Berpetualang di Bukit Blang Panyang, Lhokseumawe

lhokseumawe

Umumnya kita lebih memilih untuk berencana dan traveling ke tempat yang jauh dan populer di kalangan traveler pada umumnya. Yah, minimal paling dekat mungkin ke provinsi tetangga. Tapi sering/pernahkah kita terpikirkan untuk melakukan perjalanan ke destinasi baru yang jaraknya lebih dekat? Istilahnya yang hanya sepelemparan batu saja?

Memang sih traveling ke tempat yang jauh terasa lebih mengasyikan karena akan ada banyak hal yang akan kita saksikan dan alami. Tapi traveling ke tempat yang lokasinya dekat pun sebenarnya juga tak kalah menariknya. Coba deh sekali-kali, sempatkan waktu untuk melihat-lihat kecamatan sebelah atau kabupaten tetangga. Pasti ada tempat-tempat menarik lain yang belum begitu populer atau bahkan tidak diketahui oleh banyak orang.

Lhokseumawe misalnya. Kota kecil yang dikenal sebagai kota gas ini adalah sebuah pulau yang luasnya hanya 11 km yang dikelilingi laut dan dibelah sungai Krueng Cunda. Ada 3 jalur yang menjadi jalur keluar-masuk yang menghubungkannya ke jalan Medan-Banda Aceh. Dua di Cunda dan satu lagi di Simpang Loskala.

Ada objek wisata apa saja di kota yang pernah masyhur dengan gas ini? Satu-satunya wisata populer adalah Pantai Ujong Blang. Pantai yang masih ramai oleh pengunjung ini semakin kotor oleh sampah dan abrasi.  Setiap akhir pekan, pantai ini ramai dikunjungi orang. Semakin ramai pengunjung, semakin banyak pulalah sampah yang teronggok di pantai dan sebagiannya hanyut ke laut. Inilah yang membuatku enggan bermain-main di pantai ini.

Setahun lebih aku tinggal di Lhokseumawe, ada satu tempat yang menurutku sangat menarik untuk dieksplor dan menjadi destinasi wsiata alam selain pantai namun masih berada dekat dengan kota. Yaitu bukit Blang Panyang. Bukit yang menyimpan bukti dan saksi bisu penjajahan Jepang jaman dulu ini berupa beberapa buah bunker yang masih dapat kita jumpai di atasnya. Tertutup oleh lebat ilalang.

Untuk mencapai perbukitan ini pun tak sulit. 1,5 km dari jalan keluar Lhokseumawe ada sebuah SPBU, 10 meter dari sana ada sebuah lorong tak beraspal di sebelah kiri. Jalanan yang menanjak dan kondisi jalan yang rusak sangat sulit ditempuh dengan kendaraan apapun. Satu-satunya cara adalah memarkirkan kendaraan di bawah. Aku selalu menggendong sepeda jika menaiki tanjakan ini. Dari kota ke Blang Panyang hanya 10 menit bersepeda motor atau tambah lah 10 menit lagi jika bersepeda saja.

Di atas terdapat pos polisi, melaporlah untuk mendapatkan izin melihat bunker Jepang yang hanya berjarak 100 meter dari pos. Bunker ini memiliki panjang sekitar 15 meter dan terdapat beberapa buah lorong yang menurut cerita yang beredar berujung ke tengah laut. Wallahualam. Aku pun tak berani memasuki lorong-lorong itu karena jalurnya agak menjorok ke bawah dan…aku sendirian.

Sayangnya tidak ada tulisan atau catatan apapun yang dapat memberikan penjelasan tentang gua-gua tersebut. Aku hanya bisa menerka-nerka jika gua buatan manusia ini digunakan untuk persembunyian dan pos penjagaan pada masa lalu.Tak hanya satu, ada beberapa gua lagi yang tersebar di bukit-bukit ini. Jaraknya saling berjauhan satu dengan yang lain. Butuh semangat dan tenaga yang kuat untuk menemukannya. Tapi bagian ini pula yang paling seru. Rasanya seperti sedang berpetualang mencari harta karun. Ketika menemukan satu gua, kita akan penasaran untuk memasukinya atau mencari-cari alasan untuk tidak melangkahkan kaki ke dalamnya.

Selain gua/bunker di lereng-lereng bukit, kita akan sering menjumpai karang-karang dan kulit kerang bertebaran di hampir semua permukaan bukit. Ini menjadi bukti bawah bukit ini pernah berada di bawah permukaan laut. Hal yang sama juga kutemukan ketika berjalan-jalan di bukit kawasan Benteng Inong Balee, Krueng Raya, Aceh Besar. Bayangkan bukit setinggi ini pada ribuan tahun yang lalu sepenuhnya berada di dalam laut. Hal ini menimbulkan tanda tanya di pikiranku. Seperti dari mana asal-muasal orang Aceh pesisir pada masa lalu? Menarik sekali untuk dicari tahu ya? :D

Tapi kita fokus dulu ke bukit Blang Panyang ini. Selain mengeksplor bukit dengan gua-gua tersembunyi, kita juga dapat melihat kota Lhokseumawe dan kompleks kilang gas PT. Arun dari atas. Pemandangan ini akan lebih indah jika disaksikan pada malam hari karena lampu-lampu kota dan kilang gas yang gemerlap lampu-lampu. Angin laut akan meniup pucuk-pucuk lidah api dari kedua cerobong api yang tersisa. Liuk lidah api ini adalah sisa-sisa eksplorasi gas alam dari perut bumi Aceh Utara. Yang dulu katanya sebagai sumber devisa terbesar Aceh Utara dan Indonesia ini tak membuat wajah Aceh Utara secantik dan segemerlap lampu-lampu kilang seperti terlihat dari atas bukit ini. Hal ini pula yang menjadi salah satu munculnya pergerakan-pergerakan di Aceh yang telah mengorbankan ribuan nyawa.

Untuk bisa melihat pemandangan ini, tentu kita harus berada di atas bukit sampai hari gelap atau mendirikan tenda lalu bermalam. Nah, yang terakhir ini yang aku lakukan pada dua minggu lalu. Aku nekat mengendarai motor matic dan membawanya ke atas melewati jalur alternatif yaitu dari desa Paloh melewati jalan berbatu-batu dan melintasi jalan setapak di pinggir lereng bukit. Kenapa tidak melewati jalur Blang Panyang saja yang lebih dekat? Karena aku tidak mendapat izin dari polisi yang bertugas sore itu. Sendirian terlalu berbahaya, begitu alasannya. Keputusan tetap nekat berkemah di atas pun bukanlah keputusan bijaksana sebenarnya. Tapi rasa penasaran membuatku tetap nekat!

Tepat ketika langit sudah mulai merah jingga, aku tiba di sebuah kebun ubi (singkong) yang ditanam rapat-rapat. Kuparkir motor di pinggir jalan setapak lalu mendirikan tenda di atas sebuah bukit yang dari situ aku bisa melihat pemandangan kota dan Arun. Sebelah kanan: kota Lhokseumawe dan selat Malaka, sebelah kiri: persawahan desa Paloh dan kilang PT. Arun NGL. Memandangi dua pemandangan indah ini kita akan ditemani dengan suara kicauan burung. Padahal sudah malam, entah burung apa tapi masih saja berkicau nyaring hingga larut.

Cahaya bulan separuh cukup terang sehingga aku tidak perlu menyalakan headlamp untuk berjalan-jalan di sekitar tenda. Duduk di antara ilalang dan melempar pandangan ke bawah ke arah lampu-lampu kota Lhokseumawe dan kilang Arun. Ditemani bulan, mencium aroma laut dari angin yang berhembus, suara kicau burung dan serangga malam. Ah, damai sekali rasanya.

Pemandangan PT. Arun NGL dari atas

01-blangpanyang-0298

Kota Lhokseumawe

03-blangpanyang-0313

Lhokseumawe memang tidak memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi, tapi bukit Blang Panyang ini menjadi  alternatif untuk menikmati akhir pekan dengan menguji jiwa petualang kamu. Dekat, murah dan seru!

Agar kondisinya tidak seperti pantai Ujong Blang, bawalah turun botol minuman/bungkus makanan karena di atas bukit tidak ada tempat sampah dan petugas kebersihan. Supaya kita semua tetap bisa melihat keindahan alam seperti foto-foto di bawah tanpa terganggu dengan sampah. Setuju? :).

//

43 thoughts on “Berpetualang di Bukit Blang Panyang, Lhokseumawe

  1. Waktu itu sempat pergi lagi sama Putra Juang, akhirnya pintu kedua gua itu sudah kelihatan ya. Hampir 2 jam lebih waktu itu cari pintu gua yang kecil arah ke timur kalau gak salah.

    Kata polisi disitu ada 3-4 pintu gua, dan masing-masing itu mengarah ke berbagai penjuru angin :D

  2. jadi ingat beberapa waktu yang lalu saat hunting2 ke bukit blang panyang.
    Bayangkan saja banyak remaja saat ini ada yang blum prnah untk mndaki bkit ini. Padahal pemandangannya indah dan kren…Melalui publikasi seperti ini setidaknya mengingatlan kita bahwa tempt ini cock untk melepaskan sedikit rasa penat….

  3. luar biasa ! padahal saya sendiri lahir dan tumbuh besar di lhokseumawe bahkan belum pernah ketempat ini.
    liputan menarik bang, jadi tergoda untuk kesana pas pulang kampung .. haha

  4. Waahh saya yang asli penduduk meuria paloh belum ke gua tu. Konon angker makanya gak berani kesitu. Saya sekarang di jepang. Nanti jika pulang harus ajak turis jepang ni lihat gua tu. Biar orang jepang tau tu peninggalan mereka di negara kita.

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s