Hiking ke Bukit Fathin di Sungailiat

Apa yang kamu pikirkan jika ada yang menyebut nama Bukit Fathin? Jika ini pertama kali kamu mendengarnya, pasti akan segera menimbulkan pertanyaan ‘bukit apa itu?’. Begitulah reaksi pertamaku. Tanpa bertanya, mungkin kamu akan memikirkan sebuah bukit lalu mengaitkannya dengan penyanyi cantik jebolan X Factor, Fathin Shidqia Lubis. Kemudian lagu Aku Memilih Setia akan terngiang di kepala. Bukan. Bukit ini tak ada hubungannya dengan penyanyi tersebut. Bukit Fathin sejatinya adalah sebuah kelenteng yang berdiri di lereng Bukit Betung, Sungailiat, Bangka Belitong.

Aku beserta tiga orang kawan Couchsurfing Bangka Belitong mengendarai sepeda motor dari Pangkalpinang. Ria, Asen, dan Ce Vero. Sedangkan Ferry dan Ahung sudah menanti di Sungailiat. Untuk mencapai Bukit Fathin, kami menghabiskan waktu kurang dari satu jam bersepeda motor dari kota asal. Tak ada papan petunjuk arah jalan untuk menuju bukit ini. Jika kamu pelancong, tentu harus bertanya-tanya kepada orang di jalan untuk bisa tiba di kelenteng. Satu-satunya tanda yang mudah dikenali adalah pertigaan yang ada patung polwan yang membelakangi halte bis. Berbeloklah ke kiri dari belakang halte. Selanjutnya kamu akan menemukan gapura bertuliskan Fathin San yang berarti kamu sudah hampir tiba di lokasi.

Setiap pengunjung yang masuk, bahkan yang ingin sembahyang di kelenteng, diwajibkan membayar karcis sebesar Rp.5.000 perorang. Perjalanan selanjutnya adalah menaiki tanjakan dengan kecuraman hingga 45 derajat dan jalan yang zig-zag hingga ke parkiran. Atau kamu bisa memarkirkan motor di dekat loket karcis dan berjalan kaki mendaki ke atas.

Fat Hit San mulai dibangun pada 2006 oleh Lie Kuan Tan. Makamnya berdiri megah berbentuk miniatur Candi Borobudur dan menghadap ke timur. Setiap orang yang datang bersembahyang ke sini juga akan berdoa untuknya. Makam ini sendiri adalah salah satu dari belasan altar untuk berdoa oleh penganut agama Budha seperti kawan-kawanku. Asen, Ce Vero, dan Ahung. Setiap altar memiliki ketentuan tersendiri seperti berapa jumlah dupa yang harus dibakar setiap kali memanjatkan doa. Altar pertama berada di dalam gua buatan. Atap yang dibuat dari semen dan diwarnai senada dengan batu granit. Bagian dalamnya, terdapat beberapa ornamen seperti patung naga, kolam yang dasarnya penuh uang koin, dan beberapa perabotan serta perlengkapan sembahyang. Lampion-lampion cantik digantung di dinding untuk membuat suasana gelap gua tak begitu menyeramkan. Kabarnya, harapan akan dikabulkan dengan melempar koin ke dalam kolam. Yah, hampir sama lah seperti ritual melempar koin Fontana, di Roma sana.

Ketiga kawanku melanjutkan ritual sembahyang ke altar yang berada di atas gua. Kami memanjat anak tangga lagi yang berkelok-kelok. Aku yang tidak suka berjalan lambat-lambat, melompati dua anak tangga sekali langkah supaya cepat tiba di altar. Dua perempuan sedang khusyuk berdoa di depan sebuah patung Budha. Menggoyang-goyangkan dupa dalam genggaman lalu menancapkannya di dalam mangkuk berisi abu. Aroma lavender menguar dari dupa yang dibakar. Menyebar hingga ke sepenjuru arah.

Aku mengibas-ngibaskan kaosku supaya keringat cepat kering.Meski banyak pepohonan, tapi udara sejuknya tak mengurangi rasa gerah akibat keringat yang mengucur. Tapi aku tak peduli, setelah berkunjung ke makam Lie Kuan Tan, aku bergegas ke sisi timur bukit. Tangga-tangganya naik turun mengikuti kontur bukit. Tangga ke arah timur ini mulai tergerus rusak. Paving blocknya banyak yang hilang dan nyungsep ke dalam tanah karena terlalu sering diinjak orang dan terkena gerusan air yang turun dari atas bukit. Susunan anak tangga berakhir di tepi batu granit paling besar yang pernah aku lihat. Luar biasa besar. Seolah bukit ini memang terbuat dari batuan granit ini saja, terpanggang hitam dan bercoret-coret tulisan anak alay dan sampah yang bertebaran dimana-mana. Sayang sekali, tempat wisata yang juga sebagai tempat beribadah ini dikotori oleh sampah-sampah pengunjung. Meski pengunjung sudah bayar, bukan berarti bisa membuang sampah di mana saja, kan?

Sementara aku menikmati pemandangan hijau dan samudra yang tertutup kabut, kawan-kawan sudah tiba di altar terakhir. Altar ini berada di tempat yang strategis untuk berfoto-foto karena berhadapan langsung dengan kota Sungailiat. Pesembahyang yang capek mendaki dapat beristirahat beberapa lama sambil menikmati pemandangan hijau yang terhampar di depan. Aku bergabung dengan mereka setelah ngos-ngosan karena berlari dari ujung timur bukit. Tempat ini menurutku cocok sekali untuk latihan vertical running. Susunan tangganya lumayan aman untuk berlari, karena selain kondisi tangga yang masih baik, kecuali tangga ang ke arah timur tadi, tempat ini juga lumayan sepi. Tentu untuk hal ini harus minta ijin dulu ke pengurus kelenteng di bawah.

Selain penganut Budha, penganut Konghucu dan Tao juga bisa bersembahyang di sini. Hanya saja harus menguras energi lebih banyak lagi untuk hiking sedikit lagi ke dekat puncak bukit. Di atas sana juga berdiri sebuah kepala naga yang di dalamnya bersemayam Yu Huang Da Di atau dikenal juga sebagai Raja Langit. Uniknya lagi, di depan mulut naga, berdiri Dewa Wisnu yang menatap jauh ke laut. Aku heran kenapa bisa ada dewa Hindu berada di bukit Fathin. Apakah Wisnu punya hubungan dengan Budha? Setelah googling, aku baru tahu bahwa ternyata Dewa Wisnu dalam kisah jaman dulu menjelma sebagai awatara (avatar) ke dalam bentuk Budha. Pada paragraf ini kalau ada yang salah mohon dikoreksi ya. Aku mendapatkan referensinya dari wikipedia dan beberapa kawan yang beragama Budha. :D

Bukit Fathin biasanya ramai dikunjungi pada hari libur. Ketika kami tiba di sana hari minggu, selain pesembahyang, ada banyak penduduk lokal lain yang datang untuk jalan-jalan dengan pacar atau bergerombol dengan kawan-kawannya. Biasanya mereka hanya duduk-duduk saja di jembatan atau tidur-tiduran di atas bebatuan granit di sebelah timur bukit. Wisata Alam Religi Mahayana Bukit Betung ini dikelola cukup bagus. Lebih elok lagi jika pengelolanya bisa lebih tegas kepada pengunjung yang membawa makanan dan minuman dalam bungkusan dan menambah tempat-tempat sampah di beberapa lokasi.

28 thoughts on “Hiking ke Bukit Fathin di Sungailiat

  1. Wah asik kali ne, tempat baru, hidup baru, pengalaman yang bru dan tulisan yang lebih baru…
    Di saat bang Citra pindah ke Provinsi lain, eh saya malah bru mau menetap di Banda Aceh…hahaha…gak pernah jumapa sama teman Blogger yang satu ini.

  2. wah, pemandangan atasnya indah banget kak Cit!
    aku berencana ke Bangka berulang kali tapi belum sempat, padahal sering ditawari temennya mama.
    nanti kl jadi main ke sini, ah!

  3. Hai… aku lg nyari tempat wisata religi buat refrensi teman. dan kebetulan aku pernah ke bukit Fathin (walau cuma sekali, dan itupun kelilingnya gk lengkap).
    Tp tempat ini sangat berkesan buatku.

    Penggambaran kamu bagus, apalagi foto2nya jelas dan menarik minat pembaca yg penasaran seperti apa tempat ini.
    cuma, kalau ini dibaca org luar babel kesannya agak kurang jelas. buat yg kebetulan org sungailiat/pangkal pinang mungkin gk masalah karna wilayah sendiri.
    tp kalau org luar wilayah agak membingungkan buat nyari lokasinya (pengalaman).
    Jadi kalau bisa agak spesifik hehehhe…

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s