Menginap di Pinggir Sungai Melaka – day 2

Jalan-jalan di malam hari di Kuala Lumpur itu ternyata menyenangkan. Biarpun kota besar tapi ga padat, laju kendaraannya tertib. Nyebrang jalan pun jadi aman dengan adanya zebra cross. Berada di negara ini membuatku merasa udik sekali jika dibandingkan dengan kota besar di negara sendiri.

Sedang di daerah yang banyak bar.

Malam itu aku dan Dika jalan kaki dari Pudu ke Petronas Tower. Itu sudah jam 9 malam (kalau ga lupa). Kalau dihitung-hitung ada sekitar 1 kilometer juga tuh kita berjalan kaki ke sana. Melewati sebuah kuil dan Bukit Nanas, terlihat KL Tower dan Petronas Tower berdiri megah dari balik gedung-gedung tinggi. Di sini kita hanya foto-foto sebentar, karena jam 12 lampunya dimatikan dan pengunjung tidak diperbolehkan lagi berada di area.

Kita mampir di Alor, yang sebelumnya sempat melihat sebentar kehidupan malam di Pudu Raya. Ada beberapa seniman jalanan yang lagi ngamen. Keren-keren tuh gayannya. Ada yang nyanyi, melukis dan tato. Beberapa kali melewati wanita, pria dan waria dengan tatapan bawa-eike-pulang-dong-cyiiin..Eh di Malaysia pakai bahasa kayak gini ga si? Oh iya, mereka ngomong english. LOL

Di Jalan Alor sini pusatnya jajanan Chinese dan Thai food. Ulan dan Dika bilang di sini ada tom yam yang enak dan murah langganan mereka. Ya, langganan! Cerna sendiri itu kata ‘langganan’nya ya.. :| Tapi kami tidak memesan tom yam, karena Ulan ga ada. Dia istirahat di hostel karena nyeri lutut. Kita nyobain tom yamnya di malam terakhir kita di KL.

Jalan Alor
Steamboat yang mengundang selera dan pertanyaan. Halal ga nih?

Pagi pertama di KL, bangun tidurnya seperti bangun tidur di rumah sendiri. Bangun kesiangan dan ga mandi. Kan lagi libur.  Selesai sarapan, kita bergegas mengejar bus menuju Melaka. Naik LRT Hang Tuah ke Banda Tasik Selatan dan pilih jalur Sri Petaling. Kita membeli tiket bus Transnasional yang seharga 12 ringgit. Perjalanan ini menempuh waktu kurang lebih 2 jam.

On the way to Melaka

Sampai di terminal Melaka Sentral, pada kelaparan semua. Kita nyobain bakso di dalam terminal ini. Kompleks terminal Melaka Sentral ini sudah seperti pasar inpress. Banyak toko yang jualan dan ada warungnya juga. Jauh-jauh kita ke sini adanya yang jualan bakso dan rujak. Tapi baksonya enak, 3.5 ringgit. Menggunakan toilet umum terminal pun musti bayar, sama kayak di Indonesia juga. Tapi plusnya di sini, toiletnya bersih, pun juga terminal dan komplek pertokoannya.

Seorang Makcik sedang meramu rujak untuk Ulan. 2.5 ringgit

Jam 5 sore, kita menaiki city bus yang menuju ke Mahkota. Harga tiketnya cuma 1 ringgit saja. Enaknya naik city bus ini, di dalamnya dingin dan bersih. Beda sekali dengan bus yang kita naiki pas balik dari Mahkota ke Melaka Sentral. Bentuk busnya sama persis kayak angkot yang di Jakarta. Haha…

Foto-foto dulu sebelum nyari hostel
Takjub punya foto diri di Stadthuys :P
Tiga perjaka di negeri orang.
Naga di Jonker Street

Kita nginap di Tidur-tidur Guesthouseyang beralamat di Lorong Hang Jebat nomor 92. Mencari hostel ini aja kita nyasar sampai ke ujung jalan Hang Jebat. Setelah nelpon ke empunya hostel, Stanley, ternyata aku salah jalan. Bukan di Jalan Hang Jebat. Tapi di Lorong Hang Jebat. Padahal jika dari jembatan yang mengarah ke Jonker Street (nama kerennya Jalan Hang Jebat) ketemu bundaran yang di atasnya ada ornamen naga terus belok ke kanan. Sekitar 400 meter dari bundaran terlihat papan nama Tidur-tidur Guesthouse.

Foto Tidur-tidur guesthouse dari belakang

Rate permalam untuk 4 bed di Tidur-tidur Guesthouse ini cuma 12 ringgit! View di belakang hostelnya langsung berhadapan dengan sungai. Pemandangan bangunan-bangunan tua di pinggir sungai ini membuat kita seperti tidak sedang berada di Malaysia. Bangunan-bangunan eropa berabad silam masih berdiri dengan baik. Sekali-sekali boat penumpang melintas membawa pengunjung melihat-lihat bangunan-bangunan tua di sepanjang bantaran sungai.

Bantaran Sungai Melaka dekat Tidur-tidur Guesthouse

Stanley, pemilik dan penjaga guesthouse ini ramah sekali. Dia meminjamkan kita payung dan ngasih kunci pintu belakang jika mau pulang larut malam. Selain hostel, Stanley juga pemilik fashion outlet Mlackeny Der. Bisa buat oleh-oleh dari Melaka. Desain kaosnya juga bagus-bagus. Tapi aku ga beli, mahal. :D

Ekspresi Ulan melihat suasana di pinggir sungai. :)

Sejauh perjalananku di negara ini, Melaka adalah satu-satunya tempat yang paling menarik untuk dikunjungi berkali-kali. Penginapan yang murah dan nyaman, transportasi yang murah, suasana yang tenang dan bersih. Di Stadthyus misalnya, tempat di mana Christ Church dan Clock Tower berada, terdapat papan pelarangan merokok. Ga ada suara klakson. Hanya suara musik dangdut dari becak-becak dayung beraneka warna yang mangkal di depan Christ Church yang dibangun oleh Belanda.

Stadthuys

Jam 6 sore, langit mulai gelap karena awan mendung. Kita duduk lama sekali di pinggir sungai. Dari balik atap gedung tua di seberang sungai, mencuat menara St. Francis Xavier Church yang dibangun pada 1856. Di sebelah kiri, ratusan burung gagak terbang riuh rendah di atas sebuah pohon. Awan mendung membuatku khawatir. Akan rugi sekali jika malam ini hujan dan kami gak bisa kemana-mana. Sebuah boat kembali melintas di depan kami.

Kolase kita bertiga dan backpack di Tidur-tidur
Ka lagee rumoh droe

Setelah mandi untuk kedua kalinya di…negara ini, kita jalan nyari makan malam. Lagi-lagi salah jalan, kita nyasar sampai ke Casa Del Rio Hotel. Ternyata pusat jajanannya ada di seberang sungai berdekatan dengan Maritime Museum dan jarak kita ke jembatan sudah sangat jauh. Kita jalan mengitari hotel Casa Del Rio dan syukur menemui sebuah warung yang sangat padat pengunjungnya.

Warung Asam Pedas namanya. Aku lupa makan apa di sini, harganya cuma 3.5 ringgit dan tea O alias teh tawar seharga 1 ringgit. Selesai makan, kita jalan berputar lagi dan tiba di pinggir sungai. Di seberang terlihatlah Maritime Museum yang gedungnya dibangun menyerupai sebuah kapal Portugis yang tenggelam di laut Melaka.

Kita kembali lagi ke Tan Kim Seng Bridge dan beristirahat sejenak di Stadthuys. Bangunan-bangunan tua di daerah ini serba pink. Air mancur di depannya membuat suasana malam semakin menenangkan. Satu dua pasangan sedang pacaran di dekat taman bunga. Becak-becak dengan warna-warna ngejreng masih tetap mangkal di seputaran area ini.

Ga apa-pa..ga usah pikirin perasaan aku.. *loncat ke sungai Melaka*
Dipilih dipilih. Semua masih single.

Kita jalan lagi ke arah Museum Maritim melewati pinggir sungai. Di seberangnya Casa Del Rio Hotel, satu-satunya hotel mewah di sini yang bikin Ulan galau pengen nginap di situ. Aku yang membayangkan harganya saja sudah sesak nafas.  Bayarin hostel 20 ringgit saja sudah ngos-ngosan.

Maritime Museum

Pulang kembali ke hostel, kita melewati St. John’s Fort yang meriamnya menghadap ke daratan. Ternyata Belanda menghadapi serangan bukan dari laut melainkan dari daratan. Karena gelap, kita jalan lagi dan mampir lagi di Stadthuys. Dika penasaran nyobain teknik low speed di kamera.

Di Melaka pun ada Little India-nya. Tapi jam selarut ini banyak toko yang sudah tutup. Hanya toko sejenis Alfamart yang masih buka. Melewati sebuah jembatan yang bersebelahan dengan sebuah bar, kembali ke hostel menenteng kuaci buat begadang di tepi sungai.

Besoknya, pagi-pagi sekali kita check out, Stanley malah belum bangun pada jam 8 pagi. Ga mungkin juga dia bangun pagi, jam 3 dini hari saja dia masih melek ketika aku terbangun hendak ke kamar mandi. Setelah mengisi buku tamu dan mengabarkan Stanley lewat sms kita cabut dan menunggu bus di Stadthuys. Seorang ibu keturunan India juga ikut menanti bersama kami.  Ongkos busnya adalah 1.2 ringgit. Melihat kondisinya mirip sekali dengan angkot di Jakarta. Sudah butut sekali.

Tiba di Melaka Sentral, perut mulai minta jatah untuk diisi. Tidak ada yang menjual nasi lemak atau sejenisnya di terminal ini. Hanya ada asinan buah, burger, dan makanan cepat saji lainnya. Sesuai isi dompet, aku membeli sandwich seharga 2.20 ringgit perbungkus. Sejam duduk di bus sudah kelaparan lagi. Bahkan sepotong sandwich pemberian Ulan pun tidak cukup menahan rasa lapar. Selama satu jam kita berada di Cepat Sedia Bus  dengan kursi tipe satu-dua yang ongkosnya 12.20 ringgit. Bus ini langsung mengantarkan ke terminal Pudu Raya. Jadi tidak lagi berhenti di terminal Banda Tasik Selatan.

Nah, demikianlah perjalananku di Melaka. Suatu saat ingin lagi kembali ke sini. Belum sempat liat The Little India-nya dan nyobain jajanan di Jonker Street. :D

_____

Beberapa foto diambil oleh Citra, Dika dan Ulan.

1 ringgit = 3.030 rupiah.

24 thoughts on “Menginap di Pinggir Sungai Melaka – day 2

  1. Melaka itu emang enak banget. Lebih suka Melaka ketimbang KL. Lain kali cobain jalan-jalan ke Penang,cit. Gak kalah bagusnya. Daerah Malaysia yg paling berkesan dan menarik buat aku.

      1. Ada donk. Hostel tempat aku nginap di Love Lane, Lebuh Chulia namanta Old Guesthouse penang. Cuma 60ribuan aja semalam

  2. Note!!!
    Disini yang ga mandi cuma Citra doank…
    Yang lain’a mandi itu wajib hukum’a…

    Oya…yg qe makan ϑ Malaka itu nasi goreng cabe ijo…
    :)

  3. Kuala Lumpur emang ramai, mirip jakarta tapi lebih rapi dikit :D sayang kemaren cuma mejeng depan petronas, sama kuliner *apa mejeng ya?” di pavilion mall aja hehee, mau lagi deh kalau maen – maen ke malaysia, mau ke Melaka, KL, sama Penang XD

Leave a Reply | Ada Komentar? :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s