.

Kamarin dan hari ini pasar terus dipadati oleh para ibu-ibu yang sedang mempersiapkan hari Meugang besok. Tapi hingga hari ini belum terlihat adanya stand-stand berjualan daging di lokasi pasar tersebut. Seperti Meugang tahun lalu, stand penjualan daging diadakan di tepi sungai Lueng Nak Yee yang juga bersebelahan dengan kompleks pasar Bina Usaha dan juga tepat berada di pinggir jalan Daud Dariah.

Sudah pasti Sabtu besok lokasi tersebut akan dipadati oleh pembeli dan polisi akan kewalahan mengatur lalu lintas karena banyak pembeli yang akan memarkir kendaraan roda dua mereka di bahu jalan Nasional sehingga dapat memacetkan arus lalu lintas.

Meugang menjadi semarak jika tidak adanya kemacetan luar biasa seperti itu. Keramaian pada saat Meugang sudah menjadi tradisi. Mungkin boleh saya katakan sebagai perayaan menyambut bulan puasa. Hm, saya selalu suka dengan keramaian seperti ini. Semua orang dari kampung-kampung datang membanjiri pasar untuk membeli daging, rempah-rempah, pakaian, sayur dan segala perlengkapan dapur dan juga perlengkapan untuk Meugang dan puasa.

Di Meulaboh, perayaan dua hari sebelum puasa disebut Uroe Meugang. Kalau di kampung ayah saya di Labuhan Haji – Aceh Selatan sana disebut dengan Haghi Mamagang. Tadi, saya bertanya sebutan Meugang ke teman saya yang berasal dari Lhokseumawe, katanya ada beberapa sebutan di sana yaitu Uroe Meugang, Uroe Keumeukoh dan bagi pendatang menyebutnya Hari Motong. Beda daerah beda bahasa dan beda juga tradisi merayakan hari Meugang.