Benteng Fort De Kock dan Ngopi Enak di Bawah Jambatan Limpapeh

Benteng Fort de Kock
Benteng Fort de Kock

Kiranya aku akan menemukan bangunan serupa benteng-benteng pertahanan pada umumnya di Benteng Fort De Kock. Alih-alih menemukan dinding benteng yang tebal dan tinggi, aku malah disambut dengan kurungan berisikan burung-burung hidup. Tak ada bangunan benteng yang umum kita lihat jika berkunjung ke sebuah benteng. Aku menengok ke semua penjuru, hanya pepohonan, kandang-kandang burung berbagai ukuran, dan beberapa buah meriam mengitari sebuah bangunan kecil di tengahnya.

Benteng Fort De Kock ini layaknya sebuah taman, dihiasi tanaman hias yang diatur rapi. Bangku-bangku bercat kuning menghadap meriam mengitari pinggiran bukit. Pada tengah bukit, berdiri sebuah bangunan beton dua lantai. Pada bagian bawahnya terbuka dan kosong. Di bagian atas, dihubungkan sebuah tangga besi yang melekat pada dinding luar, terdapat pula sebuah bilik berpintu besi yang dikunci di sudut bangunan yang menopang menara pendek. Mungkin bilik untuk penyimpanan radio atau apa lah, di tengah lantai tertanam pipa-pipa besi, tak ada penjelasan apa-apa tentang fungsi bangunan ini di sekitar kecuali penjelasan singkat tentang benteng pada batu prasasti di bagian bawah bukit. Pun tak ada petugas yang berkeliaran untuk ditanyai.

Salah satu meriam yang dipakai saat Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuangku Imam Bonjol.
Salah satu meriam yang dipakai saat Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuangku Imam Bonjol.
Bangunan di atas Bukit Jirek.
Bangunan di atas Bukit Jirek.

Terlepas dari peninggalan pertahanan zaman kolonial Belanda, Benteng Fort The Kock ini asri dan nyaman untuk bersantai di akhir pekan. Lokasinya yang berada di dalam kota Bukittinggi, taman ini bisa dikatakan lebih mirip dengan hutan kota dengan kurungan burung-burung di dalamnya.

Benteng Fort de Kock dan kebun binatang dihubungkan oleh sebuah jembatan yang melintas di atas Jalan Ahmad Yani. Jambatan Limpapeh namanya. Jembatan yang bagian tengahnya ini beratapkan atap gonjong khas Bukittinggi, berada persis di atas Jalan Ahmad Yani, mengangkangi setiap orang yang lewat di bawahnya. Dari atas jembatan ini, terlihatlah bagaimana cara mobil  diparkir di Jalan Ahmad Yani yang hanya menyisakan setengah bagian jalan untuk dilalui dua arus lalu lintas. Ondemandeee…

Jambatan Lampapeh
Jambatan Limpapeh
Kota Bukittinggi dari atas Jambatan Lampapeh
Kota Bukittinggi dari atas Jambatan Limpapeh
Burung Merak, koleksi Taman Margasatwa & Budaya Kinantan
Burung Merak, koleksi Taman Margasatwa & Budaya Kinantan

Kebun binatang atau di sini disebutnya Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan memamerkan koleksi binatang peliharaan seperti dua ekor gajah yang terlihat bosan, puluhan ekor rusa dan beberapa ekor kijang, unggas, reptil, dan mamalia lainnya. Di tengah taman, berdiri rumah gadang yang menghadap ke kolam hijau. Aku tak berniat masuk, di luar lebih menyenangkan karena sedang gerimis halus dan menyaksikan beberapa ekor pelikan sedang menyikat bulu-bulunya di dalam kolam.

Taman Budaya KInantan
Taman Budaya KInantan

Kedua tempat ini, Benteng Fort de Kock dan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dapat ditempuh cukup dengan berjalan kaki saja. Bayarnya pun cukup sekali, bisa bayar di pintu masuk benteng atau kebun binatang.

Kakiku pegal berjalan lambat-lambat di dua tempat tadi. Aku turun ke Jalan Ahmad Yani mencari tempat ngopi, mengistirahatkan betis, sambil browsing harga hp xiaomi terbaru. Berdasarkan petunjuk arah di Google Map, ada sebuah kedai kopi yang lokasinya tak begitu jauh dari bawah Jambatan Limpapeh: Rimbun Espresso & Coffee Bar.

Jika kamu penyuka kopi, cobain deh kopi Solok Limau Cirago di Rimbun Espresso & Coffee Bar ini. Karena aku nggak biasa minum kopi pahit, aku memesan vietnamese drip coffee. Aku harus sabar menunggui setiap tetes kopi Solok dari dripper menetes di atas susu kental manis. Karena aku juga nggak bisa minum minuman panas-panas, aku pun harus menunggu lagi  sampai kopi menjadi hangat. Sesapan pertama membuatku kaget karena rasanya enak banget. Sampai terharu saking enaknya.

Kopi Solok Limau Cirago
Kopi Solok Limau Cirago
The famous Teh Talua. Dare to try?
The famous Teh Talua. Dare to try?

Sayangnya mereka tidak menyediakan kopi telur atau teh telur yang menjadi khas Bukittinggi. Padahal aku penasaran banget mau nyobain. Meski di Aceh punya kopi telur tapi aku nggak kepikiran untuk mencoba sampai tiba di Bukittinggi, eh malah kepingin. Menjawab rasa penasaranku, aku mencari teh talua dan menemukannya di sebuah warung di Jalan Binuang. Teh talua, cukup sekali saja. No more! LOL! Entah karena enggak tahu cara meminumnya, harusnya diaduk dulu atau bagaimana, atau aku yang memang belum terbiasa sama rasanya, aku menghabiskan satu gelas teh talua itu lamaaaa banget. Ada kali setengah jam. Haha

Demikianlah jalan-jalan di Bukittinggi di hari kedua aku akhiri dengan mulut bau telur.

Iklan

58 thoughts on “Benteng Fort De Kock dan Ngopi Enak di Bawah Jambatan Limpapeh

  1. waaah itu jembatannya cantikk, Kota yang dari kecil aku baca di buku-buku Roman, hmmm semoga suatu saat sampai juga ke Sumatra :) itu meriamnya ada tulisan made in mana citra? hahaha katanya orang jawa dulu produksi meriam sampai di ekspor ke Melaka

  2. Klo mo cari teh telur mah lebih seru di kedai-kedai kecil bukan di caffee…. atau sekedar nongkrong di dekat mesjid arah jalan ke jam gadang dari bawah jembatan limpapeh coba deh nikmati ‘aie aka’ — sejenis cincau tapi segar :)

    Hehehehe,

    Nice story :)

  3. Saya tidak tahan kalau makan telur selain telur dadar atau ceplok atau rebus yang matang Bang. Jadi Teh Taluanya saya lewat dulu dah, haha. Tapi iya juga ya, namanya benteng, mana bentengnya? Lebih mirip hutan kota yang punya jembatan melintang jalan raya. Ngomong-ngomong itu jalannya searah kan? Agak nggak kebayang kalau jalannya dua arah, apalagi kalau jam-jam sibuk. Parkir agaknya perlu juga diperhitungkan kalau beli kendaraan, jangan bisa beli mobil tapi tak punya tempat parkir.

    1. Ga ada bangunan berbentuk benteng sama sekali. Hahaha…
      Itu jalannya dua arah lho. Coba perhatikan lagi fotonya. Ada dua arah kendaraan. Setengah jalan dipakai untuk parkir mobil.

  4. Jadi walau namanya benteng hanya meriam itu saja peninggalan zaman kolonial? Semua bangunan sudah modern semua yak. Aku suka view dari atas jembatan itu. fotogenik abis. Uda dapat hape siomaynya belom?

  5. teman blogger yang bawa aku ke sini udah pesan “jangan bayangkan ketemu benteng besar ya”
    jadi menyiapkan hati tapi ya tetap bilang kok kecil banget
    tapi tak apa biar kecil tapi salut dengan kemauan pemda setempat merawatnya

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s