Traveling by Train: Jalan-jalan Seru di Semarang

Subuh di Stasiun Semarang Tawang

Waktu itu subuh pukul 5 ketika Kereta Wisata yang kami tumpangi tiba di Stasiun Semarang. Aku menengadah dan menyaksikan pijar bintang Kejora di ufuk timur. Sinar matahari masih berupa pendar jingga, ungu, dan biru di atas cahaya lampu penerang di jalur rel. Banyak penumpang yang turun, namun suasana stasiun tak lantas menjadi ramai. Semua berjalan ke gedung stasiun dengan mata sayu.

Perjalanan ke Semarang dimulai dari Stasiun Bandung. Bersama rombongan Traveling by Train yang diadakan oleh PT. KAI dan Altour Travel Indonesia, kami diberangkatkan pada pukul 21.30 menumpangi kereta wisata Priority. Interiornya yang eksklusif dan nyaman benar-benar memanjakan. Perjalanan ini semakin eksklusif dan seru karena hadir pula seorang traveler dan penulis buku The Naked Traveler, Trinity!

Trinity!
Lengkap dengan fasilitas entertainmen. Bisa menonton film, mendengar lagu, atau karaokean.
Kak Bul menerima welcome drink dari Pramu dan Prami Kereta Wisata Priority.

Selama perjalanan banyak keseruan terjadi di dalam gerbong kereta wisata ini. Ada talkshow dengan Trinity hingga sesi karaoke oleh kru Kompas TV. Meski sudah hampir tengah malam, tapi rasa kantuk belum mampu membuat kami semua tertidur. Beberapa teman malah masih asyik menonton film dari tv kecil yang tersedia di setiap kursi.

Kereta Wisata Priority milik PT. KAI ini memiliki banyak fasilitas layaknya kabin pesawat kelas bisnis. Selain tersedia tv kecil dengan headset di setiap kursi, gerbong kereta wisata prioritas juga menyediakan karaoke di bagian belakang. Pada bar juga tersedia banyak makanan dan minuman. Interior toilet pun didesain dengan kualitas berkelas. Pokoknya menaiki kereta wisata prioritas ini memberikan pengalaman bepergian pada level paling baru.

Suasana subuh di Tawang.
Tawang ketika matahari mulai naik.

Selesai shalat subuh di Stasiun Semarang Tawang, para peserta berangkat ke Kampoeng Kopi Banaran menggunakan bis pariwisata. Perjalanan dari Tawang ke Banaran memakan waktu sekitar satu jam. Dalam perjalanan ini aku menyesal kebanyakan minum sebelum berangkat. Ketika tiba di lokasi, aku berlari mencari kamar mandi. Ahhh lega!

Kampoeng Kopi Banaran sepertinya tempat makan favorit di Semarang. Terbukti beberapa foto yang dipajang di dinding menunjukkan banyak pejabat penting yang pernah singgah di sini. Salah satunya adalah Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Dipo Lokomotif di Stasiun Ambarawa.
Pak Sudono, tour guide selama dalam perjalanan dengan kereta uap.
Salah satu pemandangan dari jendela kereta uap: Rawa Pening.

Usai mandi dan sarapan, rombongan Traveling by Train kembali bergerak menuju Ambarawa. Yaitu ke sebuah museum kereta di mana para pencinta sejarah dan kereta antik bisa merasakan naik kereta uap yang dipakai pada masa pra kemerdekaan dulu. Ada lebih dari sepuluh lokomotif yang dipajang di dua jalur rel di Museum Kereta Ambarawa ini. Dan kami diajak berkeliling menaiki kereta uap melewati jalur rel melintasi tepi Rawa Pening

Seorang pensiunan PT. Kereta Api Indonesia, Pak Sudono, yang telah sepuluh tahun mengabdi sebagai guide semenjak beliau pensiun, menjelaskan banyak hal tentang sejarah kereta uap. Aku baru tahu kalau bahan bakar kereta uap pada zaman dulu hanya ada dua: batu bara dan kayu jati. Masing-masing loko bahan bakarnya berbeda dan tidak bisa diganti dengan jenis bahan bakar yang lain. Masa pembakaran itu juga membutuhkan waktu yang lumayan lama, “bahan bakar seperti kayu jati harus disiapkan tiga jam sebelum berangkat,” jelas Pak Sudono. Selang waktu kurang lebih 5 menit, asap hitam dan uap putih menyembur beserta butiran air dari lokomotif.

Loko yang masih perkasa mengantarkan para tamu berjalan-jalan.

Pada tengah hari, ketika matahari sedang panas-panasnya, tur di Museum Kereta Ambarawa berakhir dan disambung lagi dengan tur ke Lawang Sewu. Suhu udara 34 derajat celcius tak menyurutkan semangat peserta Traveling by Train untuk terus mengikuti tur dan menyelesaikan challenge yang diadakan oleh Altour Travel Indonesia.

Salah satu balkon di depan ruangan gedung Lawang Sewu.

Jika di Museum Kereta tadi kami ditantang membuat drama, kali ini kami ditantang untuk menemukan kunci sebuah ruangan rahasia di mana Trinity bersembunyi. Ini adalah tantangan terberat jika dibandingkan dengan drama apalah-apalah di Ambarawa tadi siang. Karena di sini kami harus mencari memecahkan teka-teki yang diberikan sambil tetap mendengarkan penjelasan tentang bangunan Lawang Sewu ini dari guide. Dan untuk pertama kali seumur hidup, aku berdansa. Duh semoga yang bagian dansa-dansa itu tidak ditampilkan di acara Suka-suka di Kompas TV tanggal 26 September nanti ya. Malu-maluin! :p

Ruangan yang digunakan untuk menyimpan barang-barang.

Aku pikir, Lawang Sewu adalah bangunan terlantar yang dikelilingi semak. Cerita-cerita mistis tersebar dan membangkitkan gambaran yang menyeramkan bagi orang-orang yang belum pernah melihatnya secara langsung. Ketika aku tiba di Lawang Sewu, ternyata bangunan peninggalan Belanda ini masih dalam kondisi yang amat bagus, kokoh, dan bersih. Dari luar, tak ada kesan mistis sama sekali yang terpancar dari bangunan cantik ini. Bahkan ketika berada di dalam pun, hanya kesan kuno dan rasa takjub yang muncul. Bangunan sebesar ini, sejarah yang dilaluinya, adalah saksi bisu dari cikal bakal perkeretaapian Indonesia tempo dulu dari sebelum merdeka hingga setelah kemerdekaan.

Tim Pencari Trinity
Mission accomplished!

Ghera, Arif, Ghana, Gia, Fitri, dan Aku yang tergabung dalam kelompok 3 berhasil menemukan kunci yang tersembunyi di Gedung C. Dan akhirnya kami berhasil menemukan Trinity yang bersembunyi di gedung yang sama! Horeee…

Destinasi terakhir kami, yang nyaris saja batal karena waktu yang tinggal sedikit, adalah Klenteng Sam Poo Kong! Klenteng yang dibangun untuk persembahyangan umat Kong Hu Cu ini berada di daerah Simongan, Semarang. Tempat ini dulunya adalah tempat pendaratan pertama Laksamana Zheng He atau lebih dikenal dengan Cheng Ho. Meski beliau adalah seorang muslim, namun umat agama Kong Hu Cu menganggapnya sebagai dewa. Sebuah patung peringatan kepada sang dewa dibangun di depan klenteng utama.

Destinasi terakhir: Klenteng Sam Poo Kong, tempat pendaratan Laksamana Cheng Ho di Semarang.

Setelah puas menikmati klenteng dan memandangi wajah Laksamana Cheng Ho Sang Traveler Sejati itu, kami bergerak ke lokasi makan malam, Kampung Laut. Yang kemudian kami semua kembali ke Bandung dengan menaiki kereta lagi.

Traveling dengan kereta memang memberikan pengalaman yang berbeda jika menggunakan jenis transportasi lain. Bepergian dengan kereta membuat perjalanan menjadi lebih santai, lebih aman, lebih nyaman. Tiketnya gampang didapatkan baik online maupun di gerai-gerai mini market. Bahkan tiket kereta pun bisa dibeli di kantor pegadaian dan kantor pos.

Bukan tak beralasan jika aku menyimpan rasa iri pada teman-teman di Pulau Jawa yang jalur keretanya ada banyak. Dan telah menghubungkan banyak daerah sehingga kalau mau traveling ke mana-mana juga mudah dan nyaman. Semoga PT. KAI dapat memperpanjang rel keretanya hingga ke pulau-pulau besar lainnya ya. Amiiiin…

Kami telah membuktikan kalau traveling dengan kereta ternyata menyenangkan. Sekarang giliranmu membuktikannya. Ayo bersiap! :D

Ikuti juga cerita perjalanan teman-teman blogger yang lain di sini:

  1. Atrasina Adlina – #travelingbytrain Menapak Sejarah Kereta Api Indonesia
  2. Fahmi Anhar – Jelajah Museum Kereta Api Ambarawa Bersama Traveling by Train 2015
  3. Lenny Lim – Kereta Wisata Indonesia
  4. Putri Normalita – Pengalaman Naik Kereta Wisata Bersama TBT 2015
  5. Rembulan Ubermoon – Nostalgia Kereta Uap Ambarawa
  6. Ghera Nugraha – Bandung ke Semarang Tawang dengan Kereta Wisata Priority
  7. Albert Ghana –
  8. Taufan Gio –

31 thoughts on “Traveling by Train: Jalan-jalan Seru di Semarang

  1. Saya berdoa semoga suatu saat nanti di Aceh ada layanan kereta api. Bukan hanya kereta api perintis saja dan juga jalurnya terbentang dari Aceh sampai Lampung. Semoga dirimu bisa menikmati momen tersebut ya Bang. :D

  2. Keren Mas :hehe. Kegiatan yang sangat seru apalagi bisa berkumpul sama teman-teman yang asyik :)). Dan dari beberapa sisi, Semarang menurut saya lebih terjaga bangun-bangunan tuanya ketimbang Jakarta, atau entah apakah ini karena saya tidak terlalu sering melihat bangunan tua di Semarang :hehe. Ah, si kota dengan lambang putri dan singa!

  3. Duh semoga yang bagian dansa-dansa itu tidak ditampilkan di acara Suka-suka di Kompas TV tanggal 26 September nanti ya. Malu-maluin! :p <<— AKU GAK MAU LIAT TIPIIIII #malu

    Btw seru nian jalan bareng kak Citra yang kalem menghanyutkan. Next time lagi, yes!

  4. Wuiiiiihhhh…keren kaliiiiii bisa ketemu trinity.
    Ini acara apa sebenarnya cit kok dirimu bisa ketemu Trinity gitu? Dirimu menang lomba atau ikut program apa gitu ya?

  5. Hai teman tidurku untuk beberapa jam.. Hihihi..

    Semoga jalur kereta akan terus berkembang ke banyak pulau lainnya ya Kak Ocit. Jadi siapapun di Indonesia bagian mana pun bisa merasakan asyiknya jalan-jalan naik kereta. :D

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s