Pulau Weh, Tidak Melulu Pantai dan Snorkeling kok

Pria Laot waterfall

Pulau Weh itu seperti magnet. Setiap kali namanya terlintas di pikiranku, selalu timbul rasa tertarik ingin kembali ke sana. Begitu juga setiap kali melihat pulau ini dari kejauhan di tepi Pantai Ulee Lhee, daya tariknya semakin kuat. Meski sekarang aku tinggal di Lhokseumawe, daya tariknya tak melemah sedikitpun. Hingga akhirnya pada suatu akhir pekan gaya magnetisnya berhasil menarikku dengan kekuatan penuh.

Perjalanan dimulai pada sabtu pagi yang hangat di kota Banda Aceh, aku berjalan kaki menuju jalan Daud Beureueh untuk mendapatkan angkutan umum menuju Pelabuhan Ulee Lhee. Di Aceh, angkot disebut dengan labi-labi. Bentuknya yang khas pasti akan dikenali dengan mudah. Tarif normalnya jika dari Beurawe ke Ulee Lhee adalah Rp.5.000,-. Tapi jika sedang terburu-buru, mintalah ke sopirnya untuk layanan ‘pengantaran ekspres’. Tentu harus membayar lebih untuk jasa ini.

Nun jauh di sana, Pulau Weh terlihat samar-samar.

Nun jauh di sana, Pulau Weh terlihat samar-samar.

04-sabang-0036

Kindi datang menjemput sesaat setelah aku tiba di Balohan dan langsung mengantarkan ke Gampong Iboih setelah menyantap makan siang yang lezat di rumahnya. Kampung yang sangat terkenal dengan pantai dan Pulau Rubiah ini aku pilih sebagai tempat untuk menginap karena cuma di sini ada banyak bungalo yang murah dan dekat dengan lokasi snorkeling. Selain Iboih, ada Gapang dan Sumur Tiga yang juga memiliki penginapan. Hanya saja, harganya tidak sesuai dengan budgetku.

Oong Bungalow namanya. Bungalo sederhana yang dikelola oleh Kak Oma ini cocok untuk para backpacker. Tarif perbungalo mulai dari Rp.60.000,- s/d Rp.150.000,-. Aku menyewa bungalo yang termurah yang letaknya persis di pinggir jalan setapak yang berjarak hanya 15 meter dari pantai. Harga yang lebih mahal untuk bungalo yang terletak lebih dekat ke pantai. Ketika keluar kamar, pemandangan laut yang hijau dan pulau Rubiah langsung tersaji di depan mata.05-sabang-0038

06-sabang-0041

19-sabang-0178

Setelah urusan penginapan beres, aku dan Kindi berganti pakaian lalu berjalan kaki ke Yulia Bungalow. Di samping bungalo inilah spot yang paling bagus untuk menikmati taman bawah laut Iboih dengan bersnorkeling. Terumbu karang dan anemon laut dengan clown fish yang lucu-lucu dan ikan berwarna-warni yang cantik berenang di atasnya. Sayang sekali aku tidak bisa mengabadikan pemandangan indah di dalam sana. Kuharap kamu cukup penasaran untuk melihatnya sendiri. :D

Menjelang sore hari, aku turun ke bawah untuk menyewa sepeda motor. Tarif sewanya adalah Rp.100.000,- perhari. Karena aku menyewa hanya untuk setengah hari saja, setelah ditawar-tawar, dapat Rp.60.000,- dengan syarat motor dikembalikan jam 12 siang besok. Nah, masalah transportasi untuk malam dan besok pagi sudah teratasi. Saatnya mencoba kuliner khas Sabang yaitu Sate Gurita.

Info dari beberapa kenalan di Sabang, Sate Gurita tersedia di Sabang Fair dan Pusat Jajanan Sabang. Sayangnya Pusat Jajanan Sabang pada saat itu sedang direnovasi, sedangkan Sabang Fair agak jauh letaknya dari kota. Agar tak pulang terlalu larut malam ke Iboih, aku mencari Sate Gurita yang berada di Jalan Perkapalan. Letaknya di belakang Warung Kopi Acirasa dan di dekat Swalayan Kasimurah.

Sate yang dijual di gerobak kaki lima ini dihidangkan dengan nasi dan lontong dengan kuah kacang atau kuah padang. Aku memesan satu porsi sembari duduk di kursi santai dan menikmati alunan lagu-lagu berbahasa Aceh yang diputar di lapak vcd sebelah. Mulai dari lagu Liza Aulia, Ramlan Yahya, Rafly sampai dengan lagu-lagu mix-house-dut-Aceh.

Beberapa menit kemudian, sate pesananku datang. Jika diperhatikan, bentuk daging gurita pada tusukan satenya hampir mirip dengan sate ayam jika sudah dibumbui dan disiram kuah. Tapi perbedaannya ada pada tekstur daging. Dagingnya terasa kenyal ketika dikunyah dan rasanya yang begitu lezat bikin ingin tambah lagi. Jika kamu ke Pulau Weh, Sate gurita adalah jajanan wajib untuk kamu nikmati. Seporsinya Rp.15.000,- Mahal? Sebanding dengan rasanya kok. :D

Sate Gurita-001

Aku kembali ke Iboih sekitar jam 11 malam. Perjalanan pulang ini menembus udara dingin dan gelap di lereng-lereng bukit yang sepi. Melewati tikungan letter Z yang terkenal itu udara semakin dingin dan suasana begitu senyap dan…menyeramkan. Yang paling aku khawatirkan adalah jika kendaraanku tiba-tiba mati atau ban bocor sedangkan jalanan terus menanjak dan berkelok-kelok hingga ke atas. Aku baru bisa bernafas lega dan mengendurkan genggaman pada gas ketika tiba di desa Gapang.

2012-10-021

Pantai Iboih ternyata sedang ramai, ingar-bingar suara musik disko terdengar dari tempat parkir. Ternyata sedang ada pesta pantai di depan Tirta Dive. Bule-bule dan warga lokal berjoget-joget di dekat api unggun diiringi suara musik dari speaker besar di dekat mereka. Suasana bertambah semarak dengan dentuman-dentuman petasan dan kembang api di tepi pantai. Aku beranjak meninggalkan kerumunan ketika gerimis mulai turun. Tiba di bungalo, hujan turun dengan lebatnya disertai badai kencang yang merubuhkan pohon di depan bungalo. Untung saja rubuhnya tidak mengenai bungaloku, bisa berabe jika kena atap.

18-sabang-0174

Hujan belum juga berhenti ketika pagi datang. Tapi sudah agak teduh untuk berkendara.Tujuanku hari ini adalah Gunung Api Jaboi. Dua kali aku ke Pulau Weh, aku belum sempat ke lokasi ini. Lokasinya lumayan jauh dari Iboih, sekitar 1,5 jam perjalanan dengan motor. Dalam perjalanan, aku melihat sebuah papan yang bertuliskan Air Terjun Pria Laot. Aku segera berbelok dan mengikuti jalan setapak yang sudah disemen dan berakhir di pinggir sungai. Seperti mengejar durian runtuh, aku melompat-lompat dari batu ke batu yang lain agar cepat sampai di air terjun.

Suara riak air semakin deras dan batu-batu yang kulalui semakin besar. Hanya 5 menit melompati bebatuan, aku sudah tiba di air terjun yang tingginya sekitar 6 meter ini. Memang tak begitu tinggi, tapi aku beruntung karena semalam hujan dan debit airnya banyak sehingga air terjunnya tampak lebih menarik.

Jembatan kecil menuju air terjun.

10-sabang-0066

07-sabang-0054

Puas menikmati udara sejuk dan segar dan pemandangan indah di depan air terjun, aku kembali bergegas mengejar Gunung Api Jaboi. Dari kampung Pria Laot, aku menemui pertigaan di kampung Cot Damar. Jika ke kiri adalah jalan pulang ke kota Sabang jadi aku berbelok ke kanan dan menarik gas lebih dalam berharap tiba lebih cepat.

Melewati pertigaan tadi, rumah-rumah penduduk semakin jarang. Lalu pemandangan setelahnya adalah hutan dan kebun-kebun kelapa dan hewan-hewan ternak yang tiba-tiba melompat dari semak-semak ke tengah jalan. Satu-satunya penanda gunung api sudah dekat adalah terciumnya bau belerang. Lalu dari sebelah kiri, dari balik pucuk-pucuk pohon terlihat tanah terbuka berwarna putih. Aku membelokkan motor memasuki jalan selebar satu meter yang terbuat dari paving block. Di ujung jalan, pohon-pohon Cantigi yang berkulit hitam kemerah-merahan  basah dan berkilat-kilat ditetesi air hujan.

12-sabang-0082

13-sabang-0089

14-sabang-0090

15-sabang-0101

16-sabang-0108

Pusat panas bumi di Jaboi ini terletak di lereng Gunong Leumoe Matee. Posisinya sendiri masih dekat dengan laut. Jika kita berdiri di tempat paling tinggi gunung api ini, kita berhadapan langsung ke Samudra Hindia di sebelah barat. Tak ada pemandangan lain di gunung api ini selain kepulan-kepulan asap, pohon-pohon hitam Cantigi yang menghiasi tanah putih yang berbatu-batu. Selebihnya adalah hutan hijau dan Samudra Hindia. Karena aku datangnya pada saat hujan turun, tempat ini terasa lebih sentimental. Apalagi hanya aku sendirian di sini. Jadi lebih nyaman menikmati bulir-bulir hujan dan tetesan-tetesannya dari dedaunan dan ranting-ranting pohon. *sigh*

cantigi

Hujan masih belum berhenti selama dalam perjalananku pulang ke Iboih. Sepeda motor yang harus kukembalikan tepat jam 12 molor hingga jam 2. Aku melewatkan kapal ferry untuk kembali ke Banda Aceh. Terpaksa aku harus menumpang kapal cepat yang berangkat jam 4 sore. Tapi syukurnya keterlambatanku mengembalikan sepeda motor tidak harus membayar uang tambahan lagi. Ketika kapal sudah mulai bertolak ke Ulee Lhee, aku baru ingat belum membeli kue kacang khas Sabang favoritku. Mungkin ini pertanda aku harus kembali lagi ke Weh kali ya? :D

17-sabang-0131

Berikut adalah jadwal kapal dari Banda Aceh ke Pulau Weh dan beberapa nomor kontak yang dapat membantu jika berlibur di Pulau Weh.

Jadwal keberangkatan kapal lambat (Ferry):

Ulee Lhee-Balohan
Sabtu, Minggu: 10.30 dan 17.30
Senin-Jumat: 14.00

Balohan-Ulee Lhee
Sabtu ,Minggu: 07.00 & 15.00
Senin-Jumat: 08.00

Harga tiket untuk dewasa di kelas ekonomi Rp.18.500,-

Jadwal keberangkatan kapal cepat:

Ulee Lhee-Balohan: 09.30
Balohan-Ulee Lhee: 16.00

Harga tiket untuk dewasa di kelas ekonomi Rp.60.000,-

Untuk info lengkap bisa lihat di sini

Sewa labi-labi khusus untuk wilayah Banda Aceh: Rp.300.000,-/hari, Mesjid Raya ke Pelabuhan Ulee Lhee: Rp.5.000,-
Pak Hasanuddin: 081360102471

Sewa motor di Iboih: Rp.100.000,-/hari (bebek dan matic)
Bang Wan: 085260146601 (Bang Wan juga bersedia mengantar dari Iboih ke Pelabuhan Balohan dengan tarif Rp.30.000,- perorang).

Oong Bungalow: Rp.60.000,- s/d Rp.150.000,-/hari
Kak Oma: 081360700150

37 thoughts on “Pulau Weh, Tidak Melulu Pantai dan Snorkeling kok

  1. Bayanganku sejak dulu Weh adalah surga bagi anak pantai dan diver…setelah baca ini ternyata Weh punya gunung api… Horee…. Bisa dua wisata alam…ehh dengan air terjun malah jadi tiga wisata alam sekaligus di satu tempat deh. Nice info, bro :-D

    1. Benar sekali, Bang Halim. Weh memang surganya para diver, tapi yang ga bisa diving cuma bisa snorkeling saja. Dua dua objek wisata tadi bisa jadi alternatif kalau bosan mengapung di laut. Hehe…

  2. Salam kenal bang Rahman.. Setelah membaca artikel ini semangat saya jd menggebu gebu ingin segera sampai di Banda Aceh dan mengexplore pulau weh..sy ingin tanya bang..apa di pulau weh ada guide nya kah?? sy rencana bulan Juni ke sana dan sendirian pula..atau tdk perlu pakai guide dan jalan sendiri..trus aman kah di sana berhubung pergi sendiri ??

    terimah kasih :D

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s