The Real Escapade to Pulau Bunta

Desember tahun lalu aku menaikkan sebuah tulisan berjudul An Escapade to Pulau Bunta di blog ini. Sebenarnya aku sendiri, sebelum tulisan itu terbit, belum pernah menginjakkan kaki ke pulau itu. Sudah dua kali ajakan ke sana terpaksa aku tolak karena ada saja keperluan lain yang tak bisa ditinggalkan. Hingga kesempatan yang dinanti-nanti pun tiba beberapa bulan setelah tulisan itu terbit. Jadi inilah cerita the real an escapade to Pulau Bunta oleh si backpakcer cilet-cilet. :D

Trip ke Pulau Bunta ini diatur berdua oleh Ilham dan aku. Seminggu sebelum hari H, kami sudah gencar mengajak kawan-kawan untuk ikut. Tiga orang kawan yang kutemui di pertemuan Bridge English Club dengan antusias untuk turut serta dalam trip ini. Gayung bersambut. Kami butuh 5 orang lagi agar mencukupi kuota. Beberapa orang sudah mendaftar lalu membatalkan kembali. Agak sedikit cemas  juga karena izin dari Geuchik (lurah) Pulo Bunta sudah didapat dan boat sudah disewa tapi peserta trip sudah berguguran. But the show must go on lah. Pada H-1, kami berbelanja segala macam kebutuhan untuk dua hari satu malam di pulau. Di hari terakhir terkumpullah 6 orang yang positif ikut. Berdelapan dengan aku dan Ilham.

Sabtu pagi (01/02) kami berkumpul di depan Mesjid Ulee Lheue. Kak Zatin, Ikal, dan Agus sudah lebih dulu tiba lalu disusul Bang Rahmat dan Adiknya, Fika, dan Madhan datang paling akhir. Kami langsung bergerak menuju dermaga Meunasah Tuha dan menitipkan motor di rumah Pak Geuchik (Pak Lurah). Barang-barang dinaikkan ke boat berwarna hijau yang dinakhodai Bang Midi. Posturnya tak lebih dari 170 sentimeter, kurus, berkumis semi baplang, kulit gelap karena sering terbakar matahari. Kutaksir umurnya sekitar 34 tahun. Pembawaannya amat bersahaja. Selow meunan. Kepiawaiannya mengemudi boat di tengah arus berbahaya menuju dan dari Pulau Bunta patut kami acungkan jempol. Keselamatan kami di laut berada di mata elang dan tangan keramatnya.

Penampakan Pulau Bunta dari atas boat dan gejolak permukaan air laut karena arus kencang di bawah permukaan laut.

Boat melaju perlahan membelah kuala dan kanal menuju laut dan melintas di antara tebing-tebing Ujong Pancu dan Pulau Tuan. Laut bergelombang dan membuat Kak Zatin amat cemas. Air mukanya tak dapat menutupi ketakutannya. Lain halnya dengan Agus, ekspresi wajahnya tak dapat kutaksir. Hanya kernyitan di antara kedua alisnya yang kuartikan sedang menahan cahaya matahari yang sudah meninggi. Mata di balik lensa kaca matanya menatap nun jauh ke depan.

Fika, Madhan, Ikal, Bang Rahmat, dan Ilham, duduk dengan santai. Sekali-kali terlihat senyum di bibir mereka. Dan berkali-kali pula terlihat raut wajah cemas ketika ombak tinggi mengayunkan boat lebih kencang. Hempasan ombak pada dinding boat memercik tinggi membasahi mukaku. Aku yang duduk paling depan hanya senyum-senyum saja. Berusaha untuk menunjukkan bahwa semua akan baik-baik saja. Lagipula, aku memang sangat menikmati perjalanan yang sudah kutunggu-tunggu sejak lama ini. Melihat Ujong Pancu dari sudut pandang yang berbeda dan menyaksikan sendiri keindahan Pulau Bunta yang dibicarakan orang. Hanya satu yang aku khawatirkan: akankah perjalanan bagi enam orang  yang berbeda karakter ini akan seperti yang mereka harapkan? Their journey is about to begin.

Tak ada yang senyum, kecuali Fika. :))

Aku sudah mewanti-wanti diri sendiri sebelum berangkat untuk tidak terlalu berharap banyak akan mengalami petualangan yang hebat. Karena trip ini adalah membawa kawan-kawan, ada banyak hal yang harus kami lakukan di pulau untuk mereka. Mulai dari menyiapkan makanan, mendirikan tenda, memandu berkeliling pulau, dan yang paling penting adalah memastikan mereka selamat selama trip ini. Dan melakukan semua itu adalah pengalaman baru dan menjadi keunikan tersendiri bagiku. And now my journey is about to begin.

Pulau Bunta terletak di sebelah barat kota Banda Aceh dan jarak tempuhnya kurang dari satu jam menaiki boat nelayan. Pulau kecil yang dapat disaksikan dari Pantai Lhok Keutapang ini bertetangga dengan Pulau Nasi, Pulau Lumpat, dan Pulau Batee. Meski letaknya berdekatan dengan Pulau Nasi, tapi Pulau Bunta masuk dalam kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Jika ingin ke pulau ini sebaiknya gunakanlah jasa nelayan Pulau Bunta yang tinggal di Ujong Pancu. Karena mereka sudah sangat menguasai arus-arus laut selama perjalanan. Dengan menggunakan jasa mereka, kita sudah ikut membantu mereka untuk mendapatkan penghasilan tambahan selain menangkap ikan yang semakin berubahnya iklim semakin sulit berpenghasilan.

Boat menepi di perairan dangkal di samping dermaga yang tak layak pakai. Bangunannya terlalu tinggi dan terlalu pendek. Tak mungkin bisa dilabuhi boat manapun. Kami melompat keluar dan menurunkan semua barang dan berjalan menuju pohon ketapang besar di pinggir pantai berjarak 500 meter dari dermaga. Di sinilah kami akan melewatkan malam minggu dengan kejutan tak terlupakan.

Petualangan mengarungi lautan bergelombang besar dan berarus sudah kami lewati. Kali ini giliranku menghadapi pengalaman memasak ikan yang entah kenapa berubah menjadi kerupuk ketika digoreng. Belum pernah aku menghadapi situasi panik seperti itu. Menggoreng tanpa spatula, lupa membawa pisau, dan yang paling fatal adalah lupa membawa korek api! Untung ada Ikal yang memang tak bisa lepas dari korek untuk menyalakan rokok. Bagi Ilham, tentu ini pengalaman yang biasa saja karena sudah pernah dilakukan sebelumnya. Dia sendiri menanak nasi di dalam periuk kecil di atas Trangia. Masak-memasak ini terasa begitu lama hingga membuatku sedikit panik karena wajah-wajah kelaparan mulai terlihat.

Selesai makan siang satu persatu mulai berpencar-pencar. Madhan dengan kameranya berjongkok-jongkok memoto terumbu karang yang mencuat ke permukaan ketika air laut surut. Kak Zatin dan Fika berfoto-foto di pinggir pantai. Bang Rahmat mengapung di air sambil snorkeling. Agus dan Ikal duduk santai di atas tumpukan papan pohon kelapa sambil mendengar musik. Kupikir mereka mendengarkan lagu-lagu anak pantai yang bergenre reggae. Ternyata dugaanku sama sekali keliru. Hahahaha.

Pukul 3 sore adalah waktu yang tepat untuk tracking mengelilingi pulau. Tujuan utama kami adalah menikmati saat-saat matahari tenggelam di ujung pulau. Ilham bertugas menunggui tenda dan kami bertujuh, di bantu oleh pemandu lokal, berjalan menyusuri pantai yang didominasi oleh serakan bebatuan yang disebut batuan beku atau igneus. Bebatuan itu terhampar hingga ke dalam air dan menjadi rumah bagi binatang-binatang laut. Pada sisi pulau, bebatuan jenis ini mencuat seperti lapisan-lapisan yang menghujam bumi. Permukaannya sudah tergerus angin yang mempertegas bentuk lapisannya.

2,5 jam kami lewati berjalan kaki bersama sambil mengobrol, berfoto, dan mungkin masing-masing  berkontemplasi dalam hati menikmati hembusan angin, suara gempuran gelombang, dan pemandangan deretan pulau berpantai putih bersih di seberang. Kami tiba di ujung pantai bertebing tinggi. Seutas tali sebesar jari jempol terulur dari atas puncak tebing. Satu persatu kami memanjat tebing dengan berpegang pada tali. Fika, satu-satunya perempuan berpenampilan paling feminin berusaha mengerahkan keberaniannya untuk memanjat tebing tinggi itu. Dia gulung rok hitamnya sedikit lebih tinggi agar mudah melangkahkan kaki. Tas tenteng pinknya (benar, selain mengenakan rok, Fika juga membawa tas pinknya itu untuk tracking) disesakkan ke dalam ransel Madhan. Besok paginya, aku mendengar sendiri pengakuan Fika kalau dia bahkan tak bisa memanjat pohon. Sekali memanjat, tebing setinggi 20 meter ditaklukkannya!

Pose dulu sebelum memanjat tebing.

Meski senja kala itu langit tak bersih dari awan, tapi semburat warna merahnya sungguh cantik. Semuanya mengabadikan momen-momen matahari tenggelam di sana dengan suka cita. Aku menarik nafas dalam-dalam dan memandangi matahari yang lamat-lamat hilang di balik awan tebal. Hanya dalam hitungan menit, golden moment-nya berakhir. Aku menatap satu persatu wajah kawan-kawan. Ada semburat kebahagiaan yang terpancar dari mata mereka. Letihnya tracking di pantai berbatu tadi hilang seiring hilangnya cahaya matahari. Di saat itu aku merasa seperti orang tua yang merasa sangat bahagia ketika menyaksikan gelak tawa anak-anaknya. Orang yang kamu bawa berjalan mengarungi lautan, yang kamu perhatikan keselamatannya, yang kamu bawa ke tempat indah yang kamu ingin mereka saksikan seperti kamu ingin menyaksikanya, tertawa bahagia.

49 thoughts on “The Real Escapade to Pulau Bunta

  1. Bang Broo… Kau selalu lebih cepat melangkah, mudah sekali rasanya melihatmu berjalan-jalan jauh kesana kemari. Saya iri dan ingin wet-wet, semoga cepat terlaksana. Amiin. Terimakasih, kau salah satu pemberi semangat tak tersirat. :D

  2. wah daerah aceh ya bro,
    ini tempatnya cakep buat foto-foto nih
    :D

    cuma sekarang makin mahal euy ke daerah sumatera sejak belom ada promo :(
    padahal dulu juga sempet kepikiran mau maen ke weh

  3. “Orang yang kamu bawa berjalan mengarungi lautan, yang kamu perhatikan keselamatannya, yang kamu bawa ke tempat indah yang kamu ingin mereka saksikan seperti kamu ingin menyaksikanya, tertawa bahagia..” ~ a knocked-line today from Bang Citra. Pas banget jadi kalimat penutup! :)

  4. Wow, membaca uraian paragraf demi paragraf di atas, serasa ikut mengalami petualangan seru di Pulau Bunta. Feelnya dapat banget, sayang netnya lemot hingga foto2nya ga muncul semua ih.

    Trims Citra untuk reportase kerennya. Kapan2, kalo sedang di Aceh dan kalian bertualang lagi, inform me yaaa. Walau udh diatas 40, aku masih sanggup lho! *Pamer* :D

  5. Tiap maen kemari nggak pernah nggak mupeng bang, eh tapi sampai sekarang belum berani jalan-jalan ke daerah yang berair. Takut tenggelam karena nggak bisa renang :( #parno
    Padahal daerah laut pemandangannya selalu bagus gitu (/ >o<)/

  6. Kerennnn banget Cit… Ternyata masih banyak betul tempat indah di Aceh.
    Ahh jadi nggak sabar nunggu hari H mendarat di Aceh #kode
    *masuk list jalan* :-D

  7. Tulisannya asyik,
    dan ditutup dengan ending yg mengesankan : Orang yang kamu bawa berjalan mengarungi lautan, yang kamu perhatikan keselamatannya, yang kamu bawa ke tempat indah yang kamu ingin mereka saksikan seperti kamu ingin menyaksikanya, tertawa bahagia.

    Mantab Pak Cik .. :D

  8. Ooh ternyata ini Pulau Bunta xD
    Yah bang Citra nya foto teman2nya terus, foto bg Citra nya gaada? :D

    Btw, Shalatnya itu pasti tenang bgt ya, diiringi suara deru angin dan ombak x)

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s