Menempuh Jalan Beranjau di Pulau Nasi

Februari 2013 lalu, aku, Dika, dan Nisa mengangkut sepeda dari Banda Aceh ke Pulau Breueh. Nekat ingin bersepeda menjelajah pulau yang tak kami pahami betul bagaimana kontur jalannya yang ternyata berbukit-bukit itu. Rasanya masih kapok jika ke sana lagi. Capeknya bersepeda naik turun bukit di tengah terik matahari dengan ransel berat di punggung benar-benar amat menyiksa. 

Tapi itu tiga tahun yang lalu sejak terakhir kali aku mengunjungi Pulau Breueh di Kecamatan Pulau Aceh. Selain capek yang luar biasa itu, aku masih ingat betul bagaimana antusiasnya kami bertiga melihat kawanan lumba-lumba berenang timbul-tenggelam di permukaan laut di dekat kapal kami menumpang. Setelah Pulau Breueh, muncul satu keinginan lain: ingin mengunjungi pulau tetangganya, Pulau Nasi.

Mengikuti kemana guide membawa.

Sang penguasa jalanan

Pulau Nasi yang hanya sepenggalah saja dari Pulau Breueh ini konturnya tak banyak berbeda. Berbukit-bukit juga dan jalan beraspal bagus mengelilingi pulau. Meski jalanan mulus, tapi banyak ‘ranjau’ bertebaran yang dibuang seenaknya oleh si penguasa jalanan. Penguasa jalanan di pulau ini bukan kendaraan melainkan kawanan sapi.

Kawan seperjalanan kali ini dipimpin oleh Ilham. Aku, Madhan, dan Fahrizal mengekor saja ke mana dia pergi. Kapal ferry yang berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheue membawa kami beserta dua motor menyeberang dengan santai ke Pulau Nasi. Setelah dua jam mengarungi lautan, kapal merapat di pelabuhan desa Lamteng yang bikin aku terheran-heran. Ini pelabuhannya seperti terlantar puluhan tahun. Ditumbuhi perdu dan kanopinya sudah hilang, dan penyangganya karatan semua. Kalau saja aku tidak melihat satu batang manusia pun di atas pelabuhan sebelum kapal merapat, pemandangannya persis benar seperti di dalam film sci-fi bertema zombie atau akhir zaman.

Oke. Sambutan awal memang sedikit seram. Tapi itu tak sebanding dengan pemandangan pulau ketika kapal akan sandar di pelabuhan. Sambutan lain seperti laut hijau tosca dan bayangan samar terumbu karang di dasar lautan seperti hipnotis untuk  melompat dari kapal. Siapa tahu bisa bertemu dugong. Dari atas kapal pula kita dapat melihat dengan jelas petak-petak kebun cengkeh di lereng perbukitan. Rerimbunan pohonnya membentuk oval seperti telur. Sebuah jalan aspal mengular dari depan gerbang pelabuhan, meliuk ke sebalik bukit yang menghubungkan Gampong (desa) Lamteng dengan Gampong Rabo. Sebuah pulau mungil di ujung tanjung di sisi kiri kapal seolah menjadi gerbang masuk ke pulau ini. Pulau Jroh, konon biota laut di sekeliling pulaunya amat kaya karena arus lautnya yang ‘bergizi’.

Motor yang kuboncengi harus berkelit dari ranjau-ranjau ternak di beberapa ruas jalan. Kebanyakan ranjau berada di jalanan dalam perkampungan. Pada ruas jalan yang sepi dalam perjalanan menuju Gampong Deudap, ranjau lain mengintai: ombak lautan diterpa sinar mentari berkilauan dari balik pepohonan di sisi kiri jalan. Warna hijau bening beriak, menebur batu hitam berlumut di bawah tebing. Ketika motor meraung mendaki tanjakan letter U menuju puncak lereng sebuah bukit, tampaklah pesona Lamteng dari atas. Turunan berikutnya membawa kami pada pemandangan Gampong Deudap dengan pantainya yang aduhai.

Setelah menikmati sajian makan siang berupa gulai sotong yang lezat di warung Bang Zul, kami bergerak menuju Pasie Nipah. Pasie dalam bahasa Indonesia berarti pasir atau pantai. Pantai panjang berbentuk sabit ini berbatasan dengan hutan lebat. Beberapa pondok yang dulunya pernah dijadikan penginapan terbengkalai ditinggalkan begitu saja. Sayang sekali, pantai dengan sarana sebagus ini tidak dikelola dengan semestinya.

Kami mendirikan kemah dan bermalam di sini. Menikmati malam penuh bintang dan ‘keriuhan’ malam di pinggir pantai yang menenangkan. Malam yang sejuk itu kami lewati dengan bercerita mengelilingi api unggun. Tak ada yang benar-benar ingat apa yang kami bicarakan malam itu. Tak ada yang serius hingga kening berkerut. Cerita lepas selepas tawa yang segera hilang dihembus angin malam ke telinga binatang malam di dalam rimba sana. Hari telah berganti, pendar-pendar bara bagaikan hipnotis yang mengantarkan kami tidur. Semakin dalam oleh deriknya hingga mata tak lagi mampu bertahan.

30 thoughts on “Menempuh Jalan Beranjau di Pulau Nasi

  1. Aduh, Pasie Nipah itu keren banget Kak! Nipah itu artinya apa ya? Soalnya di Lombok juga ada pantai yang namanya Pantai Nipah :hehe. Suka dengan matahari, pasir, laut, dan bukit yang ada di sisi sebelah sana, komposisinya betul-betul pas!

    1. citra, saya bantu jawab ya? :D
      nipah itu buah nipah atau pohon nipah, ini ada penjelasannya dari google :D

      Nipah atau Nypa fruticans adalah salah satu pohon anggota famili Arecaceae (palem) yang umumnya tumbuh di di daerah rawa yang berair payau atau daerah pasang surut di dekat pantai. Pohon nipah tumbuh di lingkungan hutan bakau.

      Di Indonesia pohon nipah mempunyai berbagai nama lokal seperti daon, daonan, nipah, bhunjok, lipa, buyuk (Sunda, Jawa), buyuk (Bali), bhunyok (Madura), bobo (Menado, Ternate, Tidore), boboro (Halmahera), palean, palenei, pelene, pulene, puleanu, pulenu, puleno, pureno, parinan, parenga (Maluku).

      Nama latin tumbuhan ini adalah Nypa fruticans Wurmb yang bersinonim dengan Nipa arborescens Wurmb ex H.Wendl. dan Nipa litoralis Blanco. Sedangkan dalam bahasa Inggris nipah dikenal sebagai nipa palm atau mangrove palm. Source by google

      1. Terima kasih atas penjelasannya Kak :hehe. Wuaduh, Buyuk? Nah kemarin saya juga mengunjungi sebuah pelabuhan di Bali yang bernama sama :hehe. Jadi agaknya tempat-tempat ini dinamai Nipah karena banyak pohon ini tumbuh di sana ya :)).

      1. Oalah, pohon kolang-kaling :hihi. Kadang kita sering memanfaatkannya cuma belum kenal dengan pohon penghasilnya ya Kak :haha.

  2. salam kenal bang :D
    wahhh pemandangannya bagus2 semua. insyaallah desember sya ngetrip ke Aceh. tujuan sya sabang dan pulau weh… 3 hari sja ap itu cukup ya ntk keliling 2 pulau itu ? mohon pencerahannya :D

    1. Hai Sarah.. Salam kenal kembali. Gini, Sabang itu ada di Pulau Weh, jadi sebenarnya cuma ada satu pulau yaitu Pulau Weh. Ada pulau kecil di sebelahnya: Pulau Rubiah. Tiga hari cukuplah untuk keliling di Pulau Weh. Kabar-kabari ya.. Moga-moga masih ada di Aceh bulan Desember, kita bisa kopdar di Banda Aceh. :)

      1. Ooohhh gtu ya bang, hahahha aq baru tau. Eh tapi bang ktanya klo desember ombaknya gede ya bang? Apakah kabar burung itu benar adanya? :D . klo itu benar gak bisa nyebrang lah ya? :(
        Okeh klo aq jd trip kesana kita kopdar ya bang cmiwww :D

  3. Suka sekali dengan tekad berburu pulau-pulau terdekat. Ada keunikan dari masing-masing pulau, termasuk pulau Nasi ini. Tertawa kecil membaca judulnya, betapa penguasa jalanan itu tak peduli kalau di pulau itu tak hanya mereka yang tinggal :D

    Pantainya anteng sekali, :)

  4. Foto Citra selalu bagus-bagus ya
    Btw, Pulau Breuh dan Pulau Nasi, kayaknya duluan terbentuk Pulau Breuh baru pulau Nasi yak. Soalnya duluan ada beras baru kan ya *cocokologi :D

    1. Makasih, Kak.
      Hahahaha… Bisa jadi, Kak. Tapi kan, Kak, kalau dilihat dari peta punya Belanda, nama pulau-pulaunya itu Pulau Nancy dan Pulau Brasse. Entah nama mana yang duluan ada. :D

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s