Bersantai di Pantai Penyabong

Sesudah menyantap Indomie goreng di pagi yang sedikit berawan di pantai Tanjung Kelayang, kami berkemas dan melanjutkan perjalanan ke Batu Beginde dan Pantai Penyabong. Sebelum keluar dari areal cottage, kami disapa oleh pemilik Kelayang Beach Cottage & Resto, Pak Andi. Setelah mengobrol sebentar, kami berpamitan dan melajukan motor ke arah barat daya Pulau Belitong.

Perjalanan selama sejam lebih itu tentu menyenangkan bagi yang pertama kali bepergian ke Belitong. Aku senang melihat rumah-rumah papan yang sudah sangat berumur sehingga warnanya sudah menjadi abu-abu, tanpa cat. Papan-papan tua yang terlihat amat tipis itu diatur agak jarang. Mungkin sebagai ventilasi udara supaya tidak kepanasan berada di dalam pada siang hari yang terik. Atap genteng di atasnya terlihat amat berat. Beberapa rumah berukuran kecil begitu reot hingga condong ke kiri atau ke kanan hampir menyentuh parabola dengan empat tabung receiver di sampingnya. Ibu-ibu bersantai di balai-balai di bawah pohon mengawasi anak-anak berkejar-kejaran di pekarangan rumah tak berpagar. Anak-anak berseragam merah putih baru saja pulang sekolah.

Daratan di Pulau Belitong tidak jauh berbeda dengan Pulau Bangka. Banyak sekali lahan-lahan yang sudah rusak karena bekas penambangan timah sehingga bolong di mana-mana, dibiarkan menghutan. Hasil kerukannya menjadi ratusan danau kecil dengan warna air hijau tosca dan biru. Sungai-sungai kecil di pinggir jalan dijadikan sebagai tempat pemandian umum. Jangan heran jika tiba-tiba melihat emak-emak atau gadis-gadis sedang mandi dengan berbalut kain sarung yang terlihat dari pintu pemandian di pinggir jalan raya.

Perjalanan mencapai pantai-pantai indah di selatan Belitong cukup mudah. Banyak penginapan di Tanjungpandan yang menyewakan motor dan mobil. Harga sewa untuk mobil mulai dari Rp.350.000 dan motor mulai dari Rp.70.000 perhari. SPBU hanya tersedia di beberapa tempat saja seperti di kota Tanjungpandan dan Manggar. Ada beberapa SPBU lagi sih di beberapa tempat tapi sepertinya lebih sering tutup. SPBU di Belitung umumnya hanya buka sampai jam lima sore. Berbeda dengan di Bangka, SPBU di sana buka hingga jam 7 malam. Kalau butuh bensin malam-malam, bisa beli eceran di warung-warung pinggir jalan seharga Rp.8.000 per liter.

Jalan menuju ke pantai-pantai yang umum dikunjungi wisatawan sudah beraspal bagus. Hanya saja papan petunjuk tidak mencapai hingga ke pelosok. Bagi para traveler tentu ini bukan masalah gawat. Toh bisa bertanya ke warga kampung setiap kali bingung harus mengambil jalan yang mana ketika bertemu persimpangan. Seperti yang terjadi pada kami ketika mencari jalan masuk ke Batu Beginde. Ada banyak sekali persimpangan yang harus ditanyai ke mana saja arahnya. Bukannya kami takut tersesat, tapi kami harus mengejar waktu agar tak buru-buru ke destinasi lain dan supaya tak terlalu malam di jalan ketika pulang nanti.

Batu Beginde yang dipercayai sebagai awal mula Pulau Belitong

Sebuah batu granit raksasa tampak dari radius satu kilometer di jalan aspal yang terlihat masih baru. Inilah Batu Beginde itu, ucapku dalam hati. Batu granit itu menjulang setinggi 250 mdpl menyeruak dari balik hutan lebat. Tapi kami kebingungan mencari jalan masuk ke sana. Setelah bolak-balik tanya sana-sini, akhirnya kami menemukan jalan setapaknya. Padahal ada papan petunjuk kecil yang dibuat mahasiswa KKN. Tapi letaknya terlalu ke dalam dan ukurannya kecil sekali, tersamarkan dengan semak-semak.

Batu Beginde diceritakan dalam sebuah legenda sebagai asal mula Pulau Belitong. Legenda ini bercerita tentang potongan Pulau Bali yang hanyut hingga ke Sumatra. Seorang putri yang diasingkan ikut terbawa di atasnya. Nama Belitong sendiri diyakini berasal dari Bali Terpotong yang kemudian berubah menjadi Belitong. Meski tak berhubungan tapi ada satu desa di Belitong yang dihuni masyarakat Bali sejak tahun 1991. Letaknya tak jauh dari Pantai Tanjung Tinggi yang bernama Dusun Balitung.

Sesuai informasi dari seorang bapak yang sedang mengambil air sungai di pinggir jalan, motor bisa masuk hingga ke atas dekat Batu Beginde. Tapi ternyata jalan setapaknya amat curam. Tak mungkin sepeda motor matic kami bisa mendaki setinggi itu. Belum juga mendaki, Oja yang dibonceng Vero terguling ke bawah. Bau hangus ban tercium karena sepeda motor yang dipaksa naik di medan yang sulit. Akhirnya kami memarkir motor di tengah lereng, meninggalkan ransel dan tenda, lalu berjalan kaki ke atas.

Insiden Oja terjatuh dari motor dan berguling di bawah Batu Beginde

Batang kayu dan tali-temali diikat seadanya untuk membantu kami memanjat Batu Beginde. Ransel harian dan kamera yang kuselempangkan di bahu kulempar ke belakang punggung supaya tak terbentur batu dan lututku. Sialnya, rangka pengikat tali sendal gunungku menusuk kulit ketika kaki ditekuk untuk memanjat. Tapi excitement-ku terlalu tinggi sehingga perihnya masih bisa kuabaikan. Baru luka-luka lecet itu menyiksaku ketika berenang di pantai Penyabong.

“Wohoooooo….kerrreeeeeen,” teriakku ketika tiba di atas puncak batu ‘bini’. Pemandangan indah terhampar menakjubkan di bawah: laut biru, hutan hijau di perbukitan yang jarang-jarang, dan sebuah batu ‘laki’ yang lebih tinggi lagi berjarak 200 meter dari batu yang kami naiki. Ya, ada dua batu raksasa di sini. Yang bisa dinaiki disebut ‘batu bini’ berukuran lebih rendah dari ‘batu laki’ yang tak bisa dinaiki. Angin kencang seperti menarik-narik badanku ke belakang. Berdiri terlalu ke pinggir batu bukanlah ide yang bagus meski rimbun dedaunan di bawah terlihat seperti bantal empuk. Satu-satunya pemandangan yang kurang menarik dari atas adalah formasi pohon-pohon kelapan sawit.

Panorama dari atas Batu Beginde ‘Bini’

Perut yang keroncongan pun menyadarkan kami untuk segera turun dan meninggalkan dua pria bersepatu boot di tebing batu. Sepertinya mereka pekerja di kebun kelapa sawit di bawah. Mereka sedang menatap jauh ke kebun-kebun kelapa sawit ketika kami melewati mereka dari belakang. Luka-luka di kaki bertambah ketika menurunkan motor ke jalan setapak yang datar. Tulang keringku tersabet akar dan ranting-ranting semak untuk menjaga keseimbangan. Tapi ada yang lebih menyebalkan dari menahan perih luka-luka itu: gatal-gatal kena miang rumput dan digigit agas. Ugh!

Kami memacu motor kembali ke Pantai Penyabong. Tadi kami sempat singgah untuk bertanya arah jalan ke Batu Beginde. Jalan beraspal mulus diselingi dengan jalan tanah merah yang berdebu. Dedaunan di pinggir jalan berubah warna ditutupi debu abu-abu kemerahan. Begitu pula sebuah rumah papan yang berdiri pas di persimpangan antara jalan aspal dan jalan bertanah merah, dinding dan atapnya sudah tertutup debu. Hujan pasti tak turun beberapa hari terakhir ini.

Angin kencang menyambut kedatangan kami yang kedua kalinya. Laut berombak saling kejar mencapai pasir putih dan menghempaskan rumput laut yang tercerabut dari dasar laut. Aku berbelok ke kanan dan parkir di depan deretan warung makan. Kami menghempaskan pantat di bangku dari papan panjang dan memesan kelapa muda, pampi goreng, dan kwetiaw goreng. Dahaga seperti tak terpuaskan meski perut sudah mengembung karena kekenyangan. Aku menarik nafas, lemas, menatap ke daun-daun pandan berduri yang berkeletak ditiup angin.

Aku mengaduh kesakitan ketika kaki menginjak beberapa benda runcing di dasar laut. Bala apa lagi ini? Sebuah cangkang berduri-duri menancap dalam menembus kulit telapak kaki. Cairan merah perlahan keluar ketika patahan-patahannya berhasil kucabut. Aku mengajak Vero dan Oja untuk berenang di pantai sebelah lagi saja. Meski berombak, tapi lebih aman dari keong berduri di dasarnya. Toh, kita tidak akan berenang hingga ke laut lepas jika takut hanyut terbawa arus.

Meski hari minggu, tapi Pantai Penyabong lumayan sepi. Hanya ada beberapa mobil yang membawa tamu. Mungkin karena letaknya yang lumayan jauh dari kota Tanjungpandan, lokasinya yang terpencil, atau informasi yang kurang makanya tak banyak yang mau datang ke sini. Tapi keindahan pantai pasir putih dan bebatuan granitnya tak kalah dengan pantai yang lain. Kebersihan pantainya pun cukup terjaga. Tempat bilas dan toilet baru saja dibangun di dekat sebuah mushalla yang terbuat dari papan. Sambil berjalan-jalan menikmati pantai di bawah rindang pepohonan, kamu bisa belajar nama-namanya dari papan yang bertuliskan nama latin pohon tersebut. Sebagai salah satu bentuk apresiasi dari hasil KKN mahasiswa UGM di pantai ini, sudah sepantasnya kita memanfaatkan dan menjaga fasilitas yang sudah disediakan.

Pantai Penyabong yang masih sepi ini cocok sekali untuk bersantai-santai. Pasang hammock di bawah pohon, tiduran sambil membaca buku sampai angin pantai membantumu menutup buku lalu tertidur. Ahhh…heaven!

Foto kredit pada Veronica

7 thoughts on “Bersantai di Pantai Penyabong

  1. Diriku gak tau kalo ada foto diriku terguling Cit.sempet2nya yach kamu ngambil foto ntu >:(
    Hahahahaha ditunggu tulisan berikutnya

  2. […] Pampi adalah sejenis mie yang mirip dengan kwetiau tapi bentuknya lebih tebal dan lebar. Cara penyajiannya pun sama saja. Bisa digoreng atau rebus, ditambah seafood atau telur saja, terserah kamu. Kami pernah mencoba pampi di Tanjung Pandan tapi rasanya tak seenak pampi yang disajikan di salah satu warung di Pantai Penyabung. Tersedia kepiting rajungan rebus dan ikan bakar jika ingin menikmati aneka ragam seafood lainnya di pantai ini. Tentang Pantai Penyabong bisa kamu baca di sini. […]

  3. Ternyata batu besar itu punya nama dan bisa didaki.
    Saya dan teman2 juga ke Pantai ini pas penerbangan pagi kami ditunda, dan ternyata menarik juga pantainya yang masih sepi ini apalagi dengan batu besar yang menjorok ke laut itu.

    Salam

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s