Berhari Raya di Bangka

“Ku dak mudik, ok” jawabku setiap kali ditanya kawan-kawan kantor beberapa hari sebelum hari raya. Kalimat ini berarti ‘aku tidak mudik’ dalam bahasa Bangka. Tahun ini menjadi kali pertama aku tidak merayakan hari raya bersama keluarga di Aceh. Sedikit merasa sedih tapi berhari raya di luar daerah bukanlah hal yang begitu menyedihkan seperti yang diungkapkan orang-orang yang mendengar ketika aku tidak mudik. Justru berhari-raya di rantau bisa amat menyenangkan.

Perayaan Hari Raya Idul Fitri di Aceh dan Bangka sebenarnya tak jauh berbeda. Hampir-hampir mirip namun ada beberapa perbedaan kebiasaan yang menjadi ciri khas di kedua daerah ini. Karena ku dak mudik, ku neg cerite bai (aku akan menceritakan) tentang pengalamanku berhari raya di Pangkalpinang, Bangka Belitong.

Hari 1
Shalat Ied

Jika di Aceh, shalat Ied biasanya dilaksanakan di mesjid-mesjid berukuran besar dan di lapangan. Tapi kalau di Pangkalpinang, selain di lapangan, juga dilakukan di mesjid-mesjid berukuran kecil yang kalau di Aceh disebut meunasah (mushala). Bahkan shalat jumat pun diadakan di mesjid-mesjid kecil ini. Dan memang jumlah mesjid-mesjid berukuran besar di Pangkalpinang amat sedikit, malah bisa dihitung pakai jari. Mungkin inilah sebabnya shalat dengan jamaah paling banyak seperti Jumat dan Ied diadakan di hampir semua mesjid. Lalu aku mengambil kesimpulan sotoy bahwa tidak ada mushala di Pangkalpinang. Semuanya mesjid. Hehe…

Namu

Hari raya pertama, aku namu ke rumah bapak kos lalu dilanjutkan namu ke rumah kawan-kawan. Setelah salam-salaman meminta maaf, Ibu kos langsung mengajak makan ketupat. Namanya juga orang Aceh, mendengar ketupat, yang kepikiran adalah nasi ketan yang dibungkus dalam anyaman kelapa dan digoreng yang dimakan dengan tapai ketan, srikaya, atau durian. Tapi ketupat yang dimaksud ibu ternyata adalah lontong! Tak perlu diulang dua kali, aku langsung bergerak cepat memotong ketupat, eh lontong, dan menuang kuah soto bening ke dalam mangkuk.

Tradisi namu tidak hanya dilakukan oleh umat muslim saja. Mereka yang beragama Konghucu, Budha, dan Kristen juga namu. Begitu yang kulihat ketika aku ikut namu bersama keluarga Bapak kos ke rumah saudara-saduaranya dan ketika bersama kawan-kawan couchsurfing.

Dari bertamu ini pula aku mengetahui kalau nikah silang di antara kedua suku yaitu melayu dan cina di Bangka adalah hal yang lumrah. Jangan heran jika melihat banyak cicih-cicih berjilbab atau koko-koko menggandeng perempuan berwajah melayu ketika bertamu di rumah-rumah.

Ada satu kebiasaan namu yang harus diperhatikan oleh orang luar daerah ketika tuan rumah menawarkan makanan. Setiap makanan yang ditawarkan harus dimakan, kalau tidak sanggup makan atau tidak suka, minimal makanannya harus dicolek dengan jari. Karenanya lah mau tak mau, aku harus makan di setiap rumah yang dikunjungi. Hal ini mereka sebut dengan ‘Kepun’. Sebuah kearifan lokal di Bangka yang masih terus dipertahankan sampai sekarang. Yaitu menolak kesialan dalam perjalanan setelah ditawarkan makan oleh seseorang. Apalagi kalau dia mengendarai kendaraan, konsentrasi bisa terganggu oleh makanan lezat yang ditolaknya. Begitulah kira-kira artinya. :D

Bakcang. Penganan khas Bangka. Ketan dengan isi udang dan dibungkus dengan daun kelapa.

Masakan Bangka pun enak-enak! Jadi kapan lagi dapat menyipinya makanan khas kalau bukan hari raya? Dan mungkin kalian setuju kalau makanan terasa lebih enak berkali lipat hanya di hari raya. Karena aku yakin, si tuan rumah memasak makanan dengan mengerahkan kemampuan memasaknya dengan segenap jiwa dan raga. Haha….

THR!

Hari raya Idul Fitri juga berarti hari menerima THR bagi anak-anak. Saudara atau bukan saudara, setiap anak akan menerima uang THR dari tuan rumah yang dikunjunginya. Enak sekali ya? Kalau di kampungku, hanya saudara dan anak-anak dengan kondisi keluarga tertentu saja yang menerima THR atau yang kami sebut ‘salam tempel’. Kalau aku perhatikan, nominalnya pun lumayan bagi anak-anak yang kebanyakan masih duduk di bangku sekolah dasar itu.

Hari 2
Piknik

Hari kedua hari raya, jadwal namu semakin jauh. Aku dengan beberapa kawan bersepedamotor ke Lubuk Besar di Kabupaten Bangka Tengah. Jaraknya kurang lebih 94 km dari Pangkalpinang. Keluarga Bang Edi adalah tujuan namu kami di hari kedua ini. Bang Edi adalah ketua suku Couchsurfing Bangka Belitung.

Seperti di hari-hari sebelumnya, selalu ada acara makan-makan di setiap rumah. Begitu pula di rumah Bang Edi, kami dijamu dengan lontong kuah soto dan tekwan dengan berbagai penganan khas daerah yang enak-enak.

Beberapa makanan dari rumah Bang Edi kami bawa ke pantai Tanjung Berikat. Setengah jam bermotor dari rumah menempuh jalan aspal yang mengelupas dan berbentuk ‘kawah-kawah’ sedalam lebih dari 10 sentimeter. Warna hitam aspal sudah dibalut warna merah oleh tanah dari lubang-lubang yang menggucang isi perut ketika tak bisa lagi dielakkan ban sepeda motor ketika dilewati.

Destinasi utama untuk piknik di daerah kepulauan ini tentu saja pantai. Bangka punya banyak sekali pantai pasir putih yang memesona. Karena masih di hari kedua, pantai masih sepi, hanya anak-anak ABG yang datang bergerombol. Namun pantai-pantai indah ini akan penuh ketika hari minggu pertama setelah hari raya. Bocah-bocah dengan sempak kedodoran akan berlari kesana-kemari dengan riang gembira.

Ketika dalam perjalanan pulang kembali ke Pangkalpinang, aku teringat ketika hari pertama sebelum puasa, mamak menelpon dan bilang kalau dia sedih mengingat anaknya jauh dari kampung, tidak bisa menikmati daging meugang di rumah. Memang terasa amat berbeda meugang kali ini tanpa makan gule dan rendang bikinan mamak. Tapi memberitahukannya bahwa anaknya saat ini memiliki waktu yang menyenangkan bersama ‘keluarga baru’, perasaanku jadi lebih tenang, ruang kangen menjadi lebih lapang.

Bagaimana cerita hari rayamu di kampung halaman baru?

_ _

Ayo baca juga pengalaman berhari raya kawan-kawan Travel Blogger Indonesia:

  1. Indri Juwono ‘Cirebon: Mudik dan Perut yang Manja
  2. Olive ‘Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong
  3. Danan Wahyu ‘Mudik, Rindu Rumah
  4. Bobby ‘Tradisi Mudik di Keluarga Batak
  5. Fahmi Anhar ‘Tradisi Lebaran Di Kampung Halaman
  6. Farchan ‘Kepulangan yang Agung
  7. Vika ‘Sepatu Kakek
  8. Yofangga ‘Ibu, Aku Pulang
  9. Parahita ‘Mudik atau Tidak, adalah Pilihan
  10. Rembulan ‘Yogyakarta, Pulangnya saya..
  11. Bolang ‘Sebuah Cerita tentang Pulang
  12. Nugie ‘Selalu Ada Jalan Untuk Pulang
  13. Badai ‘Lebaran Terakhir Bersama Nenek
  14. Eka ‘Pulang adalah Kamu
  15. Rijal Fahmi ‘Petasan Party di Hari yang Fitri
  16. Titiw ‘Kamu Orang Jakarta Atau Makasar?

16 thoughts on “Berhari Raya di Bangka

  1. Tidak semua masjid ukurannya besar tuh Cit. Di kampungku juga masjidnya gak besar. Memang seukuran meunasah Aceh kebanyakan masjidnya. Kalau dibandingin sama masjid di Aceh yang ukurannya besar2 ya pasti kalah daerah lain. Masjid berukuran besar di luar Aceh biasanya yang di ibu kota kecamatan / kabupaten / provinsi. Sedang di Aceh, di gampong2 aja masjidnya besar dan selalu penuh.

  2. Oohhh! Ketupat di Aceh bunyinya sama seperti ketupat di Terengganu, satu2nya negeri di mana ketupatnya digoreng. Tapi kami makan dengan rendang atau serunding, bukan tapai, srikaya ataupun durian. Itu belum pernah saya jumpa lagi tapi seperti menarik juga tu, haha!

    Budaya duit raya pula sama seperti di Bangka. Semua anak yang datang bertamu akan dapat duit raya, tidak kira samada saudara atau tidak. Jumlahnya sekurang2nya RM1 seorang tapi sekarang RM2 sudah jadi kebiasaan untuk anak2 bukan saudara. Jumlahnya lebih lagi jika anak2 saudara dan juga kenalan rapat.

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s