[Pulau Banyak Trip-1] Tiba di Pulau Balai

Mobil kijang yang aku dan Bang Tekno tumpangi tiba di Jembatan Tinggi, Pulo Sarok pada jam 6 pagi setelah menempuh 8 jam perjalanan dari Medan. Cuaca pada pagi itu berawan dan sedikit mendung. Hawa-hawanya seperti akan turun hujan sebentar lagi. Kami segera mengangkat barang-barang dan berjalan masuk ke sebuah warung yang dibangun di atas rawa berair payau yang ditumbuhi bakau. Benar dugaanku, setelah menyantap sarapan, hujan pun turun.

Pulo Sarok adalah salah satu kampung di Kecamatan Singkil. Daerah yang terletak di pesisir sungai dan laut ini merupakan salah satu daerah yang mengalami dampak bencana tsunami yang lumayan parah tahun 2004 silam. Datarannya turun hingga 1 meter. Ini dapat kita lihat dari banyaknya rumah-rumah yang tidak dihuni lagi dengan kondisi lantai yang terbenam. Beberapa rumah yang masih ditempati harus meninggikan lantai rumah agar tidak kebanjiran ketika hujan.

Secara keseluruhan, kota Singkil hingga Pulo Sarok tidak mengalami banyak perubahan semenjak kedatanganku 4 tahun lalu. Selain jalanan yang sudah diaspal, semuanya masih terlihat sama. Gedung-gedung pemerintahan, tugu-tugu di tengah perempatan, dan kuala Singkil yang airnya berwarna coklat dengan hutan bakaunya masih tetap menakjubkan dan misterius.

Aku melemparkan pandangan ke pucuk-pucuk pohon bakau. Suara cicit burung-burung walet seolah bersukacita karena hujan berhenti. Sama seperti kami yang kembali terpompa semangatnya karena kekhawatiran cuaca memburuk berangsur menghilang. Siapa yang tidak khawatir jika perjalanan 4 jam menumpang boat dengan cuaca hujan atau badai di tengah laut?

Boat yang akan kami tumpangi sudah menanti di pinggir kuala. Boat ini akan mengangkut kami ke Pulau Balai, ke sebuah pulau kecil yang menjadi pusat administrasi kecamatan Pulau Banyak. Barang muatan boat bermacam-macam rupa, selain orang, boat sepanjang 10 meter ini bisa memuat sepeda motor, semen, pasir, batu bata, ayam, sembako, dan sayuran. Ongkos menumpangi boat dari Pulo Sarok ke Pulau Balai adalah Rp.25.000 per orang. Harga yang sama juga berlaku untuk sepeda motor.

Boat akan berangkat jam 10 atau menunggu air sungai pasang agar boat tidak kandas di tengah sungai. Beberapa menit lepas dari pantai, aku dapat melihat dasar sungai yang dangkal. Beberapa kali terjadi benturan bagian bawah boat dengan dasar sungai. Ini kejutan pertama, kejutan kedua adalah melewati muara sungai dimana terjadi pertemuan antara arus sungai dan arus laut. Permukaan air yang berombak lumayan bikin deg-degan. Namun perhatian segera teralihkan dengan pemandangan air dua warna yang seolah dipisahkan oleh garis tak kasatmata. Sisi dari pantai berwarna coklat dan sisi laut berwarna biru gelap.

Terjemur di bawah sinar matahari yang mulai garang hingga awan pun gerah dan menyingkir, suara deru mesin diesel dan suara hempasan ombak ke dinding boat adalah pengalaman yang segera menjadi biasa selama empat jam di atas boat. Beberapa penumpang tertidur pulas atau hanya tidur-tiduran saja membiarkan bosan menggelayut di kepala. Seorang pria Jerman tidur dan terjemur di dekat kakiku, tak peduli terik.

Tiga jam berlalu, nyiur dan pepohonan di pulau Teluk Nibung mulai terlihat. Lalu diikuti pantai pasir putih dan air laut berwarna hijau tosca sebening kristal. Karang-karang berwarna coklat dapat dilihat dari atas boat. Sekali-kali ikan taji/tajir dan ikan-ikan berwarna cerah yang lainnya terlihat sekelebat di bawah air. Jika beruntung, kita dapat melihat penyu menyembul ke permukaan. Sungguh pemandangan langka bisa melihat binatang langka itu di sini.
Biasanya bagi yang ingin berlibur ke salah satu pulau di kepulauan Banyak pasti akan singgah di Pulau Balai. Pulau yang tergolong kecil ini terdapat tiga buah desa. Yaitu Desa Pulau Balai, Desa Baguk dan Desa Teluk Nibung. Pada tahun 2005, daerah ini mulai membangun kembali infrastruktur yang rusak karena bencana alam tsunami. Meski tertatih namun sarana pendukung pariwisata untuk kepulauan Banyak sudah memadai namun masih perlu pengembangan ke depannya. Beberapa penginapan sudah dibangun di Pulau Balai. Selain infrastruktur, warga Balai juga perlu diberi kesadaran pentingnya menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah ke dalam laut.

Kami menginap di Losmen Putri. Losmen ini berada tepat di depan Puskesmas. Hanya 5 menit berjalan kaki dari dermaga boat dan kurang 5 menit dari pelabuhan Ferry. Tarif kamar ber-AC dan kamar mandi di dalam seharga Rp.150.000,- dan Rp.60.000,- dengan kipas angin dan kamar mandi di luar. Kamar ber-AC-nya tersedia dua tempat tidur yang lumayan besar, bisa muat 4-5 orang. Selain Losmen Putri, ada Losmen Nanda, Lae Kombih, dan Penginapan Aorora di sisi lain pulau Balai yang berdekatan dengan dermaga boat.

Hari pertama kami habiskan di Pulau Balai. Menikmati mie rebus atau di sini disebut mie tumis di depan pelabuhan ferry dan menyeruput kopi panas. Aku membeli sebuah mamplam (mangga kecil) yang kemudian mengingatkanku kembali ke masa-masa kecil ketika tinggal di kampung dulu. Ketika setiap subuh mengendap-ngendap di dalam semak memasuki kebun tak terawat di belakang rumah dan mengumpulkan buah-buah mangga dan kuini yang jatuh.

Seberapa jauhpun aku pergi, selalu saja ada sesuatu yang membuatku kembali mengingat ke masa-masa yang silam. Sesuatu itu menjadi baru meski sudah pernah kulihat, kualami atau kurasakan. Perasaan yang timbul setelahnya merupakan kebahagiaan yang mungkin tidak akan kembali kita rasakan jika tidak bepergian.
Sorenya kami membawa alat snorkel beserta kamera underwater ke pelabuhan AL di ujung pulau. Dari sini kita bisa melihat Pulau Teluk Nibung dan Pulau Baguk. Pantai berpasir putih di samping pelabuhan menghadap ke dua pulau tersebut. Kombinasi warna putih pada pasir, hijau tosca dan biru laut, awan kelabu dan garis-garis hujan turun di antara dua pulau tersebut merupakan pemandangan yang menurutku luar biasa.
Seekor Lion Fish terlihat jelas sekali di bibir pantai yang berkarang. Warnanya yang kecoklatan berkamuflase dengan karang dan tumbuhan laut di sekitarnya. Ikan ini bergerak mengikuti arus ombak. Sekali-kali berenang dengan anggun kembali ke dekat karang-karang.

Aku memasang alat snorkel dan berenang melihat-lihat pemandangan bawah laut. Tapi ternyata tidak ada terumbu karang dengan ikan-ikan berwarna-warni di lokasi ini. Hanya karang-karang coklat dan coral mati.
Akhirnya awan kelabu di dekat Pulau Baguk tiba juga di Balai, aku keluar dari laut dan kedinginan. Dua orang anak laki-laki sedang bermain air di dekat kami seperti tak peduli dengan hujan dan udara dingin. Melihat keceriaan mereka bermain air seperti melihat diriku sendiri waktu kecil dulu, belajar berenang, nyaris tenggelam di banda laut, dihempas gelombang dan ditarik arus, panas dan hujan tak peduli. Tapi di sini tidak ada gelombang setinggi 2 meter seperti di kampungku. Orang tua-orang tua di sini tidak perlu cemas jika anaknya bermain-main di laut.
Malam hari di Balai begitu tenang. Hanya sesekali terdengar suara mesin sepeda motor. Kami berjalan kaki ke sebuah warung di ujung jalan yang hanya berjarak 200 meter dari penginapan Putri. Pemilik warung adalah seorang ibu gemuk yang bekerja dibantu suami dan anak laki-lakinya. Selama tujuh hari di pulau-pulau, warung si ibu menjadi warung langganan kami membeli nasi bungkus. Ikan asin goreng baladonya maknyus! Enak sekali! Nikmati juga kopi panas bikinan si ibu.

Selesai makan, kami harus kembali ke penginapan untuk bertemu dengan pemilik perahu yang akan kami sewa selama lima hari. Bang Sam namanya. Pria berumur sekitar 35 tahun ini berkulit gelap dan wajah yang gampang tersenyum. Kami sepakat menyewa perahunya seharga Rp.300.000,- per hari. Perahu yang dicat warna hijau milik Bang Sam ini lumayan besar, bisa memuat 4-6 orang lagi.
Setelah semuanya disepakati, baik pembayaran, rute dan antar-jemput, akhirnya kami bisa bernafas lega. Kami kembali ke kamar dan kembali berkemas untuk keberangkatan besok pagi lalu tidur dengan nyenyak.

12 thoughts on “[Pulau Banyak Trip-1] Tiba di Pulau Balai

  1. Aaah akhirnya ketemu blognya, Bang, kalo mau diving bisa kah? trus alat snorklenya sewa atau bawa sendiri? ada tempat kah disana kalau mau sewa?. da teman yang mau island hoping ni, bisa minta no hapenya abang sewa boat gak? sorry eprtanyaan banyak kali, thank you before atas usaha menjawabnya hehe.. Acha (CS Banda Aceh)

  2. Ini dia yang saya cari2. cukup membantu sya untuk mengalokasikan dana buat pergi ke pulau banyak. sepertinya banyak cerita disana, dan jujur saya penasaran dengan pulau2nya, seberapa banyak sih?? :D kira2 cocoknya berapa orang sekali berangkat biar lebih menghemat biaya?? saya asli aceh selatan (tapaktuan)

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s