Azab Pedih Naik Bus Eksekutif Bukittinggi-Bengkulu

Sebelum perjalanan ke Bukittinggi September 2016 lalu, enggak pernah terpikir jika suatu hari nanti akan menginjakkan kaki di Provinsi Bengkulu. Rencana dadakan ke provinsi ini muncul di hari terakhirku di Bukittinggi. Saat aku sedang menjalarkan hangat ketiak ke kedua belah tangan di bawah selimut. Aku menatap plafon di kamar tidur berukuran 2×4 meter itu. Membentangkan peta imajiner di atasnya dan menghitung kemungkinan provinsi mana yang akan bisa kukunjungi lagi sebelum kembali ke Pulau Jawa. Kemungkinan terbesar adalah Bengkulu karena searah jalan pulang, pun tiket pesawat ke Jakarta dari Bengkulu lebih murah, tapi aku ingin sekali bisa ke Riau atau Jambi. Tapi sayangnya jika aku mengikuti keinginan, ongkosnya nggak bakalan cukup.

Ternyata mendapatkan angkutan menuju Bengkulu tak semudah mencari angkutan ke Pekanbaru. Jumat siang itu aku baru mendapatkan kepastian bus yang berangkat ke Bengkulu dari salah satu calo bus di Terminal Aur Kuning, Bukittinggi. Itu pun setelah membatalkan tiket yang sebelumnya aku pesan karena harganya kemahalan, dan untung ada Uda Arkan yang nge-backing saat di terminal.

Jadilah aku berangkat ke Bengkulu dengan bus eksekutif yang di-downgrade menjadi bus ekonomi setelah sembahyang Jumat. Bisakah kawan-kawan bayangkan bagaimana jadinya bus eksekutif yang ber-AC dan berjendela kaca ‘mati’, yang tak bisa dibuka itu, dijadikan bus ekonomi? Tak ada udara sejuk lagi, kawan. AC-nya tentu saja dimatikan dan para perokok dengan tenang mengisap rokok di dalam bus yang tertutup rapat itu. Rasanya seperti menyelam ke dalam air dan menahan napas sekuat tenaga. Seberapa kuat kita menahan napas, ujung-ujungnya pasti megap-megap juga ketika harus menarik napas kembali di permukaan. Bedanya, di dalam bus itu, tanpa menahan napas pun, napas sudah terasa tertahan-tahan, seperti bukan udara yang masuk ke hidung. Apa pun yang terhirup hanya membuatku megap-megap.

Pada 2-3 jam pertama perjalanan, semua masih baik-baik saja. Para pria masih mampu menahan masam mulutnya, pada 2-3 jam pertama inilah aku bisa menikmati perjalanan meninggalkan Bukittinggi yang indah permai itu. Melewati kampung Hayati di Batipuah dan menyusuri tepian Danau Singkarak. Ah indahnya tak bisalah aku rincikan satu per satu. Tapi sumpah sungguh indah Sumatera Barat ini. Tapi masa senang tadi hanya berlaku selama 2-3 jam pertama. Setelahnya, asap rokok mulai membubung dan memenuhi seluruh isi bus eksekutif yang disulap menjadi bus ekonomi ini. Aku memakai masker pemberian Mamak yang sebenarnya sudah lusuh karena sudah kupakai juga seharian lebih selama perjalanan Aceh-Bukittinggi beberapa hari lalu. Tak tahu lagi sisi mana yang sudah kotor. Dan apalah daya masker kain melawan asap rokok yang laksana kabut asap Jambi itu?

Pada sore yang masih saja terik, bus yang kutumpangi mogok di suatu daerah entah di mana. Semua penumpang dikeluarkan dan berteduh di sebuah masjid. Karena tepat pada waktu sembahyang Ashar, kami berjamaah di dalamnya. Satu jam kami termenung menengok bus yang sedang diperbaiki. Dalam hati aku berharap bus selesai diperbaiki ketika malam tiba, supaya memberi kesempatan untuk bapak-bapak perokok menghabiskan semua persediaan uangnya untuk membeli rokok lalu menghabiskan rokoknya selama menanti bus selesai diperbaiki. Dan kami yang tak merokok bisa menikmati udara panas tanpa asap, bisa tidur lebih nyenyak di dalam bus nanti. Tapi para montir bus bekerja dengan ligat dan bus bisa berjalan lagi setelah satu jam menanti. Aku menyeka minyak di muka dan menyeret kaki naik ke dalam bus.

Sekuat apa kamu menahan napas ketika di dalam ruangan penuh asap rokok?
Sekuat apa kamu mampu menahan napas ketika di dalam ruangan penuh asap rokok?

Malam hari adalah saat yang paling mengenaskan. Bus ini  hanya memiliki 3 jendela yang bisa di buka pada masing-masing pintu: dua di depan, dan satu di belakang. Tiga jendela inilah yang menjadi pintu angin, penyalur udara segar bagi penumpang yang kepanasan. Pelega hidung meski hanya sesaat tapi terasa sangat nikmat bagi kami yang tercekat asap selama berjam-jam. Sialnya jendela ini hanya dibuka-tutup sekehendak hati kernetnya saja.

Malam itu suhu udara sedikit menurun tapi kelembaban udara tetap saja membuat badan gerah. Keringat seperti kering tak kering di badan, bercampur dengan daki, minyak badan, dan bau rokok. Satu-satunya hiburan selama beberapa jam pada malam hari itu adalah percakapan dengan ibu-ibu asal Bengkulu yang duduk di bangku seberang. Sayangnya tak banyak informasi destinasi wisata yang bisa kukorek darinya. Hanya cerita perkelahian antar suku dan peringatan untuk berhati-hati pada begal saja yang tanpa bosan diceritakan berulang-ulang.

Semakin malam, kepulan asap tak berkurang tebalnya dan kantuk pun datang. Tadinya kupikir aku tak akan bisa tidur dengan bus penuh asap rokok, ternyata kantuk akibat penat yang parah membuatku mampu tertidur meski terbangun berkali-kali hingga bus tiba di Bengkulu keesokan hari. Udara segar memenuhi paru-paru yang rasanya hampir dipadati oleh asap dan terasa berat. Sepertinya asap-asap rokok semalaman itu mengendap di paru-paru dan memadat. Aku tak bisa mengirup udara panjang-panjang atau aku akan sesak.

Ditengah ketidakberesan paru-paru ini, aku menatap orang-orang yang turun dari bus setelahku. Wajah lega bertemu udara bersih itu terpancar dari binar mata yang memerah. Meski wajah kusut kasau. Meski kedua kaki terasa kebas dan membengkak setelah terlipat selama belasan jam. Cerah hari itu juga membuat pikiranku lega, azab pedih telah lewat menyisakan sesak pada dada dan bau tengik asap rokok di kaos, celana, kulit, dan rambut.

Aku terduduk di depan teras toko, mengabaikan tawaran bapak-bapak tukang ojek, dan berharap Medi datang menjemput lebih cepat supaya aku bisa mandi dan minum air sebanyak-banyaknya.

inhale - exhale
inhale – exhale
Iklan

31 thoughts on “Azab Pedih Naik Bus Eksekutif Bukittinggi-Bengkulu

  1. Jadi perjalanan ini hampir 18 jam penuh asap rokok?

    Ah gila! Kalau aku mungkin sudah nyerah di 2 jam pertama; turun di Batipuah dan nunggu Engku Zainuddin menjemput.

    1. Biasanya aku juga gitu, pusing kalau bau asap rokok. Tapi kalau dalam perjalanan, yah terpaksa harus beradaptasi dengan cepat. Ga pusing tapi bikin sesak napas.

  2. Bayangin kejadiannya dari deskripsi ceritamu aja aku sampai merasa ikut lelah dan sesak Cit. Tapi memang ini PR banget ya di Indonesia. Angkutan massa kita belum sanggup memberikan kenyamanan yang menjamin penumpangnya. Bukan masalah harga murah atau mahalnya. tapi ini seperti ‘tugas’ lama yang ndak beres-beres.

      1. Jangankan di Sumatra, beberapa terminal dan armada bus di Jawa pun masih banyak yang mengecewakan. Salah satu yang membuat aku trauma adalah stasiun bus Cirebon. Sudahlah banyak premannya, busnya gak jelas. Pas beli, dijanjikan busnya bagus. Eh tiba-tiba diganti jadi bus yang gak jelas, padahal sudah bayar.

  3. Hihihi pengalaman yang hampir sama saat melintas dari Aceh ke Medan. Menggunakan L300, lebih dari separuhnya adalah atlit rokok, jadilah mobil terasa memiliki awan sendiri.
    Mungkin saya lebih beruntung, karena saya duduk di belakang sendiri dengan jendela yang bebas saya buka.

    Terkadang memang kita terpaksa untuk mengggukan jasa transportasi seperti itu karena tidak ada pilihan lain…

    Aaaaah….kapan kenyamanan penumpang menjadi hal yang diprioritaskan oleh pemilik jasa transportasi…..

  4. bis eksekutif rasa ekonomi dengan isi asap rokok di dalamnya. resiko jangka panjang dan jangka pendek harus ditanggung sendiri. Sabar ya om..setelah ini balas dengan olahraga aja.

    1. Tahi ayam dan rokok dalam bus ber-AC? Yasalam! Tapi masih mending tahi ayam. Cukup sekali aku satu bus dalam perjalanan Medan-Aceh yang ada satu bapak BAB di bus. Hahahaha

  5. entah ya kenapa para perokok ga bisa nahan ga ngerokok di temat yang gak memungkinkan? aku pernah nih dalam perjalanan semarang-surabaya, waktu itu memang aku dapet bangku paling belakang, sendirian enak. eh malah ada bapak2 yang ngerokok nyolonh2 di bangku belakang. hih. pengen ku lempar dari bisa rasanya hahaha

  6. setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan. karena seharian menghirup asap roko, menghirup udara bersih itu menajdi nikmat yang luar biasa mahal. terkdang kita tidak bisa menghargainikmat yang satu ini, tapi setlah berada pada kondisi sperti itu, otomatis semakin bertambah rasa syukur kita

  7. Wah… padahal cuma bukit tinggi-Bengkulu ya, tetapi azabnya udah pedih…
    Aku jadi kebayang sama si emak yang naik bus dari Jawa tengah ke Dumai… pasti deritanya lebih-lebih… semoga kita semua diberi ketabahan.

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s