Melepas Rindu Pada Lamreh

Aku sedang membongkar kembali foto-foto lama di folder. Berharap bisa menemukan ide menulis untuk blog yang mulai berjelaga ini dengan mengenang masa lalu. Mataku tertumbuk pada beberapa foto yang membuat ingatan kembali ke lokasi foto diambil: Lamreh.

Puluhan foto-foto itu membangkitkan kembali kenangan ke tahun 2011 silam. Pada gampong yang hanya kutinggali selama tiga bulan. Meski terbilang singkat, gampong Lamreh ini istimewa bagiku. Selain karena sejarah tentang Kerajaan Lamuri yang hilang ratusan tahun sebelum pasukan Inong Balee menguasai Krueng Raya, Lamreh telah memberikan pelajaran penting bagaimana bertahan hidup untuk pertama kalinya.

Jalan raya Lamreh yang tampak asri jika hujan lama tak turun.
Jalan raya Lamreh yang tampak asri jika hujan lama tak turun.

Pengalaman merantauku pertama kali ini langsung dihadapkan pada kerasnya watak orang Aceh Besar, khususnya Lamreh. Watak dan bahasa Aceh dengan logat yang khas, sulit kupahami, membuatku kewalahan pada awalnya.

Banyak yang bilang, watak orang pesisir memang keras. Meski sama-sama orang pesisir, tapi gampong ini memang punya sejarah ‘keras’ sejak ratusan tahun lalu. Perang yang silih berganti, ditambah pula dengan kepungan perbukitan karang yang hanya dapat ditumbuhi pepohonan tertentu saja, dan berbatasan dengan Selat Malaka. Hidup di sini memang sudah keras dari nenek moyang mereka. Meski begitu, mereka adalah orang-orang yang ramah dan baik.

Teluk Bulohan, Lamreh.
Gedung di pinggir pantau yang nyasir roboh diterjang tsunami 2004.
Gedung di pinggir pantau yang nyasir roboh diterjang tsunami 2004.

Salah satu kegiatan menyenangkan setelah pulang kerja adalah berjalan-jalan menyusuri pantai terus mendaki tebing, melewati jalur sapi hingga mencapai puncak bukit. Dari atas sana dapat kulihat Ujong Kelindu, agak sedikit ke utara, rimbun pepohonan menutupi Benteng Inong Balee. Adanya persis di pinggir tebing yang entah sampai kapan mampu menopang saksi bisu kebanggaan nanggroe itu. Menuruni tebingnya, Pantai Pasir Putih berpagar Bak Geurumbang menahan abrasi. Jika kupalingkan muka ke barat, bisa kutatap Teluk Bulohan yang menghidupi para nelayan Lamreh. Barisan lelaki yang sedang menarik Pukat ke tepi pantai, kawanan sapi yang berjalan gontai meniti jalan setapak berbatu bikinan kaki-kaki keras mereka. Perbukitan ini adalah kandang sapi terluas yang pernah kulihat.

Seekor sapi terpisah dari kawanannya setelah mendaki bukit terjal berbatu-batu.
Tarek pukat. Aktivitas turun menurun yang mulai berkurang di pesisir Aceh.
Tak hanya laki-laki, perempuan pun ikut tarek pukat. Kegiatan yang turun menurun yang mulai berkurang di pesisir Aceh.
Sebuah bagan yang hampir karam menghadap ke Pulau Weh.
Sebuah bagan yang hampir karam menghadap ke Pulau Weh.
Pantai Lhok Me atau Pantai Pasir Putih.
Pantai Lhok Me atau Pantai Pasir Putih.

Perbukitan berkarang itu berbaris memanjang hingga ke Guha Tujoh di Laweung, Pidie. Bongkah-bongkah koral yang hangus terbakar matahari tampak kontras dengan rimbun hijau pohon jambee kleng. Tak jarang aku menemukan cangkang kerang dan koral-koral laut yang menandakan tempat ini dulunya berada di bawah permukaan laut.

Pada lereng-lereng bukit hidup subur pepohonan hingga ke lembah-lembah. Sungai berair jernih bermuara di dekat Benteng Kuta Leubok ke birunya Selat Malaka. Pulau Weh terlihat begitu kecil dari tempatku berdiri. Sedangkan matahari perlahan-lahan turun menghadang pulau batu yang konon adalah kapal milik seorang durhaka bernama Amat Rhang Manyang. Kuik babi hutan menyadarkanku hari sudah gelap dan jarak pulang ke rumah lumayan jauh. Tapi seperti yang kubilang, orang Lamreh meski keras, mereka baik budi. Ini tak pernah bisa kulupakan, aku pulang dibonceng seorang bapak yang pulang dari kebun dengan motornya yang hanya tinggal kerangka dan mesin saja.

Teluk Kuta Leubok berujung pada pulau kecil yang dipercayai sebagai kapal Amat Rhang Manyang. Legenda anak durhaka versi Aceh.
Teluk Kuta Leubok berujung pada pulau kecil yang dipercayai sebagai kapal Amat Rhang Manyang. Legenda anak durhaka versi Aceh.
Salah satu parit di atas perbukitan.
Salah satu parit di atas perbukitan.

Di puncak-puncak bukit antara Benteng Kuta Leubok, Benteng Inong Balee, dan Pantai Lhok Me, aku dapat menyaksikan saat-saat matahari terbit dan tenggelam, konstelasi bintang, bintang jatuh, kapal berlayar, bagan-bagan yang bersauh, dan rengekan cempreng perahu mesin.

Di perbukitan itu pula terdapat beberapa bungker dan parit-parit sebagai tempat pertahanan dan pos pengawas pada zaman dulu. Entah itu milik pasukan Jepang, pasukan Inong Balee, atau milik pasukan Kerajaan Lamuri berabad silam.

Sekali waktu aku pergi berziarah ke Makam Laksamana Malahayati. Makam orang mahsyur ini begitu tenang dan sejuk. Jika pepohonan yang memayungi makam sedang berbunga, aromanya semerbak ke mana-mana. Teringat juga aku sekali dua pernah tersasar di perbukitan dan menemukan makam-makam lain dengan nisan yang pahatannya telah kikis oleh waktu, terpancang di puncak bukit. Desau angin dingin ketika sore membuat nisan-nisan itu terlihat sangat merana. Jika tengah hari, panas bukan kepalang.

Makam Laksamana Malahayati di Lamreh.
Makam Laksamana Malahayati di Lamreh.
Ada puluhan makam lain yang diteliti adalah makam-makam bekas Kerajaan Lamuri.
Ada puluhan makam lain yang diteliti adalah makam-makam bekas Kerajaan Lamuri. (Foto: Aini)

Lamreh juga seperti gampong-gampong terpencil lainnya di Aceh Besar. Yang berada jauh dari jangkauan truk-truk pengangkut sampah. Akibatnya, sampah-sampah yang dikumpulkan di bak sampah harus dibakar untuk memberi ruang bagi sampah baru. Masalah muncul ketika hujan lebat datang mengguyur. Aku ingat pada suatu malam saat membeli makanan di warung. Hujan turun lebat dan sampah-sampah yang entah dari manalah datangnya itu tercerai-berai dilarikan air yang mengalir deras dari atas bukit. Lalu berkumpul kembali di dalam parit yang mampat atau berhamparan di jalan raya.

Meski banyak hal krusial lainnya yang harus dikhawatirkan berada di gampong ini, ia tetap mengesankan bagiku. Rindu itu tetap kadang-kadang suka mampir. Jadi sudah barang tentu jika aku pulang ke Aceh, Lamreh selalu ada dalam daftar tempat yang  harus dikunjungi.

Suasana petang di atas bukit Lamreh ini yang paling paling paling bikin kangen Lamreh. Sunset
Suasana petang di atas bukit Lamreh ini yang paling paling paling bikin kangen Lamreh.

Untuk sementara, agak sedikit lepas rinduku pada Lamreh.

______

Lamreh berada di Mukim Krueng Raya, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Butuh waktu sekitar setengah jam jika mengendarai sepeda motor dari Banda Aceh ke gampong ini. Pelabuhan Laksamana Malahayati kini telah menjadi tempat bongkar muat aspal, semen, dan lapangan sepak bola.

17 thoughts on “Melepas Rindu Pada Lamreh

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s