Peristirahatan Terakhir Terindah di Pulau Simeulue, Aceh

Pesawat Cessna milik Susi Air

Pesawat Cessna milik Susi Air mendarat mulus di Bandara Lasikin, Pulau Simeulue. Sepuluh orang penumpang turun satu per satu seperti turun dari labi-labi (angkot khas Aceh) masing-masing memegang kotak berisi kue yang tak dimakan karena sedang berpuasa. Pilot dan Co-Pilot bule di depan mengucapkan terima kasih dalam bahasa Indonesia sebelum tangga diturunkan.

Udara panas menerpa ketika pertama kali menginjakkan kaki di landasan bandara. Cuaca cerah; langit biru dan sedikit awan. Aku menahan senyum melihat cuaca ‘bersahabat’ begini. Takut ketahuan oleh kawan-kawan karena cuaca terik bukanlah sahabat baik ketika bekerja di lapangan. Aku mendekap tas laptop yang menggembung karena berisi kamera. Oh, ini bakal seru foto-foto di pantai, ujarku dalam hati sambil menepuk-nepuk tas.

Salah satu air terjun yang terlihat di perbukitan Kabupaten Aceh Besar.
Berjumpa ngarai setelah melewati daerah perbukitan.
Meulaboh, kampung halamanku. :)
Salah satu pantai di Nagan Raya yang berada dekat dengan bandara.

Penerbangan Susi Air dimulai dari Sultan Iskandar Muda, berangkat jam 8 pagi melewati bukit barisan Aceh Besar yang cakep luar biasa. Melihat air terjun dan ngarai dari atas adalah pengalaman baru bagiku. Sekaligus pengetahuan baru. Ternyata ada ngarai besar di Aceh. Indah sekali. Tujuh puluh menit kemudian kami tiba di Bandara Nagan Raya. Tak ada penumpang yang naik dari bandara ini. Lima belas menit selepas urusan administrasi, kami kembali take off menuju Pulau Simeulue. Waktu tempuh dari Banda Aceh ke Simeulue memakan waktu tak lebih dari tiga jam saja. Dua jam pertama tak terasa jika mata terus melongok ke bawah sana. Plus pemandangan sebelum mendarat di Pelabuhan Simeulue, kita akan lebih tercengang-cengang lagi melihat perairan Simeulue yang sangat ‘cebur-able’ (meminjam istilah Gara).

Pulau Batu Berlayar di Kabupaten Simeulue.
Desa Teluk Dalam dan Pulau Batu Berlayar.

Karena perjalanan ini dalam rangka kerja, tak banyak tempat yang bisa aku eksplor. Hanya ke tempat-tempat yang dikunjungi untuk pekerjaan itu saja. Setelah mengantar barang-barang ke penginapan, kami meluncur ke Desa Pasir Tinggi. Ketercenganganku masih harus dilanjutkan di desa yang menghadap ke pantai ini. Pantai berpasir putih dengan karang-karang terangkat ke permukaan air, kebun kelapa yang menjulang, dan semilir angin yang sejuk. Hikmah kali puasa-puasa ke mari.

Desa Pasir Tinggi berada di Kecamatan Teupah Selatan. Sekitar 40 menit dari kota Sinabang. Desa yang berada di pesisir ini hampir seluruhnya menghadap ke laut. Di desa inilah kami akan mengukur lokasi pembangunan jalur evakuasi tsunami. Jalur ini tepat pula menghadap ke pantai landai yang aku sebut Pantai Idaman Tempat Menghabiskan Masa Tua Sambil Leyeh-leyeh Baca Buku Terus Tiduran di Hammock.

Pantai Pasir Tinggi
Biar kekinian kayak orang-orang. #TravelerCilet2

Pesisir Teupah Selatan pada akhir 2004 juga terkena bencana tsunami yang warga Simeulue sebut dengan nama Smong. Smong adalah kearifan lokal yang diceritakan turun temurun. Berkat cerita ini pulalah tak banyak warga Simeulue yang menjadi korban tsunami. Ketika gempa berakhir, mereka segera menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.

Jalan aspal yang menghubungkan kota Sinabang hingga ke Desa Teluk Dalam memisahkan pantai dengan rumah-rumah penduduk. Rumah-rumah permanen dan semi permanen berjajar rapi. Antar desa dipisahkan oleh kebun-kebun kelapa yang lebat dan tumbuh tinggi puluhan meter.

Dalam perjalanan pulang, aku melihat beberapa pemakaman di sisi kiri dan kanan jalan. Pemakaman ini tak dipagari seperti pemakaman lain umumnya. Gundukan tanahnya lebih besar dan tinggi dengan batu, nisan kayu, dan semen di kedua ujungnya. Kuburan-kuburan ini terlihat sangat sederhana tapi tak lantas membuatnya terlihat biasa. Sebuah pemakaman lain yang kami jumpai membuatku kehilangan kata-kata. Lokasinya berada di tepi pantai. Di areal berumput hijau yang bersih. Di depannya laut bergemuruh menghantam karang. Cahaya senja menyinari pantai dan batu karang yang basah. Dan membiarkan kuburan-kuburan tetap teduh di bawah payung nyiur. Entah, kita tidak tahu apa yang sedang dialami oleh penghuninya di dalam sana. Tapi melihat pekuburan dengan pemandangan seindah ini adalah peristirahatan terakhir terindah yang pernah aku lihat.

Perisitirahatan terakhir.

Hari kerja pertama di Simeulue kami tutup dengan berbuka puasa bersama sambil menikmati matahari tenggelam di tepi sebuah teluk.

Lembayung senja di Pulau Simeulue.

24 thoughts on “Peristirahatan Terakhir Terindah di Pulau Simeulue, Aceh

  1. Masya Allah, foto-fotonya cantik benar. Baik yang hidup maupun yang mati mendapatkan “pemandangan” yang layak ya :)

  2. Pesisir Aceh, baik di Sumatera daratan maupun pada pulau-pulau di sekelilingnya, menurut saya bagaikan permata dalam kotak kaca yang sebisa mungkin jangan diusik berlebihan supaya keindahannya tetap bisa bertahan sepanjang masa :hehe. Ini contohnya, keren dan bersih serta sepi sekali :)).
    Saya berdoa supaya semua yang ada di sana selalu diliputi kedamaian, baik yang masih ada maupun yang telah tiada, paling tidak, gemerisik nyiur dengan desiran angin dan ombak yang berdebur masih menjadi musik yang menemani mereka yang hidup dalam denyut kerjanya, dan meninabobokan mereka yang sudah tertidur sampai akhir zaman :)).

  3. gak slah memang klo ada istilah simeuluhai (semua lekuk aduhai) :D
    setiap lekuk pantainya mempesona dan cantik. Btw, ternyata gak di belitung aja ada pulau batu berlayarnya ya bang. aceh juga punya..aku juga mauuuu hammockan di sana :D

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s