Menikmati Sejuknya Air Terjun Sadap di Bangka Tengah

Ajakan ke Air Terjun Sadap dilontarkan Ce Vero dua minggu lalu dan terealisasi di hari kedelapan puasa. Jarak yang kami tempuh dari Pangkalpinang menuju Koba di Kabupaten Bangka Tengah adalah 61 km selama satu jam perjalanan menaiki motor. Aku, Ce Vero, Oja, dan Ce Sen berangkat dari Koba ke Air Terjun di Desa Perlang menempuh jarak 30 km selama setengah jam.

Perjalanan ke Koba sendiri lumayan mengasyikkan. Aku paling senang melihat semak ilalang dan bunga-bunga liar dibiarkan tumbuh tinggi di sepanjang kiri kanan jalan, seperti pengalih perhatian pada kebun sawit di belakangnya. Sisi kiri jalan, Laut Natuna terlihat tenang. Dua ratus meter dari pantai, lautnya kecoklatan dan disambung dengan warna hijau tosca. Nun jauh di selatan, hujan sudah turun lebat membasahi kota Koba.

Setiap kali melewati pemukiman penduduk, aku perhatikan rumah-rumahnya beratapkan genteng semua dan bentuk bangunan rumah yang hampir sama. Jauh di pelosok Koba, rumah-rumah bernuansa melayu tempo dulu masih terus dihuni meski dinding papannya sudah terlihat mulai keropos.

Semakin dekat ke lokasi air terjun, rumah-rumahnya berbeda lagi. Kebanyakan rumah di Desa Perlang adalah petani lada dengan bentuk rumah yang sangat khas. Tiba-tiba aku merasa asing sekali. Seperti tiba-tiba berada di masa lalu dalam foto-foto lama. Rumah-rumah yan kulihat terbuat dari tiang-tiang kayu, beratapkan daun dan berdinding lapisan kayu pohon yang dikupas tipis-tipis. Bagian dalam rumahnya terdiri dari dua ruangan, berlantai tanah keras dan dipan kayu untuk tidur, makan, dan meletakkan barang.

Air terjun Sadap dimanfaatkan juga sebagai sumber energi listrik dan sumber air bersih bagi warga Desa Perlang. Warga di desa mendapatkan listrik dari turbin yang dibangun di sini. Lereng-lereng bukitnya sulah di beberapa penjuru mata angin. Pohon-pohon berganti dengan ladang lada dan memperlihatkan batu-batu raksasa berwarna hitam. Tanaman lada ini merambat di pancang-pancang kayu setinggi dua meter dan tersusun rapi mengikuti lekuk lereng bukit. Suara pemecah batu berdentum-dentum dari proyek pembuatan vila di samping air terjun. Komersialisasi objek wisata akan segera dimulai.

Air terjun Sadap memiliki kecuraman 30-45% dan airnya jatuh di sebuah kolam dangkal seukuran lutut dewasa jika musim kemarau. Sebuah akar pohon menggelantung persis di lereng batu air terjun dan menjadi tempat bermain tarzan-tarzanan bagi para anak-anak bahkan orang dewasa. Air sungai sangat bening dan sejuk. Tempat yang cocok untuk piknik bersama keluarga dan teman-teman. Apalagi di bulan puasa begini. Haha…

Di puncak air terjun sudah dibangun bak penampung air yang mengalirkan air melalui pipa ke rumah-rumah. Semakin ke atas, batu-batu sebesar rumah makin banyak. Aku jadi bertanya-tanya dari mana asal semua batu ini. Dilihat dari bentuk dan letaknya, sangat berbeda dengan batuan beku yang aku temukan di Aceh. Mungkinkah dari letusan gunung berapi purbakala? Menjawab rasa penasaranku, aku googling dan menemukan jawabannya.

Batu-batu granit raksasa yang tersebar di Pulau Bangka dan Pulau Belitung ini memang berasal dari batuan beku. Batuan inilah yang menjadi batuan dasar Indonesia bagian barat yang disebut sebagai batolit. Batuan ini sudah terbentuk lebih dari 200 juta tahun yang lalu dan setiap batu mengandung berbagai macam mineral seperti mika, kuarsa, timah. Timah memang berlimpah di provinsi ini. Penambangannya sekarang hingga merangsek ke lepas pantai. Timah sendiri adalah mineral yang sudah terlepas dari batu granit melalui proses alami beribu-ribu tahun yang lalu. Informasi lengkapnya bisa dibaca di sini.

Saking banyaknya batuan granit di desa Perlang ini, air sungainya nyaris tak terlihat karena mengalir di bawah bebatuan raksasa ini. Hanya suara gemuruh dan kecipak air yang terdengar. Semakin naik ke atas, bebatuan semakin besar-besar dan licin karena ditumbuhi lumut. Setelah hampir satu jam berjalan melompati batu-batu, aku menyerah mencari kolam yang enak buat berendam. Sakit kaki karena terpeleset di batu berlumut membuatku memutuskan untuk kembali ke bawah dan bergabung dengan kawan-kawan, berendam dalam kolam di puncak air terjun. Ah nikmatnya berendam di air sejuk ketika cuaca sedang panas begini. Semoga ini tidak membatalkan puasaku.

Selamat berpuasa dan keep exploring. :)

42 thoughts on “Menikmati Sejuknya Air Terjun Sadap di Bangka Tengah

  1. semoga dengan tulisan-tulisan kita bisa memberikan dampak positif yah om buat pariwisata BABEL….
    amiiinnnn…. lanjut eksplor keindahan BABEL yukkkk

    Nak nyube ke Bukit Fat Hin luk minggu nih… lame di sungailiat ge kami dak tau ade tempat nih…hehehee

  2. hahaha… tu lah…. yang di Bangka ge dak takalau banyak tempat yang indah-indah…
    hehehee….

    Aik Panas Pohin ???? baru tau juga nih….

  3. kayak e kurang publikasi nih aik panas pohin…. kalau di search tetap aik panas pemali yang muncul…. share lokasi e…

  4. hehehehe….. kalau aik panas nih lah sering…. yang baru nih aik panas di daerah Belinyu, cuma kate e akses masuk e lum bisa pakai mobil…. lagi nyari – nyari spot e lah ni….

    1. Sekarang makin banyak destinasi wisata non pantai di Bangka ok, Bang. Beberapa bulan lalu ku liet foto-foto kawanku yang ke aik terjun bertingkat-tingkat to. Makin kangen Bangka deh..
      Keep exploring Bangka, Bang… share them to the world. :)

  5. Mulai membiasakan menulis nih…. kalau yang nikamati cuma kita bai, dak bakalan maju pariwisata e… Dunia dak kan tau indahnya BABEL. Kayak Belitong, orang tau e dari Tulisan Andrea Hirata Laskar Pelangi, kalau dak…. hmmmmmm…..
    Yang orang BABEL e sendiri mungkin belum banyak tahu akan keindahan Wisata daerahnya sendiri…

    Semoga jadi perhatian dari pemerintah terhadap para blogger, fotografer yang selalu mengabadikan cerita dan keindahan BANGKA BELITUNG….
    #ngareppp hahahaha….

    Nah tu ade air terjun betingkat pulak… yang di Belitung ok….

    1. Kalau perhatian ade, bang. Baru-baru ni ade lomba blog tp yg ngadain Pangkalpinang. Kalau provinsi seperti e lum ade. Tapi jangan terlalu berharap dari pemerintah. Ngeblog tetap jalan. Menulis terus, semakin banyak tulisan tentang Babel, makin banyak informasi yg orang luar akan temukan di internet. Mun bukan kite, siape agik? Hehehe… :D

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s