Melihat Air Terbang di Pulau Aceh

Hari kedua di Pulau Nasi.

Aku, Ilham, Fahrizal, dan Madhan masih di Pulau Nasi. Kami keluar dari tenda pagi itu dan mengecek ke sekeliling tenda untuk melihat apa benar ada ‘tamu’ yang datang saat semua terlelap semalam. Kawanan babi memang biasa berjalan-jalan ke pantai pada malam hari untuk mencari makan. Kami menemukan jejak-jejak sedalam 3 cm di pasir sekitar kemah kami berdiri.

Salah satu pemandangan dalam perjalanan menuju Pantai Alue Reuyeueng. Mau berenang dengan bebek? :D
Pantai Alue Reuyeueng.

Setelah mandi pagi di laut dan membongkar kemah, kami bergerak menuju pantai Alue Reuyeueng. Waktu tempuhnya sekitar satu jam perjalanan dengan kondisi jalan beraspal dan berbatu-batu. Kami tiba pada musim barat waktu itu. Laut sedang bergejolak dan kondisi laut di pantai ini terlihat garang dengan karang-karang bertebaran. Pasir putih membentuk setengah lingkaran yang dibalut dengan padang berumput hijau. Tak banyak vegetasi pohon peneduh di sini. Hanya pohon kelapa dan pandan berduri yang aroma bunganya membuat kepala menjadi berat.

Kami bertemu seorang bapak paruh baya yang sedang mengangkut nilam hasil panennya dari ladang, Pak Surya. Bapak ini mengundang kami singgah ke rumahnya. Deskripsi alamat yang rinci memudahkan kami menjumpai beliau kembali sepulang dari pantai. Beliau menunjukkan taman halaman rumahnya yang cantik. Taman ini yang membuat siapa pun gampang menandainya, dua batang pohon yang dibentuk burung kakatua dan kuda tumbuh setinggi dua meter di halaman rumah. Ketika kami minta izin pamit, beliau menghadiahkan sebuah semangka untuk dibawa pulang. Saat itu aku merasa malu pada diri sendiri. Rasanya masih sedikit sekali berbagi kebaikan.

Rumah dengan dekorasi pohon mirip burung atau wayang (?) :D

Perjalanan semakin jauh dari jalan beraspal. Memasuki Desa Rabo, kami mengikuti jalan setapak yang membelah hutan di pinggir laut. Entah ke mana lagi Ilham membawa kami keluar masuk hutan begini. Matahari sudah di atas kepala dan panasnya mengeringkan tenggorokan. Motor matic yang kami tumpangi dipaksa mendaki bukit dan diparkir di sebuah lereng berumput. Aku merangsek ke dalam semak berdaun lebar dan berbunga putih keunguan dan rumpun-rumpun pandan. Terus naik hingga ke puncak tebing berbatu. Dari sana aku dapat melihat lebih leluasa pantai tersembunyi yang disebut-sebut Ilham. Pantai yang panjangnya tak sampai 500 meter itu dijilati lidah-lidah putih gelombang yang memecah di atas karang. Pantai ini persis berada di kaki bukit yang mengitarinya. Kadang yang indah-indah itu memang butuh perjuangan ya untuk dapat dinikmati.

Tapi beda halnya dengan pantai yang satu ini. Pantai Mata Ie di Desa Pasie Janeng ini berada persis di pinggir jalan raya. Sebatang pohon Keutapang bersanding dengan pohon jambu berdiri tegak memayungi tebing di pinggir pantai. Di sini lah kami mengaso sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Pasie Raye. Pantai Mata Ie adalah tempat strategis untuk menikmati saat-saat matahari tenggelam di balik Pulau Breueh.

Matahari telah meluncur turun ke barat dan memanggang pasir di Pasie Raye. Sesuai namanya, Pasie Raye yang berarti raya, pantai ini memang paling besar dan paling panjang di Pulau Nasi. Terasa sekali panas yang menguar dari pasir yang lembab ketika kami berjalan di atasnya. Gelombang-gelombang udara panas silih berganti dengan  angin sepoi menerpa muka.

Tujuan kami adalah ke ujung pantai yang berhadapan dengan Ujong Bateung di Pulau Breueh. Antara ke dua ujung di kedua pulau ini mengalir kuat Arus Lempuyang. Di sebuah lereng bukit yang tercipta dari lapisan batuan sedimen berundak-undak itu, di tengah-tengah karang seluas lapangan takraw, terdapat rongga-rongga karang yang memungkinkan terjadinya air mancur setinggi dua hingga tiga meter tergantung dari kekuatan dorongan gelombang. Orang setempat menyebutnya ‘Ujong Keumuroh’ yang berarti ujung/tanjung yang bergemuruh. Air laut yang terdorong masuk ke dalam rongga karang di bawah sana, bergemuruh lalu menghambur ke atas dengan buih putih, terciprat ke segala arah. Fenomena ini disebut juga dengan ‘ie po u langet’ yang berarti air yang terbang ke langit.

Ie po u langet di Ujong Keumuroh.
Ikan menari dalam aquarium mini di celah karang.
Seekor kepiting siap menyantap makan siangnya.

Kami menghabiskan waktu berjam-jam di Ujong Keumuroh. Menanti air laut pasang untuk melihat semburan tinggi dari rongga-rongga karang. Sambil menunggu arus kuat, aku berjalan-jalan di atas lapangan karang berlumut. Ada beberapa celah karang yang membentuk kolam terisi air laut. Ada kehidupan di sana, seperti aquarium, ikan-ikan kecil berenang-berenang dan gelisah di antara rumput-rumput laut. Kepiting diam di dasar kolam. Sesekali ikan cati meloncat-loncat di permukaan air, membuyarkan permukaan air bening bagai kaca.

Merasa cukup mengobservasi lapangan karang, aku memanjat tebing batu yang puncaknya ditumbuhi semak perdu. Sesuai kontur bebatuan yang miring, bukit dengan tumbuh-tumbuhan yang hidup di atasnya ini terlihat unik. Seolah-olah sebagian bukit ini terbenam sehingga bentuknya jadi miring sebelah. Akibat tiupan angin Samudra Hindia, pepohonan tumbuh condong ke arah timur, semakin mempertegas alur-alur lapisan bebatuan yang ditumbuhinya. Dari atas sini, jarak pandang menjadi lebih luas. Terlihat Ujong Bateung dan pantai panjang di Pulau Breueh. Pulau Teunom di depan Ujong Keumuroh serasa dekat. Di utara, Pantai Ujong Paga yang tengah hari tadi kami kunjungi terlihat jauh sekali. Pantai Mata Ie berada di tengah-tengah lengkungan teluk yang panjang ini, juga terlihat amat jauh. Memikirkan pulang, aku tiba-tiba malas turun dari bukit batu ini.

Ujong Keumuroh dilihat dari atas bukit.

Beberapa jam lagi, matahari akan segera menghilang dari cakrawala dan menyinari belahan bumi yang lain. Tapi kami sudah cukup lelah untuk berjalan cepat saat kembali menyusuri Pantai Raye dan lereng bukit berbatu. Kami berjalan gontai, menghindari melangkah di pasir yang gembur dan membiarkan kaki dijilati ombak laut.

Menanti senja di Pantai Mata Ie.

Masih tersisa banyak waktu untuk bersantai lama ketika kami kembali tiba di Pantai Mata Ie. Beberapa orang awak kapal kami jumpai sedang mencari batu akik di pinggir pantai. Nelayan pencari gurita bersiap naik ke darat dan pulang. Hanya tinggal kami dan beberapa pemancing yang masih bertahan. Menanti matahari hilang dari balik Pulau Breueh lalu pulang setelah diusir oleh nyamuk. Kami pun angkat kaki untuk mencari lokasi bermalam di pantai yang lain.

19 thoughts on “Melihat Air Terbang di Pulau Aceh

  1. Wah, keren banget pantainya, bikin tak bisa berkata-kata. Perjuangan memang akan selalu sepadan dengan hasil, dengan pasir, garis pantai, laut, langit, dan pohon kelapa seperti itu, saya pun bisa berlama-lama di sana menghabiskan waktu, bahkan jika kegiatan yang bisa saya lakukan cuma menatap ikan-ikan berenang di akuarium mini :)). Dan pohon itu membuat pemandangan tampak sangat dramatis!

    1. Bisa aja, bang. Kita merapat ke Pantai Raye terus jalan kaki dikit lagi ke Ujong Keumuroh. Minta ijinlaaaaah… ga mungkin dipecat Bang Asrok. Rugi perusahaan melepas Bang Asrok. :D

  2. Ada legenda apa di balik ‘Ujong Keumuroh’? Biasanya penduduk lokal mempunyai versinya sendiri :)

    Btw suka liat foto2 pantainya, pake kamera apa kak Cit?

  3. Tuhan memang maha adil, di balik jalanan yang aksesnya sulit tersimpan pantai-pantai yang luar biasa indahnya. Btw, itu bapaknya kok bule banget ya? Aku pikir bule yang lagi liburan, awalnya :-)

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s