Uji Adrenalin Ala-ala di Air Terjun Maras

Air terjun Maras berada di aliran sungai berair sejuk nan bening di kaki Gunung Maras yang pendakiannya pernah aku tulis di SINI. Bebatuan granit berbagai ukuran bertebaran di sepanjang jalur sungai yang membentuk air terjun-air terjun dengan berbagai ketinggian. Setiap air terjun menciptakan kolam dengan ukuran kecil hingga besar dengan kedalaman kurang dari tiga meter.

Air terjun Maras pernah aku kunjungi sebelum pendakian gunung Maras bersama kawan-kawan dari Couchsurfing. Aku, Ce Sen, Vero, Oja, dan Ahon mengunjungi air terjun ini pada awal Januari lalu saat hujan sedang sering turun. Kami berlima menaiki motor hingga ke Desa Rambang lalu dilanjutkan berjalan kaki hingga ke Air Terjun.

Karena sedang musim hujan, debit air sungai dan air terjun lebih besar, kucuran air mengaliri tebing batu lebih lebar dibandingkan saat bukan musim hujan. Perjalanan menuju air terjun ketika musim hujan juga lebih becek. Jalan setapak berpasir putih dialiri air dan menggenang di banyak tempat. Pasir-pasir menyelip di antara jari-jari dan menyusup ke bawah telapak kaki.

Ratusan nyamuk terbang berkerumun mengitari kaki kami selama perjalanan. Begitu tiba di air terjun, serbuan nyamuk semakin banyak. Warna hitam dari kerumunan nyamuk semakin pekat mengerubungi kepala atau apapun yang berwarna hitam pada badan. Aku mengoleskan losion anti nyamuk untuk menghindari keberingasan nyamuk yang tanpa takut itu. Lalu menyeburkan diri ke dalam cerug air terjun.

Air sejuk nan segar segera membasuh keringat dan bekas-bekas darah dan bangkai nyamuk yang menempel di kulit. Kolam air terjun terisi penuh oleh air sehingga kedalamannya bertambah dibandingkan jika musim kemarau. Dua anak remaja dari kampung terdekat ikut menceburkan diri dengan melompat dari atas tebing setinggi tujuh meter. Karena ada kawan, aku tergiur untuk ikut meloncat.

Setelah memasang kamera tahan air pada pengikat kepala dan memasangnya erat-erat, aku mengambil ancang-ancang di atas tebing. Butuh waktu lama untuk mengumpulkan semua keberanian untuk melompat. Jantung berdebar kencang hingga rasanya terdengar keras di telinga. Ternyata ketakutan pada ketinggian memang susah dihilangkan ya? Padahal keberanian untuk melompat hanya membutuhkan waktu satu detik tanpa berpikir sama sekali yang berbarengan dengan tolakan pada pijakan kaki ke depan. Lalu…byur! Kemudian baru sadar kamera belum dinyalakan. Haha!

Karena gagal merekam percobaan terjun pertama. Aku mencoba untuk kedua kalinya. Sama halnya saat pertama kali melompat tadi, butuh waktu lamaaa sekali untuk berani melompat. Sampai dua orang anak-anak tadi mengantre di belakang. Hingga satu detik penuh perjuangan itu tiba, aku melayang di udara dan terjun bebas ke dalam kolam dingin.

Kolam air terjun Maras ini tidak begitu besar. Ukurannya hanya sekitar 2×4 meter. Untuk melompat dari tebing, kita harus benar-benar mengatur kekuatan tolakan kaki ketika melompat agar jatuhnya pas di tengah ceruk yang dalam sehingga tak membentur tebing di kiri, kanan, atau jatuh di tempat yang dangkal. Posisi kaki ketika jatuh juga harus ditekuk supaya tak membentur dasar kolam. Seperti yang aku alami pada lompatan pertama, telapak kaki membentur tonjolan batu di dasar kolam yang menyebabkan kulit telapak kakiku mengelupas dan berdarah.

Euforia lompatan kedua segera sirna ketika kepalaku muncul dipermukaan dan menyadari headstrap beserta kamera di kepala sudah tidak ada lagi. Panik? Pastilah! Kawan-kawan segera terjun ke kolam mencari. Aku dan Ahon menyelam hingga ke dasar tapi karena dasar kolam yang gelap, kami tidak bisa melihat apa-apa. Apalagi Ahon yang bermata minus, semua terlihat kabur. Setelah beberapa menit mencari tanpa hasil, aku mulai pasrah jika kamera cicilan yang baru lunas empat bulan itu harus hilang.

Aku termangu di dalam air. Rasa dingin sudah tak berasa lagi. Pasrah, ikhlas. Menunggu air sungai surut sama saja dengan menanti musim kemarau datang. Apalagi kamera masih terpasang di headstrap, tali pengikat kamera yang dipasang menempel di kepala, kemungkinan besar strapnya tersangkut pada batu atau terjebak di dalam lubang. Meski badan sudah mulai kehilangan semangat, aku masih terus berusaha menyelam walau pun yang terlihat di bawah sana hanya warna hijau dan hitam yang buram. Ketika aku muncul ke permukaan untuk ke sekian kalinya, aku dikagetkan dengan penemuan kameraku oleh Ahon, “nih kamera lu!”, seru Ahon di bawah tebing batu di pinggir kolam. Fiuhh… alhamdulillaaaaaah…

Suasana di Air Terjun Maras kembali ceria lagi. Kembali hangat setelah menyeduh kopi arabika Leuser Coffee dari tanah Gayo. Ngopi sambil ketawa-ketawa, lalu berenang-renang lagi sampai kulit di ujung jari kisut-kisut. Sampai kulit sudah mati rasa sama gigitan nyamuk. Sampai akhirnya kita sadar harus pulang dan meninggalkan hutan lebat yang menyuplai oksigen untuk lebih satu juta jiwa di tanah yang kaya akan timah ini. Ah, menghabiskan waktu bersama kawan-kawan yang punya kesenangan dan ketertarikan yang sama itu memang menyenangkan sekali. Orang-orang ini lah yang bikin hari-hari ku di Bangka begitu amat berharga.

Gambar demi gambar kenangan akan pulau indah ini terus berkelebat di ingatan. Entah untuk ke berapa kalinya kepalaku tertunduk dan pijakan pada bumi serasa hilang. Aku seperti melayang dan terombang-ambing dalam lautan kenangan akan Bangka. Akan kebersamaan dengan kawan-kawan sepermainan, orang-orang penuh inspirasi yang pernah bertukar sapa dan cerita, juga keindahan alamnya yang amat ringkih.

19 thoughts on “Uji Adrenalin Ala-ala di Air Terjun Maras

  1. Video yg kedua itu dipotong ya pas kamera nyemplung ke air dan menunggu untuk ditemukan? :D
    Memang harus nonton videonya ini supaya tahu seperti apa penampakan air terjun Maras dan bagaimana uji adrenalinnya, hehehe. Nggak nyangka juga air terjunnya sudah dipasangi pipa besi.

    Di Pulau Bangka apa ada air terjun lain yg nggak perlu naik naik ke gunung? :D

  2. Kalau yang terjun itu saya, mungkin sudah hancur berkeping-keping *tutup muka* :haha. Tegangnya berasa sampai ke sini :)).

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s