Bermalam di Baduy Dalam

Kereta Rangkas Jaya yang akan mengangkut kami ke Rangkasbitung berangkat terlambat pagi itu. Harusnya kami sudah bisa bergabung dengan Ian dan Bayu di sana pada jam 9.30. Namun kereta baru berangkat dari Stasiun Tanah Abang pada jam 9.

Perjalanan ini membutuhkan waktu yang ternyata tidak singkat seperti perhitungan kami. Mulai dari meninggalkan Stasiun Tanah Abang menuju Rangkasbitung lalu dilanjutkan lagi menuju Ciboleger sudah menghabiskan waktu setengah hari. Perjalanan dari Ciboleger ke desa Cibeo pun butuh waktu setengah harinya lagi.

Sapri, pemandu dan tuan rumah kami selama semalam di Cibeo.

Perjalanan ke sana dipandu oleh Sapri. Lelaki berumur 19 tahun itu anak Baduy Dalam di Desa Cibeo dan kami akan menginap di rumahnya malam itu. Sapri mengenakan pakaian suku Baduy Dalam yang membedakannya dengan Baduy Luar. Yaitu ikat kepala putih, baju kaos lengan panjang hitam, dan rok hitam bergaris-garis putih. Sekilas bentuk roknya seperti kain sarung pendek yang menutupi pinggang hingga bagian atas lutut. Kain yang mereka gunakan sebagai bahan pakaian adalah kain hasil tenunan sendiri. Sedangkan Baduy Luar dibebaskan menggunakan pakaian apa saja dan ditambah dengan aksesoris ikat kepala berwarna biru. Sapri memanggul bahan makanan dan menenteng sekantong plastik telur untuk makan malam dan pagi esok. Beban seperti itu dibawanya dengan santai melewati jalan setapak licin dan berbatu-batu.

Mendaki dan menuruni bukit selama perjalanan menuju Desa Cibeo.

Bukit demi bukit kami lewati dengan susah payah. Keringat yang mengucur diganjar dengan pemandangan ladang di lereng-lereng dan bukit yang berlapis-lapis. Cukup manjur sebagai peluruh lelah perjuangan kami. Angin sejuk berhembus dan mendinginkan tubuh yang panas, sekaligus memompa semangat ketika jalan setapak kembali menanjak. Naik-turun bukit itu diringi dengan musik dari seruling bambu yang ditiup angin di puncak pohon kuini. Lelah menjadi terabaikan selama suaranya masih terdengar.

Perjalanan itu menjadi lebih mudah karena aku bersama kawan-kawan. Ada empat kawan lain yang mungkin di dalam hati menyesal sudah ikut dan menyiksa diri berjamaah dengan berjalan kaki berjam-jam cuma untuk menginap semalam doang di Cibeo. Mereka adalah Ahon, Bayu, Ian, dan Uroel. Dan Ian adalah pejalan yang paling menderita karena harus memanggul backpack berisi kebutuhannya selama solo traveling berbulan-bulan dari Padang ke Jogja dan kembali ke Padang lagi.

Metal!

Sisa-sisa mendung tadi siang masih menutupi langit ketika kami tiba di Desa Cibeo sehingga membuat sore semakin cepat sekali berubah gelap. Desa Cibeo berada di pinggiran sungai yang dihubungkan sebuah jembatan bambu. Sungai itu kecil dan berbatu-batu. Lebarnya sekitar lima meter dan dalamnya tak lebih tinggi dari lututku. Setelah beristirahat sejenak di rumah Sapri, kami bergegas menuju sungai membawa peralatan mandi.

Kami mematuhi aturan Baduy Dalam yang tidak boleh menggunakan sabun, sampo, dan odol atau apa pun yang bahannya bisa mencemari air dan tanah. Satu-satunya alat mandi yang bisa kami pakai adalah sikat gigi.

Merendam badan di air pegunungan yang dingin itu segar banget! Tapi sayangnya badan ini enggak bisa bertahan lama-lama di air dingin. Aku buru-buru menyelesaikan mandi dan mengeringkan badan dengan kanebo.

Karena posisi kami mandi dinaungi pepohonan dan rumpun bambu, suasana di bawahnya lebih gelap. Namun masih ada cahaya untuk dapat melihat deretan jamur-jamur yang tumbuh di antara akar-akar bambu. Di antara jamur-jamur itu pula, berkelap-kelip kunang-kunang. Mereka muncul dari balik bebatuan dan semak-semak di sisi sungai yang lain. Beberapa ekor datang mendekati tempat kami mandi, terbang, dan menari-nari. Diiringi musik dari serangga-serangga hutan.

Salah satu jembatan penghubung desa Gajeboh dengan desa Cibeo.

Perjalanan memang penuh kejutan. Hal sekecil apa pun dapat mengungkit kembali kenangan pada masa lalu. Melihat kunang-kunang sore itu di sungai mengingatkan kembali pada masa-masa kecil dulu ketika bebas jumpalitan di sungai dan menonton pohon bakau dipenuhi kunang-kunang. Terbersit dalam benak: andai peradaban kita tidak semaju sekarang ini, mungkin pemandangan seperti ini masih bisa kita saksikan di kampung-kampung. Sekarang populasi manusia bertambah, populasi pohon dan binatang berkurang.

Ah, andai bisa menginap di Cibeo beberapa malam lagi.

Rumah suku Baduy Luar di Desa Gajeboh.

Rumah yang kami tumpangi berbentuk panggung dengan ketinggian kaki sekitar setengah meter dan di dalamnya hanya terdiri dari satu bilik kamar. Mungkin karena malam itu ada kami, kamar tersebut dipakai untuk kedua orang tua Sapri dan adik-adiknya. Dapur berada di bagian depan, bersebelahan dengan tempat kami tidur. Lantainya dibuat dari bambu yang sudah diproses sedemikian rupa sehingga berbentuk tikar, dindingnya dari anyaman bambu dan berventilasi. Pada teras rumah, terdapat beberapa potongan bambu berisi air untuk membilas kaki.

Malam hari di Cibeo gelap pekat sebelum sinar bulan mampu menembus awan malam itu. Penerangan lainnya berasal dari lampu minyak, lilin, dan senter. Lalu lintas di jalan setapak yang terdiri dari susunan batu sungai di depan rumah hanya lalu lalang anak-anak yang melintas dan mondar-mandir sambil memegang lilin di antara rumah ke rumah yang hanya berjarak 4 meter. Selebihnya bisa kami dengar jelas suara orang bercakap-cakap dari rumah tetangga samping, belakang, dan di depan rumah kami. Bahkan ada tamu di rumah belakang yang sampai tengah malam masih bercakap-cakap dan tertawa dengan keras. Sopan banget yah? :|

Satu-satunya kegiatan pada malam hari yang sempat aku saksikan di Cibeo adalah anak-anak yang menjaring ikan atau udang di sungai. Aku melihat mereka membawa senter kecil dan tangguk yang terlihat samar karena pencahayaan yang minim. Waktu itu kami ke sungai untuk pipis dan berharap bisa melihat kunang-kunang dan jamur yang bercahaya dalam gelap.

Sekembali dari sungai, tak ada kegiatan lain yang bisa kami lakukan kecuali duduk-duduk di teras depan, mengobrol sambil minum kopi. Padahal harapannya sih bisa berbincang-bincang dengan Jaro atau Pu’un (kepala desa dan ketua adat), tapi karena satu alasan yang harus kami maklumi bersama jadi kesempatan itu tidak bisa dilaksanakan. Jadilah kami menghabiskan bergelas-gelas kopi dan dua nampan duku yang disediakan tuan rumah. Sapri sendiri sudah menghilang setelah makan malam. Mengapel calon istri, katanya. Kami tidur lebih cepat dan aku heran kenapa kopi tak mampu menahan kantuk datang lebih lama?

Kehidupan sosial di Cibeo pun cukup erat. Mereka saling kenal satu sama lain. Bahkan saling mengenal warga desa yang di luar juga. Cibeo dipimpin oleh kepala desa yang disebut Jaro dan ketua adat yang disebut Pu’un. Kata Sapri, Pu’un adalah jabatan tertinggi di desa. Ia berwenang menunjuk siapa yang berprofesi sampingan sebagai apa di luar berladang. Seperti ayah Sapri yang ditunjuk sebagai tukang sunat.

Meski tetap berpegang teguh pada adat istiadat yang menolak cara hidup modern dan dikunjungi bule, orang Baduy adalah orang yang ramah. Para lelakinya murah senyum ketika berpapasan di jalan. Hanya perempuannya yang mungkin karena kurang berkomunikasi atau membatasi diri berhubungan dengan tamu-tamu yang datang jadi kesannya agak cuek. Tapi terlihat di mata anak-anak mudanya, khususnya yang anak-anak kecil, terlihat kilatan rasa keingintahuan terhadap tamu yang mereka jumpai. Ada yang mencuri pandang dan ada yang memperhatikan lekat-lekat.

Kerajinan tangan yang bisa kamu beli di Baduy Dalam dan Baduy Luar.
Salah satu alat musik tradisional yang terbuat dari bambu. Ada yang tahu namanya?

Dari Sapri sendiri cukup banyak bertanya tentang banyak hal kepada kami. Salah satunya adalah tentang geografi. Dia agak sedikit bingung ketika kuberitahu kalau Aceh itu berada di Pulau Sumatra, bukan di pulau Jawa dan tidak berdekatan dengan Bandung atau Banten seperti yang dia duga. Aku memberi gambaran dengan waktu tempuh seperti dari Jakarta ke Aceh itu butuh waktu  kurang lebih satu minggu dengan bis. “Waduh…kalau saya jalan kaki bisa dua tahun sampai sana ya?” kelakarnya. Setelah kuberi tahu harus menyeberang lautan lagi dengan kapal, ada sirat kecewa dari wajah dan suaranya. Karena mereka tidak dibolehkan menaiki kendaraan apa pun, termasuk kapal ferry.

Aku enggak tahu apakah ini legal atau ilegal. Lokasi masih di Baduy Luar.

Mengunjungi suku Baduy Dalam adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan namun dihantui rasa bersalah sesudahnya. Menyenangkan karena perjalanan yang ditempuh lumayan mengurangi kerinduan mendaki gunung, berjalan di hutan, mengenal cara hidup orang Baduy Dalam yang selaras dengan alam, dan bisa kembali menikmati masa-masa hidup di kampung yang bebas dari kehidupan modern. Yang paling berkesan adalah mengetahui ternyata orang Baduy Dalam ternyata tidak seperti yang kudengar dari orang-orang. Mereka tidak bodoh, mereka amat ramah, mereka tidak tertutup atau menutup diri dari dunia luar, mereka juga bersih, dan mereka adalah pejalan kaki yang tangguh!

Jembatan ke dunia luar.

Penyebab rasa bersalahnya adalah aku khawatir jika kedatangan para tamu seperti kami malah mempengaruhi mereka karena informasi tentang ‘dunia luar’ yang kami berikan. Bagi pemandu lokal yang sudah lebih dewasa dari Sapri mungkin masih bisa membentengi diri dengan kuat, namun bagi seusia Sapri yang masih amat muda, bahkan ada pemandu Baduy Dalam lainnya yang jauh lebih muda dari Sapri, agaknya akan mudah sekali terpengaruh untuk melanggar peraturan suku yang berakibat dikenakan hukuman adat.

Tapi semoga kekhawatiranku tidak terjadi pada Sapri dan anak-anak yang lain. Semoga benteng yang mereka sudah bangun selama ini tetap terjaga kuat.

Beberapa hal yang harus kamu perhatikan jika ingin berkunjung ke Baduy Dalam:

  1. Setiap tahun perkampungan Baduy Dalam ditutup (biasanya) selama bulan Februari hingga April karena ada upacara Kawalu. Tamu yang ingin berkunjung hanya bisa sampai di Baduy Luar saja
  2. Tamu tidak diperbolehkan memakai sabun, sampo, dan odol selama di desa Baduy Dalam
  3. Tidak boleh menggunakan alat elektronik dan mengambil foto di desa Baduy Dalam. Semua foto yang kami ambil dan yang ada di sini berlokasi di areal Baduy Luar.
  4. Bawa ikan asin atau bahan makanan lainnya sebagai hadiah untuk tuan rumah
  5. Bawalah uang lebih untuk membeli kerajinan tangan seperti kain tenun, madu, gelang, tas serat kayu, dan pernak-pernik lainnya
  6. Biasanya setiap hari sabtu pagi ada banyak pemandu dari Baduy Dalam dan Baduy Luar  di Ciboleger yang menanti tamu-tamu datang. Sebaiknya bikin janji terlebih dulu jauh-jauh hari sebelum kedatangan. Silakan email aku jika ingin nomor kontak salah satu pemandu lokal Baduy Luar.
  7. Pakailah sepatu yang sesuai untuk perjalanan jarak jauh dengan kondisi jalan berbukit-bukit. Sandal gunung atau… nyeker!
Salah satu kebun yang kami lewati dalam perjalanan pulang.
Transportasi
  1. Sepertinya transportasi paling mudah menuju Rangkasbitung adalah dengan kereta. Naik kereta Rangkasjaya dari Stasiun Tanah Abang yang paling pagi, jam 8. Cek jadwalnya di SINI
  2. Dari Stasiun Rangkasbitung menuju Ciboleger bisa ditempuh menaiki angkot kemudian turun di Terminal Aweh yang kemudian sambung lagi naik elf ke Ciboleger. Ada banyak sekali angkot yang menunggu di dekat stasiun. Tapi dengan moda transportasi umum ini butuh waktu lebih lama karena baru berangkat jika penumpang sudah penuh
  3. Opsi kedua yang lebih cepat adalah dengan menyewa mobil. Rangkasbitung ke Cibologer sekitar 3 jam. Email aku jika ingin nomor teleponnya.

24 thoughts on “Bermalam di Baduy Dalam

  1. Wah seru bacanya. Kebayang rasa damai dan tenang yang dirasain di sana. Tapi bagian yang paling bikin ngiler sih bagian mandi di kali (pasti seger banget) dan ngopi malem di sana. Ga coba durennya ya? Hehe.

  2. kalo gak boleh pake sabun, sampo, dan odol mah mendingan ga usah mandi sekalian ya *alasan*
    mau donk kalo ke sini lagi ajakin yaaa, pengen beli kerajinan tenun-nya ituu deh :)

  3. baru tahu Baduy Dalam ga boleh naik kendaraan
    lha terus kalo ada orang Baduy pas ada travel fair gitu, pada jalan kaki dong :o

    kayaknya seger banget ya di sana, tapi bayangin jalan kakinya kok jadi jiper…

      1. Iya bareng Sapri dan ada temannya Pak Herman. Mereka klo ke Jakarta jalan kaki loh dan Sapri cerita suka ikut acara pameran pakaian daerah gtu di kota Bandung. Mereka bawa baju2 khas Baduy, syal dan gelang untuk dijual. Aku beli baju hitam khas mereka dan syalnya..bagus juga bikinan tenun manual.

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s