Mendaki Gunung Papandayan & Mencari Keromantisan Edelweis

Pada tepi Hutan Mati pada pagi hari. Tebing jurang hutan mati.
Pada tebing jurang Hutan Mati pada pagi hari.

Ide mendaki Gunung Papandayan dengan Vero sudah tercetus sejak lama. Saking lamanya, aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali pembicaraan itu bermula. Obrolan itu tenggelam dengan rencana-rencana lain dan bermacam-macam percakapan. Kemudian ia muncul kembali setelah Makcik Zarah mengumumkan open trip pendakian 3 gunung dalam seminggu di salah satu akun sosial medianya. Membaca nama Papandayan dalam daftar terakhir pendakian dan jadwalnya yang tepat dengan libur panjang, aku segera mendaftarkan diri, kemudian diikuti Vero dan Kak Nur.

Beberapa minggu kemudian, kami berkumpul di Terminal Kampung Rambutan selepas magrib. Menumpangi bus tujuan Garut yang padat dengan penumpang. Maklum, libur yang lumayan panjang ini tentu digunakan banyak orang untuk pulang kampung atau ikut liburan ke gunung seperti kami bertiga.

Bus tiba di Terminal Guntur sekitar pukul 3 subuh. Ada beberapa pendaki yang ikut turun bersama belasan penumpang yang lain. Udara sejuk menyergap dan membuat kantuk semakin awet. Kami bertiga menggelar kantung tidur di teras sebuah toko dan melanjutkan tidur hingga matahari terbit.

Terminal Guntur - Garut
Terminal Guntur – Garut. Tempat transit para pendaki jika hendak ke Papandayan.
Banyak bus yang mulai ngetem di depan Terminal Guntur.
Banyak bus yang mulai ngetem di depan Terminal Guntur.

Terminal Guntur berada di pinggir Jalan Guntursari. Ada banyak warung yang hidup di seberang terminal dari para penumpang yang berangkat dan turun di terminal kecil itu. Begitu pula puluhan angkot dan mobil bak terbuka yang mengangkut penumpang ke sepenjuru Garut.

Banyak pendaki yang ingin ke Papandayan menjadikan warung dan mushala sebagai rumah singgah sementara mereka sambil menunggu pagi. Sama seperti kami bertiga yang bergoler di teras toko hingga matahari terbit. Zarah beserta pasukannya tiba dari Bekasi saat matahari sudah naik sejengkal tangan.

Ransel disusun di atas atap angkot berwarna biru. Zarah, Bang Bumi, Arshad, Amir, Vero, Kak Nur, Hafiz, Ziong, dan Aku berjejalan di dalamnya. Sempit, tapi terasa begitu lapang. Aku terkenang, sudah lama sekali rasanya tidak bersempit-sempit di dalam angkutan umum begini. Memandang keluar melewati jendela kaca yang dibiarkan terbuka supaya angin masuk, melihat orang-orang beraktivitas yang kami lewati, rumah-rumah, pasar, pertokoan, kebun, sungai, tumpukan sampah, dan pasir yang digulung angin membentuk kerucut di pinggir jalan. Melintasi lingkungan baru yang terlihat asing tapi terasa familiar.

Perjalanan dari Guntur ke pertigaan Cisurupan memakan waktu sekitar satu jam. Angkot yang mengangkut pendaki akan berhenti di tempat khusus, di jalan yang searah menuju Papandayan. Di sepanjang sisi kanan jalan itu, sudah antre puluhan angkot yang menanti pendaki.

Kami diturunkan di depan sebuah kios dan berganti angkutan lain menuju Camp David sebagai titik awal pendakian. Kami tiba di Camp David sekitar setengah jam kemudian.

Tiba di Camp David pada tengah hari. Sudah banyak sekali mobil dan motor yang parkir di lokasi ini.
Tiba di Camp David pada tengah hari. Sudah banyak sekali mobil dan motor yang parkir di lokasi ini.

Kondisi Camp David siang itu selayaknya angkot yang pertama kami tumpangi tadi, terasa penuh sesak. Mobil-mobil berbaris di pinggir jalan dan sepeda motor diparkir memenuhi seluruh lahan parkir. Jalur awal pendakian ditandai dengan gerbang yang kedua sisinya ditumbuhi lebat pohon cantigi dan para pengunjung yang berkumpul di bawahnya.

Aku menarik napas dalam-dalam, menikmati udara sejuk yang memenuhi paru-paru. Tadinya aku mau memulai pendakian dengan mengheningkan cipta sambil memejamkan mata ala-ala pendaki di film-film, tapi apa daya, aroma belerang membuatku tersedak dan buru-buru melangkah menyusul kawan-kawan yang sudah berjalan jauh di depan.

Asap belerang di Kali Mati.
Asap belerang di Kali Mati.

Kali Mati

Aku pikir Kali Mati adalah kali yang sudah mengering atau kali yang airnya berbahaya jika terkena kulit, ternyata kalinya masih hidup dan sepertinya sih aman-aman saja. Ketika kami turun keesokan harinya, beberapa bocah sedang asyik berendam di dalamnya.

Kami disarankan menggunakan buff atau masker selama melewati Kali Mati untuk mengurangi bau belerang. Memang di jalur ini aroma belerang tercium sangat kuat. Kami berjalan di pinggir tebing setinggi lebih dari 5 meter yang di bawahnya mengalir sungai-sungai kecil. Semuanya berbatu-batu, tak ada pepohonan yang tumbuh. Di sisi atas lereng, kawah-kawah kecil berwarna kuning mengepulkan asap putih, asal dari aroma belerang yang menyesakkan itu.

Jalur pendaki di Kali Mati Papandaya. Sebagian pengunjung banyak yang berkumpul di area ini.
Jalur pendaki di Kali Mati. Sebagian pengunjung banyak yang berkumpul di jalur ini.
Naik dan terus naik. Gunung Papandayan. Kali Mati Papandayan.
Naik dan terus naik.

Dari jalur itu aku bisa melihat jalur pendakian yang menanjak dan berkelok ke kiri. Orang-orang tampak seperti barisan semut yang bergerak pelan di atas bebatuan dari tebing-tebing di punggungan bukit. Awan kelabu tebal mulai berarak di atas mereka.

Hutan Mati

Ada dua jalur menuju hutan mati. Jalur pertama adalah Jalur Normal yang direkomendasikan karena tanjakannya aman untuk semua tipe pendaki, apalagi newbie seperti aku. Dari yang aku amati selama perjalanan naik dan turun, jalur normal ini biasa dilalui para pelajar dan peserta tur. Jalur kedua adalah ‘jalur larangan’. Ada selembar police line tergeletak membentang di atas tanah. Jalur kedua ini yang dipilih Bang Bumi untuk kami lalui.

Jalur Normal belok ke kanan. Gunung Papandayan. Kali Mati.
Jalur Normal belok ke kanan.

Aku paham kenapa dilarang melewati jalur kedua ini. Selain karena tanjakannya, juga karena jalurnya berada persis di pinggir tebing yang tingginya…kalau kamu jatuh, bakal repot mengevakuasinya. Pun tanah pada tebing juga terlihat rapuh, riskan longsor.

Jika dipikir-pikir lagi, papan petunjuk bertuliskan Jalur Normal itu seolah salah satu bentuk izin tersirat untuk pendaki yang ingin menempuh jalur ‘yang tidak normal’. :D

Hutan Mati berada di dataran lapang di bawah lereng, di ujung tanjakan setelah Kali Mati. Letusan Papandayan pada November 2002 telah menghanguskan pepohonan yang tumbuh di dataran ini. Namun batang-batang pohon yang mati tetap berdiri sehingga terkesan mistis. Apalagi jika kabut turun rendah, ia mengaburkan pepohonan hitam yang tampak bagaikan bayang-bayang jemari panjang.

Jika tidak sedang sendirian, suasana pada sore itu akan lebih mencekam lagi karena selain kabut dan udara dingin yang meremangkan bulu roma, rinai halus pun perlahan turun. Tapi alih-alih merasakan keseraman, sore itu di Hutan Mati, aku merasakan ketenangan yang mengusik hati.

Hutan Mati dengan tebing jurang yang bikin ngeri. Hutan Mati Gunung Papandayan
Hutan Mati dengan tebing jurang yang bikin ngeri.

Namun suasana di tempat ini berubah drastis pada pagi hari, ketika matahari perlahan-lahan terbit dari cakrawala, hutan mati pada dataran lapang itu, hutan hijau pada lereng-lereng, dan lekukan-lekukan gunung disirami warna keemasan. Aku bisa merasakan keceriaan yang menguar dari senyum-senyum pendaki ke udara. Bercampur dengan sinar mentari dan mengudara ke langit. Ah, andai matahari bisa berhenti di pinggir cakrawala sana untuk beberapa lama.

Berkemah di Pondok Salada

Kami mendirikan tiga buah tenda di Pondok Salada, di tengah guyuran hujan. Di antara semak-semak edelweis dan pakis dan beberapa meter dari setumpuk feses tertutup beberapa lembar tisu.

Hujan lebat membuat tanah tempat tenda berdiri tergenang air. Sialnya tenda yang aku tempati dengan Amir dan Arshad paling parah genangannya. Parit kecil yang kami buat di sekitar tenda lumayan mengurangi genangan tapi tak sepenuhnya membuat alas tenda kami – tepatnya di bagian aku tidur – bebas air. Sebelum tidur, aku harus mengelap terpal berulang kali dengan handuk dan memerasnya sepanjang malam.

Hujan-hujanan di atas gunung di tengah kabut begini, rasanya tak bisa dideskripsikan. Pondok Salada Gunung Papandayan
Hujan-hujanan di atas gunung di tengah kabut begini, rasanya tak bisa dideskripsikan.

Malam itu Pondok Salada berubah menjadi lokasi yang riuh oleh sorak, pekik, dan tawa membahana dari setiap sudut camp site. Bayanganku akan perkemahan di atas gunung  yang tenang dan hangat dengan api unggun, nyanyian dan petikan gitar malam itu sirna sudah. Kami pun tak punya aktivitas lain yang bisa dikerjakan selain berdiam di dalam tenda karena hujan. Bahkan memasak pun harus dilakukan di dalam tenda. Setelah perjalanan yang melelahkan seharian tadi, makan malam malam itu adalah yang terenak yang pernah aku nikmati.

The best dinner EVER! Makan malam terenak di dunia. Pondok Salada Gunung Papandayan.
The best dinner EVER!

Capek karena pendakian kemarin siang ditambah dengan kurang tidur semalaman, membuatku tidak terbangun sebelum matahari terbit. Alih-alih mengejar ketertinggalan moment sunrise di Hutan Mati, aku berleha-leha di sekitar tenda, menikmati udara segar dan memandangi embun di pucuk edelweis dan bulu-bulu halus pakis muda.

Embun pada pucuk pakis muda. Pondok Salada Gunung Papandayan.
Embun pada pucuk pakis muda.

Padang Bunga Edelweis, Tegal Alun

Kami berkemas dengan membawa perlengkapan seadanya seperti kamera, minuman, dan camilan. Pendakian menuju Tegal Alun dipimpin Hafiz. Sedangkan Bang Bumi dan Ziong berjaga di tenda sambil menyiapkan sarapan.

Pendakian ke Tegal Alun ini lebih menyenangkan karena badan tak membawa beban saat pendakian bermula dari Camp David kemarin. Langkah terasa jauh lebih ringan dan santai meski jalur pendakian sangat terjal. Selama perjalanan naik pun, kami berkali-kali dipesona dengan pemandangan elok ke Pondok Salada, Hutan Mati, dan puncak-puncak gunung.

Pemandangan saat istirahat dalam pendakian ke Tegal Alun. Gunung Papandayan.
Pemandangan saat istirahat dalam pendakian ke Tegal Alun.
Jalur menuju Tegal Alun.
Jalur menuju Tegal Alun.

Sebagai pendaki cilet-cilet yang baru pertama kali mendaki gunung berpadang-edelweis dan belum pernah melihat bagaimana tumbuhan hidupnya secara langsung, pendakian ke Papandayan ini membuat rasa penasaranku meletup-letup.

Pertanyaan terbesarku adalah: apa yang membuat beberapa orang begitu menggilainya sampai menjadikannya cinderamata? Apa pulak spesialnya bunga edelweis itu sampai banyak pendaki tiba-tiba menjadi puitis?

Ketika kemarin sore kami memasuki area Pondok Salada, tepat di depanku, semak berdaun sekurus batang korek api yang berwarna hijau muda dengan kuncup bunga berwarna putih dan kuning itu tampak tak begitu luar biasa. Ah mungkin karena bunganya, pikirku. Hafiz bilang kalau bunga Edelweis akan mekar pada bulan Agustus, wanginya akan semerbak. Saat kami datang, bunganya masih kuncup.

Edelweis.
Edelweis.

Mungkin aku pendaki cilet-cilet yang gagal karena tak bisa menemukan keromantisan bunga edelweis. Tak seperti seorang kawan yang setiap kali turun gunung, status facebook-nya akan berisi puisi tentang edelweis. Bahkan rayuan untuk si calon istri juga berisikan edelweis. Curiga nanti asoe talam (bawaan) pun berisi bunga edelweis?!

Tapi aku menemukan hal lain yang membuatku menyukai tanaman yang kini berstatus krisis ini. Jika diperhatikan lekat-lekat, semak edelweis ini menjadi rumah bagi beberapa serangga dan burung. Selain laba-laba yang terlihat jelas membentang jaring-jaringnya di antara ranting-ranting, pada tangkai bunga, dedaunan hidup, dan dedaunan mati, ada serangga lain yang hidup. Seperti kutu berwarna putih pada foto di bawah ini. Menempel erat di ranting. Juga banyak kupu-kupu yang lincah terbang-hinggap pada kuncup bunga dan dedaunan. Dengan semaknya yang tebal, aku curiga pasti ada ular yang berondok di dalamnya.

Sarang labi-laba jamak ditemukan di antara semak Edelweis.
Sarang laba-laba jamak ditemukan di antara semak Edelweis.
Penghuni Edelweis.
Penghuni lain Edelweis.

Sesuai namanya, Padang Edelweis di Tegal Alun ini hampir seluruhnya ditumbuhi tumbuhan edelweis. Sebelah kanan setelah jalur pendakian, ada sebuah telaga kecil berwarna hijau sehijau daun edelweis. Sebelah kiri dari jalur pendakian Tegal Alun, padang edelweis lagi dan tanah lapang di tengahnya dan jurang dengan dasar hutan lebat yang menawan bila dipandang dari atas tebing jurang. Pada lereng-lereng, padang edelweis berbatasan dengan hutan cantigi dan semak belukar. Pada bagian lain lagi, tampak hutan yang hangus terbakar.

Tegal Alun sebagai area konservasi.
Tegal Alun sebagai area konservasi.
Danau kecil di Tegal Alun. Gunung Papandayan.
Danau kecil di Tegal Alun.

Tak lama kami di Tegal Alun. Selain karena siang nanti kami harus turun dan kembali pulang, perut pun mulai ribut. Camilan yang kami bawa hanya mampu meredamnya sebentar. Sedangkan sarapan lezat sudah menanti di kamp Pondok Salada yang dimasak oleh tangan-tangan hangat penuh cinta.

Sarapan di Pondok Salada, Gunung Papandayan
Sarapannya juara!

14 thoughts on “Mendaki Gunung Papandayan & Mencari Keromantisan Edelweis

  1. Ah, aku suka sekali ceritamu ini kak!
    Membuatku ingin menuju Papandayan, mengangkat ransel dan berdiam sambil membuat puisi.
    Mungkin kapan2 bisa ajak kami ke sana ya, kak.
    (Tentunya bawain tendanya yaa :D)

  2. tadinya mau bilang, walah udah nyempit2an di angkot malah mendung cuacanya,, eh ternyata besoknya keren ya? :D
    nyesek memang, berharap sepi malam kayak pasar malam ya cit? apalagi udah di atas gunung.. niat hati mau buang Baper karena lajang, malah makin ngenes nggak cit? :))
    btw, di terminal kampung rambutan masih ada yang “malakin”? :D

  3. ah mantap kali lah , suka kali dengan hutam mati nya, apalagi dengan kabut-kabut gitu, suka kali-kali
    edelweis nya juga, sering x dapat kiriman dari tmn yg pulang dr mendaki, alhamdulillah gak dipetik, walopun suka juga :D

  4. denger2 papandayan skrg jadi tempat ngecamp yg mengutamakan #allaboutmoney yaaa,,, alias semua fasilitas sdh tersedia yg ptg ada duit..dikit2 duitt hahaha… bener gk sih..?? udah lama gk naik ke papandayan… :D

    1. Yang pergi mandiri juga bisa kok, Bang. Bawa semua sendiri dan siapin sendiri. Itu lebih seru kan? Tapi kalau ga mau repot yah bisa bagi-bagi rejeki ke pengelola jasa hiking. Hehehe…

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s