Nuansa Dua Negara di Taman Alam Lumbini

Hari minggu pagi di Medan (0909) cuaca lumayan cerah. Langit sepenuhnya ditutup awan putih. Namun tidak ada tanda-tanda akan datang awan mendung. Suasana di jalan Pembangunan di kompleks USU pun tak terlalu ramai seperti hari biasa. Selain beberapa sepeda motor yang lewat, dua orang perempuan dengan rambut dikucir dan memakai rok selutut berjalan menuju sebuah gereja kecil di ujung sebuah gang. Masing-masing memegang Injil di tangan kanan. Aku dan Kemal bergegas melangkahkan kaki menuju persimpangan dan menyetop angkot menuju Simpang Kampus.

Di sana sudah menunggu Riza dan Aiko, Erna menyusul setengah jam kemudian. Meski molor dari waktu yang sudah ditentukan kami tetap berangkat menaiki angkot ke arah Berastagi dari Simpang Pos, tempat yang sudah kami sepakati semalam ketika menyusun itinerary yang diberikan Kak Anti, seorang kenalan dari Backpacker Medan. Ongkos angkot dari Simpang Kampus ke Simpang Pos hanya 2.500 rupiah. Dari sini kami kembali menaiki angkot ke arah Berastagi.

Tujuan kami adalah Taman Alam Lumbini di Desa Tongkoh, Kabupaten Tanah Karo. Aku dan keempat kawan menaiki angkot Sutra ke Berastagi dengan ongkos Rp.10.000 saja. Bilang saja turun di Tahura atau Simpang Tongkoh. Simpang Tongkoh dapat dikenali dengan tugu buah jeruk di tengah pertigaan. Ikuti saja tanda panahnya dan boleh berjalan kaki sekitar 20 menit. Sepanjang perjalanan singkat ini, kita akan disuguhi kebun stroberi, kebun jagung dan kebun bunga di kiri-kanan jalan.

Simpang Tongkoh. Ikuti arah panah pada papan petunjuk untuk menuju Taman Alam Lumbini.

Setelah berjalan kaki sekitar 20 menit (sebenarnya bisa lebih cepat jika tidak terlalu lama berfoto-foto dan memetik stroberi) kami tiba di Taman Alam Lumbini. Rasanya seperti sedang berada di Genting Highland dan Bangkok secara bersamaan. Di depan kami sebuah pagoda berwarna kuning emas berdiri dengan megah. Sepanjang jalan di kiri-kanan menuju pagoda adalah kebun-kebun yang ditanami sayur dan tanaman-tanaman khas daerah dataran tinggi seperti alpukat, kubis, dan stroberi.

Untuk memasuki pagoda tidak dipungut biaya apapun. Namun ada aturan yang harus dipatuhi jika masuk ke dalam pagoda, yaitu mengisi buku tamu, melepas sepatu atau sendal, tidak boleh memotret dengan handphone (jika di dalam pagoda) dan tidak boleh makan dan minum di dalam areal pagoda.

Taman Alam Lumbini dan replika Pagoda Swhe Dagon. Merupakan pagoda tertinggi di Indonesia.

Mataku tak lepas memandangi arsitektur pagoda yang belakangan baru kutahu merupakan replika Pagoda Shwa Degon di Yangon, Myanmar. Warna emas dengan relif-relif unik dan patung-patung Buddha yang mengelilingi bangunan utamanya. Sebuah menara yang puncaknya berbentuk bekisar berdiri di sebelah kiri pagoda. Di bawahnya menjuntai hiasan sulur berupa gelang-gelang emas sepanjang 1,5 meter. Puncak pagoda juga dihiasi dengan puluhan lonceng yang berdentang jika tertiup angin.

Di dalam pagoda, tepat di tengah-tengah ruangan terdapat empat patung Buddha yang diletakkan di empat arah mata angin dan menghadap ke pintu. Jika patung Buddha yang di Myanmar bertatahkan permata, namun patung Buddha di Lumbini terbuat dari batu marmer. Aku memperhatikan ada beberapa pengunjung yang datang sedang khusyuk bersembahyang dengan mengitari keempat patung Buddha. Bersujud dan berdoa.

Anyone can be a Buddha, including you.

Aku sempat membaca kalimat yang tertulis di punggung kaos seorang pengunjung yang bertuliskan: Anyone can be a Buddha, including you.

Salah satu yang paling aku senangi jika berkunjung ke tempat ibadah ajaran Hindu dan Buddha adalah aroma hio. Bagi kebanyakan orang aroma hio sangat mengganggu penciuman mereka. Tapi bagiku aromanya membuat rileks, sama seperti mencium aroma rempah-rempah dan getah pohon.

Setelah merasa cukup berlama-lama di dalam pagoda, kami beranjak ke taman. Taman yang dihiasi beranekaragam bunga dan pohon-pohon ini ditata rapi dengan patung-patung bikhu di sekitarnya. Kami melewati sebuah bangunan yang tampaknya adalah tempat bermeditasi dan sebuah toko souvenir. Di belakangnya sebuah jembatan yang disebut Titi Lumbini membentang sepanjang 20 meter. Dari atas jembatan, kemanapun kita memandang semuanya dilingkupi warna hijau dedaunan. Meski sudah tengah hari dan tak ada angin yang berhembus, tapi udara tetap terasa sejuk.

Taman Alam Lumbini

Waktu membuat kami harus bergegas menaiki tangga dan keluar dari taman. Seharusnya jam 12 kami sudah berada di dalam angkot dan melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Sipiso-Piso. Tapi sudah lewat 4o menit dari jadwal kami baru saja selesai mengitari taman.

Namun perhatian kami teralihkan ke kebun stroberi di sisi kiri jalan. Tulisan “Petik Sendiri” di depan kebun terartikan “petik dan langsung makan”. Kami menghabiskan waktu hampir setengah jam di sini mencari buah yang masih bagus dan berukuran besar. Untuk sekilo buah stroberi dihargai Rp.80.000,- Aku mengumpulkan buah dengan berat sekitar 3 ons.

Baca: Petik dan langsung makan di tempat.

Ternyata buah stroberi segar itu manis. Tidak asam seperti yang kita beli di swalayan.

Jika di Bangkok dan Myanmar terkenal dengan pagodanya dan Genting dengan self-picking strowberrynya, buat apa jauh-jauh ke sana jika di negara kita sendiri bisa melihat dan merasakannya di satu tempat dalam waktu yang bersamaan? :)

Ayo jelajahi Indonesia!

26 thoughts on “Nuansa Dua Negara di Taman Alam Lumbini

  1. kupikir juga di bangkok, lho…
    pas dibaca ternyata Indonesia punya…

    dan, utk yg ini >> Salah satu yang paling aku senangi jika berkunjung ke tempat ibadah ajaran Hindu dan Buddha adalah aroma hio >> sama!

    1. Hai Heennyy. Ketika perjalanan ke Lumbini ini aku hanya menghabiskan waktu satu hari saja. Berangkat pagi jam 8 naik angkot ke Lumbini, lalu melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Sipiso-piso lalu kembali pulang ke Medan pada sekitar jam 5 sore. Aku sendiri belum pernah ke Danau Toba. :D

      1. aku org medan kak,,
        salam kenal kak, kak? kapan kk mw kesana lagi?
        ajak2 aku dong kak? kapan2.
        pengen ke situ tp gadak temen yg berani kalau naik angkot.
        follow /mention y kak kalau mw kesana @windrakesuma_
        thanks kak

    1. Eh ini komen januar ya..aku baru buka sekarang. hahaha…
      enggak, aku pergi sama anak-anak Backpacker Medan. birulangit sih belum kenal waktu itu. Kamu jangan cemburu gitu deh ih. :p

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s