[Pulau Banyak Trip-3] Akhir Perjalanan di Pulau Banyak

Berjalan-jalan pagi di Pulau Asok

Pertama kali membuka mata ketika bangun tidur yang terpikirkan adalah: ini di mana? Siapa ini yang di samping? Sepuluh menit kemudian, kesadaranku berangsur pulih.  Suara kicau burung murai dan hempasan ombak membuatku kembali sadar bahwa aku masih di Pulau Asok dan travelmate-ku masih pulas di samping.

Hari masih begitu pagi dan aku malas-malasan melangkah keluar. Aku  berdiri di pantai dan membiarkan kaki dijilati ombak. Kuhirup udara pagi yang begitu segar dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan. Bang Tekno menyusul di belakang menenteng kamera dan kegirangan melihat segerombolan umang-umang yang sedang menggerogoti serabut kelapa.

Aku berjalan mengitari pulau, melompati akar-akar serabut pohon kelapa lalu melintasi semak-semak di belakang tenda. Tanah bercampur pasir di area sini lebih gembur dan berair dan semak-semak lebih rendah seperti baru saja ditebas. Oh, ternyata kami tidak sendirian di pulau ini. Aku melihat sebuah pondok dari pelepah dan beratapkan daun sagu. Lalu seorang bapak tua bercelana bola dan berkemeja lusuh tiba-tiba muncul dari balik pohon dan tersenyum.

Kami berjabat tangan dan bercakap-cakap dalam bahasa Aneuk Jamee (bahasa Padang) sambil berjalan ke ujung pulau. Beliau bercerita seminggu yang lalu ada beberapa orang warga asing yang juga berkemah di sini. Beliau menunjukkan semak-semak yang sudah dibersihkan sebagai tempat mendirikan kemah. Ada sebuah sumur dan jamban yang sudah mulai rusak atapnya. Lalu beliau bercerita tentang keluarga dan pekerjaan mereka sehari-hari seperti mengumpulkan kelapa yang jatuh dan pergi memancing. Untuk makanan pokok mereka peroleh dari hasil menjual kopra di Balai.

Pantai pasir berakhir di ujung pulau. Selebihnya adalah akar-akar kelapa yang batangnya semakin condong ke arah laut. Tiba-tiba aku melihat sekelebat bayangan di dalam air di dekat aku berdiri. Wow! Seekor ikan pari selebar dua telapak tangan orang dewasa baru saja berenang di sampingku. Beberapa menit kemudian pari itu berenang menjauh.

Meninggalkan Pulau Asok

Rencananya hari ini kami akan menginap di Lyla Bungalow di Pulau Palambak. Dalam perjalanan ke sana, kami singgah di Pulau Lambodong dan Pabisi. Di Lambodong ini kami bertemu dengan petani kopra yang sedang mengeluarkan daging kelapa dan menjemurnya. Setelah berbincang-bincang sejenak, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Pabisi. Namun cuaca tiba-tiba berubah. Bang Sam harus memutar arah ke belakang pulau untuk berlindung dari badai. Sambil menunggu badai reda, aku dan Bang Tekno terjun ke laut untuk snorkeling. Terumbu karang di Lambodong menurutku lebih bagus dibandingkan beberapa pulau yang lain dan ikan-ikannya lebih banyak dan beragam. Meski hujan dan awan mendung, namun tingkat kejelasan di bawah air masih begitu baik.

Setelah badai berlalu, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Palambak yang ternyata bungalonya telah ditinggalkan dan kosong. Akhirnya kami mendirikan tenda lagi dan memasang hammock/ayunan di depan bungalo. Areal Lyla Bungalow cukup bersih dan terawat rapi. Terdapat dua kamar mandi di belakang dan sebuah dapur. Lokasinya sangat strategis karena berhadapan dengan banyak pulau-pulau kecil dan garis pantai yang cukup panjang dan sangat cocok untuk berjemur atau jogging. Saat senja, kita dapat menikmati matahari yang pelan-pelan tenggelam di ujung cakrawala. Ketika malam, pemandangan langit terlihat jelas karena pohon-pohon kelapa tumbuh jarang-jarang.

Lyla Bungalow

Sunrise di sisi lain Pulau Palambak

Menikmati matahari tenggelam

Makan malam dan makan pagi kami adalah mi instan dan ikan sarden kalengan yang dibeli di Balai dua hari yang lalu. Karena ini adalah hari terakhir kami hopping island, maka pagi itu kami makan banyak sekali karena menghabiskan semua persediaan makanan yang kami bawa. Hanya menyisakan beberapa bungkus biskuit yang kemudian kami bagi-bagikan kepada anak-anak di Balai.

Bang Sam tiba sekitar jam 10 pagi. Dari Palambak, kami bertolak ke Rangit dan Malelo. Pulau Malelo adalah pulau paling kecil yang diapit oleh Pulau Rangit dan Pulau Panjang. Semenjak terjadi tsunami tahun 2004 silam, Malelo tidak dapat ditumbuhi tanaman apapun. Hanya batang pohon yang sudah mati masih berdiri di atas pasir putihnya. Di sekelilingnya adalah perairan dangkal dengan dasar berkarang.

Perjalanan dilanjutkan ke Pulau Tapus-tapus dan Pulau Baguk. Di Baguk ini ada sebuah menara suar yang berdiri di atas sebuah bukit kecil di bagian belakang pulau. Dasar perairannya juga ditumbuhi terumbu karang dan sangat bagus untuk dijadikan lokasi snorkeling. Lalu perjalanan kami berakhir di Pulau Balai. Di sini kami akan menginap semalam lagi lalu besok pagi pulang kembali ke Medan dengan menumpang KMP Teluk Singkil.

Pulau Rangit

Pulau Tapus-tapus

Pulau Panjang

Pulau Baguk

Meninggalkan Kepulauan Banyak

Aku berdiri di buritan sambil memandangi Pulau Balai yang makin kelihatan kecil. Masih terbayang keindahan detik-detik matahari tenggelam kemarin sore dan keindahan laut di pulau-pulau yang lain selama dua hari yang lalu. Dalam hati aku bertekad, suatu hari nanti aku akan kembali ke sini

Suatu hari nanti, aku akan kembali ke Balai dan menyaksikan sunset yang indah ini.

16 thoughts on “[Pulau Banyak Trip-3] Akhir Perjalanan di Pulau Banyak

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s