Move On dari Jam Tangan Kenangan

Aku menggenggam sebuah jam tangan berwarna hitam di tangan kiri. Menimbang-nimbang apakah warnanya tak akan membuat orang lain memperhatikannya jika kupakai? Lalu kulingkarkan ke dua tali karetnya di pergelangan tangan. Mematutkan diri di depan cermin sambil berpura-pura tak ada yang melihat. Jam tangan yang tak bermerk ini terlihat keren. Desainnya tampak sangat sporty dan tali karetnya terasa enak di kulit. Lalu aku memutuskan membeli jam tangan itu dan pulang dengan perasaan sedikit malu.

jam tangan1
Jam tangan yang sempat tren pada masanya. (Sumber foto: 888aa.net)

Itu pengalaman tujuh tahun yang lalu. Pertama kalinya aku membeli jam tangan dengan uang keringat sendiri. Dan semenjak itu pula aku menyadari bahwa aku memang tak bisa berjodoh dengan aksesoris. Jam tangan yang kubeli dengan perasaan seperti sedang diintai harimau itu akhirnya teronggok di dalam sudut lemari. Di bagian paling bawah tumpukan baju. Terakhir kali kulihat jarumnya sudah tidak bergerak lagi.

Sebagai orang yang pemalu, mendapat perhatian lebih ketika memiliki sesuatu yang baru itu terlalu berat buatku. Setidaknya waktu itu. Sekarang pun masih sering salah tingkah juga kalau diperhatikan. Jam tangan hitam nan elegan itu hanya bertahan di tangan selama 5 hari karena tak tahan ditanya-tanyai. Padahal jam tangan murah doaaaang.

Tidak memiliki jam tangan bukan berarti aku menjadi buta waktu. Masih ada hp untuk tahu waktu. Meski harus merogoh dompet dulu. Tapi waktu itu, frekuensi memperhatikan jam tak seperti sekarang. Apalagi ketika tinggal di Aceh. Hidup berjalan dengan santai. Tidak ada yang memburu kecuali hitungan mundur detik di lampu merah atau awan yang mendung.

Semenjak kejadian itu, aku tidak pernah lagi tertarik membeli jam. Atau pun aksesoris lainnya seperti topi, cincin, jam tangan, gelang, atau kaca mata. Rasanya semua itu tak cocok kupakai di badan. Setiap kali mencoba pakai, rasanya aneh. Tapi seiring waktu, usia bertambah, tempat tinggal terus berpindah. Kebutuhan juga mulai berubah. Termasuk kebutuhan untuk mengetahui waktu dengan cepat. Hidup sudah tak lagi bisa sesantai dulu. Apalagi hidup nomaden seperti sekarang ini. Rasanya sekian detik amat berharga. Telat sedikit, rejeki melayang. Salah perhitungan waktu, siap-siap menunggu lebih lama. Saat itulah aku merasa harus memiliki jam tangan.

Jam Tangan

Bayangan-bayangan masa lalu suka datang mengingatkan tentang jam tangan hitam nan elegan yang tali karetnya yang lembut itu. Apalagi ketika sedang browsing melihat-lihat halaman khusus Alexander Christie di Zalora. Ketika melihat jam bagus, yang benar-benar bagus, ada mereknya tentu saja, pilihan pun tak jauh berbeda dengan kriteria jam tangan hitam dulu itu. Hati tertambat dengan jam tangan dengan desain simpel ini. Karena selain ada angka jamnya tentu saja, ada angka untuk menitnya pula. Aku yang belum terbiasa menggunakan jam tangan, bisa memulai hidup baru dengan jam tangan ini.

_________________________

P.S.: Please nanti kalau ketemu aku pakai jam tangan, jangan ditanya-tanya ya… :’)

19 thoughts on “Move On dari Jam Tangan Kenangan

  1. Berarti sekarang udah pake jam tangan lagi? Gimana ada yang nanya2? :D
    Kalau aku dari dulu gak pernah nyaman pake jam tangan. Kalau pun punya, paling disakuin ._.

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s