Menyelam di Lhok Mee dan Pulau Tuan – Aceh Besar

Seperti yang aku ceritakan sebelumnya pada postingan Seperti Apakah Belajar Menyelam Itu? adalah susah-susah gampang. Namanya juga belajar, saat diberi arahan oleh instruktur, tentu harus benar-benar diperhatikan dan konsentrasi. Tapi lagi-lagi yang namanya belajar pasti ada saat-saat ketika pikiranmu meninggalkan tempatnya dan terbang entah kemana. Seperti yang pernah aku alami, ketika disuruh buoyancy di dasar kolam, malah timbul lagi ke atas bersama buddy. Kami lupa harus ngapain di dasar sana. Buru-buru kami tenggelam lagi setelah dihardik asisten instruktur. :p

Hari pertama dan kedua benar-benar digembleng baik teori maupun praktek. Dive Master-nya juga mengenalkan pada beberapa kasus yang kemungkinan terjadi saat penyelaman dan penanggulangannya. Seperti sakit pada telinga, masker kemasukan air, buddy kehabisan udara, dan lain-lain. Juga diajari bagaimana free dive. Nah di sini nih yang lucu, ada yang menyelam lama banget, tapi pas timbulnya malah di tengah kolam, bukannya di ujung. Kalau aku lain lagi, alih-alih bergerak lurus malah meluncur serong selama di dalam air dan muncul di sisi kanan kolam. Sontak jadi tertawaan. Ternyata selain jago kesasar di darat, jago kesasar di dalam air juga. Ntap!

Lhok Mee

Hari ketiga belajar selam berlokasi di Pantai Pasir Putih, Lhok Mee, Aceh Besar.

Di hari ketiga yang ditunggu-tunggu, kami ‘dilepas’ di pantai Lhok Mee, Aceh Besar. Berangkat dari kantor Basarnas di Lhong Raya dengan menaiki mobil dinas dan rubber boat terikat di atas mobil. Perjalanan itu rasanya seperti dalam misi penyelamatan.

Agak susah mendeskripsikan bagaimana senang dan serunya pengalaman menyelam di laut waktu itu. Kebahagiaan itu bukan hanya karena aku hampir menyelesaikan salah satu bucket list-ku, tapi pengalaman menyelam pertama kali itu beyond my expectation! Aku merasakan efeknya pada sisi spiritualku juga. Merasakan hidup di alam yang bukan alamku. Menggantungkan hidup dengan bantuan tabung scuba di punggung, buddy, dan pelajaran selama dua hari kemarin. Namun, di antara semua beban itu aku sangat menikmati setiap detik di bawah sana. Setiap tarikan napas dan merasakan tubuh melayang. Gelembung-gelembung yang keluar dari regulator kami seperti bola-bola perak yang menari-nari dan melebur ke langit perak yang beriak-riak. Indah sekali. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, Ocit?

Pernahkah terpikirkan bagaimana rasanya dulu dilingkupi air saat dalam kandungan ibu?

Buoyancy di dasar kolam dan di dasar laut terasa sekali perbedaannya. Di laut tubuh menjadi lebih ringan. Seorang teman tak bisa tenggelam meski memiliki empat buah pemberat di sabuknya. Arus membuat kami terayun-ayun dan saling tubruk. Akibatnya air menjadi keruh. Ketika semua sudah mulai mampu beradaptasi dan mengendalikan diri, kami berenang ke tempat yang lebih dalam dan banyak terumbu karangnya. Kami berenang mengikuti instruktur, rasanya seperti berputar-putar dan aku sama sekali buta arah. Sekali-kali aku melirik ke samping kiri, kanan, dan belakangku, takut ketinggalan dan…waspada pada predator yang ‘itu’. :D

Terumbu karang di Lhok Mee tak banyak variasinya. Justru tak begitu menarik untuk dijadikan wisata bawah laut. Lebih banyak didominasi terumbu yang bentuknya berbonggol-bonggol berwarna coklat keemasan dan sedikit sekali ikan-ikan. Di antara padang lamun, terdapat beberapa anemon yang tumbuh pada sebongkah karang, ditemani ikan badut dan udang bercorak polkadot putih dan transparan.

Udangnya transparan!

Pulau Tuan

Kiranya belajar selam ini hanya tiga hari saja. Lucky me, esoknya teman-teman SAR mengajak instruktur untuk menyelam di Pulau Tuan. Sebuah daerah konservasi di Aceh Besar. Ditumbuhi karang meja yang bertingkat-tingkat dan banyak sekali ragam ikan.

Lokasi penyelaman kedua di hari ke empat di Pulau Tuan, Aceh Besar.

Di lokasi pertama, dengan kedalaman tak sampai 15 meter, kami berenang melawan arus kencang di atas slope yang permukaannya ditutupi patahan karang. Saking kencangnya arus, aku berenang di tempat. Tidak maju-maju. Akhirnya kami naik dan diangkut ke dive spot berikutnya yang membuatku terpisah dengan buddy. 

Stone Fish.

Aku sempat melihat beberapa ekor ikan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Unik-unik banget. Salah satunya adalah ikan batu yang disebutkan dalam buku panduang beracun. Karang-karang meja berbagai ukuran ada di dasar sana. Bertingkat-tingkat dan di antara tingkatnya dierami ikan-ikan bermata besar berwarna merah dan kuning cerah. Di permukaannya berenang lincah ikan-ikan yang lebih kecil. Juga beraneka warna. Berkilat-kilat ditimpa cahaya matahari pagi. Lobster berondok di dalam lubang karang. Memperlihatkan sungut panjangnya yang berwarna putih dan berduri.

Tak hanya diajarkan teknik menyelam namun juga kami diharapkan menjadi penyelam yang bertanggungjawab. Dari seluruh rangkaian jadwal latihan menyelam bersama ini aku belajar banyak hal tentang lingkungan. Menyelam berarti aku memasuki alam yang bukan habibatku. Instrukturku bilang, di dalam sana itu bukan tempat kita, pelajari dan lindungi supaya kalian selamat dan ‘dia’ juga selamat.

Jika kalian pernah mendengar teman-teman aktivis lingkungan gaduh berkoar-koar tentang penyelamatan lingkungan, percayalah, mereka benar. Kehidupan di bawah air ini sangat rapuh sekali. Rentan terhadap kerusakan. Perubahan iklim sekarang ini berdampak besar pada kelangsungan hidup biota laut. Perubahan suhu air dapat membuat terumbu karang memutih (bleaching) dan mati. Sedangkan terumbu karang adalah tempat pemijahan ikan. Artinya terumbu karang adalah tempat berlindung anak-anak ikan. Makanya banyak ikan-ikan kecil kita temui di terumbu karang; tempat mereka berlindung dari predator. Sudah punya bayangan jika terumbu karang tidak ada? Jika ikan kecil tak ada, maka tak akan ada pula ikan besar. Jika anak ikan tak tumbuh besar/dewasa, nelayan tak punya tangkapan.

Sampah di dalam laut Lhok Mee.

Tak hanya perubahan iklim, perubahan cara kita menikmati hidup di daratan juga berdampak besar pada kehidupan bawah laut. Pencemaran air, penggundulan hutan-hutan berefek pada perubahan iklim, perubahan suhu udara dan air.

Sesi selam berakhir dengan membekaskan pengalaman dan pembelajaran yang luar biasa bagi kami. Ini tak hanya menyenangkan, tapi juga mencerahkan pikiran. Ya sudah, sebelum makin serius, tontonlah video saat penyelaman kami di Lhok Me dan Pulau Tuan ini. Enjoy! ;)

Baca pengalamanku belajar menyelam di hari pertama dan kedua di postingan di sini: Seperti Apakah Belajar Menyelam Itu?

19 thoughts on “Menyelam di Lhok Mee dan Pulau Tuan – Aceh Besar

  1. Wah keren! Kekayaan lautnya Indonesia memang banyak banget, dan satu-satunya cara adalah dengan menikmatinya langsung. Selamat ya Mas sudah berhasil menyelam dan menikmati terumbu karang itu, yah drama kesasar di kolam tak apalah, yang penting sekarang bisa berendam di laut dan menikmati keindahannya. Baca tulisan ini berasa ikut belajar dan menyelam langsung :haha.

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s