Sipiso-piso, Destinasi Wisata di Tanah Karo

Butiran air hujan tiba-tiba jatuh besar-besar ketika kami sedang self-picking buah stroberi di salah satu kebun di pinggir jalan dekat Taman Alam Lumbini. Aku, Aiko, Kemal, Erna dan Riza berlari di antara tanaman stroberi ke pondok untuk berteduh dan sekalian menimbang dan membayar buah yang kami petik. Hujan baru berhenti 10 menit kemudian. Kami melanjutkan perjalanan menuju Simpang Tongkoh dan segera menemukan angkot yang akan membawa kami ke Merek.

Aku dan keempat kawan yang berpergian ke Taman Alam Lumbini dan Air Terjun Sipiso-piso.
Ki-ka: Erna, Aiko, Riza, Kemal, Citra

Perjalanan dari Tongkoh ke Merek memakan waktu sekitar setengah jam dengan ongkos Rp.5.000. Aku yang berasal dari Aceh merasa tarif angkot di sini tergolong murah. Ada beberapa hal yang aku kagumi menyangkut transportasi di sini. Jika di Aceh dengan jarak sejauh antara Tongkoh-Merek tarifnya berkisar antara Rp.10.000-Rp.15.000. Juga ketersediaan angkutan umum ke banyak daerah sangat membantu para pejalan seperti kami untuk mendapatkan transportasi yang murah dan juga menyenangkan. Dan satu hal lagi yang membuatku kagum adalah ternyata sopir-sopir angkot di sini sangat informatif dan baik-baik. Yang bilang sopir-sopir Sumatera Utara beringas mungkin tidak sepenuhnya benar. Haha…

Diluar masih hujan lebat. Aku duduk menghadap persis di depan pintu angkot yang terbuka. Tempias hujan membasahi kakiku yang hanya bersandal. Tahu sendiri bagaimana dinginnya udara dan air hujan di daerah pegunungan. Duduk tak bergerak dan hanya memandang ke luar ke arah kebun-kebun sayur. Namun udara dingin berangsur-angsur berkurang karena celoteh-celoteh kawan-kawan yang membuat tawa pecah dan membuat suasana menjadi hangat. Saat-saat penuh canda tawa di suasana dingin seperti ini enak. Aliran darah dan hawa hangat terasa perlahan-lahan naik hingga ke telinga dan diikuti dengan perasaan yang menyenangkan.

Tiba di Merek dan jeans mulai dari lutut lembab, kaki basah dan perut lapar. Sudah jam 1 lewat dan kami tiba di Merek. Becak-becak motor sudah menanti di persimpangan. Simpang Merek adalah tempat pemberhentian angkot terakhir jika ingin ke Sipiso-piso. Daerah ini terdiri dari toko-toko kecil yang menjual barang-barang kelontong dan kebutuhan warga sehari-hari. Kami menemukan warung nasi Padang di pinggir kanan jalan yang pemiliknya adalah seorang ibu paruh baya. Ibunya ramah sekali. Aku dan Riza berbicara dalam bahasa Aneuk Jamee ke Ibu, bertanya macam-macam dan bersenda-senda. Dari sang ibu, aku mendapat tambahan kosa kata bahasa Padang yaitu ‘badangkiak’ yang berarti pelit. Beliau bilang aku badangkiak karena makan nasi dengan tahu yang seharga Rp.10.000. Kalau di Aceh, dengan uang segitu aku sudah bisa makan nasi dengan sepotong ikan goreng! Baa ambo indak badangkiak ha, bundo? Hahaha…

Dari warung kami melanjutkan naik bentor (becak motor) ke air terjun Sipiso-piso. Ongkos bentor Rp.5.000 perorang, bukan perbecak. Ongkos ini sudah termasuk biaya retribusi masuk area objek wisata.

Naik becak ke lokasi air terjun juga pengalaman yang seru karena mengejutkan. Ketika cuaca sedang hujan dan suhu udara lebih rendah dari biasanya, badan menggigil dan gigi gemeletuk menahan hawa dingin. Cipratan air hujan di muka terasa seperti siraman air es. Padahal becak sudah ditutupi lapisan plastik tapi itupun tidak cukup untuk menahan angin dan air hujan.

Kami tidak bisa melihat ke depan dan ke arah mana becak akan dibelokkan. Hingga tiba di suatu tikungan, becak berbelok ke kanan. Selama beberapa detik, pemandangan di sisi kiri membuatku terpukau. Di sana terhampar pemandangan Danau Toba! Serentak kami bertiga berseru “Woooooooahhhw…”. Seperti magic melihat pemandangan yang tak terduga di saat seperti ini. Seperti melihat sebuah gambar pada slideshow dan ketika slide berganti, gambar sebelumnya membuatmu tertegun dan masih merasa takjub hingga waktu yang lama. Meski hanya dapat dilihat beberapa detik saja akan gambaran Danau Toba yang tepiannya berkelok-kelok dipagari bukit-bukit dan berkabut tapi aku masih merasakan sensasi keterkejutan ketika menyaksikannya. Indah sekali!

Berada di ketinggian dan menikmati pemandangan dari atas adalah pengalaman yang berbeda jika kita berada di dekat objek yang kita lihat ketika di atas. Sudut pandang. Mungkin keindahan yang aku saksikan jika berada di pinggir pantai Danau Toba akan berbeda jika aku berada di atas ketinggian Merek di atas becak motor ini. Sama-sama indah sih tapi beda sensasinya.

Lokasi lookout-point di Sipiso-piso. Jika hari minggu ramai dikunjungi wisatawan lokal.

Kami diturunkan di depan warung-warung yang lokasinya sangat strategis sebagai lookout point ke air terjun di sisi kanan dan Danau Toba yang sedikit terlihat di balik-balik bukit di sebelah kiri. Aku pikir, aku bisa langsung main-main air di bawah air terjun setelah turun dari bentor. Ternyata tidak. Pun tidak ada yang bilang kalau mau ke air terjun Sipiso-piso itu harus menuruni ratusan buah anak tangga di pinggir tebing-tebing batu yang tinggi dan curam.

Pemandangan Danau Toba dari tangga menuju ke air terjun. Kabut perlahan-lahan menutupi bukit-bukit dan permukaan danau.

Aku menuruni anak tangga-anak tangga yang basah dan licin. Hujan menjadi gerimis dan udara tak lagi sedingin tadi. Beberapa orang terduduk di anak tangga dengan nafas tersengal, mereka sedang berusaha naik setelah melihat air terjun. Aku sedikit bercakap-cakap dengan para pejalan lain dan menikmati mereka berbahasa Indonesia dalam logat khas Batak. Unit sekali. Oh, satu lagi. Wajah. Mereka memiliki ciri khas wajah yang juga khas dan menarik. Menurutku perempuan-perempuan Batak itu menawan.

Masih ada perjalanan panjang menuju air terjun.
Menuruni anak tangga menuju air terjun. Baru setengah perjalanan.
Menempuh ratusan anak tangga.

Perjalanan menuruni tangga yang berkelok-kelok dan hanya berpagarkan pohon-pohon yang merunduk ke jurang dan semak-semak ini memakan waktu paling lama 15 menit dan 20 menit untuk naik. Dalam perjalanan turun dan naik, kita akan terus disuguhi pemandangan lembah yang hijau, air terjun dari atas tebing yang sangat tinggi menghujam ceruk berbatu di bawahnya. Sekali-kali aku berhenti sejenak dan memandangi Danau Toba. Dari sini danau vulkanik itu terkesan sangat tenang namun misterius. Aku tidak bisa membayangkan sedahsyat apa letusan supervolcano yang terjadi pada 74.000 tahun lalu hingga menciptakan danau besar yang membunuh 60 juta manusia tersebut. Aku membayangkan jika danau seluas di depanku ini dulu adalah gunung berapi, setinggi apakah gunungnya?

Butir-butir halus air dari air terjun mengasap putih dan membasahi semua permukaan ketika aku sampai di dasar tebing. Permukaan dasar terbing hampir semuanya ditutupi batu-batu hitam besar yang hampir semuanya pula tertutup tanaman rimbun yang hijau menghampar. Mengkilap karena basah.

Aku berdiri di antara batu-batu besar. Air terjun menghujam keras ke dalam ceruk menimbulkan suara gemuruh dan butiran-butiran halus air beterbangan membasahi semua permukaan yang ditemuinya. Belum 3 menit aku berdiri disana dan semua pakaianku sudah basah. Butiran-butiran halus air menempel di permukaan rambut dan kaos hitamku seperti embun yang lalu menyerap dan terasa dingin hingga ke dalam kulit.

Inilah sepotong surga di Tanah Karo. Air terjun Sipiso-piso.
Sipiso-piso, Air terjun tertinggi di Indonesia.

Aku berjalan sedikit ke dekat sebuah pondok. Berdiri di samping dinding tebing yang ditumbuhi lumut dan tumbuhan menjalar yang sedang berbunga. Dari sana aku memandangi air terjun Sipiso-piso. Mendongakkan kepala dan melihat sekeliling yang didominasi warna hijau daun. Aku menyadari betapa memesonanya tempat ini. Pemandangan indah ini benar-benar di luar ekspektasiku dan aku merasa agak sedikit menyesal kenapa baru sekarang aku mengunjungi tempat ini. Mungkin penyesalan ini akan kembali berulang jika mengunjungi keindahan alam Indonesia yang lainnya.

32 thoughts on “Sipiso-piso, Destinasi Wisata di Tanah Karo

  1. Eh.. eksotis sekali ini pemandangan Sipiso-piso pas berkabut.. Beberapa bulan lalu cerah sih pas aku ke sana..

    Btw, bener kan kataku kalau Sipiso-piso letaknya dekat sama Danau Toba.. Dududu.. *kasih buku RPUL ke Citra*

      1. tinggi juga ternyata.Akhir tahun ada rencana turun dari kerinci pengen ke Medan. Hunting angkutan “murah” via jalur mana ya? hehe

          1. dari Sungai Penuh, Jambi ke Medan lanjut Sipiso-piso sebenernya. Daerah barat sumatera aku malah gak paham sama sekali, padahal lahir di sumatra :(

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s