Mengunjungi Tanah Seribu Senyuman

Ternyata Bangkok tak hanya dijuluki dengan Negeri Seribu Pagoda dan Negeri Gajah Putih saja. Tapi dikenal juga dengan julukan Tanah Seribu Senyuman. Tanah yang membuat aku betah tinggal lama-lama karena warganya begitu murah senyum.

Aku tiba di Bangkok pada akhir bulan November 2013 lalu ketika pihak oposisi dari Suthep Thaugsuban menggelar aksi menduduki pusat pemerintah di kawasan Democracy Monument. Aku berangkat berdua dengan Titi dari Medan dan mendarat di Don Mueang Airport lalu melanjutkan perjalanan dengan BTS dan menaiki boat menyusuri kanal-kanal dan berhenti di Sanab Pier yang hanya berjarak 1 kilometer dari Democracy Monument.

Pukul 6 sore waktu itu. Ratusan orang dengan pita berwarna merah putih biru-putih merah dikalungkan di leher dan berbagai aksesoris lainnya dengan warna bendera nasional Thailand bergerak menuju Democracy Monument. Seorang penyanyi laki-laki yang sepertinya amat populer di negara ini sedang bernyanyi di tengah monument. Layar-layar besar dipancangkan di berbagai sudut agar pendemo dapat melihat sang penyanyi dan tokoh idolanya berorasi.

Aku dan Titi berjalan terus melawan arus pendemo yang tumpah ruah hingga ke trotoar. Warung-warung darurat dan penjual pernak-pernik demo makin mempersempit ruang gerak pejalan di trotoar. Sesekali tercium aroma lezat daging babi dari panci-panci penjaja makanan. Lapar? Iya! Aku segera masuk dalam antrean untuk mendapatkan semangkuk makanan vegetarian serupa ceuneucah atau rujak manis khas Aceh dengan bumbu pedas yang dibagikan gratis.

Yang ini tidak gratis. Perporsi serangga-serangga goreng ini dihargai 10 baht. Memotonya pun juga dikenakan harga serupa. Kecuali kalau foto diam-diam dari belakang atau mukamu 11-12 dengan orang Thai. :D

Sayuran berupa irisan kol dan sayur-sayuran lain digado dengan kuah kacang pedas kumakan sambil berjalan. Pun begitu dengan para demonstran yang kedua tangannya penuh makanan dan air mineral dikepit di ketiak dan mulut menyemprit peluit ketika lagu yang dikumandangkan selesai.

Ketika masih di Aceh, Kam, kawanku yang asli Thailand mengingatkan untuk menghindari keramaian yang terpusat di monumen ini. Tapi hari sudah gelap dan berdasarkan petunjuk di google map tak ada jalur lain yang lebih dekat untuk menuju penginapan. Syukurlah ternyata demo yang berlangsung aman dan tertib. Tadinya aku ragu kalau keramaian ini adalah demo karena suasananya terlihat seperti kampanye sebelum pemilu. Ada penyanyi dan orasi-orasi. Plus bagi-bagi makanan dan air mineral gratis! 

Penginapan yang kami tempati adalah KS House yang berada di Phra Sumen Road. Letaknya sekitar 1 km dari Democracy Monument dan 800 meter dari Phra Athit Pier di pinggir sungai Chao Phraya. Sungai tua besar yang menjadi saksi sejarah peradaban negeri Thailand ini berkelok-kelok membelah Bangkok dengan ratusan kanal yang saling terhubung. Kurasa patut pula kota Bangkok ini dijuluki Kota Seribu Kanal karena ada banyak sekali kanal yang dapat kamu temui di kota Bangkok. Meski tak semuanya dapat dilalui boat.

Kami menempati kamar persis di sudut gedung dengan view jendela langsung mengarah ke sebuah kanal dan jalan Phra Sumen, setelah mengistirahatkan kaki sebentar, aku mengajak Titi keluar dan berjalan-jalan ke Kao San Road yang terkenal sebagai pusat backpacker dunia berkumpul. Tapi terlebih dulu kami mencari makan malam gratis dulu di dalam kerumunan demonstrasi yang selayaknya konser itu. Seorang ibu mengingatkan kami makanan mana yang tak halal dan membagikan kami dua piring nasi putih dengan beberapa lembar telur dadar di atasnya. Alhamdulillah, bujet makan malam bisa disimpan untuk jajan coconut ice cream lezat di kaki lima Kao San Road.

12 thoughts on “Mengunjungi Tanah Seribu Senyuman

  1. Waaaaah, sudah ke Thailand Bang Bro.. Saya ngiler bacanya, pengenlah secepatnya ke sana. Eh, “keegoisanmu” dalam reportase sedikit berkurang di sini. Pada umumnya laporan blogger traveler memang kayak gini (tak banyak menyebutkan nama narasumber, tapi cukup menarasikan sendiri dari hasil bertanya-tanya). I like this. :D

  2. Hmm.. Entah kenapa kok aku baca post ini gak kerasa ya soal seribu senyuman itu. Alangkah lebih bagusnya kalau salah satu foto memperlihatkan ‘senyum’ yang dimaksud. Pasti akan lebih ‘ngena’ ke pembaca.

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s