[Video Cilet-Cilet] Lhok Mata Ie

Pantai Lhok Mata Ie yang kini ramai dikunjungi setiap akhir pekan dan hari libur ini tetap menyenangkan untuk disambangi. Perjalanan ke pantai ini memakan waktu kurang dari satu jam. Kita bisa snorkeling atau leyeh-leyeh santai saja di pinggir-pinggir batu menikmati semilir angin. Lhok Mata Ie adalah salah satu tempat ‘melarikan diri’ favoritku jika di Banda Aceh karena lokasinya yang tergolong dekat dan tempatnya juga keren!

Sayang sekali Pantai Lhok Mata Ie ini tidak bisa dikunjungi oleh perempuan meski ditemani oleh muhrimnya sekalipun. Tapi anehnya, ketika terakhir kali aku dan kawan-kawan dari Backpacker Aceh mengunjungi pantai ini, minggu ketiga Agustus 2015, kami menemukan dua bule cewek yang mendirikan kemah ditemani tiga orang lekaki lokal. Guidekah? Jika memang benar, seharusnya mereka telah mengantongi izin pejabat kampung.

Catatan kamping di Lhok Mata Ie terdahulu bisa kawan-kawan baca di blogpost yang INI dan INI.

Iklan

Menonton Sotong Menari di Pulau Nasi

Aku adalah salah satu orang dari ribuan orang di dunia ini yang percaya bahwa setiap orang punya rejeki masing-masing. Ketika kawan-kawan blogger sedang menikmati perjalanan Candat Sotong di Terengganu yang dihelat oleh negara tetangga, aku melarikan diri ke Pulau Aceh dan bersyukur bisa melihat sotong menari-nari di celah-celah bebatuan saat kami selesai snorkeling di Pulau Nasi. Paling tidak bisa meminimalisasi rasa iri melihat update mereka di social media :p Hehe…

Alih-alih memancing sotong, aku dapat melihat langsung tingkah polah sotong dari dekat. Coba perhatikan foto di bawah. Ada berapa ekor sotong yang kamu lihat? Emm, yang paling atas itu bukan sotong, itu dugong.

Temukan 10 ekor sotong di dalam foto. :D

Lanjutkan membaca “Menonton Sotong Menari di Pulau Nasi”

Melihat Air Terbang di Pulau Aceh

Hari kedua di Pulau Nasi.

Aku, Ilham, Fahrizal, dan Madhan masih di Pulau Nasi. Kami keluar dari tenda pagi itu dan mengecek ke sekeliling tenda untuk melihat apa benar ada ‘tamu’ yang datang saat semua terlelap semalam. Kawanan babi memang biasa berjalan-jalan ke pantai pada malam hari untuk mencari makan. Kami menemukan jejak-jejak sedalam 3 cm di pasir sekitar kemah kami berdiri. Lanjutkan membaca “Melihat Air Terbang di Pulau Aceh”

Mengungkap Rahasia ‘The Secret Beach’ Aceh: Pantai Lange

Tiga tahun yang lalu, aku mendengar banyak kabar tentang keberadaan sebuah pantai yang disebut-sebut ‘secret beach’. Begitu sebutan pantai yang berada di Gampong Lampuuk itu oleh beberapa orang yang gemar bertualang menyeberang hutan. Bahkan beberapa bule ikut bermain rahasia-rahasiaan tentang pantai ini. Aku penasaran seperti apa keindahannya. Saat itu google tidak membantu banyak menjawab rasa penasaranku. Belum ada pula orang yang menuliskannya di blog. Bahkan belum ada yang berani menunjukkan keindahan pantainya lewat foto. Hanya ada beberapa foto teaser yang menampilkan beberapa pejalan sedang memanggul ransel dan menandu barang-barang di tengah bukit pasir. Tak terlihat pantainya sedikitpun. Penyuka pantai mana yang tak akan penasaran?

Lanjutkan membaca “Mengungkap Rahasia ‘The Secret Beach’ Aceh: Pantai Lange”

The Real Escapade to Pulau Bunta

Desember tahun lalu aku menaikkan sebuah tulisan berjudul An Escapade to Pulau Bunta di blog ini. Sebenarnya aku sendiri, sebelum tulisan itu terbit, belum pernah menginjakkan kaki ke pulau itu. Sudah dua kali ajakan ke sana terpaksa aku tolak karena ada saja keperluan lain yang tak bisa ditinggalkan. Hingga kesempatan yang dinanti-nanti pun tiba beberapa bulan setelah tulisan itu terbit.

Jadi inilah cerita the real an escapade to Pulau Bunta oleh si backpakcer cilet-cilet. Silahkan klik tautan ini untuk membaca catatannya lebih lengkap. The Real Escapade to Pulau Bunta.

Gambar

Taman di Mon Ikuen

Taman ini bukan sembarang taman. Rumputnya tak sehijau taman buatan manusia yang selalu mendapat perawatan. Diberi pupuk dan disiram air. Tidak pula permukaannya rata dan bersih dari kotoran binatang. Hanya air hujan yang menyiramnya dan kotoran sapi yang berserak di segala penjuru menjadi pupuk untuk menyuburkan.

Mon Ikuen namanya. Letaknya memang persis di ujung Pulau Bunta di kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Jarang sekali ada manusia yang bermain-main di sini. Sekali-dua kali, adalah dua tiga orang yang melintas ketika matahari sedang tinggi. Sapi-sapilah yang selalu ramai berkumpul di tempat ini untuk makan dan memberi pupuk. Juga burung-burung yang mendarat mencari ulat atau menarik batang rumput kering lalu bergegas terbang untuk menyulam sarang. Ketika malam, apalagi jika terang bulan, babi-babi  jantan dewasa akan sibuk memikat para babi betina untuk diajak kawin.

Memandangi Mon Ikuen dari ketinggian adalah sebuah pengalaman yang mengharukan. Panjatlah tangga-tangga besi mercusuar setinggi 80 meter itu jika berani. Jika sudah tiba di atas, kamu tak akan sempat memuji diri sendiri karena keberanian menaklukkan rasa takut akan ketinggian. Hanya decak kagum yang ditambah sedikit rasa sentimental yang mengaburkan sejenak pandanganmu.

Foto paling atas diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 36 yang bertema Taman di blog Ari Murdiyanto.

Kelap-kelip di Langit dan Laut Pulau Bunta

Ilham menyusul kami ke ujung pulau sebelum matahari tenggelam. Dia membawa senter untuk penerangan selama kembali ke kemah nanti. Pemandu lokal sudah pulang lebih dulu ke bawah dan kami menyusul setelah hari mulai gelap. Lampu suar berputar-putar di atas menara. Bintang-bintang berkelap-kelip di langit. Dua ekor anak babi berkejar-kejaran di bawah menara berebut makanan yang mereka temukan. Rombongan pekemah di dekat dua ekor babi itu sama sekali tak terusik. Atau mungkin mereka terlalu sibuk hingga tak menyadari jika ada babi berkeliaran di belakangnya.

Perjalanan pulang selepas magrib dari mercusuar.

Lanjutkan membaca “Kelap-kelip di Langit dan Laut Pulau Bunta”