Pagi di Pantai Anyer.
Pagi di Pantai Anyer.

Permukaan laut pagi minggu itu sangat tenang. Tak berombak. Udara pun cerah dengan awan tipis dan halimun yang mendramatisasi sinar matahari terbit. Pagi itu, pukul setengah enam pagi, pantai-pantai di Anyer telah riuh oleh pengunjung. Sepertinya sisa keriangan tadi malam masih terus berlanjut hingga hari berganti.

Awan tipis itu terus bertahan hingga siang untuk menangkis cahaya matahari. Cerah tapi tak terik. Kapal berwarna biru yang kami tumpangi berlayar mulus dari Pelabuhan Cikoneng, Anyer menuju Pulau Sangiang yang masih tertutup halimun. Halimun itu juga menyamarkan cakrawala. Pulau-pulau kecil yang bertebaran di sekitar selat Sunda dari tak terlihat hingga terlihat samar seiring laju kapal yang kami tumpangi.

Kapal biru yang kutumpangi membawa 27 penumpang lainnya ini langsung menuju ke lokasi snorkeling. Ada dua lokasi snorkeling yang kami kunjungi dan lokasi antara keduanya tak begitu jauh. Visibilitas air laut pagi itu juga sangat bagus. Hanya saja embun pada bagian dalam masker snorkel yang membuat ribet harus sebentar-sebentar dibersihkan karena mengganggu penglihatan.

Taman bawah laut Tanjong Bajo
Taman bawah laut Tanjong Bajo

Selain masker snorkel yang berembun, pemandangan lain yang terlihat mengganggu adalah kerusakan terumbu karang yang (akan semakin) parah. Para pengunjung masih tak paham dengan  kerusakan yang mereka sebabkan jika terumbu karang diinjak atau terkena fin. Pun aku dibuat heran pada mereka yang sudah menggunakan pelampung tapi masih butuh pijakan pula. Keherananku makin bertambah ketika melihat kulit kaki mereka yang berdarah-darah terkena karang. Padahal kalau mau snorkeling dengan aman, justru sebaiknya jangan menyentuh terumbu karang. Untung tidak ada hiu yang datang.

Ketika kapal tiba di lokasi snorkeling, aku sudah khawatir kalau awak kapal akan melempar jangkar. Syukurnya tidak. Mereka sudah menanam jangkar di dasar laut untuk menambat kapal-kapal yang membawa pengunjung ke lokasi ini sehingga karang tak semakin hancur setiap kali ada yang melempar jangkar. Semoga saja semua tour leader yang membawa tamu ke Pulau Sangiang selalu memberikan edukasi dan peringatan kepada tamu-tamu tentang pentingnya menjaga jarak dan kontak fisik dengan biota laut. Supaya kelak mereka tak kehilangan mata pencarian karena terumbu hancur dan tak ada keindahan apa-apa lagi yang dapat mereka jual ke para pelancong.

Terumbu karang di Pulau Sangiang cukup beragam. Ada anemon yang melambai-lambai mengikuti arus, terumbu karang yang menyerupai kerupuk membentuk kelopak-kelopak bunga, dan ikan Zebra dan Bayam beraneka warna. Di antara keindahan aneka warna biota laut di dalam sana, kepungan warna biru dan bayang-bayang perak di permukaan terumbu karang membuat sensasi menyelam terasa bagai sedang terbang di dunia mimpi. Ada perasaan nyaman yang kadang diselipi rasa takut saat tiba-tiba memasuki zona biru yang lebih gelap. Atau ketika tiba-tiba air dingin berubah menjadi hangat dan terus berganti-ganti antara keduanya.

Meski aku belum puas berenang, belum kapok kehabisan napas dan menelan air asin, namun kapal harus segera berangkat lagi dan memaksaku untuk naik. Kapal kemudian mengantarkan kami menuju dermaga Pulau Sangiang melalui jalur sungai dangkal yang berbelok-belok di antara hutan bakau.

Dermaga kayu di Pulau Sangiang ini kecil tapi sudah dipenuhi lebih dari empat kapal dan perahu berbagai ukuran. Sebuah gerbang bertulisan ucapan selamat datang menyambut kedatangan kami. Anak-anak warga setempat tampak bermain-main di sekitar dermaga. Beberapa buah kios tampak dijaga oleh seorang ibu atau bapak yang etalasesnya digantung makanan ringan dan bubuk minuman.

Gerbang menuju Pantai Sepanjang.
Gerbang menuju Pantai Sepanjang.

Jalan yang menghubungkan dermaga ke sisi pulau lainnya hanya berupa jalan setapak yang membelah perkampungan. Meski penduduknya tak banyak, tapi di pulau ini memiliki sebuah perpustakaan dan masjid yang berdiri berdampingan. Jika saya lihat dari ukuran buku yang besar-besar, saya menduga kebanyakan koleksinya adalah buku anak-anak.

Jalan setapak yang kami susuri berakhir di Pantai Sepanjang. Di sana berdiri dua buah musala, kamar mandi dengan sumur di depannya, dua buah rumah, dan yang paling dekat ke pantai ada sebuah warung makan yang menjual nasi, mi, minuman dingin, dan kelapa. Halamannya dirindangi dedaunan pandan laut, susunan kayu sebagai tempat duduk disusun di bawahnya. Juga ada sebuah ayunan jaring nilon yang terlalu rendah gantungannya.

Pada pantainya yang berpasir putih, berserakan sampah-sampah berupa ranting dan sampah plastik kiriman. Selebihnya adalah pemandangan pantai dengan laut hijau tosca dan biru. Tebing-tebing tinggi menjadi pembatas pantai pasir itu di ke dua ujungnya.

Pantai Sepanjang yang cantik sekali.
Pantai Sepanjang yang cantik sekali.

Melihat tebing-tebing batu di Pantai Sepanjang ini, kurasa anak-anak geologi pasti senang berkunjung. Aku sendiri merasa penasaran bagaimana tebing-tebing setinggi puluhan meter itu bisa mencuat begitu tinggi dari permukaan laut. Bagaimana prosesnya, kapan terjadinya, adakah penyebabnya hingga lempengan yang dulu berada di dasar laut bisa naik begini rupa dan menciptakan pemandangan yang bagus banget.

Selain Pantai Sepanjang, ada beberapa tempat lagi yang kami kunjungi. Setelah menikmati makan siang di warung nasi pinggir pantai, kami melanjutkan perjalanan ke dalam hutan. Pak Masrani, guide setempat yang memandu kami menuju Gua Kelelewar. Trek sepanjang perjalanan ini terbilang sangat nyaman. Cocoklah bagi umur 6-50 tahun. Hanya saja bagi yang takut ketinggian, sebaiknya tak perlu turut. Karena setelah dari Gua Kelelawar, treking dilanjutkan mendaki Bukit Begal hingga ke puncak.

Puncak Bukit Begal ini berupa tebing-tebing tinggi dengan dasar laut dan bebatuan yang akan mengerikan bagi yang takut ketinggian. Tapi pemandangannya cakep banget dari puncak tebing. Apalagi jika tanaman Sri Rejeki sedang berbunga. Sayangnya saat aku tiba di puncak, tanaman ini sudah tak ada. Hanya tinggal beberapa batang saja. Padahal saat pertama kali aku ke pulau ini, tanaman ini tumbuh subur di puncak dan bunganya sedang mekar.

Ada beberapa puncak yang memiliki nama yang kurasa diberi saat Sangiang mulai menjadi destinasi wisata. Seperti Puncak Cinta dan Puncak Harapan. Mungkin nama-nama pemberian ini dimaksudkan supaya yang datang ke sini bisa mewujudkan cita cinta dan harapannya. Di antara ke dua puncak ini, di dasar tebing, terdapat lagi sebuah gua kelelawar yang bernama Saung Tungku. Bentuk guanya tak jauh berbeda dengan gua pertama yang kami datangi. Keduanya bukan gua yang panjang. Kutaksir tak sampai 20 meter dengan dasar dipenuhi air laut. Ujung gua langsung berbatasan dengan laut yang arusnya menggempur dinding-dinding gua. Bau tengik dari kotoran kelelawar sangat menusuk hidung.

Gua Kelelawar. Kotoran kelelawar menjadi makanan ikan-ikan di bawahnya.
Gua Kelelawar. Kotoran kelelawar menjadi makanan ikan-ikan di bawahnya.
Puncak perbukitan di Pulau Sangiang. Cakep banget, kan?
Puncak perbukitan di Pulau Sangiang. Cakep banget, kan?

Pulau Sangiang adalah pulau kecil yang berada di tengah-tengah Selat Sunda. Pulau indah ini hanya berjarak tempuh 1 jam saja dari Pantai Anyer. Dengan membeli paket perjalanan one day trip seharga 180.000 per orang, kamu sudah bisa menikmati pulau ini dengan beberapa kegiatan seharian penuh yang menyenangkan. Jika ingin menginap, tersedia pula paket homestay atau kamping. Paket-paket perjalanan ke Pulau Sangiang ini bisa kamu temukan melalui beberapa akun di Instagram atau kamu bisa membeli paket di Anugrah Adventure yang mengatur perjalananku ke Sangiang ini. Pengalamanku sih aman dan nyaman selama mengikuti perjalanan dengan tim Anugrah ini.

Jika kamu senang pantai, treking ringan ke perbukitan, atau sedang mencari foto-foto yang instagramable, coba deh main-main ke Pulau Sangiang. Lihat dan rasakan sendiri keriangan di tengah keindahan pulau yang masih dalam sengketa antara warga setempat dan pihak swasta ini. Selagi masih bisa dan semoga tetap bisa terus dikunjungi sehingga perawatan lingkungan dan perekonomian setempat terus berjalan. Yuk, ke Pulau Sangiang.

Author

16 comments

    1. Loh malah ngajakin ke Ende. Kak Tuteh dulu deh ke Banten. Yuk? Hahaha… Insya Allah ya kak. Pengeeeen banget ke tempatmu. Nunggu tabungan cukup dulu nih. Hehehe..

  1. Pulau sedekat dan seindah Sangiang malah belum pernah saya kunjungi. 3x tinggal cuzz, tapi batal berangkat, kendala rutin yang injury time datangnya. Smoga next time bisa mengagumi langsung keindahan bawah laut dan tebing2nya. Kalau kakak ke sana lagi. Ajak2 atuh….

    1. Siap, Kak. Itu di dalam tulisan, bagian akhir, aku kasih link travel agent yang dulu membantu aku jalan ke Sangiang. Mereka biasanya tiap weekend ke sana. Kali aja jadwal Kak Tuty cocok, coba hubungi deh… 😀

  2. Udah lama berencana ke Pulau Sangiang, tapi waktunya selalu ngga pas. jadi sampai sekarang belum terlaksana. Terimakasih buat cerita dan foto-fotonya, lumayan buat obat sementara sebelum ke sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.