Lhok Mata Ie Ketika Hujan

Pantai Lhok Mata Ie adalah salah satu pantai sekaligus tujuan wisata Aceh yang bisa dikatakan private beach-nya Aceh Besar. Selain tersembunyi, pengunjung yang mau datang ke lokasi ini harus menempuh waktu sekitar 30 menit dari pusat kota Banda Aceh ke arah pantai Ujong Pancu dan dilanjutkan berjalan kaki selama 1 jam naik turun bukit.

Perjalanan ke Lhok Mata Ie kali ini adalah untuk menunjukkan ke Dika dan Kindi lokasi perkemahan kami yang sudah lama direncanakan. Tapi tertunda karena belum punya tenda dan perlengkapan lainnya.  Mau sewa tapi tidak tahu sewa di mana/ke siapa. Mau beli tapi harganya masih mahal. Ibarat tak ada rotan, akarpun jadi-maka untuk mengurangi sedikit hasrat berkemah itu, kami memutuskan untuk melihat-lihat ke Lhok Mata Ie meski dalam cuaca mendung.

Perjalanan menuju pantai ini tergolong ringan untuk pemula seperti aku bahkan untuk yang belum pernah mendaki sekalipun. Adik perempuanku dan ketiga orang kawannya pernah mengajakku ke sini dan mereka masih tetap bersemangat untuk berjalan pulang, meski harus beristirahat berkali-kali untuk memulihkan tenaga sambil menikmati udara segar perbukitan.

Jalan setapak yang kami lalui akan melewati satu kali tanjakan. Diselingi dengan melewati 2 padang ilalang, semak dan hutan lebat. Pada turunan terakhir, kami melewati dua aliran parit kecil yang diairi mata air. Pada musim hujan, jalan setapak menjadi becek dan licin jadi mestilah melangkah ekstra hati-hati.

Istirahat sebentar melepas lelah
Melewati sebuah ladang

Pada hari minggu lalu (14/06/12), cuaca yang mendung membuat udara lembab dan dingin.  Pandangan mata kami lebih sering mengarah ke bawah memperhatikan jalan setapak berlumpur. Terkadang harus melompat zig-zag untuk mendapatkan pijakan yang kokoh dan agar tak terporosok ke dalam endapan lumpur. Beberapa kali sempat Kindi terpeleset karena licin dan berat tubuh dan kuatnya gravitasi yang menarik bokongnya mencium tanah.

Melewati salah satu mata air
Melewati padang ilalang yang merunduk ditiup angin
Dika dan Kindi

Melakukan perjalanan di dalam hutan atau di medan apa saja punya keunikannya sendiri. Aku paling suka dengan aroma-aroma yang tertangkap indra penciuman di udara lalu menebak-nebak asalnya. Seperti bau lumpur bercampur dengan bau rumput basah yang terinjak-injak menguar di udara. Bau lumut basah yang menempel di batang pohon. Bau dedaunan yang membusuk. Aroma air laut yang terbang dan menyusup ikut menari-nari di sela-sela helai ilalalang. Aroma-aroma ini berpadu dengan keelokan alam menimbulkan perasaan nyaman yang tak terperi.

Kami tiba di tepi pantai berpasir putih yang tak seberapa panjang itu, rinai hujan mulai turun. Pulau Bunta yang di hadapan kami terlihat buram karena kabut. Pantai mini ini berbentuk seperti teluk yang sebelah kirinya ditutupi karang-karang cadas dan sebelah kanan oleh tebing-tebing batu. Pohon-pohon menutupi bukit hingga ke lereng-lerengnya. Satu rumpun pandan duri dan semak tumbuh rimbun di pinggir parit kecil tepat di pinggir tebing batu karang dan bermuara ke laut.

Menikmati sapuan lembut ombak dan gelitik pasir putih

Tetes-tetes hujan semakin lebat. Rintik-rintiknya menghujam air laut menimbulkan percikan-percikan halus di permukaan. Ombak di dekat pantai semakin tinggi seiring angin yang mulai bertiup kencang. Warna air hijau tosca dan sapuan pecahan ombak di pantai seakan menghipnotis kami untuk menyeburkan diri ke dalamnya. Ombak-ombak tinggi pun terlihat begitu mempesona. Setelah melepas pakaian, kami menaiki tebing-tebing batu di sisi kanan pantai lalu terjun ke laut.

Berenang di laut ketika hujan lebat juga memiliki sensasi tersendiri yang susah dideskripsikan dengan kata-kata. Sentimentil. Ada perasaan sentimentil yang beriak-riak seperti pecahan ombak, seperti suara pecahan gelombang yang menghempas karang. Ah, hujan dan laut di hari itu seperti sepasang kekasih yang sedang bercinta. Hangat dan pasrah.

Selain kami bertiga, kami ditemani dan dikawal oleh seekor anjing betina yang diberinama Doggy oleh Dika. Kenapalah anjing diberi nama doggy pula? Karena dia anjing?Anyway, selalu menyenangkan bila kawan seperjalanan adalah orang-orang yang menyenangi apa yang kita senangi juga. Suka laut ketika hujan. Suka yang sentimentil.
Kindi, kawan baru ini ternyata bukan tipe pengeluh ketika dibawa jalan ke daerah sejauh ini. Ikut nyebur ketika kita juga nyebur. Begitu juga Dika, yang meski tiap liburannya pasti ke kota-kota besar tapi rupanya cukup tangguh melewati medan yang tidak biasa ini.

Hujan akan segera runtuh di pantai ini

Semoga rencana kami untuk berkemah di tepi pantai ini dapat segera direalisasikan di bulan Juli mendatang. Jika terlaksana, ini akan menjadi pengalaman baru bagi kami dan ini nantinya seharusnya lebih seru.

22 thoughts on “Lhok Mata Ie Ketika Hujan

  1. mungkin kalau campingnya lebih rame mungkin akan lebih seru, tapi yang diajak yang kenal2 aja, tapi tendanya gak muat ya apa boleh buat, :D

  2. Adoe! Aku ikuttttt!!!! *mengiripun* aku suka jalan jauhhhh. Di sini namanya ‘bush walking’. Mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!

    1. gampaaaang. Tau Ujung Pancu kan? nah, jalan saja ke sana, nanti ada peternakan ayam, bertanya saja jalan masuk ke Lhok Mata Ie dan ikuti saja jalan setapaknya yang langsung mengarah ke pantai di balik bukitnya. Selamat bertualang. Good luck. ;)

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s