Hampir Gagal ke Pulo Breueh

Pada pertengahan bulan Februari 2013 lalu, ketika Banda Aceh hampir tiap hari diguyur hujan, aku, Dika, dan Nisa mengawali perjalanan laut kami yang pertama kali dan mendebarkan. Aku dan Dika, terjebak lalu lintas di Neusu ketika mencari spiritus. Dan Nisa menanti kami dengan harap-harap cemas di dermaga Lampulo karena waktu sudah menunjukkan jam 2 siang.

Spiritus yang nanti digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak tak juga ditemukan. Dika yang menyetir mobil pun seperti hilang kesadaran saat berbalik arah di tengah jalan yang ramai kendaraan. Pun aku heran, kota sebesar Banda Aceh ini kenapa tidak banyak toko bangunan yang menjual spiritus? Syukur tak ditinggal kapal meski kami sudah terlambat dari jadwal keberangkatan.

puloaceh-1-2

Kami tiba di dermaga Lampulo ketika hujan baru saja reda. Langit masih ditutupi awan kelabu dan angin meniupkan udara dingin menandakan hujan tak akan lama berhenti. Cuaca seperti ini bukanlah awal yang menenangkan untuk bepergian lewat jalur laut. Keluar dari kuala Krueng Aceh, kami langsung disambut dengan ombak tinggi hingga 1 meter. Tempias air yang menampar dinding geladak KM Jasa Bunda yang kami tumpangi menyiram mukaku dan tiga buah sepeda di antara tumpukan barang penumpang lainnya.

puloaceh-2-2

Berkali-kali kapal motor ini oleng dan berguncang. Semua penumpang yang duduk di geladak berpegangan agar tak terlempar ke dalam laut. Di tengah kekalutan hati memandangi ombak yang menggelegak, di sisi kiriku, seekor lumba-lumba menyembul ke permukaan.

Sontak kami bertiga bergerak cepat ke pinggir kapal menyaksikan parade lumba-lumba yang melompat ke permukaan. Pemandangan langka dan mengejutkan ini membuat kami sejenak lupa pada cuaca buruk yang mengocok isi perut.

KM Jasa Bunda hanya melayani penumpang dari Lampulo (Banda Aceh) ke Desa Gugop, Pulau Breueh setiap harinya kecuali hari jumat. Kapal berangkat setiap jam 2 siang dan memakan waktu kurang lebih 2 jam dengan ongkos perpenumpang Rp.15.000.00. Jika ingin ke Pulo (Pulau) Breueh, aku sarankan bawalah sepeda motor karena di pulau tak ada penyewaan sepeda motor dan alat transportasi umum. Ongkos angkut permotor adalah Rp.30.000.00. Ongkos ini sudah termasuk menaikkan, mengangkut, dan menurunkan sepeda motor dari dan ke dermaga.

puloaceh-3-2

Pulo Breueuh sendiri adalah salah satu pulau di Kecamatan Pulau Aceh yang berada dalam Kabupaten Aceh Besar. Pulau ini bertetangga dengan Pulau Nasi. Ada beberapa pulau kecil lainnya yang tersebar di sekitarnya tapi hanya dua pulau besar ini yang berpenghuni. Pulau-pulau kecil itu di antaranya adalah Pulau Teunom, Pulau Bunta, dan Pulau U. Pulau-pulau ini sering didatangi para pemancing dari Banda Aceh.

Kami tiba di Gugop pukul setengah lima sore dan segera mengayuh sepeda menuju rumah pak keuchik (lurah). Tapi beliau ternyata sedang tak ada di rumah. Kami memutuskan untuk segera bergegas mengayuh sepeda ke Meulingge-begitu rencana awalnya.

puloaceh-8-2 puloaceh-7-2

Tapi…*sigh* siapa sangka kalau ternyata perjalanan menuju Meulingge itu harus menempuh jalur perbukitan? Nisa yang sedang tidak begitu sehat harus turun dan menuntun sepeda ketika jalan beraspal menanjak. Tanjakan pertama, kedua, lalu tanjakkan ketiga yang sangat panjang. Tenaga terkuras habis. Nisa menumpang naik motor seorang bapak yang lewat. Aku kembali mengayuh sepeda sambil memegang sepeda Nisa di tangan kanan. Dengan beban di punggung dan di tangan kanan, aku tak bisa melepaskan cengkeraman jari dari rem. Sedikit saja lepas kendali, antara masuk jurang atau tersungkur di aspal.

 puloaceh-9-2

Kami memutuskan untuk menginap di Pantai Balu. Pantai ini sebenarnya hanya berjarak sekitar 3 kilometer dari desa Gugop. Tapi bagi kami, rasanya seperti puluhan kilometer. Pantai ini memiliki panjang hampir 1 kilometer dengan pasir putih yang luas dan gelombang laut yang tak begitu besar. Jika cuaca bagus, pantai ini menjadi tempat yang paling strategis untuk menikmati saat-saat matahari terbenam. Kami mendirikan kemah di lapangan di pinggir pantai yang penuh ‘ranjau’ sapi.

puloaceh-13

Jam 6 sore di Pulau Breueh, langit sudah dihiasi awan putih dan kelabu. Ujung cakrawala tertutup awan dan sinar matahari tak mampu menembusnya. Redaman warna oranye terlihat suram dan semakin buram seiring tenggelamnya matahari.

Menjelang malam, ketika sedang mengumpulkan ranting-ranting kayu, aku baru sadar satu hal: aku tidak membawa korek api! Pada saat itu aku merasa orang paling tolol sedunia. Kalau sudah begini baru menyesal kenapa tidak membuat daftar barang bawaan sebelum packing ransel dan mempersiapkannya seminggu sebelum berangkat. Sudah tidak ada bahan bakar, korek tak ada, membuat api pun tak bisa. Yasalam!

Untungnya tadi siang Nisa membeli nasi bungkus di Lampulo dan Dika membawa ayam goreng dari rumah. Perut kami bertiga malam itu terselamatkan dengan membagi-bagi makanan yang ada. Alhamdulillah masih bisa mengisi ulang tenaga buat besok dan yang paling penting adalah menerima pelajaran yang akan susah dilupakan: jangan sepelekan perlengkapan berkemah sedekat/sesingkat apapun perjalananannya.

Kami tidur cepat malam itu. Langit masih mendung tapi sepertinya tak akan turun hujan malam ini. Rasa lelah membuatku lebih cepat mengantuk dan tertidur pulas.

Ikuti pengalaman seru kami yang tidak kalah seru di hari ke dua di sini: Mencapai Batas Barat Indonesia.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Baca juga pengalaman kawanku, Dika, di sini: Menapaki Pulo Breueh (Bagian 1).

//

39 thoughts on “Hampir Gagal ke Pulo Breueh

    1. Itu perjalanan laut pertama menggunakan kapal motor di tahun 2013 dengan cuaca yang ngerii-ngeri sedap begitu. Tahun lalu dengan kapal motor ke Pulau Banyak. Tapi yang kali ini lebih seru. :D

  1. kalo aku yg pertama takut petir di kapal, kedua tkut ada binatang buas di hutan . ketiga, musim hujan terkadang membuat sesuatu menjadi susah. sunset ga terlihat jalan basah. jd musim kemarau lebih sunshine. tp tantangan dan kepuasan akan lebih terasa di musim hujan. :)
    nice trip ..
    pengen jg.hhehe

      1. Baca semua lah.. Tapi asumsiku spiritus-nya ketemu. “Spiritus yang nanti digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak tak juga ditemukan” <- "tak juga ditemukan" itu agak beda rasanya dengan "tak ditemukan". My bad.. salah ngerti

  2. wow…kebetulan dalam bulan ini aku ma kawan-kawan dari dinas kelautan dan perikanan Aceh akan survey ke Pulau Breueh..tapi cuaca buruk niih..jadi rada ngeri juga kesana….(trauma waktu survey ke Pulau Balai,Aceh Singkil, nyaris terbalik speedboatnya…plus ga bisa berenang wkwkwkwkwkwk) btw nice inpoh!!!!

  3. alhamdulilah waktu kesana cuaca tenang banget wktu pergi and pulangnya…tapi pas kami lagi survei di pulaunya…ombak mulai ganas lagi..memang keren banget pemandangan disana…percaya deh kalo kalian ngos-ngosan genjot sepeda disana..kami aja yg naik motor ngos-ngosan juga hahahahaha…soalnya tinggi banget tanjakannya!!mana jalannya berbatu…tapi memang sangat seru!ikut kami aja,tahun depan survei ke pulau tapah, simeulue :)

  4. wahhh seru bgt ya kalian bisa ke pulo breueh…
    dulu aku pernah tgl dsna 3 tahun…
    sampe skrg msh ke ingt trs sama warga2 dsna…
    trutama di gugop…
    pengen ksna lg tp blm smpat2…

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s